Playing Victim

Playing Victim
Part 23 : Teror Lagi


__ADS_3

Sejak Thalita memposting foto mesranya dengan sang Sahabat, banyak komentar dan chat masuk yang bertanya siapa cowok itu dan hubungannya dengan Thalita. Emoticon tertawa dan komentar absurd digunakan Thalita untuk membuat orang merasa lebih penasaran.


Renald yang memantau dari akunnya, hanya nyengir ketika membaca komentar-komentar dan jawaban Thalita. Post itu bersifat publik, tapi tak etis rasanya bagi Renald untuk berkomentar, karena akan membuka akses ke akun real Thalita.


Gideon dan Clara yang memblokir akun Thalita, membuka blokir Thalita karena penasaran. Tentu saja mereka mendapat berita dari para spy atau akun klon mereka yang berteman dengan akun Thalita.


Gideon yang kebakaran jenggot, tak dapat menahan diri untuk tak menelepon Thalita.


"Ya, Bang, ada apa?" tanya Thalita santai.


"APA MAKSUD KAMU POSTING FOTO ITU? MAU BUAT MALU ABANG, HAH?"


"Apa sih, kok tiap telepon pakai marah-marah? Foto apa?"


"GAK USAH PURA-PURA BEG*. ITU APA-APAAN POSTING FOTO SAMA COWOK SELAIN ABANG?"


"Oh itu."


"JAWAB! APA MAKSUD KAMU, THALITA ADELIA?"


"Gak ada maksud apa-apa, cuma pengen posting. Dan satu lagi, biar gak keliatan jomblo."


"APA MAKSUDNYA BIAR GAK KELIATAN JOMBLO? KAMU ANGGAP APA ABANG INI?"


"Abang Thalita kan? Lupa?"


"Abang gak lagi becanda, Sayang. Abang serius," rengek Gideon seperti bocah.


"Thalita juga serius dari tadi, kan gak tertawa juga."


Gideon mengacak rambutnya gusar, ngomong dengan Thalita memang butuh kesabaran extra, dan dia tak memilikinya. Sifat pemarah Gideon, seringkali dibalikkan Thalita untuk menyerangnya.


"Kenapa Thalita posting foto dengan cowok lain? Kan Thalita pacar Abang, itu sama aja bikin malu Abang, Sayang."


"Jadi, cuma boleh posting foto sama pacar?"


"Jelas!"


"Kalau begitu, apa maksudnya Abang posting foto sama Tante? Mau tunjukan ke orang-orang, kalau Abang sudah mencampakkan Thalita dan sekarang Abang pacaran sama dia?"


"Ya gak gitu, Abang sama Clara itu udah kenal dari lama, jauh sebelum Abang kenal Thalita, kami hanya teman."


"Jadi, boleh kan, posting foto sama teman?"


"Boleh, kok."


"Ya udah kalau begitu, Thalita posting foto Thalita dan William dengan alasan yang sama kayak Abang. Kami udah kenal lama, jauh sebelum Thalita kenal sama Abang."

__ADS_1


"JADI COWOK ITU NAMANYA WILLIAM? SEJAK KAPAN KAMU JADIAN SAMA DIA, HAH?"


"Ya udah lumayan lama sih sebenarnya, lebih dari tiga tahun."


"APA?! BENAR-BENAR KAMU YA, THALITA, MAININ ABANG MULU."


"Terus? Abang mau apa? Putus?"


"Kenapa kata-kata itu yang selalu kamu sebutkan setiap kali kita berantem? Kamu udah gak sayang sama Abang?"


"Jujur saja, sejak Thalita tau Abang ada hubungan dengan si Tante di belakang Thalita, rasa sayang itu sudah pudar."


Gideon terhenyak, tidak menyangka akan mendapat jawaban demikian dari Thalita. Selama ini, Gideon merasa yakin, Thalita bucin banget padanya, dan pastinya mau-mau aja diperlakukan sekehendak hati Gideon, tapi ternyata salah.


"Jadi maunya Thalita apa sekarang?"


"Maunya Thalita, Abang gak usah berhubungan lagi sama Tante, blokir semua akunnya, dan jangan pernah ketemu dia! Atau Thalita akan menghilang dari hidup Abang."


"Susah bener ya, gak ada pilihan lain?"


"Ada kok."


"Apa itu, Sayang?"


"Kita putus!"


"Kalau begitu, jauhi Tante!"


