Playing Victim

Playing Victim
Part 27 : Belum Kapok Juga


__ADS_3

Karena peristiwa malam itu, terpaksa Gideon dan ibunya diusir dari kontrakan. Pemiliknya tak mau, kontrakannya digunakan sebagai tempat berbuat mesum. Warga sekitar juga tak ingin terkena sial, karena ada perbuatan asusila di sekitar tempat tinggal mereka.


Gideon membawa ibunya yang baru tersadar dari pingsan, ke rumah seorang kerabat. Sang Ibu hanya diam, enggan berbicara dengan anak semata wayangnya itu.


Sementara Clara, dengan tak tau malu, malah membeberkan fakta kepada warga. Kalau memang mereka adalah sepasang kekasih yang sudah sering melakukan perbuatan seperti itu. Bukan hanya di kontrakan, tapi juga di beberapa tempat lain. No problem. Wanita itu tak menuntut tanggung jawab Gideon untuk menikah dengannya.


Clara menganut paham bebas. Asal suka sama suka, oke aja melakukannya tanpa ikatan. Miris sekali. Di Indonesia yang masih kental dengan budaya timur, hal seperti ini dianggap seperti perbuatan binatang. Bukan perbuatan manusia.


Ibu Gideon memandang Clara penuh rasa benci. Bagaimana bisa, anak kesayangannya bergaul dengan wanita jenis ini. Apalagi Clara membeberkan kepada warga, Gideon tak membayarnya untuk dapat menikmati tubuhnya. Gratis. Astaga, sungguh wanita yang sangat tidak berharga. Untung saja Clara tidak menuntut dinikahi, bisa naik tensi.


Clara pergi dari kontrakan juga tanpa permisi. Melenggang begitu saja. Sungguh tak punya adab dan sopan santun. Entah siapa yang harus disalahkan. Dia atau orang tuanya. Yang jelas, tak ada orang tua yang mengajarkan hal buruk pada anak-anaknya.


Gideon juga sangat kehilangan muka. Selama ini dia dikenal warga sebagai seorang pemuda yang baik. Rajin beribadah. Sopan kepada orang yang lebih tua. Juga patuh dan sayang pada ibunya yang sudah menjadi janda. Sungguh seorang pemuda impian untuk dijadikan menantu. Tapi ... Itu hanya kulitnya. Isi buku tak bisa dinilai hanya dengan melihat sampul.


"Bu, nanti sementara kita tinggal di rumah Bulek, ya! Sebelum Gideon dapat kontrakan baru buat kita," kata Gideon pada ibunya.


Wanita tua itu hanya mengangguk. Enggan berbicara pada anaknya. Kecewa, sangat kecewa. Gideon menghela napas. Ibunya pasti sedang marah dan kecewa padanya. Karena diam, adalah ekspresi marah terbesar ibunya. Sebagai anak, Gideon paham betul hal itu.


"Maafkan Gideon, Ma! Gideon khilaf."


Kembali wanita tua itu hanya mengangguk, tapi membuang pandangan dari anaknya. Gideon sungguh merasa sangat bersalah, telah mengecewakan wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Di rumahnya, Clara sedang tertawa sambil berbaring di atas kasurnya. Wanita itu sedang bertelepon ria dengan Rikka, rekan curhatnya. Clara sedang menceritakan suatu kebohongan pada Rikka. Tentu saja kebohongan tentang Thalita.


"Kamu gak tau sih, Rik! Tuh si Cabe nelpon sambil ngamuk-ngamuk karena dikick dari group. Katanya aku yang ngomporin Gideon buat kick dia. Mana ada kayak gitu kan?"


"Emang, kenapa sih dia sampai dikick, Mbak?"


"Ya mungkin Gideon udah eneg kali sama tuh Cabe. Kan si Cabe pacarnya Gideon, tapi masih gatel aja godain Vano, cowokku. Kan kurang ajar tuh namanya, Rik."

__ADS_1


"Kok bisa Gideon tau, si Cabe gatel ke Vano?"


"Gideon sama Vano itu bersahabat, Rik. Wajar aja kalau Gideon tau, Vano pasti cerita dong. Itulah b*gonya si Cabe. Kok gak mikir gitu kalau mau sel*ngkuh."


"Wew, ternyata kayak gitu. Yo pantes sih kalau Gideon marah. Masa pacarnya sel*ngkuh sama sahabatnya. Sakitnya dobel dong."


