Playing Victim

Playing Victim
Part 29 : Malang tak Dapat Ditolak


__ADS_3

Clara menemukan dirinya terbangun dengan keadaan yang sangat berantakan. Berbagai aroma melekat di tubuhnya yang terasa sangat lengket. Sungguh menjijikan. Clara tertegun, sebuah kemalangan baru saja menimpa dirinya. Mata Clara memandang ke sekeliling. Sebuah bangunan tua yang berdebu, dengan sarang laba-laba yang bergelantungan di sana-sini. Tanpa sadar Clara bergidik ngeri, saat membayangkan mahluk berkaki delapan itu merayapi tubuhnya yang b*gil.


"ASTAGA!!"


Pekik kaget keluar dari mulut Clara, ketika menyadari keadaannya saat ini. Berantakan. Tidak! Tapi sangat menjijikkan. Wanita itu mulai menjambak rambutnya frustasi. Menyadari semua kemalangan yang menimpanya malam itu.


Bermula dari Gideon yang mengajaknya pergi. Tanpa membawa ponsel dan uang sepeserpun. Mengajaknya menggapai imajinasi, lalu menghempaskannya ke bumi. Clara tak terlalu menyesal. Karena sudah sering melakukannya bersama sosok itu. Tapi ...


Selanjutnya yang terjadi, barulah disebut sebagai kemalangan. Bertemu seorang pemuda yang tampak sholeh. Berbaju koko dan mengenakan sarung. Sudah persis sama dengan seorang ahli agama. Tapi berkelakuan seperti binatang.


Jelas-jelas pemuda itu membubuhkan sesuatu pada air kemasan dalam botol yang diberikannya pada Clara. Entah dengan cara apa memasukkannya. Yang jelas botol itu masih tersegel. Bahkan Clara merasa kesulitan untuk membukanya.


Apa yang terjadi berikutnya lebih biadab lagi. Pemuda itu membawanya ke gudang ini. Membawanya kembali terbang seperti yang sebelumnya dilakukan Gideon. Pemuda itu tak seorang diri, tapi membawa serta teman-temannya. Entah berapa orang, Clara tak tau. Mereka semua berpesta dengan menjadikan Clara sebagai hidangan pembuka, utama, serta hidangan penutup. Clara merasa bahagia, melayang, terpuaskan.


Tapi kini, setelah menemukan dirinya dibiarkan dalam keadaan yang mengenaskan. Sendirian. Clara baru menyadari, mereka hanyalah segerombolan binatang yang menjadikan dirinya sebagai mangsa. Mangsa empuk.


Clara memungut satu persatu pakaiannya yang tercecer, kemudian mengenakannya dengan hati masygul. Menyisir rambutnya yang berantakan agar sedikit terlihat rapi. Melangkah ke luar.


Ternyata gudang tua tempat Clara mendapat perlakuan seperti binatang, terletak tak jauh dari jalan raya. Hanya jalan masuk menuju bangunan, tertutup semak yang cukup tinggi, hingga bangunan itu tersembunyi.


Seorang tukang ojek lewat dan menawarkan jasanya pada Clara yang segera disambut wanita itu dengan gembira.


"Bayar di tempat ya, Pak! Saya lupa gak bawa dompet," kata Clara sambil duduk di boncengan motor.


"Iya, Neng. Mau diantar kemana?"


Clara menyebutkan alamat rumahnya, dan motor yang dikendarai bapak tua itu melaju dengan pelan. Sampai di rumah, Clara segera berlari masuk ke dalam rumah, mengambil dompet dan membayar ojek. Tak dihiraukan oleh Clara, ibunya yang sibuk bertanya.


"CLARA! JAWAB IBU! KAMU DARI MANA?"


"Bentar, Bu! Ditunggu tukang ojek."


Setelah membereskan urusan dengan tukang ojek, Clara menghampiri ibunya. Memijat bahu sang Ibu dengan lembut, berharap meredakan amarah wanita tua itu.


"Maaf ya, Bu! Semalam Clara pergi gak pamit sama Ibu. Abis Ibu sudah tidur, jadi takut menganggu. Mamanya Vano sakit, Bu. Jadi Vano panik, dan menjemput Clara untuk memeriksa ibunya. Ini Clara baru dari rumah sakit, bantu nungguin ibunya Vano."

__ADS_1


Entah kenapa, kebohongan itu mengalir lancar dari mulut Clara. Entah kalau dia sudah sangat lihai berbohong? Entahlah.


"Jadi, gimana sekarang keadaan ibunya Vano?" sang Ibu mulai melunak.


