
Setelah membaca chat dari Gideon, membuat Clara ingin membanting ponselnya. Gimana bisa Gideon begitu labil? Kemarin dia sudah setuju untuk menikahi Clara, sekarang cowok itu malah membatalkan niatnya. Dengan alasan ibunya tak setuju lagi, basi. Alasan klasik yang masih dipakai dalam cerita novel.
Segera Clara memencet tombol call pada ponselnya di nomor Gideon. Tapi cuma memanggil. Sepertinya cowok itu tak berniat menjawab telepon. Clara semakin kesal. Wanita itu menarik kasar rambut di kepalanya, membuat segenggam rambut tercabut dan meninggalkan rasa perih.
"SIAL! GIDEON SIAL! BISA-BISANYA DIA BERUBAH PIKIRAN, DASAR SIAL!!"
Clara merasa frustasi. Bagaimana dia akan menutupi aib, kalau Gideon menolak menikah? Cowok itu satu-satunya orang yang bisa dia jadikan kambing hitam, karena Clara tak tau pasti, siapa sebenarnya ayah si Bayi.
Untuk menjebak Vano, sangat tak mungkin. Lagi pula, Vano pasti menolak Clara, karena Vano melihat dengan mata kepala sendiri, peristiwa di kontrakan lama Gideon. Vano merasa jijik pada Clara.
"AAARHH! DASAR KUTIL ONTA SIAL!!"
Clara memukuli perutnya sambil menangis, berharap janin yang bersemayam di sana keguguran. Wanita itu benar-benar putus asa. Untuk mencari keberadaan Gideon saat ini, juga terlalu sulit. Cowok itu telah pindah dari kontrakan lama, dan Clara tak tau kontrakannya yang baru.
"Satu-satunya jalan, aku harus minta bantuan pada Vano. Ya, Vano kan tau, aku pernah tidur dengan Gideon. Pasti dia percaya, kalau ku bilang ini anak Gideon."
Wajah Clara sedikit cerah. Ada secercah harapan yang dilihat Clara. Harapannya, Vano mau membantunya menemukan kontrakan Gideon.
"Halo, Van. Boleh aku minta bantuanmu?" tanya Clara begitu panggilan tersambung.
"Bantuan apa?" tanya Vano dingin.
"Tolong temukan kontrakan baru Gideon!"
"Untuk?"
"Aa ... aku hamil anak Gideon, Van. Dia harus bertanggung jawab," kata Clara sambil terisak.
"Telepon aja!"
"Dari tadi udah ku telepon, tapi dia gak mau angkat. Andai aku tau kontrakan dia yang baru, sudah ku samperin. Kemarin aku ke kostnya yang lama, mereka bilang, Gideon dan ibunya sudah pindah."
"Yakin, itu anak Gideon?"
"Yakin, Van. Aku melakukannya, cuma sama dia kok."
__ADS_1
"Oke, aku bantu. Tapi gak janji. Aku sibuk."
"Iya, gapapa. Yang penting kamu udah ada kemauan untuk membantu. Aku merasa sendirian saat ini. Aku merasa---"
KLIK
Vano mematikan panggilan tanpa ijin dari Clara, membuat kekesalan wanita itu kembali mencuat. Padahal sebelumnya, mendengar suara Vano, emosi wanita itu mereda.
"AH, SIAL! GIDEON SIAL! VANO JUGA SIAL! SEMUA SIAL!"
Capek berteriak dan ngamuk, Clara duduk terpekur di lantai. Air matanya masih terus mengalir. Kepalanya terasa perih dan pusing. Membuat Clara semakin kesal.
"Heran! Kenapa tiba-tiba Gideon berubah pikiran, sih? Padahal kemarin itu dia sudah setuju. Gak mungkin juga karena ibunya, itu cuma alasan. Jangan-jangan---"
Clara tak melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba di benaknya terlintas sebuah nama, Thalita. Ya, pasti Thalita yang telah mempengaruhi Gideon. Gadis itu pasti gak mau putus, karena itu, Gideon menolak nikah. Dasar Cabe licik. Dengan geram, Clara menekan nomer Thalita, tapi gadis itu memblokirnya.
"Benar-benar sial, kenapa aku bisa lupa kalau diblokir si Cabe sih? Aku harus cari akal, gimana caranya bisa nelpon dia."
Kembali Clara memeras otak, mencari cara agar dapat menelpon Thalita. Empat nomer miliknya, telah diblokir oleh Thalita.
