Playing Victim

Playing Victim
Part 40 : Tak Direstui


__ADS_3

Pulang dari rumah Clara, Gideon segera memberi tahu ibunya, tentang rencananya menikah dengan Clara. Tentu saja, ibu Gideon sangat terkejut mendengar berita itu. Ibu Gideon tak menduga, perbuatan anaknya di kontrakan lama, masih berbuntut panjang.


"IBU TIDAK SETUJU."


"Tapi, Bu---"


"Apapun alasannya, Ibu tidak setuju. Clara itu bukan perempuan baik-baik. Dia itu tipe penggoda. Tak baik gadis seperti itu, kamu jadikan seorang istri. Ingat! Menikah itu ibadah terlama. Jadi jangan asal mencari pasangan! Harus benar-benar cari gadis yang baik."


"Iya, Bu. Gideon tau dan bisa menerima alasan Ibu buat nolak Clara jadi menantu. Tapi yang harus Ibu pertimbangkan, Clara itu sedang hamil, Bu. Hamil anak Gideon. Gideon gak mau aja, anak Gideon nanti disebut anak haram, kayak bapaknya."


"DIAM KAMU! ALASANNYA BERBEDA. JANGAN SAMAKAN IBU DENGAN WANITA MURAHAN ITU. LAGI PULA IBU RAGU, YANG DIKANDUNG WANITA ITU ANAKMU!"


"Clara hanya melakukannya denganku, Bu. Jadi bisa dipastikan itu memang anakku."


"Gideon, kamu itu terlalu naif, Nak. Gak mungkin Clara hanya melakukan sama kamu. Dia itu tipe wanita murahan yang tak akan puas dengan satu laki-laki. Dia hanya menjebak kamu. Percaya sama Ibu!"


Gideon terdiam, apa yang dikatakan ibunya, memang masuk akal. Gideon tau, Clara sudah sering melakukan itu selain dengannya. Waktu pertama kali saja, Gideon sudah tau, wanita itu sudah tak lagi utuh. Bekas pakai. Padahal, dengan Clara lah, Gideon pertama kali melakukannya, tak dengan gadis manapun, cuma dengan Clara.


"Tapi, Bu. Anggap saja aku menikah dengannya hanya demi anak itu. Agar dia tak sepertiku, dianggap sebagai anak haram, karena lahir tanpa adanya pernikahan."


"Kamu yakin?"


"Aku yakin, Bu. Yakin sekali."


Ibu Gideon menghela napas. Bagaimanapun, wanita tua itu tak pernah menyetujui keputusan anaknya. Juga tak akan pernah ada restu darinya, untuk Gideon menikahi Clara. Hati ibu mana, yang rela anaknya hanya dimanfaatkan?


"Ibu tetap tak setuju. Jangan harap ada restu bagimu, untuk menikahi wanita j*l*ng itu. Kalau kamu tetap melakukannya, anggap saja ibumu ini sudah mati."

__ADS_1


Ibu Gideon beranjak masuk ke dalam kamar. Kamar satu-satunya di kontrakan itu. Gideon merebahkan diri ke kasur tipis yang menjadi alas tidurnya. Cowok itu tampak berpikir.


"Sulit banget sih pilihannya? Ibu atau Clara? Aku bingung!"


Gideon mencoba memejamkan matanya. Dalam pekatnya warna hitam, cowok itu tampak berpikir. Dia tidak mencintai Clara, demikian juga sebaliknya. Mereka akan menikah hanya untuk bayi yang sedang dikandung Clara. Tapi ... dengan menikahi Clara, Gideon bisa merubah keadaannya saat ini. Dia dan ibunya bisa tinggal di rumah Clara, tak perlu lagi mengontrak.


Pendapatan Clara sebagai seorang bidan, lebih dari cukup untuk rumah tangga mereka kelak. Gideon tidak perlu susah payah mencari kerja, sudah ada yang menanggung hidupnya, juga sang Ibu.


Tapi ... Clara pasti akan meremehkan dirinya. Harga dirinya sebagai seorang pria, akan semakin diinjak-injak oleh Clara. Karena merasa dialah yang menghidupinya.


