Playing Victim

Playing Victim
Part 45 : Gideon Menghilang


__ADS_3

Setelah menelepon Vano dan membuat kesepakatan, Gideon segera menghapus semua akun sosial media yang dia punya. Bahkan akun aplikasi hijau juga turut dia hapus. Gideon memutuskan untuk menghilang dari dunia maya, juga dunia nyata, kalau bisa.


Sejak meninggalnya sang Ibu, Gideon merasa sebatang kara. Tak satupun kerabat yang dikenalnya. Kampung halaman ibunya juga Gideon tak tau dimana tepatnya. Yang dia tau, ibunya berasal dari sebuah desa pesisir di kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.


Gideon juga tak bisa mengandalkan pekerjaannya semula sebagai penjual jasa desain, hasilnya tak akan cukup, walau sekedar untuk mengisi perut. Belum lagi untuk bayar uang kontrakan, selama ini, ibunya yang menanggung beban.


Thalita menyadari, semua akun milik Gideon menghilang. Gadis itu sebenarnya sudah menduga, hal itu akan terjadi. Tapi rasa kehilangan itu tetaplah ada. Jujur saja, selama ini Thalita sudah merasa nyaman dengan Gideon. Cowok itu tempat Thalita berkeluh kesah, juga bertukar pikiran untuk berbagai hal. Pada dasarnya, Thalita sudah merasa sayang pada pacar virtualnya itu.


"Kenapa dari tadi bengong mulu, Tha? Kayak ayam abis telan karet gelang aja," sindir Renald.


Mereka berdua sedang mengemas pesanan, dan Thalita sering tertangkap basah melamun.


"Gapapa kok, Re. Lagi kepikiran sama Bang Gideon aja."


"Emang dia kenapa?"


"Udah dua minggu ini dia gak kasih kabar. Chat juga enggak, nelpon apalagi. Biasanya dia tuh rajin hubungi aku."


"Terus? Kamu gak coba hubungi dulu?"


"Gengsi lah, Re. Masa cewek hubungin duluan, tar dibilang murahan. Jadi cewek kan harus jual mahal."


"Lalu, setelah kamu jual mahal, kamu dapat apa?"


Thalita menghela napas. Tanpa dijawab, pasti Renald sudah tau apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Dalam diam, tangan Thalita tetap sibuk mengemas orderan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Tha? Coba cerita, mungkin aku bisa bantu!"


"Bang Gideon menghilang, Re. Semua akun sosial medianya sudah dihapus. Aku gak bisa menghubungi dia lagi."


"Soo?"


"Ya aku sedih lah, Re. Aku sudah terlanjur sayang sama dia."


"Sayang pada orang yang cuma kenal di dunia maya, itu sama saja kayak Spongebob menyayangi gelembung sabun. Cuma sekejap, kemudian hilang tak berbekas. Gak bisa dicari lagi. Aku kira selama ini kamu cukup bijak, Tha. Tapi ternyata kamu terlalu naif."

__ADS_1


"Aku salah ya, Re?"


"Salah besar, Thalita sayang. Kalau boleh aku saranin ya, cinta itu boleh tapi beg* itu jangan. Semua harus dipikir pakai logika. Kalau kayak gini, mau dicari dimana tuh Bang Gideon mu?"


Lagi-lagi Thalita menghela napas, perkataan Renald memang benar. Selama ini, Thalita berarti beg*, karena terlalu berharap pada Gideon, sang pacar virtual.


"Udah, move on aja! Dunia ini tak selebar daun pisang, cowok juga bukan Gideon seorang. Masih banyak di luar sana cowok single, yang jauh lebih baik dari Gideon."


"Bener katamu, Re. Apalagi---"


Thalita menggantung kalimatnya, cewek itu ragu, apakah harus curhat pada sahabatnya itu.


"Apalagi, apa?"


"Kata Bulek, dia lagi hamil anaknya Bang Gideon."


"NAH!! APALAGI KAYAK GITU. APALAGI YANG KAMU HARAPKAN DARI COWOK ITU?" seru Renald.


"Gak usah teriak-teriak juga!! Kamu mau umumkan ke seluruh penghuni kost kalau Thalita Adelia lagi patah hati?" tanya Thalita kesal.


"Hahahahaha, aku kan gak sekejam itu, Tha."


