Playing Victim

Playing Victim
Part 52 : Nasib Clara


__ADS_3

Kerja sama yang diajukan oleh Vano, terpaksa disetujui oleh Gideon, karena Gideon butuh untuk menghidupi dirinya sendiri. Syarat dari Vano, untuk dia tak menghubungi Thalita juga dia patuhi, meski terasa berat bagi Gideon.


Saat ini, Gideon sibuk membuat desain pesanan dari Vano, menggunakan laptop milik cowok itu. Banyak relasi Vano yang merasa puas dengan hasil kerja Gideon yang rapi. Hal ini juga membuat pesanan desain semakin membanjir. Gideon jadi jarang keluar rumah, kecuali untuk urusan mengisi perut.


Clara sudah putus asa mencari keberadaan Gideon, dan harapan untuk menikah dengan cowok itu telah pupus. Cobaan bertubi-tubi juga diterima oleh Clara saat-saat ini, bisa jadi karma dari semua perbuatannya di masa lalu.


Setelah di pecat dari klinik bersalin tempatnya bekerja, terpaksa Clara mencari makan dengan menjadi driver ojek online. Dengan perut yang semakin hari semakin membuncit, Clara menekuni profesinya.


Ibu Clara dipanggil Tuhan, setelah berbulan-bulan mengalami koma. Hans menyetujui pelepasan alat-alat penunjang yang digunakan ibunya dengan sangat terpaksa. Mereka telah kehabisan biaya. Bahkan rumah sang Ibu yang selama ini ditempati Clara, turut terjual untuk biaya pengobatan.


Ya, karma memang selalu ada. Segala apa yang ditanam, pasti akan dituai. Semua perbuatan pasti dapat perbuatan yang setimpal. Hans akhirnya mengetahui, ibunya mengalami koma akibat perbuatan mbaknya, si Clara. Hans sangat murka dan mengusir Clara dari rumahnya, karena sejak rumah ibunya dijual, Clara numpang di rumah Hans.


Sekarang ini, Clara tinggal di kontrakan kecil yang bisa dijangkau kantongnya. Kontrakan dengan luas 12 meter persegi di pemukiman kumuh dan padat penduduk.


Untung saja, Clara mempunyai seorang tetangga yang baik hati. Tetangga ini seorang ibu setengah baya yang berprofesi sebagai tukang urut. Siang itu, Clara diurut oleh Mak Minah, sang tetangga, karena baru saja jatuh dari motor.


"Kok bisa sampai jatuh sih, Nduk? Apa kamu gak hati-hati? Kasian lho bayi di perutmu kalau kami jatuh kayak gini," kata Mak Minah.


"Mana ada orang mau jatuh, Mak. Ini juga kan yo jatuh sendiri. Mak pikir aku sengaja gitu, koprol di jalanan?" gerutu Clara.


"Hehehe, bener juga sih. Apa gak sebaiknya kamu libur dulu, gak usah narik ojol. Nanti saja, kalau anakmu sudah lahir!"


"Terus, yang ngasih aku makan siapa, Mak, kalau gak narik? Aku juga kan harus ngumpulin duit buat persiapan lahiran bayi pembawa sial ini."


"Huss! Lambemu, Ndhuk! Mbok yo ojo ngomong ngunu! Setiap bayi yang baru lahir itu gak ada yang membawa sial. Justru dia yang ketiban sial, ketika lahir tanpa diharapkan."


"Lha emang gara-gara dia nasibku sial kok, Mak. Dipecat dari kerjaan, ibuku meninggal, rumahku terjual, aku juga ditinggalin sama teman. Coba kalau dia gak ada, semua pasti baik-baik aja, Mak," keluh Clara.

__ADS_1


"Yang bikin dia ada itu siapa? Gak mungkin dia ada dengan sendirinya kan? Semua akibat, ada karena sebab, Ndhuk."


"Aku gak tau siapa bapak dari anak ini, Mak. Aku korban p*m*rkosaan."


"ASTAGA." Mak Minah terkejut. Selama ini wanita tua itu mengira Clara salah bergaul.


"Mak paham kan, gimana perasaanku pada anak ini?"


"Iya, Ndhuk. Mak paham banget perasaanmu. Tapi tetap saja, bayi itu gak bersalah. Kalau boleh memilih, dia pasti memilih dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan menyayangi dia."


