
"SIAL! SI CABE ITU TAMPAKNYA TANGGUH JUGA!!"
Clara tampak sangat emosi, melihat usahanya untuk membuat Thalita kesal tak berhasil. Wanita itu memang membagikan nomer telepon Thalita di aplikasi chat dewasa, dengan caption yang mengatakan, cewek itu menerima ajakan untuk bersenang-senang via chat dan video call.
Ini hari kedua Clara melakukan aksinya, dan merasa yakin, Thalita sudah mendapatkan gangguan melalui chat dan telepon dari para biawak dan buaya di aplikasi itu. Tapi ... sepertinya Thalita bersikap biasa aja, tak merasa terganggu sedikitpun.
Yang ada, Clara mendapat teguran dari Gideon, agar tak menganggu pacar virtualnya itu. Ya, Gideon sudah sangat berubah, tak lagi menurut pada Clara. Bahkan cowok itu sudah mengibarkan bendera perang padanya.
"Hem. Tampaknya si Cabe udah dapat simpati dari Gideon, nih. Aku harus cepat ambil sikap. Jangan sampai tuh Cabe dapat banyak sekutu, bisa repot aku. Dia sendirian aja udah sangat merepotkan, apalagi kalau punya teman," Clara bermonolog.
Tiba-tiba ponsel Clara berdering, sebuah nama terpampang di layarnya, Vano.
"Wew, tumben si Ganteng nelpon aku? Pasti nih dia kangen, secara kan aku memang ngangenin."
Clara segera menggeser ponselnya ke ikon bergambar telepon warna hijau. Dan dengan girang menjawab panggilan Vano.
"Halo, Sayang! Tumben nelpon, kangen ya?"
"Dengar ya, Wanita ular! Jangan ganggu Thalita! Atau gua bikin kelar hidup lo! Camkan itu!"
Vano mematikan panggilan, dan mengabaikan Clara yang menelepon ulang, membuat wanita itu menjadi geram. Bisa-bisanya, Vano juga berpihak pada Thalita. Pasti si Cabe itu pakai cara licik untuk mendapat simpatinya. Vano tak mudah tergoda, Clara susah sering mencobanya.
Sekarang, kenapa Vano pasang badan buat Thalita? Perlu dicari jawabannya. Apa pula hebatnya si Cabe? Clara tak melihatnya, bahkan merasa standar Thalita masih jauh di bawah dirinya.
"DASAR CABE SIAL!! Bisa-bisanya dia mempengaruhi Vano. Padahal sudah ku peringatkan buat gak dekat-dekat sama Vano. Kurang ajar, emang tuh Cabe!"
__ADS_1
Clara semakin emosi, karena Vano mengabaikan dirinya dan malah berpihak pada Thalita. Clara merasa harus membuat perhitungan. Karena itu, dia meraih kunci motornya, dan melaju ke rumah Rikka. Mereka harus berunding.
Rikka sedang tidak berada di rumah, dan ponselnya tidak dapat dihubungi. Cukup lama Clara menunggu, tapi temannya itu belum kelihatan juga batang hidungnya. Clara semakin kesal. Cewek itu memutuskan pergi dari rumah Rikka, menuju kontrakan lama Gideon.
Sampai di tempat, ternyata penghuni kontrakan sudah ganti, bukan lagi Gideon dan ibunya. Yang membuat Clara semakin kesal, penghuni baru tak mengatakan, kemana Gideon dan ibunya pindah. Demikian juga tetangga kontrakan yang lain. Bahkan beberapa orang yang mengenali Clara sebagai pasangan mes*m Gideon, segera mengusirnya dari tempat itu. Lengkap sudah penderitaan yang dirasakan Clara.
Saat ini, satu-satunya teman yang dapat diharapkan sebagai partner diskusi cuma Dinda. Tapi Clara tak bisa terlalu berharap, karena Dinda selalu menentangnya. Di tengah rasa putus asa, tanpa sadar Clara melajukan motor ke rumah Dinda.
"Lihat, Ren! Siapa nih yang datang?" sambut Dinda di depan teras.
"Wah, panjang umur nih, Mbak Clara. Barusan diomongin, eh nongol," kata Renny sambil tersenyum.
