
Pepatah mengatakan, penyesalan datangnya selalu terlambat. Memang benar. Karena itu, diperlukan untuk berpikir masak-masak sebelum bertindak. Seperti Gideon. Saat ini, pria itu menyesal karena bisa kembali tergoda. Melakukan dosa bersama Clara. Padahal katanya, ada hati yang harus dijaga. Thalita.
Gideon memukul tembok ruang tamu rumah Clara. Sampai buku-buku jarinya terasa sakit dan berdarah. Tapi hati Gideon jauh lebih sakit. Sebagai seorang pria, dia tak bisa memegang prinsipnya. Tergoda dan kembali tergoda. Yang lebih gila, mereka melakukannya di ruang tamu. Ruang tamu rumah Clara.
Clara hanya tertawa melihat Gideon yang merasa frustasi. Tawa kemenangan. Lagi-lagi dapat mempengaruhi Gideon. Melanggar janji yang dibuat sendiri oleh pria itu.
"Kenapa, Sayang? Nyesel? Atau masih kurang? Mau nambah lagi? Hahaha!"
"Dasar wanita j*l*ng! Bener-bener jijik aku lihat kamu, Mbak!!" Gideon mengeratkan rahangnya, menahan marah.
"Udahlah! Gak usah munafik jadi orang! Toh tadi juga kamu menikmatinya kok. Kita sama-sama butuh. Simbiosis mutualisme!"
"Coba kamu bukan wanita, udah habis di tanganku!"
"Hahahaha! Sayang, habis gimana maksudnya? Habis kayak barusan?"
Gideon menggertak kan gigi. Melangkah pergi. Membanting pintu. Kemudian melaju dengan kecepatan tinggi bersama motornya. Diiringi tawa Clara yang melengking. Mirip kuntilanak.
Gideon menghentikan motornya di sebuah taman. Menenangkan diri dari kegalauan. Merenung, menangis, menyesal. Berjanji dalam hati untuk tak mengulangi lagi. Entah, apakah janji cuma tinggal janji? Semoga saja tidak. Gideon merogoh kantungnya, mengeluarkan ponsel.
"Thalita! Sayang! Ampuni Abang!" kata Gideon sambil menangis, begitu panggilan tersambung.
"Abang? Abang kenapa? Sakit?" tanya Thalita khawatir.
Thalita sedang di kamar kost. Menulis untuk platform. Ketika ponselnya berdering dan menampakkan nama Gideon di layarnya. Keinginan Thalita untuk mengomel, mengeluarkan uneg-uneg, urung. Suara Gideon terdengar serak. Pria itu menangis.
"Iya, Sayang. Abang sakit! Abang sakit hati."
"Kenapa? Karena Thalita? Atau karena Bang Vano? Jangan percaya, Bang! Bang Vano itu cuma drama. Main-main saja. Gak serius?"
"Apa maksud kamu, Tha?"
"Kemarin, Bulek Clara nelpon Thalita. Marah-marah! Maki-maki Thalita juga. Terus ada si Rere, dia ngaku pacar Thalita. Tapi Bulek Clara gak percaya."
__ADS_1
"Terus?"
"Terus si Bulek bilang, dia sudah tunangan sama Bang Vano. Udah mau nikah. Makanya suruh Thalita buat jauhi Bang Vano. Nah, Thalita gabungin aja Bang Vano ke obrolan. Abis Thalita gedeg. Omongan Bulek bikin sakit hati banget."
"DASAR IBLIS!! BENER-BENER SI J*L*NG ITU GAK BISA DIBIARKAN! HARUS DIKASIH PELAJARAN."
"Maksudnya, Bang?"
"Itu si Clara, emang kurang ajar banget kok. Sebenarnya, kamu sama dia ada masalah apa?"
"Entah! Thalita juga gak tau. Tiba-tiba aja dia benci sama Thalita. Selalu senggol-senggol Thalita di tiap postingan dia. Katanya Thalita selalu drama. Pura-pura jadi korban. Playing victim. Padahal jelas-jelas di sini Thalita itu korban, Bang. Korban fitnahan dia."
"Maafkan Abang ya, Sayang!"
"Untuk apa Abang minta maaf?"
"Karena Abang sudah termakan sama omongan tuh si J*l*ng. Abang jadi berprasangka buruk sama Thalita. Jadi meragukan Thalita."