Belum lagi, anak yang sedang dikandung Clara. Bisa jadi itu bukanlah darah dagingnya. Mungkin banyak laki-laki lain yang lebih berkewajiban terhadap anak itu. Seperti kata ibunya tadi, Clara tak akan puas hanya berhubungan dengannya. Bisa jadi, anak itu nantinya terlahir cacat, karena menanggung dosa orang tuanya.


Dan yang lebih penting, apa yang harus dikatakannya pada Thalita? Gadis itu terlalu sering menjadi korban dari perbuatan Clara. Ya, Thalita terang-terangan mengatakan, sangat membenci Clara. Bukan hal mustahil, kalau Thalita juga akan membenci Gideon, kalau cowok itu beneran menikah dengan Clara.


Rasa pusing yang teramat sangat, mengantarkan Gideon dalam lelap. Pria tertidur karena lelah berpikir. Ibu Gideon yang melihat anaknya tertidur merasa prihatin. Bisa-bisanya sang anak bisa dimanfaatkan oleh seorang wanita, lelaki tak berguna. Sang Ibu mendengkus kesal.


"Bu, Clara akan menikah."


Tanpa mengucapkan salam dan mencium tangan sang Ibu, Clara tiba-tiba mengatakan rencananya.


"Nikah? Kenapa?" tanya Ibu Clara kaget.


"Jujur saja, karena Clara sudah mengandung."


Seketika ibu Clara merasa shock, mendengar ucapan anak gadisnya. Wanita tua itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Ibu gak nyangka, kamu sebejat itu! Melakukan perbuatan dosa," ibu Clara berkata lirih, nyaris tak terdengar, saking kecewanya.

__ADS_1


"Bu, sekarang ini hal kayak gini bukan hal yang tabu lagi. Ibu gak usah lebay deh, biasa aja! Toh bukan cuma aku yang ngalami, banyak."


"Tapi itu gak pernah ngajari kamu dan adikmu untuk melakukan hal tercela seperti itu, Ra! Ibu tak akan pernah memberi kamu restu untuk menikah, karena cara itu."


"Maksud, Ibu?"


"Ya ibu gak akan permah merestui pernikahanmu. Dan Ibu sangat yakin, pernikahanmu gak akan bahagia."


"Terserah Ibu. Dengan atau tanpa restu Ibu, Clara tetap akan nikah. Clara gak mau, nantinya anak Clara akan dipanggil anak haram. Clara balik dulu, Bu."


Clara meninggalkan ibunya tanpa salam dan mencium tangan, sama persis seperti kedatangannya tadi. Ibunya hanya menggeleng, menarik napas panjang untuk yang terakhir kali, dan terjatuh dari kursi roda. Tak sadarkan diri.


Adik Clara, Hans, pulang dari membeli makanan. Ketika mengucap salam, tak mendapat jawaban dari ibunya. Pria itu merasa curiga, dan langsung menerobos masuk. Benar saja, sampai di dalam rumah, Hans mendapati ibunya terjatuh dari atas kursi rodanya.


"ASTAGA! IBU! KENAPA BISA KAYAK GINI??"


Dengan panik, Hans menelepon ambulance, untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu merasa sangat bersalah, karena meninggalkan ibunya di rumah seorang diri, padahal ibunya tidak dalam keadaan normal. Biasanya, Ibu Hans ditemani oleh seorang perawat. Tapi karena ini hari libur, Hans memutuskan menjaga ibunya, dan memberi ijin perawat itu untuk pulang ke rumahnya.


"Haduh! Lupa! Mbak Clara harus ku kabari nih."


Hans segera menelepon Clara, tapi sampai lima panggilan, belum mendapat jawaban.


"Ngapain sih, Mbak Clara ini? Dari tadi telepon gak diangkat. Pasti lagi ngebo nih!" kata Hans kesal.


Setelah memanggil berkali-kali, tapi tidak mendapat jawaban, Hans memutuskan berhenti menghubungi mbaknya. Pria itu mempersiapkan keperluan ibunya untuk ke rumah sakit. Tak lama ambulance datang.


Setelah menunggu sekian lama, Clara baru menghubungi adiknya. Dengan nada ceria, Clara memberi tahu dirinya akan menikah. Tanpa menanyakan kenapa tadi adiknya menelepon. Hans merasa geram, sungguh mbaknya adalah mahluk yang tak punya akhlak. Pria itu memutuskan panggilan, dan memblokir nomor Clara.

__ADS_1


__ADS_2