Playing Victim

Playing Victim
Part 46 : Mencari Alternatif


__ADS_3

Clara merasa lelah lahir batin. Otaknya sudah tak dapat berpikir lagi. Semua jalan terasa buntu. Gideon hilang, Vano tak mau membantu, Hans memblokir nomernya, dan sang Ibu marah padanya. Ibu?? Ya, Clara masih punya tempat untuk mengadu, ibunya.


Bergegas wanita itu membersihkan diri, berganti pakaian dan meluncur ke rumah adiknya dengan mengendarai motor. Clara tak tau kabar ibunya, karena tak pernah menengok wanita tua itu, sejak perselisihan mereka tempo hari.


Tiba di rumah sang Adik, tampaknya tak ada orang. Pintu dan jendela tertutup rapat, lampu teras dan lampu jalan menyala, padahal ini siang hari. Pertanda para penghuni rumah sedang tak ada di tempat.


"Pada kemana nih, kok sepi ya? Masa sih Ibu juga ikutan pergi? Kan Ibu lagi sakit?"


Clara mencoba menghubungi nomor adiknya, tapi masih diblok. Terpaksa Clara menggunakan nomor lain yang tak diketahui oleh adiknya. Clara mempunyai empat nomor hanya untuk aplikasi hijau.


"Halo, Hans! Kamu dimana, kok rumah kamu sepi?" tanya Clara begitu panggilan dijawab.


"Oh, masih ingat untuk ke rumah adiknya ya? Setelah gak peduli, ibunya sehat atau sakit? Cuma ngurus diri sendiri aja! Egois!"


"Maksud kamu apa, Hans?"


"Mbak gak tau kan, kalau Ibu sudah seminggu ini koma? Kemana aja, Mbak? Kok baru menghubungi? Sibuk ngejar berondong ya?" kata Hans sinis. Cowok itu merasa emosi, sejak pertama kali mendengar suara Clara.


"Iii ... Iiibu, koma? Sejak kapan, Hans? Kenapa kamu gak hubungi Mbak? Malah nomer Mbak kamu blok."


"Aku sudah menghubungi Mbak Clara, saat aku menemukan Ibu jatuh pingsan dari kursi roda. Tapi Mbak malah sibuk ngomongin pernikahan Mbak sama berondong pengangguran itu."


"Hah? Maksud kamu, waktu nelpon itu kamu mau bilang kalau Ibu jatuh? Kamu itu gimana sih, kok bisa Ibu sampai jatuh? Ibu itu punya hipertensi, takutnya kena stroke!"


"Enak ya kalau cuma bisa menghujat kayak gitu? Anak Ibu bukan cuma aku. Mbak juga anak Ibu. Tapi apa? Emang Mbak peduli pada Ibu?"


"Kan kamu yang maksa buat merawat Ibu?"

__ADS_1


"Itu karena Ibu gak terurus waktu tinggal sama Mbak. Mbak cuma sibuk senang-senang dan ngejar berondong, gak peduli sama Ibu!"


"Tapi Ibu gak pernah sampai jatuh saat di rumahku!"


"Hahahahaha, lucu sekali sih Mbak Clara ini? Kalau Ibu gak pernah jatuh, gak mungkin kan Ibu duduk di kursi roda?"


Clara terdiam. Sang Ibu memang mengalami cacat karena kelalaiannya. Clara sedang asik bersama Gideon, saat ibunya lagi sakit dan di rumah sendiri. Saat akan ke kamar mandi, ibunya jatuh terpeleset dan mengalami stroke.


"Kenapa diam, Mbak? Benar kan omonganku?"


"Sekarang Ibu dirawat dimana? Mbak ke sana sekarang."


Hans menyebutkan nama rumah sakit dan ruangan tempat ibunya dirawat. Setelah itu bergegas untuk pulang ke rumahnya. Pria itu malas ketemu mbaknya.


Clara tiba di rumah sakit tempat ibunya di rawat, tapi tak mendapati Hans di tempat itu. Nomor baru Clara juga sudah diblokir oleh adiknya itu. Clara hanya bisa merasa kesal dan terpaksa menunggui ibunya sendirian.


