
Kembali Vano mencoba menghubungi Thalita. Jika selama ini Thalita selalu cuek dan tak pernah membalas chat dari Vano, kali ini gadis itu tergerak untuk membalasnya.
/Apa kabar, Thalita?/
/Puji Tuhan baik, Om/
/Ku telepon, ya?/
/Oke, Om/
Tak lama ponsel Thalita berdering, dan gadis itu yakin, itu telepon dari Vano.
"Ya, Om. Kenapa? Kangen?"
"Banget, kamu ngilang lama banget. Group jadi sepi karena kamu gak muncul."
"Heleh, ngadi-ngadi deh. Aku juga gak pernah nimbrung di group."
"Tapi kalau kamu muncul kan asik, ada korban untuk dibully."
"Jahatnya!"
Vano tertawa lepas mendengar suara Thalita yang lagi ngambek. Entah kenapa perasaan Vano terasa berbeda ketika bertelepon ria dengan gadis itu. Thalita pandai mengelak, ketika obrolan sudah membuatnya tak nyaman. Berbeda dengan Clara yang suka dengan obrolan nakal, Thalita sangat anti dengan hal itu.
"Kemana aja, kamu? Terganggu dengan Clara?"
"Gak juga kok, Om. Cuma lagi sibuk aja cari duit buat sekedar beli cilok."
"Lagi usaha apa? Masih nulis kan?"
"Nulis sih masih, cuma sekarang lebih fokus ke PF. Ini lagi coba bikin olshop, masih bareng teman tapi."
"Ya bagus kalau gitu, kamu bisa manfaatin waktu dengan baik."
"Aku bosen aja sih di dumay. Capek! Gak ada hasil lagi."
Terdengar Vano menghela napas. Cowok itu paham betul apa yang dirasakan Thalita. Teror Clara melalui media sosial, pasti menganggu gadis itu. Itulah alasan kenapa Thalita menghilang, Vano benar-benar paham.
"Tha ...."
"Ya, Om."
"Aku tau, kamu punya akun yang kamu pakai untuk dunia nyata kamu."
"Hemm...."
"Kalau kamu menghilang dengan akun maya mu, hubungi aku dengan akun real, ya! Aku janji, gak akan kasih tau siapapun, termasuk Gideon."
"Oke, Om."
"Kamu percaya kan, sama aku?"
"Iya, Om. Thalita percaya kok."
"Makasih, ya."
"Buat?"
"Buat kamu percaya sama aku."
Thalita terdiam, gadis itu memang merasakan kalau Vano berbeda dengan orang-orang yang dikenalnya di dunia maya. Ada kharisma tersendiri dari suara Vano yang tertangkap oleh telinga Thalita.
__ADS_1
"Tapi ... Om kan cowoknya si Tante Clara. Takut dilabrak lagi."
"Gak usah hiraukan dia! Aku gak ada hubungan juga sama tuh cewek. Asal kamu tau, dia pacarnya Gideon."
"Aku juga udah tau."
"Soo?"
"Soo ... aku mau ngajak Om Vano sel*ngkuh, biar mereka tau rasa."
"Good idea, Baby. Let's do it."
Thalita terdengar tertawa ngakak, mau tak mau Vano ikut tertawa. Padahal cowok itu tersenyum aja jarang, bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Entah kenapa bersama Thalita semua jadi berbeda. Padahal hanya humor receh.
"Kamu gak serius kan, sama Gideon?" tanya Vano hati-hati.
"Enggaklah, just fun, cuma virtual ini."
"Good. Berarti aman."
"Kenapa, Om?"
"Gideon itu gak baik buat kamu!"
"I see. Tenang aja Om, aku bukan cewek b*go!"
"He em, aku tau kok. Makanya aku tertarik buat bantuin kamu. Kita bikin jera dua mahluk itu."
"Ok, deal?"
"Deal, Sayang."
"Di group, kita ngaku pacaran!"
"Udah tau resikonya, kan?"
"Di kick oleh Momod yang baperan."
"Yess. Bener sekali."
Keduanya tertawa lagi, meski tak ada yang patut ditertawakan. Entahlah, cinta itu rumit. Tak dapat diungkapkan hanya dengan kata, tapi tak etis juga kalau tak dikatakan.
"Tapi ... beneran Om Vano gak ada hubungan sama Tante Clara?" tanya Thalita tak yakin.
