
Wajah Vano tampak sangat berang, ketika membuka group dan ternyata Thalita telah dikeluarkan. Moderator mengeluarkan Thalita.
"Sial!! Pasti ini ulah Clara!" umpat Vano.
Benar saja, setelah Thalita dikeluarkan, Clara ditambahkan kembali ke dalam group. Dan mulailah pembahasan toxic yang membahas Thalita. Gideon pun turut nimbrung dan menjelekkan Thalita. Membuat Vano semakin geram.
/Vano, Sayang! Kok ngintip doang, nimbrung dong!/
Bunyi chat Clara yang ditujukan pada Vano. Cowok itu bukannya senang, tapi semakin geram. Kok ada manusia yang begitu p*ng*cut. Ngatain orang, tapi di belakang, gak berani di depan. Menjelekkan, tadi orangnya dikeluarkan.
Vano mendengkus kesal. Tak ada niatan untuk bergabung dalam obrolan. Terlalu p*ng*cut bagi seorag Vano untuk menjelekkan orang di belakang. Beda lagi kalau saling berhadapan.
/Biarin saja, Ra. Mungkin Vano masih nyimak, kita lagi bahas apa./
Chat Gideon malah membuat Vano meradang. Apa Gideon mengira dia b*go? Pembahasan jelas begitu, masa sih gak paham? Vano hanya tak mau dibilang takut muka, berani pantat.
Clara semakin mendapat angin, karena tampak sekali Gideon sangat mendukungnya. Tak sekalipun membantah hasutan Clara, malah mengaminkannya.
Tangan Vano terkepal, menahan marah.
/Kamu pacaran sama si Cabe, apa karena cinta, Yon?"/
/Aku, cinta sama si Cabe? Najis banget dah! Aku cuma manfaatin dia aja kok. Biar bisa ku suruh-suruh./
BRAK
Gelas di atas meja sampai jatuh terpental dan pecah. Vano memukul meja untuk meluapkan emosinya. Benar-benar keterlaluan. Pasangan dua kutil!
/Kasian banget ya, si Cabe. Udah berasa jadi Tuan Putri di sini. Ternyata udah dimanfaatkan/
VANO KELUAR
BRAK ... BRAK ... BRAK
Meja plastik yang ada si depan Vano berantakan. Darah yang merembes karena tergores pecahan, tak lagi dihiraukan. Pun rasa perih yang mulai terasa. Vano mengambil jaket, kunci motor, dan ponselnya. Melenggang tergesa sambil membanting pintu.
Tujuan Vano, adalah rumah Gideon. Tangannya sudah gatal untuk mendarat di tubuh cowok tapi berjiwa cewek itu. B*nci!
TOK ... TOK ... TOK ... TOK
Vano mengetuk pintu rumah kontrakan Gideon dengan kasar. Menggunakan kunci motornya.
TOK ... TOK ... BRAK ... BRAK ... BRAK
"OII, SIAPA SIH? GAK SOPAN BANGET BERTAMU KE RUMAH ORANG?"
__ADS_1
Gideon bergegas membuka pintu, dengan bertelanjang dada. Wajah terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Siapa, Sayang? Ganggu aja!"
Suara serak seorang wanita terdengar dari dalam kontrakan. Suara yang sangat familiar bagi Vano. Serta merta cowok itu menerobos masuk.
Pemandangan indah segera tertangkap oleh indera penglihat Vani. Seorang wanita bertubuh sintal, tanpa selembar benang di tubuh, tengkurap sambil asik dengan ponsel.
Tawa cekikikan dari wanita itu terdengar, setelah beberapa saat dia asik mengetik sesuatu di ponselnya.
"Sayang, lama banget sih?" tanya wanita itu tanpa memalingkan wajah.
Gideon berdiri dengan wajah pucat, di belakang Vano yang tampak mengerikan. Wajah cowok itu merah padam. Kedua tangannya terkepal.
"DASAR L*NTE!!"
Suara umpatan Vano mengagetkan sang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Clara. Wajah itu berubah menjadi pucat seperti mayat. Ketahuan.
"Kamu pikir, aku bakal tertarik dengan wanita murahan sepertimu? Kamu kasih gratis juga aku tak sudi. Tak seperti si b*nci itu!" tunjuk Vano ke muka Gideon.
