
Para tamu sangat senang menghadiri undangan bapak hamid, dan acara syukuran berlangsung meriah.
Pukul sebelas malam para tamu undangan sudah pulang dan hanya aku dan ayah yang belum pulang.
"Farhan lama kita tidak bertemu, aku ingin kamu dan Santi menginap disini."
Kata om Hamid
"Dasar kamu masih seperti dulu, memaksakan kehendak.
Tetapi sekarang aku punya putri biar dia yang memutuskan pulang atau menginap?!".
" kalau Santi sih ingin menginap karena ada yang ingin Santi bicarakan dengan om Hamid.
"Memangnya ada apa nak Santi,sepertinya serius."
Tanya om Hamid penasaran.
Lalu aku menceritakan tentang "Team Bayangan" dan om hamid nampak tertarik untuk bergabung dalam membantu polisi membongkar jaringan narkoba.
"Ingat disini tugas kita menyusup dan bergerak cepat.
Sebisa mungkin kita menghindari pertarungan kecuali terpaksa.
Ini hanya gambaran awal saja om.
Nanti kalau " team bayangan" sudah lengkap akan dijelaskan lagi."
Aku memberi gambaran sedikit kepada om hamid tentang "Team Bayangan" dan dia senang sekali dilibatkan.
Malam ini aku ngak bisa tidur.hanya duduk-duduk di teras sambil memandangi langit yang penuh bintang.
"Belum tidur San?" tiba-tiba Septian datang mrmbuyarkan lamunanku
"Belum" jawabku pendek
Kami berduapun duduk sambil memandangi bintang.
Namun kemudian Septian memegang tanganku.
Dia mengusap dan meremas
Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat aku kaget
"San.maafkan omonganku tadi sama mama ya!?.
' Ya, nggak apa-apa?
Jawabku pendek.
Padahal aku berharap yang di katakan Septian dan mamanya itu betulan terjadi.
Lama kami berdua hanya duduk diam sambil menikmati makanan ringan yang ada di meja.
" San, aku tidur duluan sudah ngantuk!
Kamu juga tidur supaya tidak kesiangan.!".
Septiapun pergi meninggalkanku sendiri, nampak dari raut mukanya banyak yang ingin diucapkan padaku.
Tak lama kemudian akupun menyusul masuk kedalam.
Aku benar-benar bangun kesiangan gara-gara tidur terlalu malam.
Jam sudah pukul tujuh pagi sejak tadi kudengar suara berisik diluar sepertinya dua orang teriak-teriak.
Dengan malas aku keluar kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Lagi-lagi om Hamid dan Ayah bertanding bela diri, mereka berdua memang sangat imbang.
Walaupun umur mereka tidak muda lagi tetapi gerakan mereka nampak masih lentur dan cepat.
Aku segera kekamar mandi tanpa memperdulikan mereka lagi
Selesai mandi akupun masih terheran-heran dengan tingkah dua orang tua ini.
Entah mulai jam berapa mereka mulai bertanding seperti tidak ada capek- capeknya.
"Ciattt...dupp..hakk.!'
Entah datang dari mana tiba-tiba Septian muncul dan terlibat dalam pertarungan.
" Ayah..jaga pertahanan, aku menyerang!"
Tiba-tiba septian menyerang om hamid, dengan pukulan seperti itu om Hamid bakal kena pukulan sep...
Oh...tiba-tiba om Hamid melakukan sesuatu gerakan diluat dugaan.
Septian yang pukulannya mengenai ruang kosong segera menyusul dengan tendangan yang cepat,namun tiba-tiba...
Ayah tiba-tiba menyerang Septian dengan tendangan yang cepat
,namun dengan cepat Septianpun menghindar dari serangannya,
"Papa..om.."
Cuma segitu serangannya,ayo serang Septian bersama-sama.
Dengan loncatan yang mendadak Ayah dan om hamid melakukan serangan cepat.
Aku yang sudah pakai pakaian olah raga dari tadi segera menyusul kearea pertandingan.
Dengan menggunakan salto, aku menyerang om hamid.
"Ayo menantu, serang ayah"!
Dengan muka agak malu-malu aku menyerang om Hamid.
Akhinya pertarungan berjalan ramai.
" jadi cuma segini kemampuan calon istrimu Yan, kalau cuma segini tidak cocok jadi polwan lebih baik di dapur saja!".
Kata- kata om Hamid benar-benar membuat aku salah tingkah dan kurang konsentrasi.
Ketika melakukan serangan beruntun tiba-tiba pukulan kesamping om hamid telak mengenai rahangku, untung om hamid dengan cepat menahan dan menghentikan pukulanya.
"Aaauhhh..."!
Aku langsung roboh dengan bibir berdarah.
Seketika pertandingan berhenti, dan semua menghampiriku.
Santi...Santi...San!
Semua nampak kawatir dengan keadaanku.
" kamu tidak apa-apa san?".
Ayah menanyakan keadaanku.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, hanya tadi kurang konsentrasi.
Untung om Hamid menahan pukulannya.
