Playing Victim

Playing Victim
Part 41 : Gagal Nikah


__ADS_3

Clara merasa geram, adiknya mematikan panggilan telepon dan memblokir nomernya. Padahal Clara cuma ingin menyampaikan kabar gembira, dirinya akan segera menikah, menghilangkan julukan perawan tua, yang disematkan oleh orang-orang yang tak menyukainya.


"Dasar adik kurang ajar! Gak sopan banget jadi orang, mbak e masih mau ngomong udah dimatikan, diblokir pula. Nanti ku kutuk jadi kodok, baru tau rasa!" omel Clara pada ponselnya.


Clara segera mencari nomor Gideon, ingin curhat tentang kelakuan adiknya, pada calon suaminya. Tapi, panggilan pada nomor Gideon cuma berdering. Agaknya cowok itu belum mengaktifkan datanya. Kekesalan Clara jadi bertambah.


Kali ini, Clara menekan nomor Rikka. Gadis itu pasti dengan senang hati, akan mendengarkan curhatan Clara. Rikka kan sahabat terbaik buat Clara.


"Ya, Mbak Clara. Tumben banget nih nelpon, ada apa?"


Benar, kan? Rikka memang the best, selalu ada saat Clara membutuhkan teman curhat. Dengan penuh semangat, Clara menceritakan rencana pernikahannya dengan Gideon. Juga tanggapan ibu dan adiknya saat diberi tahu akan rencana itu.


"Lha? Kok malah nikah sama Gideon? Bukankah Mbak Clara cintanya sama Bang Vano?" tanya Rikka heran.


"Ya mau gimana lagi, Rik? Gideon mohon-mohon buat nikah sama aku, sampai berlutut segala lho. Mana tega aku nolak dia."


Clara mulai meluncurkan kebohongannya, untuk mendapat simpati dari Rikka. Selama ini, Rikka taunya Clara cuma cinta sama Vano, aneh rasanya jika tiba-tiba beralih pada Gideon. Clara ingin membuat kesan, Gideon lah yang mengejarnya. Bukan Clara yang memohon untuk dinikahi Gideon.


"Terus, Bang Vano gimana, Mbak?"


"Itulah, masalahnya. Aku belum bilang sama Vano, rencanaku buat nikah sama Gideon. Aku takut Vano akan patah hati, Rik. Dia kan juga cinta mati sama aku. Asli, aku bingung harus pilih yang mana."


"Kalau menurutku, mending Mbak Clara sama Bang Vano aja! Kalian kan sama-sama cinta, jadi peluang untuk bahagia itu lebih besar. Beda kalau sama Gideon, cuma sepihak saja yang cinta."


"Kamu gak tau sih, Rik. Gideon itu pakai ngancam lho, biar aku setuju nikah sama dia. Self harm, pernah dengar gak? Melukai dirinya sendiri gitu. Ngeri pokoknya, Rik."


"Apalagi kayak gitu, Mbak! Emang Mbak Clara mau, punya suami sakit jiwa?"

__ADS_1


"Lalu, aku harus gimana, Rik? Kalau ku tolak, takutnya Gideon malah nekad, lho."


"Pikirin lagi deh, Mbak! Kalau perlu, Mbak Clara berunding dulu sama keluarga! Cari masukan dari mereka, bagaimana baiknya! Menikah itu, ibadah seumur hidup lho, Mbak. Kalau bisa cuma sekali aja, jadi harus dipikir masak-masak, jangan sampai salah pilih."


Nasehat Rikka, membuat Clara terdiam. Andai kejadiannya seperti bualan Clara, wanita itu tak perlu untuk berpikir lagi. Dia akan lebih memilih Vano daripada Gideon, karena memang cinta mati pada cowok itu. Sedang Gideon, kekhilafan yang berlanjut dengan kebutuhan sebagai manusia dewasa.


Dan, andai Clara tak sedang berbadan dua, wanita itu akan terus mengejar Vano, sampai berhasil mendapatkan hati cowok itu. Tapi, untuk saat ini, Clara terpaksa mengubur harapannya untuk dapat hidup bersama Vano.


"Mbak? Kok diam? Apa aku salah ngomong?" tanya Rikka ketika Clara diam saja untuk waktu yang lama.


"Aku lagi mempertimbangkan kata-katamu, Rik. Bingung aku, harus pilih yang mana."