"Mana si Cabe itu sok jaim lho, Rik. Kan pacarannya sama Gideon itu virtual. Gak pernah mau tuh diajak Vcall. Pacar apa kayak gitu? Giliran ke cowok lain aja ganjen."


"Parah banget tuh. Yang bener sih, emang mending diputusin aja cewek kayak gitu. Timbang makan hati. Tapi, Mbak ... kok ku lihat, Bang Vano keluar juga dari group?"


"Oh itu. Vano kesel aja, karena Gideon kelihatan care sama aku. Cemburu, ceritanya."


"Walah! Ternyata Bang Vano bisa cemburu juga toh."


"Ya bisa dong, Rik. Kan cemburu itu tanda cinta, berarti Vano emang beneran cinta sama aku."


"Ya serius lah, Rik! Vano aja sering ke rumah. Udah akrab banget sama orang rumah. Sama ibuku juga perhatian banget."


"Mantap tuh, Mbak. Tinggal nunggu dapat undangan berarti nih."


Clara tertawa mendengar candaan Rikka. Tawa miris. Karena semua yang dikatakannya adalah kebohongan semata. Jangankan main ke rumahnya, membalas cinta Clara aja Vano tak sudi. Apalagi setelah peristiwa di kontrakan Gideon. Pastilah Vano udah jijik melihat dirinya.


Kebohongan Clara terlalu rapi. Membuat semua orang percaya padanya. Kecuali Vano dan Thalita, tentu saja. Mereka berdua sudah tau kebusukan Clara, dan sedang menunggu waktu untuk membongkarnya.


"Aku sih udah siap, Rik. Tapi Vano masih minta waktu. Maklum, dia kan baru lulus kuliah. Masih cari kerja."


"Kenapa gak buru-buru, Mbak. Daripada nanti ditikung sama si Cabe lho!"


"Mana mungkin Vano lirik si Cabe! Dia kan gak ada bagus-bagusnya juga. Gideon aja sebenarnya lebih milih aku, daripada si Cabe kok. Cuma karena aku lebih sreg ke Vano, Gideon ku tolak."

__ADS_1


"Wew, berarti Gideon pernah menyatakan cinta pada Mbak Clara?"


"Pernah! Karena ku tolak, dia beralih ke si Cabe. Walau cuma untuk pelampiasan aja."


"Hem, gitu. Baru tau aku, Mbak. Pantesan Bang Vano cemburu sama Gideon."


"Karena aku pernah cerita, kalau Gideon nembak aku."


Tiba-tiba, terdengar suara pintu rumah Clara digedor oleh seseorang. Clara segera mematikan panggilan dan berlari untuk membuka pintu. Wanita itu tak mau, ibunya mendengar ada keributan. Ibunya sedang sakit. Stroke oleh hipertensi.


"Gideon?"


"Ikut aku!"


Clara mengikuti Gideon yang sudah duduk di atas jok motornya. Wanita itu duduk di boncengan tanpa bertanya. Ada raut marah pada wajah Gideon. Itu sangat menakutkan.


Gideon membawa Clara ke tempat yang sepi. Wanita itu sedikit gemetar, takut. Tapi tetap berusaha terlihat tegar dan bersiap menerima semua perlakuan dari Gideon.


Dengan kasar, Gideon menarik tangan Clara dari duduknya di atas jok motor. Wanita itu hampir saja terjungkal. Untung Gideon menangkap tubuhnya, dan membuatnya menghadap jok motor.


Gideon menarik turun pakaian bawah milik Clara. Kemudian miliknya sendiri. Clara tersenyum. Gideon melakukannya. Bukan dengan lemah lembut. Tapi dengan penuh emosi. Bahkan tanpa pendahuluan, langsung saja ke inti.


Gerakan Gideon yang teramat kasar, diharapkan akan menyakiti Clara. Namun sebaliknya, wanita itu sangat menikmatinya. Bahkan rintihannya terdengar menggoda.


Gideon semakin gelap mata. Dibiarkannya tubuh Clara terayun dan membentur besi belakang jok motornya. Bahkan cowok itu menarik kuat rambut Clara, saat melepaskan hasratnya.


"Udah, puas?" tanya Clara sambil mengerling.


Gideon kesal. Merapikan pakaiannya. Menaiki motornya, dan meniggalkan Clara yang terbengong.

__ADS_1


__ADS_2