
Setelah Vano menutup teleponnya, dan tidak mau mengangkat telpon Clara lagi, membuat wanita itu merasa frustasi. Bagaimana tidak, Clara masih bertanya, bukti apa yang dimiliki Vano, dan bagaimana cara mendapatkannya. Clara merasa sudah sangat berhati-hati, tak mungkin terlacak.
"Ini pasti ada yang mengkhianati aku, nih. Gak mungkin Vano tiba-tiba tau, aku yang teror si Cabe, pasti ada yang ngasih tau dia. Kurang ajar banget!"
Clara mengacak rambutnya kesal. Wanita itu ingin menyelidiki, siapa yang telah membocorkan rahasianya pada Vano. Dan satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong, hanya satu, Gideon. Segera Clara mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor cewek itu.
"ADA, APA?" tanya Gideon ketus, setelah mengangkat telepon.
"Sayang! Bisa minta tolong, gak?"
"APAAN?"
"Haduh, jangan ketus-ketus! Nanti cepat keriput, lho!"
"CEPAT NGOMONG! ATAU KU MATIKAN."
"Aku mau minta tolong nih, Sayang! Bisa gak kamu lacak, siapa yang jadi cepu ke Vano?"
"Cepu?"
"Iya, cepu. Ada orang yang membuka rahasiaku ke Vano. Terus Vano jadi marah-marah dan ngancam aku."
"Ngancam gimana?"
"Ngancam mau bikin perhitungan dengan aku."
"Oh, bodo amat!!!"
"Kok kamu sekarang kayak gitu sih ke aku? Apa gara-gara si Cabe juga?"
"Maksudmu apa?"
"Vano berubah jadi benci sama aku. Terus sekarang berpihak ke si Cabe. Vano belain dia terus, dan nuduh aku yang teror si Cabe. Sekarang, kamu juga kayak gini ke aku. Jangan-jangan, kamu juga termakan omongan si Cabe."
"Kamu yang teror Thalita, itu faktanya. Dan fakta itu ditemukan sama Vano. Jelas saja dia makin gak suka sama kamu, terus berpihak pada Thalita. Kalau aku belain Thalita, itu wajar, dia pacarku."
"Tapi, kamu juga kan pacarku!"
__ADS_1
"NAJ*S!! DENGAR YA, AKU GAK PERNAH PACARAN SAMA KAMU. JANGAN NYEBARIN HOAX!!"
"Kita gak pacaran? Tapi pernah tidur bareng, sering malah. Jadi, apa hubungan kita?"
"Gak ada hubungan. Kamu lagi gatal, aku bantu garuk. Dah, gitu aja."
"Dasar b*jing*n!! Bisa ya kamu ngomong kayak gitu? Setelah puas menikmati tubuhku?"
"Well, kan aku cuma membantu."
"Kira-kira, gimana ya reaksi si Cabe, kalau tau apa yang sudah kita lakukan?" Clara mencoba mengancam Gideon.
"Paling dia cuma tertawa. Menertawakan gimana bodonya seorang Clara. Apalagi kalau dia melihat video yang dibuat Vano. Dimana kamu terlihat jelas dengan posisi yang sangat menjijikkan. Seperti ikan julung-julung lagi terdampar. Hahaha."
Seketika wajah Clara tampak pucat. Untung saja dia dan Gideon berhubungan lewat panggilan suara, bukan video call. Bisa-bisa Gideon akan menertawakan raut wajahnya yang terlihat blo on.
"Di video itu, ada kamu juga. Jangan lupa itu!!" kata Clara.
"Tak ada gambarku, suara juga tak ada, aku diam waktu itu. Dan kurasa, Vano juga gak ada niat mengambil gambarku,karena aku temannya."
Clara terhenyak. Benar sekali, dalam video itu memang Vano tak mengambil gambar Gideon. Hanya gambarnya. Dan jika video itu sampai tersebar, yang terlihat hanya dia, dengan tampilan yang sangat memalukan. Tubuh seksinya tanpa selembar benang.
Clara meledak, marah, dan juga menyesali kebodohan yang telah dilakukannya. Sekarang ini, di mata Vano, pastilah dia terlihat seperti sampah. Tak layak untuk didekati, apalagi diambil menjadi istri. Clara merasa kotor.