"Masih diobservasi. Kelihatannya bakal terkena gejala stroke. Karena ibu Vano punya riwayat kolesterol tinggi."


"Kolesterol bisa kena stroke?"


"Bisa, Bu. Bahkan kolesterol lebih berbahaya dari hipertensi. Karena pasien dengan kolesterol tinggi tidak mengalami tanda-tanda serangan. Seperti pusing pada penderita hipertensi, sudah merupakan alarm untuk berhati-hati. Pasien kolesterol bisa saja tiba-tiba terkena stroke."


"Hem begitu."


"Iya, makanya semalam Vano itu panik banget. Clara sampai gak sempat bawa ponsel dan dompet."


"Ya udah. Kalau begitu kamu mandi dulu! Badanmu bau sekali. Terus kamu sarapan, tadi adikmu bawa makanan siap saji!"


Clara mengecup ringan dahi ibunya, kemudian berlalu ke kamar mandi. Setelah mandi dan makan, Clara merebahkan diri ke kasurnya yang nyaman. Rasa ngilu di seluruh tubuh yang dia rasakan, perlahan menghilang. Rupanya memang Clara sangat butuh yang namanya istirahat.


Clara meraih ponselnya. Meneliti setiap pesan yang masuk. Masih ada pesan dari Rikka yang belum sempat dibuka, karena semalam Clara pergi begitu saja. Sambil tersenyum, Clara menelepon Rikka.


"Masihlah, masa bisa nelpon kalau udah mati? Maaf deh yang semalam ya, Rik! Si Vano tiba-tiba jemput dan ngajak ngedate."


"Masa gak sempat balas chat?"


"Gak sempat, Rik. Bawa HP aja aku gak sempat kok. Ini aku baru pulang, terus nelpon kamu."


"Baru pulang? Dari semalam?"


"Ho oh."


"Kemana aja, tuh? Kok sampai nginep segala?"


"Gak kemana-mana. Cuma ke kontrakan dia aja."


"Di kontrakan berdua, cowok sama cewek, nginep. Ngapain aja tuh?"

__ADS_1


Clara tertawa renyah mendengar pertanyaan Rikka yang terkesan kepo. Tapi Clara suka. Itu pertanda Rikka mempercayai bualan yang dibuatnya. Ah ... andai semua itu kenyataan, bukan sekedar bualan. Clara akan merasa sangat bahagia.


"Kamu nanya gitu, kayak anak kecil aja deh, Rik. Masa sih gak tau? Atau cuma pura-pura gak tau?"


"Gak tau, Mbak. Makanya aku nanya kan."


"Ya tebak aja. Dua orang dewasa, berlainan jenis. Nginep berdua, ngapain hayo?"


"Jadi, sudah---"


Kembali Clara tertawa. Membiarkan Rikka mereka-reka dengan imajinasinya. Semakin liar imajinasi Rikka, semakin Clara merasa senang. Ada orang yang menganggapnya beneran punya hubungan dengan Vano.


Ibu Clara selalu mengira, Gideon adalah pacar anaknya yang bernama Vano. Clara tak pernah menyebut nama Gideon di depan ibunya. Hanya nama Vano. Tak heran, wanita tua itu salah mengira.


"Hati-hati lho, Mbak! Jangan sampai kebablasan! Bisa repot."


"Aku seorang bidan, Rik. Udah tau banget caranya biar gak jadi. Bisa dibilang, itu bidang ku."


"Ya kan, sepandai-pandainya tupai melompat, bisa jatuh juga. Aku cuma mengingatkan. Dipakai syukur, gak dipakai juga tak apa. Toh bukan aku yang menanggung resikonya."


Tumben sekali Rikka berbicara panjang lebar. Biasanya cewek itu tak pernah peduli dengan Clara. Sekedar mendengar saja ceritanya. Tak pernah menegur atau memberi saran. Baru kali ini.


"Tenang aja! Aku bisa jaga diri kok."


"Ya udah kalau begitu. Syukur Mbak Clara gak kenapa-napa. Semalam aku khawatir banget. Tiba-tiba ngilang begitu aja."


"Iya, maaf ya, Rik! Terima kasih juga, udah perhatian sama aku."


"Namanya juga teman. Masa gak khawatir temannya tiba-tiba ngilang?"


"He em. Aku mau istirahat dulu ya, Rik! Badanku masih lemes dan sakit semua nih, gara-gara semalam."


"Oke, Mbakku, selamat istirahat!"


Clara mematikan telepon, tanpa membalas ucapan Rikka. Kebiasaan!!

__ADS_1


__ADS_2