"Terus, aku harus apa, Mak?"


"Kamu harus belajar iklhas menerima anak itu, Ndhuk. Mak akan bantu kamu. Setelah dia lahir, kamu bisa menitipkannya pada Mak kalau kamu akan bekerja. Kita didik dia, agar kelak menjadi anak yang baik, dan berbakti padamu sebagai orang tuanya. Pesan Mak hanya satu, jangan pernah menganggap dia sebagai pembawa sial lagi, ya!"


"Baiklah, Mak. Aku akan menurut pada nasehat Mak Minah. Terima kasih ya, Mak! Mak masih mau peduli padaku. Jujur saja, aku sudah tak punya lagi semangat buat hidup. Aku merasa putus asa, dan berpikir kematian akan membuat aku terlepas dari semua ini."


"Hush! Jangan berpikir seperti itu lagi ya! Ada Mak! Kamu bisa menganggap Mak ini sebagai pengganti orang tuamu!"


"Sama-sama, Ndhuk. Oh iya, kalau kamu mau, kamu bisa pindah aja kemari! Kita berbagi kontrakan aja, supaya hemat."


"Mak gak keberatan ngontrak berdua bareng aku?"


"Enggaklah. Justru Mak merasa senang kok, Mak jadi punya teman. Kamu kan tau, Mak ini sebatang kara di dunia ini. Anak Mak, entah dimana keberadaannya, gak ada kabar selama bertahun-tahun."


"Mak bisa menganggap aku sebagai anak Mak. Kita ini keluarga, meski tanpa hubungan darah, gimana Mak?"


"Mak setuju atas usulmu. Kita keluarga sekarang."

__ADS_1


Clara memeluk Mak Minah dan menangis haru di bahu wanita tua itu. Clara sangat bersyukur, karena masih ada orang baik yang peduli padanya.


"Oh iya, Ndhu. Sebaiknya kamu jangan narik ojol dulu ya! Mak ada sedikit tabungan, yang Mak rasa cukup untuk biaya kamu melahirkan. Nanti setelah lahiran dan kamu pulih, baru kamu cari kerja lagi. Gimana, Ndhuk?"


Clara semakin tersedu. Ternyata Tuhan masih menyayanginya, dan mengirimkan orang baik untuk menolongnya. Clara berjanji dalam hati, akan bertobat dan mulai belajar jadi orang baik, demi anak yang dikandungnya.


Di tempat yang lain, Thalita juga sedang fokus dengan kegiatannya di dunia nyata. Sibuk kuliah, nulis dan bisnis online dengan sahabatnya, Rere.


Toko online yang dikelola mereka berdua juga berkembang pesat. Vano juga sangat membantu di bidang desain dan grafis. Cowok itu juga tampaknya serius menjalin hubungan dengan Thalita. Vano memilih pindah ke kota yang sama dengan pacarnya itu.


Sebenarnya Thalita tau, semua desain yang diakui Vano sebagai karyanya, adalah karya Gideon. Menjalin hubungan dengan cowok itu, membuat Thalita mengenali ciri khas dari karyanya. Tapi Thalita memilih diam. Di hati kecilnya, Thalita masih menyimpan rasa sayang pada mantan pacar onlinenya itu. Tapi Thalita menyimpan semua perasaan itu dalam-dalam.


Dengan masih melihat karya-karya Gideon, Thalita jadi tau, cowok itu dalam keadaan baik-baik saja.


Selesai...


Hallo, Readers...


Terima kasih atas dukungannya pada karya-karya receh Irene🙏🙏


Di sini masih dalam tahap belajar, karena itu kritik dan saran dari para Readers semua sangat Irene harapkan.


Irene mohon maaf, jika karya Irene kurang berkenan di hati para Readers. Ke depannya, Irene akan berusaha untuk lebih baik lagi dalam berkarya. Sekali lagi, Irene ucapkan terima kasih atas dukungan kalian semua.


Oh iya, masih ada karya Irene yang bisa kalian nikmati lho, yaitu:


Pacar Antik

__ADS_1


Misteri Bunga Lily


Semuanya masih on going ya. Selamat membaca 🥰🥰


__ADS_2