Gideon bungkam. Gayanya yang tengil dan arogan saat chat group sirna sudah. Yang tampak sekarang ini, seorang cowok chicken yang berdiri dengan gemetar.
"Kamu panggil Thalita, si Cabe. Tapi kamu ini apa? L*nte? P*l*cur? Oh bukan ding. Merasa lebih berharga dari kamu! Ada bayarannya. Tapi kamu kan kasih gratis, atau malah cowok sampah itu yang kamu bawah. Kamu lebih rendah dari mereka. Seperti binatang!"
Vano berbicara panjang, untuk meluapkan emosi yang sudah lama terpendam.
Vano berkata pada Gideon. Semakin mendekat. Bahu mereka beradu.
BAG ... BUG ... DUK ... BUG ... BRAK
Vano pergi meninggalkan tempat itu diiringi jerit Clara dan rintihan Gideon. Pintu kontrakan juga menjadi korban. Daun pintu terlepas dari bingkainya. Menunjukkan kebobrokan penghuninya pada wajah-wajah para tetangga yang berdiri di depannya.
"KALAU SAYA JADI ANDA, AKAN SAYA USIR MEREKA. DARIPADA IKUT TERKENA SIAL."
Hasutan Vano rupanya berhasil. Warga tampak merangsek masuk ke dalam kontrakan Gideon. Menyeret penghuni dan wanitanya keluar. Vano tersenyum miring, menghidupkan motor, dan berlalu meninggalkan tempat itu.
Sementara di sudut halaman, seorang wanita tua berdiri sambil mencucurkan air mata. Sebelum terjatuh dan tak sadarkan diri. Dia, ibu Gideon.
Vano duduk di bangku taman kota sambil menghisap rokoknya. Menenangkan diri. Cowok itu merogoh kantongnya, mengeluarkan benda pipih yang tampak bergetar.
"Halo, Sayang! Tumben nelpon, kangen ya?" suara Vano berubah jadi lembut namun ceria.
"Abis dari tadi, Thalita chat gak dibalas. Nelpon juga gak diangkat."
Nada suara Thalita terdengar kesal. Tapi membuat senyum Vano semakin lebar. Ya, Vano tersenyum, sesuatu yang sangat jarang.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Abang barusan ada kerjaan. Ada apa?"
"Dih, kok Abang. Sejak kapan?"
"Lupa ya, semalam kan kamu sudah sepakat panggil abang. Lagian, usia kita cuma beda lima tahun, masa kamu panggi om, sih? Gideon aja yang bedanya sepuluh tahun, kamu panggil abang, kan?"
"Abis, gak afdol kalau panggil abang. Enak juga panggil om aja."
"Jangan!! panggil sayang aja, gimana?"
"Oke, sayang."
"Nah, gitu dong. Ada apa nih, kok nelpon?"
"Abang sudah tau belum, kalau Thalita dikeluarkan dari group Bang Gideon?"
"Tau, kok. Terus kenapa?"
"Kan jadi gak asik dong, Bang. Kita gak jadi prank di sana."
"Halah, biarin aja. Mending juga gak usah joint ke group sampah kayak gitu. Bikin emosi aja."
"Emang sih. Banyak kesel e daripada seneng e gabung di group itu."
"Makanya, Abang juga left kok."
"Serius, Bang?"
"Serius, Sayang. Lagian, gak ada kamu tuh group jadi gak asik. Group toxic!"
"Justru gak ada Thalita, group itu malah adem ayem. Gak ada yang dibully."
"Iya juga. Isi group itu memang nyerang Thalita terus. Bang Gideon juga sepertinya mendukung. Kan jadi kesel."
"Makanya, mending juga gak usah gabung. Kalau pengen ngobrol atau chat, ke Abang aja!"
"Heleh, Abang juga kan sering ngilang!"
"Mulai sekarang, Abang janji! Gak bakal ngilang-ngilang lagi."
"Oke deh. Ngomong-ngomong, dari tadi Thalita chat Bang Gideon, gak ada respon. Padahal udah centang dua juga."
"Jangan berharap dia balas chat!" kata Vano terdengar ketus.
"Thalita telepon juga gak diangkat. Gak biasanya dia kayak gitu. Apa dia kenapa-napa, ya?"
__ADS_1
"Jelas dia kenapa-napa. Karena kerjaan Abang barusan, memang bikin dia kenapa-napa."
Thalita menutup mulutnya mendengar perkataan Vano. Itu artinya ...