Playing Victim

Playing Victim
Part 30 : Tetap Stay Cool


__ADS_3

Di belahan bumi yang lain, Thalita mulai mengabaikan kehidupan dunia maya. Gadis itu hanya fokus dengan dunia nyata. Mengerjakan tugas kuliah dengan baik. Mengurus bisnis olshop yang semakin hari semakin ramai dan menguntungkan. Tak lupa juga, aktif menulis di platform.


Thalita mengunakan tulisan untuk menyalurkan ide dan uneg-uneg yang memenuhi pikirannya. Menuangkan semua dalam cerita. Mengemasnya dalam bahasa yang enak dibaca remaja seusianya. Hampir mirip dengan menuliskan curhatan berasa sahabat atau teman akrab.


Gideon yang belakangan ini tak lagi menghubunginya, tak membuat kalut Thalita. Bodo amat! Thalita bahkan hampir melupakannya.


Hanya Vano yang saat ini selalu rajin menghubungi Thalita. Sekedar chat basa-basi, atau telepon sambil hahahihi. Tapi mereka berdua tak pernah membahas Gideon, apalagi Clara. Duo kutil yang selalu bikin badmood. Mereka lebih sering membahas riddle atau sekedar berdiskusi tentang anime detektif favorit mereka. Menyenangkan.


Sore itu, seperti biasa Thalita sedang sibuk membungkus pesanan kaos. Tentu saja dibantu oleh Renald. Mereka berdua mengerjakannya di teras kost.


Tiba-tiba ponsel Thalita berdering. Clara.


"Kok gak diangkat?" tanya Renald.


"Males. Si Tante yang nelpon."


"Kirain pacar online mu."


"Kayak e sih, dia udah mati."


"Hus! Kamu itu ya, Tha, suka asal kalau ngomong."


"Kalau masih hidup, kok gak pernah hubungi, hayo. Anggap aja udah mati kalau begitu."


Renald mengangkat bahu, tanda malas membantah omongan Thalita. Sahabatnya itu sedang kesal. Akan berbuntut panjang kalau terus diladeni. Kembali ponsel Thalita berdering. Lagi-lagi Clara.


"Blok aja gitu lho, kalau males angkat. Berisik tuh."


"Biarin aja! Biar kesel karena dicuekin. Kalau kamu mau, angkat aja!"


Untuk kesekian kalinya, ponsel Thalita berdering. Kali ini Renald yang menjawab.


"Halo, selamat sore! Dengan pacarnya Thalita di sini. Ada yang bisa dibantu?"


Thalita tertawa, mendengar sapaan Renald pada Clara. Terkadang sahabatnya itu memang kocak. usil. Suka ngerjain orang.


"Mana si Cabe? Aku mau ngomong sama dia! Cepat berikan HP nya!"

__ADS_1


"Oh, Thalita lagi gak bisa terima telpon nih. Lagi sibuk. Ngomong aja sama pacarnya, nanti pasti disampaikan kok!"


"Gak usah becanda. Gak lucu. Cepat kasih ke si Cabe!"


"Eh, Bulek! Ngerti bahasa Indonesia gak, sih? Kan udah dibilang, Thalita lagi sibuk. Gak bisa angkat telpon."


Renald menjawab dengan ketus. Kesabarannya nyaris hilang kalau ngomong dengan wanita ular satu itu. Dia selalu memanggil Thalita dengan sebutan Cabe. Hal itu membuat Renald emosi.


"Oke, bilang sama tuh Cabe! Jangan ganggu Vano! Dia tunangan ku, kami mau nikah tahun depan."


"Dengar ya, Bulek! Buka kuping lebar-lebar! Thalita itu pacarku. Gak mungkin dia godain cowok orang. Kalau si Vano itu memang pacarnya Bulek, harusnya dijaga! Biar gak ganggu cewek orang!"


"Itu karena cewekmu aja yang kegatelan! Nelpon-nelpon cowok orang! Dasar cewek gak tau malu. Cabe sial!!"


"Punya kaca gak di rumah? Ngaca yang bener deh dulu! Sebelum ngatain orang. Kalau cowoknya situ lebih milih cewek lain, berarti situ yang gak beres. Makanya jadi cewek itu harus bisa merawat diri! Biar tunangannya gak berpaling."


Melihat Renald mulai terbawa emosi, membuat Thalita berlalu ke dapur. Kemudian muncul lagi sambil membawa segelas es teh. Dengan gerakan isyarat, Thalita menyuruh Renald minum. Biar adem.


