Playing Victim

Playing Victim
Part 28 : Untung Tak Dapat Diraih


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Clara berjalan pulang. Jalanan yang sepi karena malam beranjak larut, membuat Clara bergidik ngeri. Ponsel juga tertinggal di kamar, karena tadi Clara pergi dengan sangat terburu-buru. Clara tak pernah menyangka, akan mengalami nasib sial seperti malam ini.


Cairan bening tak terasa mulai membasahi pipi chubby Clara. Wanita itu mengusapnya kasar. Hatinya sangat geram, mendapat perlakuan tak manusiawi dari orang yang dekat dengannya. Kecewa.


Mengingat apa yang baru saja dilakukan Gideon padanya, membuat Clara tersenyum getir. Gideon membawanya terbang tinggi ke awan. Terbang di antara bintang-bintang. Menyapa sang rembulan. Tapi ... kemudian menghempaskannya ke bumi, bumi terdalam. Jurang yang kelam.


Kembali isak tangis mengiringi langkah Clara yang kembali terseok. Letih. Gundah. Kecewa tiada bertepi.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti di sebelahnya, menerbitkan secercah harapan.


"Mbak? Mbaknya gapapa? Kok malam-malam jalan kaki sendirian?"


Seorang pemuda dengan sarung dan baju koko, menyapa Clara dengan nada khawatir. Membuat Clara sedikit merasa lega. Bertemu orang baik.


"Sa ... saya butuh tumpangan, Mas. Saya gak bawa dompet dan ponsel. Terus tadi teman saya ninggalin saya."


Nada suara Clara yang terdengar sedih, membuat pemuda berbaju koko itu prihatin. Dengan ramah, pemuda itu menawarkan tumpangan yang segera disambut Clara dengan penuh ucapan syukur dan terima kasih.


"Ayo naik, Mbak! Saya antar pulang. Tapi maaf, motor saya butut!"


"Wah terima kasih, Mas. Akhirnya saya tertolong."


Dengan tersenyum cerah, Clara segera naik ke boncengan motor pemuda itu. Bau harum yang menguar dari baju koko, membuat Clara tanpa sadar menempelkan badan merapat ke punggung pemboncengnya. Senyum merekah di bibir Clara, demikian juga di bibir si pemuda. Senyum miring yang misterius.


Motor melaju dengan pelan, membelah malam. Hawa dingin yang menerpa, membuat Clara lebih merapatkan tubuhnya. Seketika rasa hangat menjalari hati sang pemuda. Turun ke perut. Semakin turun lagi. Ke bawah perut.


"Mbak, rumahnya dimana?"


"Oh iya, sampai lupa belum ngasih tau ya."


Clara nyengir, sang Pemuda tersenyum miring. Ketika Clara menyebutkan alamat tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Kita mampir ke rumah saya dulu ya, Mbak. Sebentar saja kok. Ambil jaket."


"Iya, Mas. Masih untung juga saya dapat tumpangan dari Mas."


Sang Pemuda semakin lebar menyunggingkan senyum, senyum misterius. Kemudian pemuda itu membelokkan motornya ke halaman sebuah rumah yang tampak kumuh, penuh dengan barang-barang rongsokan.


"Maaf ya, Mbak! Tempatnya kotor!"


"Iya, Mas. Gapapa kok."


"Saya ambil jaket sebentar ya! Mbak tunggu di sini saja!"


Sang pemuda turun dari motor, melangkah ke arah tumpukan barang bekas, dan menghilang di baliknya.


Clara mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu, gelap. Tak lama pemuda tadi sudah muncul kembali. Berganti pakaian mengenakan jeans sobek dan jaket kulit. Di tangannya ada botol air mineral dan jaket yang diserahkannya pada Clara.


"Minum, Mbak! Maaf cuma air putih."


Clara memutar tutup botol air mineral di tangannya. Keras, masih tersegel. Pemuda itu mengambil botol dari tangan Clara yang tampak kesulitan untuk membukanya. Krek. Terbuka.


Dengan sekali teguk, isi botol sudah tinggal separuh. Clara begitu haus. Karena ulah Gideon juga karena lelah berjalan kaki setelahnya. Beberapa kali tegukan berikutnya, botol itu telah kosong. Clara melemparnya ke tumpukan barang bekas. Mengenakan jaket, dan naik ke boncengan motor.