Clara menelepon Rikka, dan meminta gadis itu untuk menggabungkan telpon dengan Thalita."
"Halo, ada apa nih?" sapa Thalita dengan nada mengantuk.
"HEH, CABE! BISA NGGAK LU GAK IKUT CAMPUR URUSAN GUA, HAH? NGAPAIN LU LARANG GIDEON BUAT NIKAH SAMA GUA? TAKUT GAK LAKU YA, LU?"
"Hah? Maksudnya apaan, ya? Ini siapa sih? Bisa gak, gak usah teriak-teriak? Aku gak budeg lho!" kata Thalita tersinggung.
Rikka sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahannya, dia tak mau jadi sasaran amukan Clara.
"LU BEG* APA GIMANA? KAN UDAH JELAS GUA NGOMONG, KENAPA LU LARANG GIDEON NIKAH SAMA GUA?"
"Kok lucu banget ya, Bulek ini. Siapa juga yang ngelarang Bang Gideon nikah sama Bulek? Ya kalau mau nikah, nikah aja! Itu juga kalau Bang Gideon mau sih."
"Hhhmm, hhhhmm," Rikka menutup rapat mulutnya dengan tangan, agar Clara tak mendengarnya tertawa.
__ADS_1
"SELAIN LU, GAK ADA LAGI YANG MENGHALANGI GIDEON NIKAH SAMA GUA, CABE! DENGAR YA! GUA SEDANG HAMIL ANAK GIDEON. JADI DIA HARUS NIKAH SAMA GUA. LU GAK BISA MENGHALANGI GUA!"
"Haduh! Sepertinya, Bulek tuh yang budeg deh. Kan dari tadi udah ku bilang, kalau mau nikah, ya nikah aja! Aku gak pernah melarang kok. Lagian, udah seminggu ini, Bang Dion gak ada kontak sama aku."
"Gua gak akan percaya, sama omongan cabe kayak elu! Pasti elu yang mempengaruhi Gideon!"
"Gini ya, Bulek, dengar! Aku gak pernah melarang kalian menikah. Dan lagi, Bulek banga gitu, sedang Hamil anak Bang Gideon? Padahal kalian itu belum menikah. Lha kalau sampai udah hamil, berarti kalian tuh---"
"UHUK UHUK UHUK UHUK!"
Rikka terbatuk untuk menutupi tawa. Benar kata Thalita. Kenapa harus banga gitu, hamil di luar nikah. Padahal itu perbuatan tercela.
"Kenapa kamu, Rik?" tanya Clara.
"Keselek, Mbak. Tadi barusan minum," dusta Rikka.
"Eh, Cabe! Lu gak usah ngajarin gua ya! Lu itu masih bocah, lagakmu---"
"BISA DIAM GAK LU, L*NTE?!!"
Clara terkesiap, gimana bisa Vano tiba-tiba bergabung dalam panggilan tanpa dia ketahui? Pasti tuh si Cabe yang gabungin, batin Clara. Wanita itu mengusap wajahnya kasar.
"DENGAR YA LU, CLARA! TADI GUA UDAH BILANG, BAKAL BANTU LU MINTA TANGGUNG JAWAB SAMA GIDEON. KENAPA SEKARANG LU MALAH RESE KE THALITA, HAH?!"
"Aa ... anu, Van. Aku---"
"ANU ANU ANU, KALAU NGOMONG YANG JELAS! LU NGERTI GAK SIH, OMONGAN MANUSIA?"
"Ma ... maaf, Van! Aku gak ada maksud apa-apa kok. Tadi aku cuma nanya baik-baik sama si Cabe, tapi dia nyolot," kata Clara bohong.
"Dan lu pikir gua percaya sama omongan elu? Gak sama sekali. Gua kenal siapa Thalita, tau semua sifatnya juga. Gak mungkin dia bersikap seperti yang lu bilang. Karena itu, gua batal mau bantuin elu. Thalita, Sayang! Matikan aja panggilannya, kalau Lampir ini nelpon lagi, blok aja. Gak usah digubris, Sayang!"
"Oke, Bang Vano. Terima kasih ya, udah mau digabungkan telepon."
"Sama-sama, Sayang."
__ADS_1
Vano dan Thalita meninggalkan obrolan bersama. Membuat Clara terbakar emosi. Wanita itu mengobrak-abrik kamarnya untuk meluapkan kemarahan.