"Aku masih waras ya. Mana mau aku pacaran sama tante-tante tuir kayak gitu. Mending juga sama loli, imut."
"Siapa loli?"
"Kamu ... hahaha."
"Si*l*n, aku dibilang loli, mentang-mentang aku imut. Gini-gini juga aku udah mahasiswi lho, Om."
"Abisnya nuduh seleraku, tante-tante. Yang ada, seleramu itu yang bapak-bapak."
"Hah?"
"Gideon itu kan udah gak muda lagi, Tha. Usia dia hampir dua kali usiamu. Gitu kan kamu mau aja dipacari sama dia."
"Namanya juga khilaf, Om."
"Lain kali hati-hati, ya! Cowok kayak Gideon itu cuma kelihatan baik di luarnya aja. Dalamnya mah ... busuk banget, Tha. Kamu masih muda, belum banyak punya pengalaman. Bisa saja dia berharap dapat manfaatin kamu. Aku bilang gini, bukan karena mau mempengaruhi kamu buat jauhi Gideon. Tapi karena aku respect sama kamu, aku pengen jagain kamu."
__ADS_1
"Ternyata, Om Vano bisa juga ya, ngomong panjang lebar. Kirain bisanya singkat-singkat doang. Ternyata bisa bawel juga."
"Aku bawel juga demi kebaikanmu, Tha. Kamu udah ku anggap kayak adikku sendiri. Aku gak mau aja ada yang ambil manfaat dari kamu."
"Makasih, Om!"
"Sama-sama, Tha. Kamu masih belum banyak pengalaman, dan aku geram kalau ada orang yang memanfaatkan hal itu."
"Maksudnya?"
"Gideon, Clara! Aku tau dua mahluk itu punya niat gak baik. Clara itu ular betina, dan Gideon itu pawangnya. Aku tau, Tha ... aku tau apa yang mereka lakukan di belakang semua orang. Tunggu saja mereka menuai hasilnya."
"Apa itu, Om?"
"Kamu gak akan pernah percaya kalau aku cerita. Karena itu, kita lihat aja! Suatu saat kebenaran akan terungkap."
"Hemm ...."
"Kamu hanya perlu percaya sama aku! Oke, Sweet Heart?"
"Siap, Om."
Keduanya terdiam cukup lama, tapi tak ada yang bermaksud mematikan panggilan. Masing-masing larut dalam pikiran tersendiri.
Entah kenapa, hati kecil Thalita menyuruhnya percaya pada Vano. Sosok yang terkenal kasar dan arogan, tapi bisa bicara sangat lembut. Vano mempunyai kharisma untuk mengayomi, hingga Thalita merasa aman berlindung padanya.
Sangat berbeda dengan Gideon. Cowok itu bersikap sangat manis, tak pernah merasa risih menunjukkan perasaan cintanya pada Thalita. Gadis lain pasti akan sangat mendamba, mempunyai kekasih seperti Gideon. Tapi, Thalita justru merasa sebaliknya.
Kepura-puraan Gideon sungguh tak terbaca. Dia akan menikam sambil tersenyum manis. Sama seperti Yudas Iskariot yang menyerahkan sang Almasih melalui kecupan.
"Kamu masih di sana, Tha?"
"Iya, kenapa?"
"Gak matiin aja teleponnya?"
"Nanti dikira gak sopan! Kan Thalita yang lebih muda. Jadi Om Vano aja yang matiin duluan."
"Begitu? Siapa yang ngajari?"
"Bang Gideon selalu bilang begitu. Makanya dia gak pernah matiin telepon dari Tante Clara duluan, gak sopan."
"****!! B*ngs*t banget sih itu orang?? Hahaha ... Gak salah lagi. Kamu memang harus berhati-hati dengan mahluk itu!"
"Oke, Om!"
"Ya udah ya, Sayang! Nanti malam kita laksanakan rencana kita tadi. Kita ngaku pacaran."
"Oke, Om!"
"Jangan panggil Om!! Panggil aja Abang, jangan pakai embel-embel nama!"
"Siap, Abang!"
"Nah, pinter. See you, Dek! Love you!"
"Love me too."
"B*NGKE!!"
Di iringi gelak tawa keduanya, panggilan itu berakhir. Melahirkan sebuah rencana. Rencana untuk memberi pelajaran pada the real playing victim.
__ADS_1