Playing Victim

Playing Victim
Part 51 : Vano Menolong Gideon?


__ADS_3

Tak lama kemudian, suara motor berhenti di depan kontrakan membuat Gideon tersadar dari lamunan. Gideon membuka pintu untuk Vani, dan mempersilakan cowok itu masuk ke dalam kontrakan miliknya.


"Masuk, Van! Maaf, tempatnya berantakan, maklum kontrakan bujang."


Vano melangkah masuk, kemudian tanpa disuruh duduk di tikar yang digelar di lantai oleh Gideon. Cowok itu mengeluarkan tas kresek berisi nasi bungkus dari dalam ransel miliknya.


"Makan, Yon! Pasti kamu lapar kan?"


"Terima kasih, Van. Tau aja kalau aku memang belum makan dari pagi," Gideon menerima bungkus nasi dan segera melahapnya dengan girang.


"Seperti katamu, bujangan, pasti gak ada yang masakin," kata Vano nyengir.


Vano mengeluarkan sebuah laptop dari dalam ranselnya, kemudian meletakkannya di depan Gideon.


"Kamu mau gak, bantuin aku?" tanya Vano.


"Selagi aku bisa, ya mau-mau aja kok. Emang mau bantuan apa?"


"Kamu kenal Thalita kan, Yon?"


"Thalita siapa?"


"Ya Thalita Adelia, emang Thalita siapa lagi."


"Ya kenal kalau dia, kan dia pacarku."


"Kalian belum putus?"


Gideon menggeleng lemah. Sekara resmi memang mereka belum putus. Karena memang Gideon tiba-tiba saja menghilang. Jadi gak salah, kalau Gideon masih mengakui Thalita sebagai pacarnya.


"Aku mau kasih kamu kerjaan, dan ini ada hubungannya dengan Thalita."


"Terus?"


"Terus aku gak mau dia tau, kalau sebenarnya yang ngerjain itu kamu, bukan aku."


"Hmm."


"Gimana, Yon? Mau apa tidak?"


"Jujur aja! Sebenarnya maksud kamu itu apa?" tanya Gideon heran.


"Mau aku, kamu gak berhubungan dengan Thalita lagi!"


Gideon menghela napas. Cowok itu tak tau dengan maksud tersembunyi Vano. Tapi, selama ini, Gideon sadar, Vano juga mencintai Thalita. Dalam hati merasa cemburu dan tak rela, tapi terpaksa harus menerima. Gideon sadar, perbuatannya bersama Clara, sangat menyakiti hati gadis pujaannya.


"Kamu tau kan, Van? Kalau aku udah gak menghubungi dia lagi, sejak kesepakatan itu di buat."


"Aku tau, kamu pasti pegang janji. Tapi aku gak yakin aja, kamu tetap konsisten dengan janjimu."

__ADS_1


"Hmm. Berat banget tau gak, Van? Aku tulus sayang sama Thalita," kata Gideon sendu.


"Thalita gadis yang baik. Aku rasa, bukan cuma kita berdua yang sayang sama dia."


"Apa maksudmu?" Gideon pura-pura terkejut, padahal cowok itu tau, Vano juga jatuh cinta pada Thalita. Hanya saja, Gideon merasa belum rela.


"Aku dan Thalita udah resmi jadian. Aku minta, kamu tak menganggu hubungan kami. Aku punya niat serius sama dia."


"Kamu yakin? Kalian beda keyakinan."


"Kalau kami memang jodoh, gak ada yang akan menghalangi, kan?"


Gideon mengangkat bahu, kemudian beranjak untuk mencuci tangannya dan membuang bungkus nasi. Cukup lama cowok itu berdiri di depan tempat cuci tangan, menenangkan diri. Rasa sakit itu kembali terasa, sakit yang tak berdarah, namun rasanya sangat tak tertahankan.


Setelah merasa cukup tenang, Gideon kembali ke depan. Ke tempat dimana Vano menunggunya, sambil sibuk mengotak-atik laptop miliknya.


"Van, boleh aku menelepon Thalita untuk terakhir kalinya?"


"Untuk apa?" Vano tak mengalihkan perhatian dari laptopnya.


"Sejak peristiwa dengan Clara, aku belum sekalipun menelpon dia. Bagaimanapun, dia pasti butuh penjelasan, kan? Aku tak ingin saja menggantung dia dalam ketidak pastian. Aku mau menyelesaikan semua, dengan baik-baik."