"Jadi, kalian berdua ngomongin aku?" tanya Clara sewot.
"Seperti yang kamu lihat. Sehat walafiat dan makin memesona," kata Clara sambil merentangkan tangan dan memutar tubuhnya.
"Tumben kemari, Mbak? Mau ngajakin kita makan-makan?" tanya Dinda.
"Aku tadi dari rumah Rikka, dia gak ada di rumah. Terus ke kontrakan Gideon, ternyata cowok itu sudah pindah. Tanpa sadar, aku kok malah melaju ke sini."
"Jadi? Nyetir motor sambil pingsan? Hehehe ..." tanya Renny.
Clara makin manyun, karena diledek Renny. Cewek itu semakin badmood, karena teman-temannya seolah menertawakan kesialannya hari ini. Padahal mereka berdua, belum tau kalau Clara lagi sial.
"Aku kesel nih, Gaes! Si Cabe bikin ulah lagi!" kata Clara.
__ADS_1
"Bikin ulah gimana, Mbak?" Renny kepo.
"Masa dia nyuruh Vano dan Gideon buat teror aku. Si Cabe nuduh aku share nomer dia di aplikasi chat dewasa. Padahal gak ada bukti lho, kan kurang ajar. Mana sekarang, dua cowok itu jadi nurut banget sama si Cabe. Disuruh apa-apa mau aja tuh berdua. Bahkan kalau si Cabe bilang, mereka harus nyemplung sumur, pasti rela mereka melakukannya."
"Wah, bisa gitu ya, Mbak? Hebat banget berarti si Thalita, bisa mempengaruhi mereka berdua. Apalagi Vano, dia kan dingin banget kalau sama cewek, kok bisa nurut sama Thalita. Pasti ada apa-apanya nih, Mbak. Perlu diselidiki!"
Renny yang bicara dengan nada berapi-api, membuat Clara melongo heran. Biasanya cewek itu berpihak pada Thalita, kenapa sekarang berubah haluan? Jadi berpihak pada Clara.
"Mungkin saja mereka belum tau wajah aslinya si Cabe, Ren. Dia kan kemana-mana pakai topeng yang nampilin wajah polos. Padahal aslinya---"
Clara sengaja tak menyelesaikan kalimatnya, agar teman-temannya berasumsi menurut pikirannya sendiri. Clara tak mau terlihat sedang mencuci pikiran teman-temannya dengan kebohongan yang diciptakannya tentang Thalita.
"Ya menurutku juga begitu, Mbak. Kan tau sendiri, Vano itu susah dipengaruhi. Kalau sampai nurut sama Thalita, pasti ada apa-apanya," tukas Renny.
"Apa kalian gak mikir? Kalau Vano bisa berpihak pada Thalita, karena Thalita punya bukti yang ditunjukkan ke Vano? Tau sendiri kan, Vano gak gampang percaya tanpa bukti," kata Dinda berpendapat.
"Bukti apa? Annon itu aplikasi chat random, tanpa kita tau sedang chat dengan siapa. Gak mungkinlah, ada bukti kalau aku yang share nomer Thalita di aplikasi itu," Clara menyangkal pendapat Dinda.
Dinda menatap Renny sambil nyengir. Sepertinya Clara memang bukan orang pintar. Tanpa sadar, wanita itu sudah membuka kedoknya sendiri. Dia mengatakan nama aplikasi tempat nomor Thalita tersebar, tanpa sadar, keceplosan.
"Berarti, Thalita cuma asal tuduh ya, Mbak? Gak punya bukti dia."
"Ya iya lah, Din. Kan dari dulu aku bilang, si Cabe itu playing victim. Dia cuma pura-pura aja menjadi korban. Dengan wajah polos yang ditampilkannya, dia mempengaruhi semua orang buat percaya sama dia."
Clara bicara dengan penuh semangat. Wanita itu tak pernah sadar, kedua temannya itu sedang menjebaknya untuk mengungkapkan kebenaran. Renny sudah menyiapkan ponsel untuk merekam semua pembicaraan mereka di teras rumah Dinda. Rekaman itu akan diserahkannya pada Vano. Karena memang Vano, yang merencanakan semuanya.
__ADS_1