"Pegangan, Mbak! Biar gak jatuh!"


Clara hanya mengangguk, kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang sang Pemuda. Tak lama setelah motor melaju, Clara merasa sedikit pusing, badannya terasa panas, pikirannya melayang.


Tanpa sadar, lingkaran tangan Clara di perut sang Pemuda sudah semakin turun ke bawah. Memainkan sesuatu di tempat itu yang membuat sang Pemuda menghela napas dan berpandangan sayu. Napas sang Pemuda sama-sama memburu.


"Sabar ya, Sayang! Sebentar lagi sampai!" kata sang Pemuda dengan suara yang berubah serak.


Tak lama, keduanya tiba di sebuah bangunan tua yang gelap. Sang Pemuda memarkirkan motor bututnya di samping motor-motor butut yang lain. Mengandeng tangan Clara yang tak sempat bertanya.

__ADS_1


Mereka memasuki suatu ruangan dengan cahaya lilin yang temaram. Selembar tikar sudah terhampar di bagian tengah ruangan. Di samping dua buah lilin yang menyala temaram tertiup angin. Hampir padam.


"Tempat apa in---"


Clara tak bisa melanjutkan pertanyaannya, ketika tiba-tiba sang Pemuda mendaratkan bibirnya ke bibir Clara. Hanyut, tengelam, dalam kenikmatan.


Clara memejamkan mata, ketika menikmati sentuhan sang Pemuda di sekeliling lehernya. Turun, dan terus turun. Tanpa disadari, tubuh Clara mulai terbaring di tikar yang tadi tergelar.


Pakaian Clara mulai terlepas dari tubuhnya, oleh beberapa tangan yang entah milik berapa orang. Clara tak tau. Tak peduli. Bahkan Clara menginginkan yang lebih lagi. Ketika tangan-tangan itu mulai sibuk bergerilya, Clara justru sangat menikmati. Badannya yang terasa hangat, semakin memanas. Berharap keringat yang keluar akan membuatnya menjadi lebih dingin.


Suara lenguhan dan deru napas yang saling bersahutan, membuat suasana malam yang tadinya dingin semakin panas. Entah berapa kali Clara menjerit, tertawa, mendesah dan menjerit lagi.


Clara tak peduli! Berapa orang sudah yang menjamah tubuhnya! Menikmati body sintalnya. Bahkan ada yang menambah lagi, dua tiga kali. Sebuah benda berkelip menjadi sebuah saksi. Saksi kebiadaban yang terjadi. Sebuah kamera digital yang merekam semua kejadian.


Pagi yang cerah. Diiringi riuh suara burung yang berkicau sambil melompat di antara ranting, sang surya mulai menampakkan wajahnya. Suara itu tak sanggup membangunkan sesosok tubuh yang tertidur karena terlalu lelah. Tubuh sintal seorang wanita yang tergolek di atas selembar tikar. Tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Tubuh itu tetap tertidur, sampai sang surya sudah bertengger lurus di atas kepala. Lelah. Lemas.


Di rumah Clara, sang ibu merasa cemas, ketika tak mendapati anak gadisnya di dalam kamar. Dengan menggunakan kursi roda, sang Ibu bergerak ke arah pintu depan. Tak terkunci, hanya tertutup.


"Mungkin Clara lagi belanja sayur," gumam sang Ibu ketika subuh baru berlalu.


"Kok lama banget sih, Clara? Gak biasanya belanja sampai jam segini belum pulang." Keluh sang Ibu saat jarum jam menunjuk pukul tujuh pagi.


"Astaga, kemana sih si Clara?" jam sembilan sang Ibu mulai cemas.


Dengan bantuan kursi roda, sang Ibu beranjak ke kamar, mengambil ponsel. Tak lama, wanita tua itu mulai melakukan panggilan. Suara dering terdengar dari kamar Clara.


Dengan tergopoh, sang Ibu menganti kontak dan melakukan panggilan berikutnya.


"Har, bisa ke rumah Ibu sekarang? Ibu lagi cemas! Sepertinya mbakmu ilang, mungkin dicul*k. Ponselnya ada di dalam kamar. Cepat ke sini ya, Har! Ibu takut!"

__ADS_1


__ADS_2