"Gak teriak kok. Cuma ngomong keras aja, biar kamu dengar. Kan kamu tuh kalau dinasehati, biasanya tutup mata dan tutup telinga. Bandel. Giliran udah kayak gini, ngeluh."


"Aku gak ngeluh kok. Cuma aku menjawab pertanyaan kamu aja," elak Thalita.


"Dasar kepala batu emang kok. Selalu aja ngeyel kalau dibilangi," Renald cemberut.


"Udah deh, gak usah bahas ini lagi! Tar ujung-ujungnya kita jadi berantem."


"Gak bahas kayak gini juga kamu ngajak berantem, Tha. Kan kamu sukanya nyolot."


"Au ahh, Re! Kalau kamu ngajak berantem, aku tinggal tidur nih."


Seketika Renald diam, tak mau berdebat lagi. Keduanya kembali sibuk mengemas orderan, tanpa bicara. Sampai semua pekerjaan selesai, mereka tak lagi membahas masalah Gideon.

__ADS_1


Orang yang paling kebakaran jengot dengan menghilangnya Gideon, tentu saja Clara. Wanita itu mencari Gideon nyaris seperti orang gila, tapi tak menemukannya. Ditambah lagi kabar yang diterima Clara tentang ibunya yang meninggal dunia, membuat Clara merasa khawatir pada keadaan cowok itu. Clara takut Gideon akan nekad mengakhiri hidupnya.


Vano juga memberikan respon tak menyenangkan ketika dihubungi. Cowok itu menolak membantu Clara menemukan Gideon. Vano juga terang-terangan menyalahkan Clara, ketika wanita itu curhat tentang kehamilannya.


"Lagian, jadi cewek kok murahan banget. Mau-maunya digituin, padahal belum resmi nikah!" ejek Vano.


"Itu kecelakaan, Van. Kamu gak bisa mengelak dari musibah!"


"Musibah? Musibah itu banjir, gempa bumi, gunung meletus. Bukan enak-enak di kontrakan. Pikir dong pakai otak! Katanya pinter?"


Clara diam saja, tak bakal bisa menang bila berdebat dengan Vano. Apalagi mulut cowok itu terkenal tajam. Semakin membantah, semakin Vano mengeluarkan kata-kata yang bikin sakit hati.


"Tolonglah! Bantu aku nemuin Gideon!" mohon Clara.


"Mau dicari dimana? Ibukota itu luas, ibarat mencari sebatang jarum di tengah tumpukan jerami."


"Tapi aku yakin kamu pasti bisa, Van! Aku mohon sama kamu! Bukan demi aku, tapi demi bayi dalam kandunganku ini. Apa kamu tega dia lahir tanpa ayah?"


"Ngapain gak tega? Anak itu gak ada hubungannya denganku. Kamu aja ibunya, tega membuat dia tanpa mikirin dia lahir punya ayah atau enggak, kan?"


Clara kembali menghela napas. Tak ada gunanya meminta bantuan Vano. Sekali cowok itu menolak, akan terus menolak. Susah sekali untuk dibujuk.


"Terus, aku harus gimana, Van?"


"Aku saranin kamu mencari kandidat lain untuk calon ayah dari bayimu itu. Aku yakin, kamu gak cuma tidur dengan Gideon. Jadi, mending kamu nikah sama orang lain saja!"


"Aku gak bisa nikah dengan orang yang gak aku cinta!"


"Oh, jadi kamu cinta sama Gideon?"


"Ya ... ya enggak juga. Tapi setidaknya, aku cukup mengenal Gideon. Kamu tau kan, Van? Aku cintanya cuma sama kamu."


"Hahahaha! Candaan macam apa ini? Sama sekali gak lucu tau. Kamu bilang cuma cinta sama aku, tapi di waktu yang sama, kamu tidur dengan cowok lain. Bukan hanya seorang malah. Kamu kira aku beg*? Mau saja percaya dengan bualanmu?"


"Ta ... tapi, Van---"

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapian. Aku muak sama kamu. Wanita j*l*ng, jangan pernah hubungi aku lagi! Anggap saja kita gak pernah kenal!"


Vano menutup panggilan, kemudian memblokir akun-akun Clara. Sekarang, wanita itu benar-benar sendirian.


__ADS_2