"Seperti saranku, berunding dulu sama keluarga!"


"Tadi, aku sempat ketemu Ibu, beliau tak setuju. Terus adikmu ya gitu, matiin telepon dan blok nomerku. Sepertinya adikku udah terpengaruh sama ibuku."


"Ya kan mereka gak tau, gimana Gideon. Aku gak cerita, apa alasan aku mau nikah sama Gideon pada mereka."


"Itu namanya, ruwet yang dibikin sendiri. Perkara gampang tapi sama Mbak Clara dipersulit. Udah deh, Mbak! Ikuti saranku, pilih Bang Vano saja!"


Kembali Clara diam. Curhat pada Rikka tak menemukan solusi yang diharapkan. Entah salahnya dimana. Pada Clara yang tak mau jujur, atau pada Rikka yang termakan kebohongan Clara.


"Iya, Rik. Nanti deh ku pikirkan lagi. Sekarang aku mau ke tempat ibuku dulu, mau berunding. Makasih ya, udah mau dengar curhatan ku."


"Sama-sama, Mbak Clara. Hati-hati di jalan."


Clara menutup telponnya dengan Rikka, wanita itu kemudian sibuk melamun, membayangkan rencana pernikahannya dengan Gideon. Tak terasa, Clara mulai larut ke alam mimpi.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Gideon, cowok itu bersitegang dengan ibunya. Sang Ibu tetap keukeuh tak setuju kalau Gideon menikah dengan Clara. Padahal sang Anak sudah memberi pengertian, kalau pernikahannya dengan Clara cuma untuk sebuah status untuk anak yang dikandung Clara.


"Ibu tetap gak setuju, kamu nikah sama wanita itu. Ibu malu punya menantu wanita murahan."


"Tolonglah, Bu! Ibu juga pernah berada dalam posisi seperti Clara. Ibu pasti tau, bagaimana rasanya."


"Beda! Ibu mengandung kamu, jelas siapa bapakmu. Ibu cuma melakukan perbuatan itu dengan satu orang, bapakmu. Sementara wanita murahan itu, entah dengan berapa orang."


"Dia hanya melakukannya denganku, Bu. Jadi pasti yang dikandungnya itu anakku. Aku harus bertanggung jawab! Di sini harga diriku sebagai laki-laki, dipertaruhkan."


Gideon dan ibunya sama-sama teguh pada pendirian masing-masing. Keduanya punya alasan yang sama-sama kuat, susah untuk disatukan.


"Kamu yakin?"


"Yakin sekali, Bu!"


"Tapi Ibu gak yakin itu anakmu. Firasat Ibu mengatakan, wanita murahan itu hanya menjebak kamu. Kamu yang dia jadikan kambing hitam untuk menutupi kebusukan dia. Jadi Ibu tetap gak setuju, kamu nikah sama dia."


"Tapi, Bu---"


"Tak ada tapi-tapian! Sampai matipun, Ibu gak akan merestui kamu nikah sama dia. Kalau kamu masih nekad, lebih baik kamu pergi dari kehidupan Ibu. Ibu akan menganggap anak Ibu sudah mati," ancam ibu Gideon.


Gideon mengacak rambutnya kasar. Bagaimanapun, Gideon sangat menyayangi ibunya. Sedari kecil, Gideon selalu berusaha menurut pada sang Ibu. Untuk saat inipun sama, Gideon punya keinginan untuk menuruti saran ibunya. Lagi pula, Gideon tak pernah mencintai Clara. Tapi ... membayangkan darah dagingnya akan menjalani hidup seperti dirinya dulu, Gideon juga tak sanggup.


Cap sebagai anak haram, membuat Gideon kecil menjadi olok-olok temannya. Tak jarang, Gideon pulang ke rumah sambil menangis. Sampai kemudian, Ibu memutuskan membawa dirinya pergi, ke tempat orang-orang tak ada yang mengenal mereka. Kepada orang baru, Ibu mengatakan ayah Gideon sudah meninggal.


Akhirnya, Gideon menghela napas dan mengambil keputusan. Gideon tak akan mengecewakan wanita yang sangat disayanginya. Gideon mengambil ponselnya, dan menuliskan sederet kalimat buat Clara.

__ADS_1


[Maaf, Mbak! Aku gak bisa nikah sama kamu. Ibuku gak setuju]


__ADS_2