Playing Victim

Playing Victim
Part 43 : Berita Duka


__ADS_3

Clara masih terus menangis karena marah. Semua orang seakan sedang menertawakan dirinya. Termasuk Rikka, yang katanya sahabat terbaik Clara. Tadi, terdengar Rikka tertawa, meski berusaha ditutupi dengan terbatuk. Clara tau pasti, Rikka memang tertawa, menertawakan kebodohan Clara.


Vano juga membuat Clara marah. Bagaimana bisa, cowok itu sebelumnya sudah setuju untuk membantu Clara menemukan Gideon. Tapi malah berubah pikiran karena hasutan si Cabe. Bahkan tadi, Clara mendengar Vano memanggil Thalita dengan sebutan Sayang. Sakit? Tentu saja hati Clara merasa sakit saat mendengarnya.


Selama ini Clara sangat mengharapkan panggilan itu keluar dari mulut Vano untuknya. Tapi Clara malah mendengar panggilan itu digunakan Vano untuk orang yang dibencinya. Sakit sekali rasanya hati Clara, sakit yang tak berdarah.


Belum lagi adiknya. Kenapa juga memblokir nomernya tiba-tiba. Padahal dia hanya menyampaikan berita gembira. Apa karena adiknya tak menyukai Gideon? Mungkin saja. Hans, adik Clara, tau Gideon hanya seorang pekerja freelancer. Penghasilannya bisa dibilang tidak tentu. Untuk mencukupi kebutuhan makannya sendiri saja belum tentu cukup. Apalagi Gideon masih punya tanggungan seorang mama.


Banyak hal hari ini yang membuat Clara marah. Semua terasa sangat menyebalkan. Clara terus menangis, sampai akhirnya tertidur.


Di rumah sakit, Hans masih menunggu kabar ibunya yang masih di ICU. Wanita yang telah melahirkannya itu, sedang koma, masa kritisnya juga belum lewat. Hans merasa bersalah pada diri sendiri, kenapa bisa-bisanya meninggalkan ibunya seorang diri.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sih, Bu? Tadi Ibu kelihatan baik-baik saja waktu ku tinggal pergi, kenapa tiba-tiba jadi jatuh dan pingsan?" pertanyaan Hans yang belum diketahui jawabannya.


Pria itu meremas rambutnya kasar. Ingin mengabari Clara, kakak perempuannya, tapi Hans masih kesal. Bagaimana bisa, Clara tak menjawab semua panggilannya ketika dia akan membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi kemudian menelpon untuk memberitahu dirinya akan menikah. Kurang ajar emang!


"Bisa-bisanya aku punya mbak kayak gitu. Cuma mikirin dirinya sendiri, gak mau mikirin orang lain, termasuk ibunya. Padahal dia itu seorang wanita, harusnya lebih peka!"


Hans masih mengeluhkan kelakuan Clara, karena sangat tak perhatian pada ibunya. Andai Hans tau, Clara yang menyebabkan ibunya koma, tak tau pasti apa yang akan dilakukannya pada Clara. Hans sangat sayang pada ibunya.


Seorang dokter tampak keluar dari ruang ICU, dan segera menghampiri Hans yang sedang melamun.


"Hans?" sapa sang Dokter.


"Eh maaf, Jhon! Gimana kondisi ibuku?"


"Tak ada yang dapat kita lakukan selain berdoa. Ibumu butuh mujizat. Kami para dokter sudah berusaha semampu kami."


"Makasih ya, Jhon!"


Dokter Jhon adalah teman SMA Hans. Pria itu tau bagaimana perjuangan ibu Hans untuk menghidupi kedua anaknya, setelah suaminya meninggal karena serangan jantung. Dokter Jhon sangat tau, Hans sangat menyayangi ibunya.


"Sama-sama, Hans. Aku tinggal dulu ya. Kamu jaga kesehatan, jangan sampai sakit! Kamu harus kuat demi ibu," Jhon menepuk bahu Hans.


Hans hanya mengangguk, kemudian menatap punggung Jhon yang mulai menjauh. Hans merasa lelah, ingin beristirahat sejenak. Lelaki itu kemudian merebahkan diri di kursi ruang tunggu.


Di kontrakannya, Gideon masih memikirkan permintaan ibunya untuk pindah dari Ibukota. Ibunya ingin kembali ke kota kelahirannya, toh di kota ini, nasib mereka tak berubah juga.