"Hem. Jadi gitu, ya? Selama ini ternyata gak percaya sama Thalita? Malah percaya sama Bulek?"
"Udah deh, Bang! Jangan minta maaf mulu, belum lebaran juga! Yang penting sekarang Abang jangan pernah berpihak sama si Bulek. Thalita gak suka Abang masih berhubungan sama dia. Kalau Abang masih aja sama Bulek, mending kita putus."
"Kok ngomongnya gitu sih, Sayang? Abang gak mau putus sama Thalita. Abang sayang sama Thalita. Sayang banget."
"Ya kalau sayang, buktikan! Jangan cuma ngomong doang! Ngomong itu gampang, Bang. Buktikan omongan itu yang susah."
Kata-kata Thalita sangat menusuk hati Gideon. Pria itu menyesal, selama ini memang berkhianat di belakang Thalita. Entah bagaimana sikap Thalita andai tau semua kebenarannya. Gideon takut. Sangat takut kalau Thalita akan meninggalkan dirinya, setelah tau apa yang dilakukannya bersama Clara.
"Iya, Sayang. Kamu bisa pegang omongan Abang! Bagi seorang pria, membuktikan omongannya adalah harga diri. Harga diri Abang tinggi. Gak mungkin juga Abang merendahkan harga diri Abang sendiri."
"Oke, Bang! Waktu yang akan membuktikan omongan Abang."
"Jadi? Kamu sama Rere itu gak pacaran, kan?"
__ADS_1
"Kalau Thalita mau pacaran sama Rere, udah dari dulu-dulu, Bang. Kami udah lama kenal. Udah dekat banget. Seiman juga. Gak ada halangan bagi kami kalau emang mau pacaran."
"Terus?" Gideon merasa cemburu. Sangat cemburu.
"Terus ya kami dari dulu gini-gini aja. Cuma berteman. Bersahabat. Gak ada niatan untuk pacaran. Kami nyaman sebagai teman, bukan pasangan."
"Bener ya, Sayang! Jangan tinggalin Abang terus pacaran sama Rere!"
"Abang lagi mab*k?"
"Ngawur!"
"Lha abisnya! Udah dibilang juga, malah gak percaya."
"Abang cuma cemburu. Itu si Rere bisa dekat-dekat sama Thalita. Sementara Abang jauh."
"Abang kan dekatnya sama Bulek. Ya Abang pacarannya sama Bulek aja! Kayaknya, Bulek juga naksir tuh, sama Abang."
Terdengar nada cemburu dalam suara Thalita. Membuat Gideon tersenyum senang. Pacar onlinenya, ternyata benar-benar cinta. Bukan sekedar pura-pura.
"Meski Bulek naksir sama Abang, pasti Abang tolak. Ogah bener Abang punya pacar tante-tante. Mending juga sama Thalita yang cantik dan imut."
"Tapi kita cuma sekedar virtual, Bang. Pasti suatu saat Abang akan lebih memilih yang real. Thalita yakin akan hal itu!"
"Enggak, Sayang, enggak. Abang udah yakin banget sama Thalita kok. Meskipun kita cuma virtual, tapi cinta Abang real. Abang akan buktikan kalau Abang serius sama Thalita. Abang akan ke kota kamu. Kita akan ketemu. Abang janji."
"Oke! Thalita akan nunggu Abang. Nunggu Abang nepatin janji ke Thalita."
"Makasih, ya! Thalita udah percaya sama Abang. Love you more, Thalita Adelia."
"Love me too, Abang."
"AH, SUEK!! Kenapa jawabannya malah love me too? Kan ngeselin! Tadi itu udah romantis banget. Malah diancurin sama kamu. Padahal Abang udah baper banget. THALITA NGESELIN!!"
__ADS_1
Thalita tertawa ngakak mendengar Gideon yang kesal. Suasana romantis yang udah dibangun dengan susah payah, jadi rusak karena jawaban tengil Thalita. Keduanya lalu terlibat dalam candaan. Gideon sudah lupa dengan semua kekesalannya pada Clara. Thalita sudah membuat Gideon kembali ceria. Thalita pusat kebahagiaan buat Gideon.
Di lain tempat. Vano sangat kesal. Dari tadi cowok itu berusaha menelepon Thalita. Tapi Thalita selalu ada di panggilan lain. Sungguh membuat kesal.