
Setelah dua bulan menghilang, Thalita memutuskan untuk mengaktifkan kembali semua akun sosial media miliknya. Ada rasa kangen untuk kembali berselancar di dunia maya, biasanya banyak ide-ide menulis yang bisa diambil dari sana.
Aplikasi hijau miliknya sudah aktif, dan banyak sekali chat yang masuk, terbanyak tentu saja diri Gideon. Tanpa membuka chat, Thalita melihat story teman-temannya.
Senyum miring tercetak di bibir Thalita, ketika melihat story yang dibuat Gideon, foto mesra dengan seorang cewek yang sangat familiar, Clara.
"Untung banget aku sudah curiga sama biawak ini dari awal, jadi gak begitu kecewa lihat bobroknya terkuak. Hadeh dasar biawak darat, bilangnya aja ilfil, ternyata oh ternyata," kata Thalita kesal.
"Kenapa, Tha?"
"Ini lho, Re, si Biawak ternyata sekarang lagi asik sama si Tante. Lihat nih, malah dibikin story segala!"
Renald meraih ponsel milik Thalita, dan melihat story Gideon.
"Kamu marah, cemburu atau minimal kesal gitu, lihat foto ini?"
"Marah dan cemburu sih enggak, tapi kalau kesal, iya. Aku sudah menduga dari awal, mereka ada hubungan, tapi entah kenapa, si Tante malah ngejar Vano dan si Biawak deketin aku. Entahlah, lakon apa yang sedang mereka mainkan."
"Ya bagus kalau kamu udah gak marah dan cemburu, tinggal ikuti aja permainan mereka dengan santai aja, kalau begitu. Ingat, Tha! Jangan pakai hati!"
"Siap, Bosque."
Thalita mengambil sikap sedang menghormat, dan Renald mengacak rambut Thalita dengan sayang. Bagi Renald, sahabatnya itu bagai seorang adik kecil yang harus dia lindungi. Melihat Thalita, selalu membuat Renald ingat adiknya di rumah.
"Kenapa sih kamu gak berhenti main-main di dumay yang itu? Kan ada akun sosmed dengan teman-teman real?"
"Di situ lebih asik, Re. Semua ku kenal hanya sebatas teman virtual, jadi banyak karakter mereka tuh yang gak kebaca. Bagus banget buat dijadikan ide tulisan. Lagian kalau ada masalah, tinggal blokir kan beres. Beda dengan teman yang kukenal juga di real, masih sering ketemu, jadi gak enak aja kalau ada masalah."
"Ya udah kalau pendapatmu seperti itu, tapi ingat ya, Tha! Jangan pakai hati, biar gak sakit!"
"Iya, Renald sayang, aku paham kok."
Selanjutnya mereka berdua sibuk mengurus toko online mereka yang semakin rame. Selama dua bulan Thalita fokus di usaha itu, membuat usahanya dan Renald semakin berkembang dan menghasilkan banyak cuan.
__ADS_1
"Kamu udah gak nulis, Tha?" tanya Renald di tengah kesibukannya memilah barang yang akan dikirim.
"Masih, tapi cuma di platform, gak nulis buku fisik."
"Peluang dapat cuan, bagus yang mana?"
"Peminat buku fisik semakin menurun, mungkin karena harganya yang lumayan mahal dan efek pandemi yang baru berlalu. Orang-orang baru membenahi ekonomi yang sempat seret karena pandemi, jadi kurang minat beli buku fisik. Nah, peluang justru lebih besar di platform, karena sekarang ini hampir semua kalangan punya gadget dengan koneksi internet."
"Kalau dengan kerja buka olshop kayak gini bisa dapat cuan, kenapa harus nulis?"
"Kepuasannya beda, Re. Aku pribadi, nulis itu bukan semata karena cuan, tapi lebih menyalurkan ide dan uneg-uneg aja. Ada kepuasan tersendiri jika tulisan kita dibaca dan disukai banyak orang."
"Gitu ya, aku kurang paham, karena memang aku bukan penulis."
"Intinya sih, gitu. Itu lah alasan aku tetap bertahan di dunia virtual yang sengaja ku pilih teman yang jelas-jelas gak pernah dan gak mungkin bertemu."
