
Sejak berantem dengan Thalita via telepon kemarin, Gideon semakin sering menghubungi gadis itu. Gideon tak memberi kesempatan untuk Vano bisa menghubungi Thalita. Sangat posesif. Awalnya, Thalita merasa nyaman-nyaman aja, tapi makin hari, sifat posesif Gideon membuatnya ilfil. Thalita jadi lebih sering mematikan data, dengan alasan sibuk dengan tugas kuliah.
Sore itu, baru saja Thalita menghidupkan data, banyak sekali chat masuk ke akunnya di aplikasi hijau. Kebanyakan dari nomor tak dikenal. Ada juga beberapa chat dari Vano, sekedar menanyakan kabar. Tak sedikit chat dari Gideon, mengungkapkan rasa kangen. Lebay sekali.
Kalau dulu, ungkapan rasa kangen dari Gideon, selalu membuat hati Thalita berbunga-bunga. Tapi sekarang, Thalita merasa eneg dan terganggu. Entah apa sebabnya, Thalita juga tak tau.
Thalita membuka beberapa chat dari nomer-nomer tak dikenal, mungkin saja dari orang-orang yang ingin membeli novelnya. Tapi ... isi chat-chat itu membuat Thalita merasa shock. Kebanyakan mengirimkan gambar vulgar dan video untuk 21 tahun ke atas. Kurang ajar.
Dengan geram, Thalita segera menelpon Vano, untuk mengadukan apa yang baru saja dialami di aplikasi hijau.
"Iya, Tha! Ada apa? Tumben nelpon?" sapa Vano dengan suara seperti orang bangun tidur.
"Thalita dapat spam chat nih, Bang. Isinya gak ada akhlak. Gambar-gambar dan video dewasa. Bahkan ada yang ngajakin V*S. Thalita kesel banget nih."
"Hem! Udah punya dugaan siapa pelakunya?"
"Ya kalau menurut Thalita sih, pasti si Kutil Monyet."
Terdengar Vano tertawa ngakak. Ada-ada saja cewek satu ini kalau bikin nama panggilan. Kocak sekali. Vano jadi merasa terhibur. Rasa kantuknya juga raib begitu saja.
"Kutil Monyet? Siapa tuh?"
"Siapa lagi kalau bukan Bulek Clara, Bang. Cuma dia yang punya pikiran kriminal terhadap Thalita."
"Oke, tenang aja! Nanti Abang urus tuh si Bulek. Kamu fokus belajar aja, jangan sampai terganggu dengan hal-hal gak guna kayak gini!"
"Siap, Bang! Makasih, ya, Abang udah mau bantu Thalita. Bang Gideon aja gak pernah peduli, malah belain Bulek mulu."
"Ya biarin aja! Toh ada aku yang bakal bela kamu."
"Iya, Bang."
"Ya udah, Abang mau mandi nih. Kamu belajar sana! Jangan pacaran sama Gideon mulu!"
"Mana ada Thalita pacaran mulu. Ini mau bungkus-bungkus orderan kok."
"Ya udah sana! Cari cuan yang banyak! See you, Thalita."
__ADS_1
"See you too, Bang Vano."
Thalita baru saja mematikan panggilan dan meletakkan ponsel, tapi benda itu berdering nyaring. Gideon, sebuah nama berkedip di layarnya.
"Halo, Bang Dion."
"Hay, Sayang. Dari tadi Abang telponin, tapi di panggilan lain mulu. Nelpon siapa?"
"Nelpon Bang Vano," jawab Thalita jujur.
"NGAPAIN NELPON DIA?"
"Biasa aja kali, ngomongnya! Gak usah bentak-bentak juga!"
"Itu karena Thalita gak mau nurut sama Abang! Kan udah Abang suruh blok tuh, nomornya si Vano. Kenapa gak dilakukan?"
"Ya karena Thalita masih butuh sama Bang Vano. Kalau diblok, nanti gak bisa hubungi, dong!"
"Ya memang itu tujuannya, biar gak usah hubungi Vano lagi. Cukup hubungi Abang aja. Pacar Thalita itu Abang, bukan Vano!"
"Hah? Thalita yakin, itu kelakuan Clara? Menuduh tanpa bukti, itu namanya fitnah lho."
