Playing Victim

Playing Victim
Part 48 : Vano Menyatakan Cinta


__ADS_3

Sejak menghilangnya akun-akun Gideon dari dunia maya, membuat Thalita sedikit kesepian. Biasanya, gadis itu selalu membahas dan berdiskusi tentang banyak hal dengan sang Pacar Virtual. Bahkan terkadang Gideon memberikan inspirasi untuk ide menulis dan membuat cover untuk platform.


Renald juga sedang dekat dengan seorang gadis, membuat waktunya bersama Thalita banyak berkurang. Saat ini mereka jarang mengemas orderan bersama. Renald mengantarkan barang yang menjadi tugas Thalita untuk dikemas, ke kost. Kemudian cowok itu pulang untuk mengemas jatahnya sendiri.


Thalita yang kesepian, jadi sering sekali melamun. Menulis di platform juga terasa kurang bersemangat, tak ada ide yang mau lewat di otaknya. Mungkin terhalang oleh rasa kangen pada sang Pacar.


Dari Dinda, Thalita mendapat kabar duka, ibunya Gideon meninggal dunia karena kecelakaan. Thalita yakin, pria itu saat ini lagi terpuruk. Kehilangan satu-satunya orang tua yang dikenal. Gideon tak pernah mengenal bapaknya, Thalita tau akan hal itu.


Keinginan untuk menghibur Gideon sangat besar. Tapi nomer telepon Thalita masih diblok. Thalita tak dapat menghubungi pacarnya itu. Bukan Thalita tak berusaha, gadis itu pernah meminta tolong pada Dinda, untuk menyampaikan pesannya pada Gideon. Tapi, nomor Dinda juga ikut diblok oleh cowok itu.


Vano juga pernah dimintai tolong oleh Thalita, dan Vano juga mengatakan kalau dirinya juga diblok. Entah beneran atau cuma alasan Vano saja, Thalita tak pernah tau. Vano memintanya melupakan Gideon, dan menolak segala macam obrolan yang membahas cowok itu.


Thalita tak tau lagi, cara apa yang akan diambil untuk bisa menghubungi Gideon. Semuanya terasa buntu. Thalita rindu, sangat rindu. Tapi mustahil untuk bertemu.


Suara ponsel mengagetkan Thalita. Ada sebuah nama tampak berkedip di layarnya, tapi Thalita engan menjawab panggilan itu. Dibiarkannya sampai menjadi panggilan tak terjawab. Berkali-kali ponsel Thalita berdering, hingga gadis itu merasa risih dan terpaksa menjawab panggilan.


"Halo, namaku Gigi, mulut adalah rumahku," kata Thalita.


"Kemana aja sih, Sayang? Dari tadi Bang Vano telpon gak diangkat-angkat?" tanya Vano kesal.


"Abis beli makan, Bang. Tadi itu malas masak, jadi beli makanan di warung," dusta Thalita.


"Gak bawa HP?"


"Enggak, Bang. Kan belinya dekat, depan kost situ kok. Emang ada apa nih, tumben Bang Vano nelpon Thalita? Apa gak takut Bulek Clara marah?"


"Jangan sebut nama itu, Sayang! Please! Abang muak banget, meski cuma dengar namanya saja."


"Maaf Bang maaf! Thalita gak tau kalau Abang muak."


"Iya, kali ini gapapa karena gak tau. Tapi kalau diulang lagi, Abang cip*k lho Thalita!"


"Eh? Kok jadi mau ya? Hahahaha."

__ADS_1


"Sini deh sini, ke Ibukota! Tar kalau ketemu Abang langsung eksekusi deh, hehehe."


"Ih, ya ogah kalau Thalita yang kesitu. Abang dong yang ke sini, kan Abang yang cowok. Harus berjuang!"


"Okelah, Abang janji nih, suatu saat, jika Tuhan berkehendak, Abang akan ke situ. Ketemu Thalita dan papa mama. Abang akan minta anak gadis mereka untuk jadi penolong Abang."


"Hilih...gombal banget deh Bang Vano ini!"


Thalita tertawa mendengar gombalan Vano yang receh. Entah kenapa, dulu saat mendengar Gideon melontarkan gombalan serupa, hati Thalita terasa berbunga. Tapi kini, biasa-biasa saja.


"Kok malah tertawa sih, Tha? Bang Vano serius nih," Vano ngambek.