Thalita menutup sambungan telepon, malas berbantah kata dengan Gideon. Kalau diladeni, Gideon bisa saja telponan sampai pagi. Cowok itu tak suka Thalita menerima telpon darinya dengan menggunakan handsfree, katanya nanti Thalita gak fokus dan sibuk balas chat yang lain.


Sedari tadi, banyak notifikasi chat masuk, dan Thalita merasa penasaran, itu juga salah satu alasan Thalita mematikan panggilan.


/Hey, Cabe...masih hidup ternyata elu? Gua kira udah koit/


/Cabe si*l*n, ngapain lu muncul lagi? Dunia maya lebih tenang kalo lu mati/


/Lu pamer cowok baru ya, Be? Hasil dari kirim pap atau ngajak V*S?/


/Eh, si Cabe nongol lagi, tapi kasian banget, udah dicampakkan sama bucin nya. Ya iya lah, jelas bucin si Cabe pilih gua, kan bagusan gua ke mana-mana/


/Udah, Be! Mending lu nangis aja di pojokan! Gideon jelas-jelas pilih gua timbang elu. Gua lebih seksi, gak kayak elu, body tipis kayak triplek/


/Cabe b*ngs*t, mending lu mati aja deh! Biar Gideon fokus ama gua./


/Sekali lu ngusik gua, lu bakal tau akibatnya, dasar Cabe si*l*n/


Masih banyak chat bernada sama, yang dikirim menggunakan lima nomer berbeda. Thalita mengetahui empat nomor milik Clara, dan satu nomor lagi milik Rikka. Thalita meng-SS semua chat itu dan mengirimkannya pada Gideon, agar cowok itu tau, betapa sakit hati Thalita dengan mahluk yang bernama Clara.

__ADS_1


Tak lama, Gideon menelepon Thalita lagi.


"Itu semua, siapa yang kirim, chat?"


"Abang beneran gak tau, atau cuma pura-pura? Itu kan ada nomernya, tinggal cek aja pakai aplikasi!"


"Clara?"


"Udah tau, masih aja nanya," jawab Thalita ketus.


"Kamu gak merekayasa semua chat itu kan, Sayang?"


"Rekayasa gimana, Bang? Itu di SS kan bisa dilihat nomernya, aku sengaja gak save semua nomer itu, biar kelihatan kalau di SS. Abang jangan pura-pura b*go, deh!"


"Kok kasar gitu ke Abang?"


"Abis Thalita lagi emosi. Bisa-bisanya Abang dekat sama orang yang jelas-jelas benci sama Thalita."


"Jadi, Abang harus gimana?"


"Belum jelas juga ya dari tadi Thalita ngoceh? Pilih Thalita atau Clara!"


"Ba ... baiklah, Sayang. Mulai sekarang Abang akan menjauh dari Clara, Abang gak mau kehilangan Thalita."


"Oke, buktikan! Jangan bisanya ngomong doang!"


Gideon terdiam, tak tau harus memberi jawab apa pada Thalita. Gideon tak dapat memilih salah satu di antara keduanya, cowok itu menyayangi keduanya.


Karena Gideon diam untuk waktu yang lama, kembali Thalita mematikan panggilan, karena penasaran dengan banyaknya chat yang masuk ke aplikasi hijau miliknya.


/Eh Cabe, ngapain lu suruh Gideon blok gua, hah? Lu kasih apa ke dia kok bisa nurut? V*S ya?/


/Dasar Cabe gatel! Bisa-bisanya nyuruh cowok orang buat blokir ceweknya. Awas aja lu ya, Cabe!/


/Thalita, are you okey? Clara ada teror kamu, gak? @Dinda/


Thalita mengerutkan kening, karena merasa tak mengenal yang namanya Dinda, tapi sepertinya dia peduli pada dirinya. Thalita membalas chat itu.


/Iya, saya gapapa kok, Mbak. Cuma teror chat, masih bisa saya atasi./


Centang abu-abu cepat berubah jadi biru, dan kemudian tampak pemilik room mengetik.


/Kamu hati-hati ya, Thalita! Clara orangnya terbilang nekad! Aku cuma gak mau lihat kamu celaka, meski kita gak saling mengenal./


/Terima kasih, Mbak! Mbak Dinda sudah sangat peduli sama saya./


Thalita mematikan data, gadis itu ingin beristirahat dengan tenang malam ini.

__ADS_1


__ADS_2