"Udah ya, aku sibuk! Jangan hubungi aku lagi! Anggap saja kita gak pernah kenal."
Gideon segera mematikan panggilan dan memblokir nomor Clara. Cowok itu sudah tak mau berhubungan dengan wanita ular itu. Tapi Gideon lupa, Clara masih punya tiga nomer lagi yang berbeda. Jadi, yang benar itu, blokir semuanya.
Di tempat kost Thalita, gadis itu tampak sibuk mengemas orderan buat olshop. Renald sang sahabat sedang membantunya. Membantu menghabiskan cemilan milik Thalita.
"Enak! Besok bikin lagi dong, Tha! Gurih dan renyah banget usus crispy bikinan kamu," kata Renald sambil mengunyah remahan terakhir usus crispy.
"Gampang! Per kilo 90 ribu. Mau berapa kilo?"
"Mahal amir?"
"Murah tuh. Liat aja noh di mini market! Per kilo seratus dua puluh ribu."
__ADS_1
"Ya udah, aku pesan setengah ons. Empat ribu lima ratus kan?"
Seketika Thalita cemberut. Ternyata dari tadi, Renald hanya berniat meledeknya. Gadis itu kemudian menimpuk Renald dengan gulungan lakban. Untung saja, Renald berhasil berkelit. Kalau kena, bisa benjol, karena Thalita mengincar kepalanya.
"Aku kira, cewek tomboi kayak kamu gini gak bisa masak, Tha. Ternyata enak juga cemilan bikinan kamu. Nanti kapan-kapan, kita komersilkan, ya!"
"Aku pinter masak kok. Soto, kare, sambel goreng, baso, ayam kecap, ayam bawang, semua bisa ku masak."
"Oh ya? Kok tiap aku numpang makan disini, kamu kasih mie mulu?"
"Ya kan masakanku semua dalam satu bentuk, mie instan."
"Dasar gak ada akhlak!!" Renald sewot.
Thalita tertawa melihat ekspresi wajah Renald, cowok itu sedang ngambek. Di tempat kost Renald, Thalita bisa makan sepuasnya masakan cowok itu. Sementara dirinya yang notabene seorang cewek, skill memasaknya bisa dibilang payah.
"Si Bulek, udah gak berulah lagi? Kok udah lama kamu gak curhat tentang dia."
"Gak ada sih. Cuma yang share nomerku di aplikasi chat waktu itu aja. Tobat kali dia."
"Ya semoga aja, sih. Kasian banget aku sama dia."
"Kasian? Kok bisa?" Thalita merasa heran.
"Orang kayak gitu itu sakit, Tha. Sakit jiwa. Hidupnya gak bahagia, makanya dia berusaha membuat orang lain, sama kayak dia, merana. Aku yakin banget, orang kayak gitu di dunia nyatanya gak punya teman. Makanya dia berusaha bersikap humble di dunia maya, biar dapat banyak teman."
"Bisa jadi, teorimu itu benar. Memang awal aku kenal dia lewat sosmed, orangnya humble. Tapi makin kenal lama, makin menjengkelkan."
"Dia kesepian, makanya kayak gitu. Mungkin dia menganggap kamu sebagai ancaman. Kamu lebih humble dari dia mungkin. Hingga teman-teman dia banyak yang beralih jadi temanmu."
"Entahlah! Aku ya begini ini, di dunia maya, di dunia nyata, sama aja."
"Tapi menurut Bulek, kamu beda. Gak kayak teman-teman dia yang lain. Kamu ancaman!"
"Terserah deh, Re. Aku sih bodo amat sama dia, gak ambil pusing juga. Toh teror yang dia kirim, juga via dumay. Gak ngefek sama kehidupan real aku."
"Sejauh kamu bisa mengatasinya, ya bagus. Tapi nanti, kalau makin parah terornya, kamu bisa mengandalkan aku. Aku kan sailor moon yang lagi menyamar."
__ADS_1
"Iya, nyamar jadi pohon jambu."
Keduanya tertawa-tawa, sambil melanjutkan kerjaan mereka mengemas orderan. Mereka bisa tertawa, tapi Clara sedang menangis. Menangisi jari kelingkingnya yang terjepit pintu.