"Thalita yakin pakai banget. Memang Thalita gak punya bukti, itu tugas Abang! Cari buktinya!"
"Kok jadi Abang? Yang nuduh kan Thalita. Jadi Thalita yang harus cari bukti, baru bisa nuduh Clara."
"Tuh, kan! Pasti Abang kayak gitu, belain Bulek Clara mulu. Kalau gitu, biar Thalita minta tolong Bang Vano aja! Dia mah gak banyak bac*t kayak Abang!"
"KOK NGOMONGNYA KASAR KE ABANG? SIAPA YANG NGAJARIN KAYAK GITU, HAH?"
"Gak ada! Thalita belajar kasar sendiri. Kalau lembut mulu, tar disangka lemah, terus diinjak-injak deh."
"THALITA!!"
"Gak usah teriak-teriak! Thalita gak budeg kok."
"BENER-BENER KAMU YA, BIKIN ABANG EMOSI AJA!"
__ADS_1
"Emang Abang mau apa? Minta putus sama Thalita? Oke, Thalita siap."
"LAGI-LAGI BILANGNYA GITU. PASTI GARA-GARA KAMU DEKAT SAMA VANO, JADINYA GAK SOPAN SAMA ABANG!"
"Bang Dion, ini gak ada hubungannya sama Bang Vano kok. Thalita sendiri yang memang mau bersikap tegas. Thalita eneg dengan sikap.Bang Dion yang selalu belain Bulek Clara. Jangan-jangan benar dugaan Thalita, ada sesuatu di antara kalian berdua, hingga Abang selalu belain dia!"
Gideon mendengkus kesal. Kenapa dugaan Thalita tepat sekali? Jangan-jangan Vano yang membocorkan peristiwa di kontrakan pada Thalita.
"Kok Thalita jadi nuduh, Abang? Emang Thalita punya bukti, Abang ada sesuatu sama Clara?" kali ini suara Gideon lebih lembut.
"Bukti mah gampang dicari kalau Thalita mau. Sekarang tinggal Abang jawab saja! Abang punya hubungan gak, sama Bulek?"
"Ga ... gak ada kok, Sayang. Abang gak ada hubungan sama dia."
"Ya kalau beneran gak ada, bisa dong tegur dia biar gak gangguin hidup Thalita lagi! Thalita udah muak, Bang! Muak banget dengan kelakuan Bulek Clara."
"Ya udah kalau gitu, nanti Abang tegur dia, biar gak bikin ulah yang membuat Thalita muak. Tapi Thalita harus nurut sama Abang! Blokir nomornya Vano!"
"Gak mau! Nanti aja kalau Abang bisa buktikan omongan Abang, baru Thalita blok Bang Vano."
Gideon merasa kesal, cowok itu menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan. Akhir-akhir ini, Thalita lebih sering menentangnya. Tak lagi nurut kayak dulu. Terpaksa Gideon yang harus banyak mengalah, dan menuruti kemauan gadis itu.
"Iya, Sayang! Nanti Abang bilang ke Clara, biar gak ganggu kamu lagi."
"Lagian, apa sih sebenarnya yang bikin Bulek Clara benci sama Thalita?"
"Ya mana Abang tau, Sayang. Tanya aja ke orangnya! Mungkin dia iri sama kamu, kamu punya kelebihan yang gak dia miliki."
"Males! Abang aja yang nanyain! Nomernya Bulek udah ku blok semua."
"Semua? Maksudnya, nomer Clara ada banyak?"
"Setau Thalita ada empat. Udah ku blok semua."
"Astaga!! Bener-bener tuh perempuan ya, gak bisa dikasih hati emang. Sabar ya, Sayang! Serahkan semua sama Abang, biar Abang yang bertindak."
Thalita cuma nyengir. Gadis itu merasa puas, dapat mengendalikan Gideon dalam pengaruhnya. Thalita jadi punya sekutu, untuk melawan kekuasaan Clara. Wanita itu harus diberi pelajaran, agar gak berbuat seenak udelnya saja. Meski tak kuat secara fisik, Thalita bisa memakai otaknya, untuk melawan kelicikan Clara.
__ADS_1