"Selama itu baik dan bermanfaat, lakukan. Tapi bila sudah mulai toxic dan bikin sakit hati, tinggalkan!"
"Siap, Bos! Ini udah semua ya orderan? Yang buat besok, banyak gak?"
"Kalau begitu, aku mau ikutan event menulis 30 hari aja, biar nambah koleksi buku fisikku, buat kenang-kenangan kelak di kemudian hari."
"Terserah kamu, asal gak memaksakan diri aja. Jangan sampai kuliahmu terganggu karena sibuk cari cuan mulu!"
"Ya enggaklah, Re. Tujuan utama kan kuliah dulu, yang lain-lain itu cuma hobi yang menghasilkan cuan untuk tambah-tambah biaya kuliah, itung-itung meringankan beban bapakku."
"Bapakku bukan penjahat, kan?"
"Itu kan salah satu judul cerbung ku di platform ini, mampir dong kapan-kapan! Seru lho ceritanya."
"Ngiklan, Bu?"
"Namanya juga usaha, Pak."
__ADS_1
Keduanya tertawa bersama, sambil tangan mereka sibuk membungkus barang, menulis alamat dan memasukkan ke dalam keranjang yang akan dibawa Renald ke ekspedisi.
Tiba-tiba ponsel Thalita berdering, menampilkan sebuah nama yang tadi sempat membuat Thalita kesal, Gideon. Thalita menunjukkan ponsel pada Renald, dan meminta ijin untuk menjawab panggilan, Renald hanya mengangguk.
"Ya, Bang? Kangen ya sama Thalita?"
"KAMU KEMANA AJA SIH, KOK TIBA-TIBA NGILANG KAYAK GITU? ABANG SAMPAI HAMPIR GILA TAU, NYARIIN KAMU."
"Tenang, Bang! Gak usah teriak-teriak kayak gitu, ingat Abang punya hipertensi, nanti kena stroke lho!"
"KENAPA DOANYA KE ABANG JELEK GITU? UDAH GAK SAYANG SAMA ABANG? UDAH PUNYA COWOK LAIN, MAKANYA ABANG DIBUANG?"
"Ya kalo Abang hobinya teriak-teriak kayak gini, ya buat apa juga? Mending cari yang kalem, lemah lembut, sabar, pengertian, penyayang juga. Thalita bukan anaknya Abang, jadi Abang jangan teriak-teriak gitu ke Thalita."
Thalita terdengar kalem saat bicara, karena Gideon akan semakin nyolot kalau dilawan, Thalita paham banget akan hal itu.
"YA UDAH, CARI SANA! JANGAN PERNAH HUBUNGI ABANG LAGI!"
"Siap, Bang."
Tuuuuut...
Gideon segera mematikan panggilan dan memblokir nomer Thalita karena kesal mendengar jawaban gadis itu. Gideon sangat berharap Thalita mengemis maaf darinya, bukan malah mau mencari pengganti.
Sementara itu, Thalita hanya tertawa, mendapati nomernya sudah diblokir. Tak ada niatan juga untuk menghubungi Gideon melalui aplikasi lain. Ya, Thalita sudah berubah, bukan lagi Thalita yang dulu, yang galau kalau nomernya diblokir, yang akan menghubungi lewat aplikasi lain.
Thalita sekarang sudah berubah, tak lagi berharap pada Gideon, dan membiarkan cowok itu berkreasi sesuka hati. Thalita hanya berusaha mengimbangi ulah Gideon saja.
"Kenapa, Tha? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Renald yang sedari tadi memperhatikan Thalita.
"Ini lho, si Biawak kok pede banget gitu, apa dia ngira aku b*go, kayak cewek-cewek dia sebelumnya?"
"Ya tinggal buktikan, kalau kamu tuh punya otak, Tha! Jangan sampai kalah sama biawak macam dia. Sini selfi sama aku, terus posting! Kan aku gak jelek-jelek amat untuk ngaku jadi pacar kamu."
__ADS_1
"Good idea! Kamu emang paling bisa diandalkan, Renald sayang."
Renald dan Thalita mengambil foto dengan pose mesra, kemudian mempostingnya ke akun sosmed Thalita yang baru saja aktif kembali.