
Berhari-hari tidak menghubungi Thalita, menimbulkan rasa rindu di hati Gideon. Selama ini, gadis yang usianya jauh di bawah pria itu, bisa bersikap begitu sabar dalam menghadapinya. Gadis lembut, cengeng, tapi juga kuat. Lebih tepatnya, hanya terlihat kuat. Gideon tau, sebenarnya Thalita sangat rapuh.
Gideon menghela napas. Menelusuri setiap kesalahan yang telah dilakukannya, membuat pria itu merasa seperti tertimpa beban yang sangat berat. Kesalahannya besar. Sangat besar malah.
Gideon sadar, telah membuat dua wanita yang disayanginya kecewa. Thalita dan ibunya. Meski cuma virtual, Gideon sungguh menyayangi Thalita. Hatinya sakit, karena telah menyakiti gadis yang disayanginya.
Setelah terusir dari kontrakan lama, Gideon sudah mempunyai kontrakan baru. Tapi ... sikap ibunya sudah tak lagi sama. Ibunya tak mau bicara dengan Gideon. Itu yang membuat pria itu merasa berdosa. Kekecewaan seorang ibu, karena dipermalukan oleh anak semata wayangnya.
Gideon meraih ponselnya. Setiap hendak menghubungi Thalita, pria itu selalu mengurungkan niatnya. Entah ... keberaniannya seperti raib begitu saja.
"Ah, Thalita! Abang kangen," keluh Gideon.
Clara juga tak lagi menghubungi Gideon, setelah peristiwa malam itu. Padahal Gideon tak memblokir nomer Clara. Timbul niat Gideon untuk menghubungi wanita itu. Tapi diurungkannya. Lebih baik menemuinya secara langsung.
Gideon segera bersiap. Melajukan motornya ke klinik tempat Clara bekerja. Ini sudah hampir waktu pulang. Sengaja Gideon menunggunya. Tak lama, terlihat Clara keluar bersama rekannya. Begitu melihat Gideon, wanita itu segera menghampirinya.
"Hay ... tumben nyusul? Kangen ya?" sapa Clara.
"Gak juga. Cuma ada yang pengen ku omongin sama kamu."
"Oke, ke tempat biasa?"
"Gak. Aku gak mau lagi terjebak bujuk rayumu. Kita ke rumahmu saja."
"Duluan aja, aku ambil motor dulu!"
Gideon segera melaju menuju rumah Clara. Pria itu merasa aman. Tak mungkin Clara berbuat aneh-aneh di rumahnya. Ada ibunya. Tapi ... Clara menyunggingkan senyum licik setelah Gideon berlalu. Clara sedang sendirian. Ibunya memilih tinggal dengan adik laki-lakinya.
Dalam perjalanan pulang, sengaja Clara membeli dua bungkus nasi dan aneka cemilan. Wanita itu yakin, Gideon akan ada di rumahnya untuk waktu yang lama. Mungkin juga malah menginap.
Gideon sampai tiga puluh menit lebih cepat dari Clara. Cowok itu sedikit kesal, karena harus menunggu. Apalagi rumah Clara terlihat sepi. Meski sudah berulang kali mengetuk, tak ada yang membuka pintu. Clara tiba, disambut dengan omelan Gideon.
"Lama banget, sih? Kemana aja? Kamu kita aku pengangguran, suruh nungguin kamu lama-lama?"
"Sabar, Sayang. Aku beli nasi bungkus dulu buat kita. Tadi pagi aku gak sempat masak. Bangun kesiangan, jadi langsung berangkat kerja."
Clara mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Membuat Gideon merasa heran.
__ADS_1
"Emak mu gak di rumah?"
"Ibu ikut adikku. Udah ada semingguan. Ayo masuk, Sayang!"
Gideon mengekor di belakang Clara. Keputusan pria itu mengajak bertemu di rumah Clara, ternyata salah. Rumah itu sedang sepi. Ah, sial! Clara berlalu ke dapur, setelah mempersilahkan Gideon menunggu di sofa ruang tamu. Tak lama wanita itu kembali membawa piring dan air minum.
"Makan dulu, yuk! Kamu pasti lapar."
Tak banyak bicara, Gideon menerima nasi bungkus dari tangan Clara. Memakannya dengan lahap. Mengambil air minum. Menegaknya hingga tandas. Clara tersenyum puas. Wanita itu telah membubuhkan sesuatu pada air minum Gideon.