" aduhh..aduhh!" mendadak ayah dan om Hamid teriak kesakitan.
Rupanya tante Rina memukul mereka berdua dengan gagang sapu.
Septian yang merasa dirinya terancam segera lari kekamar mandi.
"Oalah Pa,Farhan kenapa Santi?"
Apa yang terjadi dengan menantuku, cepat bawa masuk kedalam.
Akhirnya rencana ayah dan aku pulang pagi menjadi batal.
Aku tidak di izinkan pulang oleh orang tua Septian.
"Nak Santi, om minta maaf!?"
"Nggak apa-apa om, lagian cuma luka sedikit saja."
Papa dan mama Septian nampak kawatir dengan keadaanku.
Sekitar jam 3 sore,aku dan ayah bersiap-siap pulang.
"Nak Santi,sering- sering main kesini ya?
" ya tante"
Kamipun berpelukan dan berpamitan, dan aku berjanji akan sering main kemari.
Dalam perjalanan pulang aku gunakan untuk rebahan, dan sandaran jok mobil aku geser dan tekuk kebelakang.
"San, apa kamu pacaran dengan Septian?
Tanya ayah tiba-tiba.
" Enggak yah,aku hanya berteman baik dengannya!".
"Ayah lihat dari sikap kalian berdua,sepertinya kalian saling suka.
Ayah cuma berharap yang terbaik denganmu".
Apa benar aku menyukaui Septian, dan apa benar septian menyukaiku.
Waktu yang telah ditentukan oleh kapten Antonpun tiba.
Kami mendapatkan perintah untuk berkumpul nanti malam.
Pagi ini aku lagi nyantai ketika, sebuah mobil masuk dan parkir didepan.
" om Hamid..Septian..!?."
Akupun menyapa dua orang yang aku harap, suatu saat jadi mertua dan suamiku.
Akupun mengajak mereka berdua masuk kedalam rumah.
"Halo hamid, Septian..silahkan duduk!"
Tiba-tiba ayah datang dan menyambut mereka.
"Om Farhan aku ajak Santi, kedepan ya om?
" Ya..jangan sampai hilang anak om ya? " canda ayah.
Aku dan Septian segera kedepan, dan ayah bersama om hamid masih ngobrol didalam.
"Sebelum acara syukuran kemarin papa dan mama berpesan kalau kamu harus hadir,mereka kangen dan berharap suatu saat kamu menjadi menantunya."
Tangan Septian segera meraih tanganku, entah kenapa aku selalu tak berdaya dihadapan pemuda ini.
"San.setelah kasus ini selesai, aku ingin kita ngobrol panjang lebar dan aku akan mengajakmu ketempat yang belum penah kamu kunjungi sebelumnya."
Nampak ayah dan om Hamid sebentar-sebentar menengok kearah kami.
"Santi ayo cepat!"
"Dinnnn...dinnn
Terdengar ayah sudah membunyikan klakson mobil, dan aku segera saja cepat-cepat masuk mobil ayah. mobil kamipun langsung meluncur ke lokasi.
Disitu sudah hadir tujuh orang polisi yang semua sudah aku kenal, mereka mempunyai reputasi yang baik,dan semua pakai pakaian sipil.
"Malam semua...
Sepertinya semua sudah lengkap hari ini kita berkumpul untuk matangkan rencana pembentukan "Team Bayangan".
Team nantinya akan dipimpin oleh letnan Santi, dan cara kerja akan di jelaskan aleh Santi,silahksn letnan!".
Setelah komandan selesai sambutannya aku segera menjelaskan tugas yang akan dilakukan "Team Bayangan".
Semua nampak setuju dengan usulan dan penjelasanku.
Dan kami semua optimis dengan keberhasilan "Team Bayangan".
Setela semua selesai, kamipun ngobrol sambil menyantap hidangan yang sudah dipesan.
Tepat pukul setengah dua belas kamiun pulang kerumah.
Om hamid dan Septian langsung pamit pulang kerumahnya.
Sudah dua hari ini aku merasa binggung.
Sebelum " Team Bayangan" dimulai aku ingin memasak yang Spesial, dan rencananya akan aku antarkan ke rumah om hamid.
"Assallamuallaikum" "Waallaikumssalam"
"Eh kamu san, ayo masuk!
Akhinya akupun masuk,dan aku segera memberikan oleh-oleh yang telah aku buat sendiri.
" Apa ini San, hemm..pasti rasanya nikmat ini!".Puji tante Rina setelah mencium masakanku.
"Ah..tante terlalu memuji, saya masih belajar masak tante!.
"Oh ya Septian mana tante kok ndak kelihatan dari tadi?".
" Tadi ada temannya main kesini,dan ngajaknya keluar."
"Teman sekolah atau siapa tante? " tanyaku penasaran.
"Iya..teman sekolahnya,katanya baru pindahan dari surabaya.
Dulu teman SMP dan sekarang balik lagi kesini".
Entah kenapa tiba-tiba dadaku sesak.
Terbayang sikap Vera waktu ketemu dikantor begitu agresip dan nampaknya menyukai Septian.
