Playing Victim

Playing Victim
Part 37 : Bumerang


__ADS_3

"Gimana, Ren? Dapat?"


"Dapat dong, Bang. Bentar ya, ku kirim sekarang."


Renny mengirimkan hasil rekaman yang diambilnya tadi sore bersama Dinda pada Vano. Rekaman pengakuan Clara yang keceplosan. Tanpa sengaja, Clara mengatakan, bahwa dialah yang share nomer Thalita di aplikasi chat dewasa.


"Bagus, Ren. Terima kasih, ya."


"Sama-sama, Bang. Terima kasih juga, Abang sudah jagain Thalita. Kasian cewek itu, selalu dikerjain sama Clara."


Terdengar Vano menghela napas. Cowok itu memang kesal karena Clara sering berbuat jahat pada Thalita, tapi dia tak pernah merasa kasihan. Thalita gadis yang kuat, Vano yakin akan hal itu.


"Thalita tak selemah kelihatannya kok, Ren. Kamu tenang saja, dia bisa jaga diri, kok!"


"Hmm. Sepertinya sih begitu, Bang."


"Oke, sekali lagi terima kasih. Jangan kapok bantu aku!"


"Gak lah, gak bakal kapok. Aku malah senang, ada orang yang mau menentang Clara. Udah eneg aku sama dia. Aku janji pada diri sendiri, akan membantu siapapun itu, yang mau menggulingkan Clara."


"Berat menggulingkan Clara. Dia gendut."


"Hahaha, ternyata Bang Vano bisa bercanda. Ku kira dingin, kayak kutub utara."


Vano cuma nyengir, menanggapi omongan Renny. Setelah itu, cowok itu pamit pergi, dan Renny mengantarnya sampai pintu pagar.


Clara memang wanita yang bisa dibilang tak terlalu pintar. Meski sekarang ini dia bekerja sebagai seorang bidan di sebuah klinik, tapi cara berpikirnya seperti seorang anak SMP. Entahlah, apa memang karena memori otaknya yang cuma 12 kb, atau memang karena penuh iri dan dengki. Hingga yang ada di pikiran Clara, adalah cara untuk menghancurkan Thalita. Aneh sekali.


Saat ini, kembali Clara membuka aplikasi chat dewasa, dan memberikan nomer Thalita pada lawan chat nya. Tentu saja, dengan menebar harapan palsu, akan meladeni dengan chat mesra via aplikasi hijau, juga V*S. Bisa ditebak, seketika akun Thalita banjir chat dan kiriman video amoral.


Clara tersenyum puas, setelah melakukan aksinya. Wanita itu kemudian menutup aplikasi itu, dan meletakkan ponselnya. Merebahkan diri di kasur, dan kembali merancang, ulah apa lagi yang akan dipakai, untuk meneror Thalita.


Di kota lain, Thalita mendengar banyak notifikasi chat masuk dari akun hijau miliknya. Tanpa dibuka, gadis itu tau, pasti spam chat me*um yang dikirim oleh orang-orang pengguna aplikasi chat random. Thalita langsung saja menelepon Vano.

__ADS_1


"Halo, Sayang! Abang baru mau nelpon Thalita."


"Hem, berarti kita sehati nih, Bang."


"Sepertinya begitu. Kenapa? Dapat teror lagi?"


"Tau aja si Abang, hahaha."


"Tau dong. Abang udah punya bukti, kalau Clara pelakunya."


"Cakep! Bang Vano memang selalu bisa diandalkan."


"Tentu saja! Gak kayak cowokmu yang lembek itu."


"Ya ya ya! Thalita akui, Bang Gideon memang lembek. Mungkin karena suka makan agar-agar, jadinya kayak gitu."


"Dia lembek karena kebanyakan ngumpet di ketek bulekmu."


Thalita tertawa renyah. Vano ikut memanggil Clara dengan sebutan bulek, seperti yang biasa digunakannya.


"Betah banget kayak e. Mungkin karena udah sering banget, makanya kebal sama baunya."


"Maksudnya, Bang?"


"Nanti juga kamu bakal tau. Ya udah ya, Tha, Abang mau gawe dulu. Nanti kalau masih dapat teror lagi, hubungi Abang, oke?"


"Oke, Bang. Makasih ya, udah mau bantu Thalita. Semangat gawenya!"