"Abis Bang Vano itu lucu tau. Thalita baru dengar sekarang, Bang Vano ngombal. Biasanya kan Bang Vano itu selalu serius."


"Ini bukan ngombal, Sayang. Abang serius sama Thalita. Abang beneran sayang, beneran cinta. Abang bahkan mau, Thalita jadi istrinya Abang suatu hari nanti."


Thalita tertegun. Ternyata Vano serius menyatakan cintanya. Terdengar dari kata-katanya yang sungguh-sungguh. Vano tak sedang bercanda.


"Takut kenapa?"


"Jujur saja ya, Bang. Thalita itu beneran cinta sama Bang Gideon, meskipun pacaran juga cuma virtual. Tapi, Bang Gideon sudah membuat Thalita kecewa. Thalita jadi takut, Bang Vano bakal kayak Bang Gideon, hiks."


Thalita mulai terisak. Luka di hati yang ditorehkan oleh Gideon, masih terasa perih. Thalita masih belum dapat melupakan Gideon. Masih menyayangi cowok itu. Belum dapat mengantikan posisinya dengan cowok lain. Thalita takut Vano kecewa. Takut sekali.


"Abang paham kok, Sayang. Abang paham yang Thalita rasain. Abang akan tunggu, sampai Thalita dapat menerima Abang. Seperti Thalita menerima Gideon."


Entah kenapa, Vano merasa dirinya lemah, saat berbicara dengan Thalita. Jika biasanya Vano kasar dan arogan pada cewek lain, terutama dengan Clara, berbeda sekali perlakuannya pada Thalita. Vano akan bersikap sangat lembut, seakan Thalita itu sebuah boneka yang rapuh dan gampang pecah.


"Makasih ya, Bang Vano mau mengerti Thalita."


"Iya, sama-sama. Makasih juga, Thalita udah ngerti Abang."


"Sebenarnya, Thalita tuh gak paham sama Bang Vano. Kenapa gitu, malah suka sama aku, kan masih banyak cewek lain yang jauh lebih baik dari aku."

__ADS_1


"Entahlah, Tha. Bang Vano juga sebenarnya bingung kok. Sama kamu Abang merasa nyaman aja. Meski kamu tuh kelihatannya judes, angkuh, sombong juga. Abang tau kok, sebenarnya kamu itu rapuh. Kamu cuma berlagak sok kuat aja di depan yang lain. Jadi Abang tuh, jadi pengen pasang badan buat kamu, pengen melindungi kamu, pengen bikin perkedel orang-orang yang bikin kamu sakit. Juga cuma sama kamu, Abang bisa ngomong puanjang kayak gini. Hahaha."


"Dasar orang aneh. Seleranya juga aneh, hahaha," Thalita jadi ikut tertawa mendengar Vano ngakak. Peristiwa yang sangat langka, bisa membuat Vano tersenyum, apalagi tertawa ngakak seperti saat ini. Biasanya Vano sangat cool, bahkan bisa dikategorikan bengis.


"Bang Vano aja sampai heran, kok bisa gitu, jadi lemah kayak gini."


"Tertawa bukan membuat orang terlihat lemah juga lah, Bang. Tapi, Bang---" Thalita tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kenapa, Sayang?"


"Gimana dengan Bulek? Dia kan cinta mati sama Bang Vano. Kemarin-kemarin aja dia udah kayak gitu ke Thalita, apalagi kalau sampai tau kita jadian?"


"Tenang aja! Itu biar Abang yang ngurus, kamu tenang aja!"


"Hem, oke. Thalita percaya sama Bang Vano kok."


"Nah, gitu dong. Si Clara gak bakal macam-macam, Abang pegang kartu as dia. Demikian juga Gideon."


"Bang Gideon? Apa yang Bang Vano tentang Bang Gideon?" tanya Thalita penasaran.


"Abang rasa, kamu tak perlu tau untuk saat ini. Abang janji, suatu saat bakal kasih tau kamu. Tapi gak sekarang."


"Ada hubungannya dengan Bulek?"


"Yah, bisa jadi. Udah, sekarang jangan kepo mulu! Mending kamu istirahat, besok kan kamu kuliah!"


"Baiklah, Bang. Thalita juga mulai ngantuk nih," kata Thalita sambil menguap.


"Iya, love you, Sayang. Good night."


"Love me too."


Jawaban yang selalu membuat Vano kesal.

__ADS_1


__ADS_2