__ADS_1
Apa betul aku cemburu...
" nak Santi:!"..panggilan tante Rina membuyarkan lamunanku.
"Eh ya tante..jawabku agak gugup.
" ehhh..ada calon mantu.
He,apa ini kayaknya sedap"!
tiba-tiba om hamit muncul dari belakang,dan balik lagi kebelakang sambil membawa masakan yang kubuat.
Setelah ngobrol sebentar, aku segera minta pamit pulang.
Entah kenapa hatiku cemburu.aku berharap bertemu Septian, malah dia enak-enakan pacaran dengan Vera.
Aku betul-betul sakit hati.
Aku segera menghentikan motorku dan kemudian duduk di pingir jalan.
Aku benar-benar stress dan cemburu sama Vera .
Kenapa Vera harus kembali kesini.
Sudah jam dua siang akhinya akupun bergegas pulang.
Pikiranku benar-benar kacau.
Belum lama masuk kamar tiba-tiba handponku bunyi.
Kulihat Septian menghubungiku dan handpone segera kumatikan.
Sekitar dua menit bunyi lagi dan handpone benar-benar kumatikan total biar Septian tidak bisa menghubungi.
Pagi-pagi kunyalan handphone dan banyak telepon masuk dari Septian dan kapten Anton.
Aku segera menghubungi kapten Anton untuk mencari informasi.
Dan setelah kuhubungi,kapten Anton memberi infomasi kalau dua orang yang dipindah penjara melarikan diri tadi malam.
Dan kapten Anton tidak yakin kalau dia melarikan diri,kapten curiga mereka dilepas.
Aku segera mandi bersiap untuk menemui komandan Anton guna mendapatkan nformasi lebih detail.
"Gila,ngapain dia kesini?"
Kulihat Septian sudah duduk diruang tamu,ketika aku bersiap untuk menemui komandan.
"San, aku...
Belum selesai dia ngomong sudah kutarik tangannya, dan kuajak menemui komandan.
" Sore ndan,!
"Sore Santi, Septian".
Komandan akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi mulai dari awal.
" tugas "Team Bayangan" pertama adalah menemukan dua orang ini untuk mendapat iformasi sebanyak-banyaknya."
Untuk sementara hanya kalian berdua yang aku tugaskan.
Mengenai sekolah, aku sudah ijin kepala sekolah supaya Septian diijinkan tidak masuk sekolah dulu .
Lakukan penyelidikan dengan cepat dan bersih."
"Oh ya satu lagi, kalian berdua sangat cocok didalam team maupun di luar.
Semoga suatu saat nanti kalian menjadi pasangan sungguhan."
Kami berdua tidak mengerti maksud kapten ngomong seperti itu.
Setelah semua clear kami mohon ijin pulang.
Sehabis bertemu komandan.aku dan Septian segera kembali pulang namun
Septian mengajakku mampir dulu makan.
"San,pesan apa kamu?"
"Minum saja, aku masih kenyang!" Jawabku pendek.
Aku duduk diam sambil memainkan gelas minumanku, sementara septian makan dengan lahapnya.
"Sejak tadi aku perhatikan kamu banyak diam,,kenapa memangnya San?"
"Nggak ada apa-apa!" jawabku dengan suara agak tinggi.
Septian segera memegang tanganku dan kubiarkan saja.
"Oh...aku tahu.!
Kamu cemburu sama Vera ya?"
Aku diam saja seolah tidak mendengar dia menyebut nama Vera.
"Ya memang Vera orangnya cantik dan anak orang kaya.
Siapa laki-laki yang tidak ingin jadi pacarnya?!".
Telingaku benar- benar panas Septian memuji Vera Seperti itu.
" sudah ayo pulang!"
Kataku sambil berdiri,dan Septian segera menarik tanganku untuk duduk lagi.
" San, aku sama Vera tidak ada apa-apa, kamu harus percaya sama aku."
"Sampai sekarang aku masih bimbang, bayang-bayang Ranti masih ada didalam pikiranku.
Aku perlu waktu untuk mencari jawaban dari semua itu,dan aku harap kamu bisa mengerti akan hal itu."
Aku merasa bersalah, karena sudah cemburu sama Vera.
Bagaimanapun Vera orangnya sangat cantik siapa saja bisa jatuh hati termasuk Septian.
'Yan,maafkan aku!"
Hanya itu yang aku katakan karena terus terang yang kutunggu adalah Septian secepatnya ngatakan kata"CINTA" padaku.
Setelah melakukan koordinasi dengan kapten akhinya aku dan Septian menjalankan tugas sebagai " Team Bayangan".
Karena keberadaan dua orang target masih samar,kamipun mencari tempat yang biasa rawan keributan.
Sudah jam sebelas malam belum ada mampak target yang kami cari.
Kami hanya duduk-duduk ngobrol.
Jam Sudah pukul satu pagi, akhirnya kamipun pulang dengan tangan kosong.
__ADS_1
Sudah hampir satu minggu belum ada tanda-tanda keberadaan dua target kami.