Clara semakin kesal, karena sampai menjelang malam,adiknya itu tak kelihatan juga batang hidungnya. Padahal Clara yang sedang hamil muda, merasakan tubuhnya sudah lelah luar biasa. Rasa mual dan pusing khas orang hamil, akhir-akhir ini memang menyerangnya, membuat aktifitas Clara sangat terganggu.


Sudah dua minggu ini, Clara juga tak masuk kerja, sibuk mencari Gideon. Bukan tak mungkin, Clara terancam di PHK. Karena klinik tempatnya bekerja, adalah milik pihak swasta yang melihat kinerja karyawannya.


"Haduh, kemana nih si Hans? Kalau dia gak datang malam ini, bisa-bisa aku harus bermalam di sini nih. Mana besok aku kerja shif pagi, kan ngantuk. Aku gak bisa tidur kalau gak di kamarku," lagi-lagi Clara mengeluh.


Clara terlihat gelisah, ingin pulang ke rumah, tapi dia tak tega meninggalkan sang Ibu seorang diri di rumah sakit. Meski ibunya masih di ICU dan belum sadarkan diri, tetap tak tega rasanya Clara meninggalkannya seorang diri. Bagaimanapun, Clara sadar, dirinyalah penyebab sang Ibu terkena serangan stroke dan mungkin jantung juga.


Dengan terpaksa, Clara harus menginap di rumah sakit, dan esok harinya tidak masuk kerja lagi. Sebuah pesan dari atasannya, membuat Clara shock berat. Beliau menyarankan Clara untuk mengajukan surat pengunduran diri.


"Apa-apaan ini si Bos sih? Kok seenak udel nyuruh orang mengundurkan diri. Kayak klinik milik bapak moyangnya aja. Harus disamperin nih!"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Clara segera pergi dari rumah sakit untuk menemui sang Bos. Jangan sampai Clara terkena PHK, bisa-bisa dia tak dapat ngasih makan anaknya. Dengan menggunakan ojek online, Clara menuju ke klinik.


Tok tok tok tok


"Ya masuk!"


Sebuah sahutan dari dalam ruangan Bos, membuat Clara memberanikan diri melangkah masuk.


"Oh, Clara. Mau nganterin surat pengunduran diri, ya? Cepat amat bikinnya? Jangan-jangan emang sudah dipersiapkan," kata sang Bos terlihat santai.


"Memang! Saya siap mengundurkan diri saat ini juga, kalau memang Bos mau istrinya gak usah kerja," kata Clara dengan tersenyum miring.


"Hah? Maksudmu apa Clara?"


"Maksud saya ke sini sekarang, untuk memenuhi keinginan Bos. Kalau memang menghendaki saya di rumah saja dan fokus merawat anak Bos, ya saya akan mengundurkan diri sekarang juga."


"Kok kamu ngelantur sih, Ra? Istri saya? Kan saya emang sudah punya istri, dan dia memang gak bekerja."


"Dan istri Bos akan bertambah satu lagi, yakni saya. Karena sekarang ini, saya sedang mengandung anak Bos. Jadi, Bos harus bertanggung jawab dan menikahi saya!"


"Becanda mu sangat gak lucu, Ra! Saya serius lagi serius, gak becanda."


"Bos kira saya becanda? Saya serius Bos! Saat ini saya sedang mengandung, dan satu-satunya pria yang tidur dengan saya itu cuma Bos. Jadi Bos harus bertanggung jawab!"


"Saya bukan orang beg* ya, Ra! Kamu kira saya percaya, anak dalam perutmu itu anak saya? Kamu bahkan sudah gak perawan saat tidur dengan saya. Gak menutup kemungkinan kamu tidur dengan orang lain juga," jawab Bos santai.


"Bos kira saya wanita murahan? Saya belum pernah tidur dengan cowok, kecuali Bos. Dan soal saya gak keluar darah saat itu, karena saya pernah kecelakaan saat kecil. Saya jatuh dari sepeda."

__ADS_1


"Jangan hanya omong doang! Buktikan itu anakku! Soal biaya tes DNA, biar aku yang tanggung," Bos tersenyum miring dan memandang rendah pada Clara.


__ADS_2