Thalita mematikan panggilan sambil nyengir. Vano memang dapat diandalkan. Kerjanya sat set sat set, beres. Gak kayak Gideon yang klemar klemer koyo uler.


Kali ini Thalita sudah ada bukti, bahwa yang melakukan teror pada dirinya itu Clara. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya.


Hari ini, Thalita melewati harinya dengan gembira. Dan berimbas juga pada semua aktivitasnya. Nulis, lancar. Dia juga sampai punya tabungan beberapa part untuk platform onlinenya, NovelToon. Olshop juga ramai pembeli. Hingga Thalita dan Renald hampir kewalahan saat mengemas barang. Untung ada teman kost yang mau membantu, dengan imbalan traktir mie ayam.

__ADS_1


Hati yang gembira adalah obat yang sangat manjur. Saat sedang gembira, Thalita merasa sangat sehat. Pusing dan sakit hati yang biasa dia rasakan, hilang musnah tanpa bekas. Membuat hari terasa indah.


Beda sekali dengan yang dirasakan Clara. Iri dan dengki yang bersemayam di hatinya, membuat wanita itu selalu memikirkan cara, bagaimana membuat Thalita menderita. Akibatnya, pusing, lemah, lesu dan lunglai kini dideritanya. Bahkan hatinya terasa sakit, saat melihat postingan Thalita di media sosialnya. Di sana, Thalita mengungkapkan rasa syukur, atas berkat yang diterimanya. Hal ini, membuat jiwa sirik Clara meronta.


"Kenapa si Cabe masih tenang-tenang aja ya? Apa caraku masih kurang efektif ya? Hmm, enaknya, diapain sih si Cabe? Diulek jadi sambel aja kali," kata Clara kesal. Wanita itu sedang ada di kamarnya, duduk di depan cermin, dan berbicara pada bayangannya.


"Ngeselin, ngeselin, ngeselin! Si Cabe memang ngeselin! Bisa-bisanya dia tebar pesona, hingga cowok-cowok pada respect sama dia. Padahal juga, masih bagusan aku kemana-mana. Pasti nih si Cabe pakai pelet. Yup, bener, pakai pelet."


Senyum miring tercetak di bibir Clara, sebuah ide terlintas di benaknya. Wanita itu akan menyebarkan fitnah kalau Thalita memang menggunakan ilmu pelet. Awas aja ya Thalita!


Clara mengirim chat pada beberapa orang yang mengenalnya dan Thalita. Tak lupa juga membuat postingan di aplikasi biru dan merah. Juga membuat story di aplikasi hijau. Pokoknya, teror online sedang dilancarkan Clara pada Thalita.


Senyum puas, segera terbit di bibir Clara, ketika banyak teman yang merespon dan komentar di postingannya. Semua berpihak pada dirinya, tak ada yang berpihak pada Thalita. Woiya, jelas, kan itu yang komentar teman-teman Clara, bukan teman-teman Thalita.


Sebuah komentar masuk ke notifikasi aplikasi biru. Mata Clara terbelalak, begitu membacanya.


[Hapus postingan, atau berurusan denganku!!!!]


Sebuah akun dengan nama VanoMahendra berkomentar. Membuat hati Clara terasa sakit. Wanita itu segera menelpon pemilik akun.


"HAPUS!!!"


Berharap sapaan yang lembut, yang didapat Clara adalah bentakan kasar.


"Kenapa dihapus? Aku cuma membalas apa yang dilakuin si Cabe ke aku."


"Gak usah fitnah!! Thalita gak ngelakuin itu, tapi elu!"


"Kamu jangan dengerin si Cabe! Omongan dia gak ada yang bener. Dia itu toxic!"


"Gua bukan orang bego ya, gua punya bukti kalau elu yang ngelakuin teror, bukan Thalita. Jadi, kalau lu gak hapus postingan elu, lu bakal berhadapan sama gua. Ingat itu!"


KLIK

__ADS_1


Vano mematikan panggilan setelah mengancam Clara. Cowok itu sudah cukup geram menghadapi mahluk itu. Selalu memancing masalah, seperti orang kurang kerjaan. Clara jadi semakin sebal dengan Thalita, karena Vano jelas-jelas berpihak pada gadis itu. Ternyata perbuatan Clara pada Thalita, menjadi bumerang pada dirinya sendiri.


__ADS_2