"Ibu yakin, kita akan pulang kampung?" tanya Gideon.

__ADS_1


"Ibu rasa begitu saja. Di sini juga nasib kita gak berubah, Le. Dari dulu ya gini-gini aja. Pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, tanpa bisa punya rumah sendiri."


"Di kampung, kita mau kerja apa, Bu?"


"Ya bertani, Le, apalagi? Kakekmu kan masih punya sawah, meskipun hanya sepetak dua petak. Atau kamu mau coba usaha ternak bebek."


Gideon menghela napas. Bayangan hidup di kampung, jauh dari hiruk pikuk Ibukota, pasti membuatnya kesepian. Sedari kecil dia tinggal disini. Meski pindah-pindah kontrakan, disini dia mempunyai banyak teman. Kalau di kampung? Tak ada seorangpun yang dikenalnya.


"Kenapa tiba-tiba Ibu ngajak pulang kampung? Apa gara-gara Clara?"


"Itu salah satu alasannya. Ibu yakin, anak yang dikandung perempuan itu bukan cucu Ibu. Kamu hanya dimanfaatkan oleh dia. Mungkin karena sekarang ini kamu lagi nganggur."


"Aku kerja, Bu! Bukan pengangguran!" kata Gideon lirih. Sakit sekali hatinya, saat ada orang yang mengatakan dia seorang pengangguran, meskipun kenyataannya begitu.


"Sudahlah, tujuan perempuan itu hanya untuk manfaatin kamu, percaya sama Ibu! Suatu saat, kalau sudah gak butuh, kamu bakal dibuang."


"Tapi, Bu---"


"Nurut sama Ibu, Le! Gak ada seorang ibu yang rela anaknya cuma dibuat mainan!"


"Baiklah, Bu. Gideon bakal nurut sama Ibu. Kapan rencananya kita berangkat?"


"Besok. Ibu sudah pesan truk untuk angkut barang-barang kita."


"Baiklah, Bu. Kalau begitu, Gideon akan bersiap-siap."


Gideon mengambil ponselnya, kemudian menghubungi nomer dari cewek yang paling dia sayangi, Thalita.


"Halo," sapa Thalita dingin.


"Ha ... halo, Tha! Apa kabar?" tanya Gideon gugup.


"Baik, Bang."


"Sudah makan, Tha?"


"Sudah, Bang."


"Sekarang lagi apa?"

__ADS_1


"Lagi jawab telepon Abang."


Gideon tertawa kecut. Tak disangka, bertelepon dengan Thalita jadi kikuk kayak gini. Biasanya cewek itu sangat bawel, tapi sekarang hanya menjawab ketika ditanya oleh Gideon. Tidak salah memang, tapi terasa aneh.


"Ada yang lucu ya, Bang?"


"Iya, Tha. Abang merasa lucu aja. Makanya Abang tertawa."


"Oh."


"Iya, Tha."


"Gak ada yang pengen diobrolin lagi kan, Bang?"


"Kenapa, Tha?"


"Gapapa kok, Bang."


Keduanya diam untuk beberapa saat. Gideon tak tau ingin ngobrol apa, sedang Thalita enggan mencari bahan obrolan.


"Hem, ada yang ingin Abang omongin nih, Tha."


"Ngomong aja!"


"Kamu sudah dengar berita tentang Clara?"


"Sudah, Bang. Thalita juga udah bilang sama Bulek, kalau Thalita gak pernah menghalangi kalau Abang mau nikah sama dia. Toh dia juga udah mengandung anak Abang."


"Hem. Kamu percaya itu anak Abang?"


"Percaya saja. Kalian dekat, peluang untuk ketemu dan bikin anak itu ada."


Gideon menutup panggilan tanpa berpamitan pada Thalita. Dunianya terasa runtuh, orang yang paling dia sayang, sudah tak lagi percaya padanya. Gideon menangis, menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan selama ini.


"YON! GIDEON! KAMU ADA DI DALAM?"


Terdengar teriakan panik memanggil namanya. Gideon segera keluar.


"Ya, Pak? Ada apa?"

__ADS_1


"IBUMU, YON! DIA JADI KORBAN TABRAK LARI!"


Pandangan Gideon terasa gelap, cowok itu tak sadarkan diri.


__ADS_2