"Oke. Telpon dia sekarang, aku mau dengar! Tapi jangan sampai dia tau, ada aku di sini."


"Harus banget kayak gitu? Gak bolehkah kami memiliki privasi?"


"Kamu dan dia sudah putus. Dan Thalita sekarang ini, posisinya cewekku. Aku gak mau ada cowok lain menghubungi cewekku, tanpa setahuku. Aku cemburu!"


Ah, kembali hati Gideon terasa ngilu. Ngilu karena cemburu, bahkan setelah dirinya tak berhak lagi.


"Kalau gitu, aku gak usah menghubungi dia saja, Van."


Vano mendongak, mengamati dengan seksama wajah Gideon yang nampak sangat menderita. Dalam hati Vano tertawa, menertawakan keadaan cowok di depannya yang terkesan payah.


Padahal sebelumnya, Gideon adalah cowok yang arogan. Yang selalu menunjukkan taringnya setiap ada kesempatan. Sekarang dia nampak seperti seekor harimau, harimau ompong.


"Kamu yakin, Yon?"


Gideon mengangguk mantap. Dia memang harus memantapkan hati, untuk tidak lagi menghubungi Thalita.


"Well. Sekarang mari kita bicara tentang bisnis! Masalah Thalita, kita anggap sudah selesai, dan gak perlu dibahas lagi. Deal?"


"Oke, deal! Bisnis macam apa yang kamu tawarkan?"


"Kamu tau kan, kalau Thalita dan temannya yang bernama Rere itu punya usaha custom t-shirt?"


"Kamu tau gak, yang namanya Rere itu seorang cowok?"


"Cowok? Namanya Rere?" tanya Vano heran.

__ADS_1


"Kamu kenal bagaimana Thalita, kan? Dia suka memberi nama panggilan seenak udel dia?"


"Hmm."


"Rere itu nama aslinya Renald. Dia teman terdekat Thalita dari awal masuk SMA. Orangnya cakep, dan perhatian banget sama Thalita. Dan yang paling penting, mereka seiman."


Gideon tampak menyeringai senang. Tampaknya cowok itu menemukan celah untuk merusak hubungan Thalita dan Vano.


"So?"


"Sebagai cowok Thalita, kamu gak cemburu?"


"Dulu, kamu cemburu sama Rere?"


"Tentu saja. Saat aku tau Rere itu cowok, aku cemburu banget. Aku sempat meminta Thalita menjauh dari Rere."


"Berhasil?"


Gideon menggeleng. Selama ini, dia memang belum pernah berhasil mengendalikan Thalita. Gadis itu tetap akan melakukan semua keinginannya, meski Gideon tak setuju.


"Dengar, Bro! Cinta jarak jauh itu modalnya percaya. Kalau kamu aja gak percaya pada Thalita, gimana dia mau percaya sama kamu? Aku percaya, Rere dan Thalita itu cuma berteman."


"Gak ada cowok dan cewek yang cuma berteman, tanpa salah satunya melibatkan perasaan."


Vano mengangkat bahu, "bukankah tadi kita sudah sepakat, tak lagi bahas Thalita? Sekarang kita ngomongin kerjaan! Itu kalau kamu masih berminat."


"Oke. Apa tugasku?"


"Membuat desain kaos sesuai pesanan costumer mereka berdua. Tanpa berhubungan langsung dengan Thalita. Semua melalui aku."


"Kamu tau kan? Aku gak ada laptop. Masa mau pakai HP?"


"Kamu tau, di depanku ini namanya apa?"


"Kamu pikir aku bego?"


"Kalau udah pinter, kenapa nanya?"


"Oke, next!"


"Laptop ini akan ku tinggal di sini. Dan ini udah terhubung dengan web untuk akunku."


"Jadi?"


"Kalau Thalita chat dan pesan ini itu ke aplikasi hijau milikku, kamu respon. Ingat! Hanya sebatas kerjaan, gak lebih!"


"Jadi? Aku bisa baca semua chat kamu di akun itu dong?"


"Tentu saja. Tapi aku kan gak bego. Kontak ku di situ, cuma Thalita dan Rere."

__ADS_1


Seketika Gideon lemas, dan Vano menyeringai puas. Harapan Gideon untuk tetap berkomunikasi dengan Thalita, pupus lah sudah.


__ADS_2