"Lu bocah! Gak usah ngajarin gua ya! Gua lebih tua dari elu. Masih bau kencur aja udah sok!"


"Kalau situ merasa tua, harusnya bijak dong, jadi orang! Ini malah kelakuan lebih buruk dari bocah. Udah kayak pr*man pasar yang gak pernah makan bangku sekolahan."


"Dasar bocah, ku---"


KLIK


Renald mematikan panggilan dan memblokir nomer Clara. Berdebat dengan mahluk seperti dia tidak menghasilkan, malah menghilangkan pahala. Karena itu, Renald malas meladeninya. Benar juga kata Thalita.


Thalita tertawa melihat wajah Renald yang cemberut. Cowok itu biasanya cukup sabar. Tak pernah marah atau emosi. Tapi menghadapi Clara, membuat cowok itu terbawa emosi. Luar biasa.


"Hadeh, Tha. Kok bisa lho kamu kenal sama mahluk kayak gitu?"


"Kenapa?"


"Bikin emosi aja, tau! Aku tuh gak pernah lepas kontrol. Ini baru ngomong di telepon, kesalnya udah di ubun-ubun."


"Kan udah ku bilang, gak usah diangkat telponnya. Bandel sih!"

__ADS_1


"Ya ku sangka bisa diajak ngomong baik-baik. Tapi ternyata bikin orang hipertensi! Udah ku blok tuh nomernya, biar dia gak ganggu kamu lagi."


"Kamu blok satu nomer. Masih ada tiga nomer lain. Lihat aja, bentar lagi dia pasti nelpon pakai nomer lain."


Baru saja Thalita berhenti bicara, ponsel gadis itu kembali berdering. Nomer baru. Belum tersimpan sebagai kontak. Thalita cuma nyengir. Yakin Clara yang kembali menelepon.


"Dengan pacarnya Thalita di sini. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Renald pada orang yang menelepon.


"Lu lagi, lu lagi. Cepat berikan HP nya sama si Cabe! Gak sudi gua ngomong sama elu."


Thalita memberi kode agar Renald memberikan ponselnya. Gadis itu mempunyai sebuah rencana. Renald memberikan ponsel Thalita pada si empunya.


Sebelum mulai bicara, Thalita menggabungkan Vano dalam panggilan.


"Halo, Bulek. Ada apa? Kangen?"


"Eh, Cabe! Udah pernah gua bilang kan, jangan ganggu Vano! Masih aja gatel lu jadi cewek."


Thalita tersenyum, melihat Vano sudah bergabung dalam obrolan, tanpa disadari oleh Clara.


"Sejak kapan Bang Vano pacaran sama Bulek ya?"


"Udah lama! Kami udah tunangan! Tar lagi---"


"GAK USAH NGARANG YA LU, L*NTE!!! SIAPA YANG SUDI SAMA ELU? MURAHAN! GAK PUNYA HARGA DIRI! P*LAC*R AJA MASIH DIHARGAI PAKE DUIT! LHA ELU? UDAH MAIN GELAR AJA ASAL ADA BATANG! L*NTE SIAL!!!"


Thalita tertawa ngakak, sedang Clara berubah menjadi pucat pasi. Wanita itu tak menyangka, Thalita telah menggabungkan panggilan dengan Vano.


"Gimana, Bulek? Kok gak dilanjutin bualan nya?"


"Dengar ya, J*L*NG! Thalita itu cewek gua! Kalau lu sampai macem-macem sama dia, lu berhadapan ama gua! Mau gua bongkar kebusukan elu di kontrakan Gideon?"


Thalita terkejut. Vano mengatakan tentang Gideon. Ada hubungan apa antara keduanya? Thalita ingin bertanya, tapi nanti. Tidak sekarang.


"Nah, sudah dengar sendiri kan, Bulek? Bang Vano itu pacarnya Thalita. Jadi Bulek gak usah ngaku-ngaku tunangan sama dia. Malu, Bulek, malu! Jadi wanita itu harus punya harga diri!"


"Udah, Sayang! Percuma saja kamu ngomong sama L*nte sampah itu! Buang-buang waktu!" kata Vano pada Thalita.

__ADS_1


Mendengar panggilan sayang yang diucapkan Vano pada Thalita, membuat amarah Clara memuncak. Wanita itu mematikan panggilan tanpa berpamitan.


***Bulek : panggilan untuk tante dalam bahasa Jawa.


__ADS_2