"Katanya mau ngomong? Ngomong aja, aku dengerin kok!" kata Clara.
"Yah! Aku cuma mau ngomong sama kamu. Mulai sekarang, kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Kita putus!"
"Why?"
"Yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan, Mbak. Dosa. Aku mau bertobat! Gak mau melakukannya lagi."
"Kamu baru nyadar kalau itu dosa? Hello ... kemana aja kamu selama ini, Sayang?"
"Terus? Kenapa mau berhenti? Udah ada yang lain?"
"Aku cinta pada Thalita, Mbak. Aku mau memperbaiki diri, agar aku layak bersanding dengannya."
"Maksudmu?"
"Ya aku mau serius sama dia. Bukan cuma pacaran virtual. Aku mau menemuinya. Memintanya pada keluarga. Terus menikah."
Clara terbahak mendengar ocehan Gideon. Rencana yang memang sangat mulia. Bahkan diimpikan oleh setiap gadis. Termasuk dirinya. Dilamar oleh seorang pemuda, untuk menjadi istrinya.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
"Kamu gak mikir? Apa si Cabe itu bakal nerima kamu, andai tau apa aja yang telah kita lakukan?"
"Kamu mengancam aku, Mbak?"
"Untuk apa? Tanpa mengancam, kamu gak akan pernah ninggalin aku, Gideon sayang!"
__ADS_1
"Apa kamu yakin? Sekarang aja aku memutuskan untuk ninggalin kamu. Itulah kenapa tadi ku bilang kalau kita putus."
"Hahaha, lucu sekali. Kita bukan lagi anak SMA yang terjebak cinta monyet. Dengan kata putus, berarti hubungan sudah berakhir. Kita ini sama-sama dewasa, Sayang. Yang sudah kita lakukan sudah terlalu jauh."
"Tapi tetap saja, kamu gak bisa mengikatku, Mbak. Bukan aku yang kamu inginkan. Aku cuma mainan bagimu. Yang kamu kejar itu Vano. Kamu akan dengan gampang membuang ku, kalau Vano sudah kamu dapatkan."
"Jadi? Kamu mau jadi satu-satunya? Oke, aku akan melepaskan Vano."
Gideon tertegun. Benarkah Clara akan berhenti mengejar Vano, dan hanya fokus padanya saja? Sepertinya tak mungkin. Clara tipe orang yang tak puas hanya berhubungan dengan satu laki-laki.
"Apa kamu bisa, Mbak?"
"Bisa! Tentu saja aku bisa. Apapun akan ku lakukan, untuk membuat si Cabe itu menderita."
"Maksudmu?"
"Aku bersedia melepas Vano. Dan hanya berhubungan dengan mu seorang. Itu semua kulakukan, agar kamu gak bersama Thalita. Si Cabe mencintaimu, akan jadi penderitaan panjang baginya, kalau kalian tak bersatu. Apalagi kamu ternyata lebih memilihku, daripada dia."
Gideon ternganga. Wanita di hadapannya ini ternyata sangat licik. Serakah. Dia mau melakukan apa saja agar orang yang dibencinya menderita.
"Apa yang akan kamu lakukan, seandainya aku memilih bersama Thalita dan meninggalkanmu?"
"Aku akan membeberkan fakta tentang kebersamaan kita, dan apa yang telah kita lakukan!"
"BR*NGS*K!! DASAR WANITA IBLIS!!"
"Tenang, Sayang! Si Cabe itu tak lebih baik dari aku. Kamu sudah tertipu oleh sikap sok polosnya. Dia juga berhubungan dengan banyak pria, bukan hanya kamu."
"BOHONG!!"
"Apa untungnya kalau aku berbohong? Aku punya buktinya kok. Dia punya pacar di realnya sana. Cowok itu terang-terangan ngaku pacar si Cabe ketika ku telepon. Dia juga berhubungan dengan Vano."
"GAK MUNGKIN!!"
"Terserah, kalau kamu gak percaya."
Clara mendekat ke arah Gideon. Sesuatu yang tadi dimasukkan Clara dalam minuman cowok itu mulai bereaksi. Gideon terlena. Lagi dan lagi. Perbuatan yang mereka lakukan di kontrakan dan jalanan yang sepi, terulang kembali.
__ADS_1