
Diapun diam tak mau menjawab dan tak ayal tinjuku menghantam mukanya.
"Oke aku sudah tahu yang menyuruh kamu.
Rurin sudah cerita kalau kamu suruhan pak Sanjaya.
Asal tahu kamu Rurin sama aku saling jatuh cinta dan kami berencana mau menikah.
Katakan pada bosmu jangan ganggu kami berdua!".
Akupun melepaskan mereka berdua.
Aku sengaja mengadu Rurin dengan pak sanjaya untuk mengetahui apa Rurin ikut merecanakan pembunuhan.
Sebab sampai saat ini aku masih berkeyakinan kalau bu Herawati tidak ke Malang tapi sengaja di hilangkan.
Aku segera ke warung yang kebetulan dekat di situ.
Dan segera kuhubungi Santi untuk menemuiku.
Kebetulan Santi tidak jauh dari lokasiku sehingga sebentar saja sudah sampai bersama Letda Caniago.
"Ada apa yan, sepertinya penting sekali?".
Akupun menceritakan semua pada santi, nampak dia kaget dan malah menyalahkan aku yang katanya terlalu sembrono dan buru-buru.
" Yan..kamu benar-benar terlalu cepat menyimpulkan kalau pak Sanjaya sebagai dalang pembunuhan ibu Herawati"
"Oke aku mengikuti analisa kamu, tetapi kalau salah kamu sama saja memecat kami berdua !".
Akhirnya Santi dan Letda Caniago mendukungku.
Aku segera menjelaskan sistim kerja untuk menyelidiki dan menjebak mereka.
" begini San, Letda.."
"Pertama lindungi Rurin dulu dari ancaman pembunuhan yang mungkin akan dilakukan oleh pak Sanjaya dan kaki tangannya ".
" Awasi semua pergerakan pak Sanjaya dan anak buahnya ".
Akhirnya letda Caniago langsung menelepon anak buahnya untuk secepatnya mengawasi rumah Rurin dan rumah pak Sanjaya dari jarak yang tidak mencurigakan.
" San..letda..kita perlu tempat yang cocok untuk mengorek informasi dari Rurin, dan biar aku yang melakukannya ".
Akhirnya semua setuju dan tempatpun sudah di siapkan.
Dan akupun segera menelepon Rurin.
Dalam perjalanan ketempat yang aku tunjukkan Rurin di cegat anak buah pak Sanjaya dan dipaksa turun dari taxi, tetapi petugas yang menyamar preman berhasil menyelamatkan dan menghantar sampai tujuan
Begitu melihat aku Rurin langsung lari memelukku.
" Sayang aku takut "
Rurin memelukku sambil menangis.
Sementara aku melihat Santi nampak cemburu.
Aku segera mengajak semua masuk ketempat yang sudah disediakan.
"Rin..sebelumnya aku minta maaf atas semua yang aku lakukan padamu ".
" apa maksudmu Yan? ".
" perkenalkan ini kapten Santi pacar saya dan ini Letda caniago ".
Rurin yang merasa aku bohongi langsung marah dan memukulku.
Dan akupun membiarkan sampai dia berhenti dan tidak emosi lagi.
" Rin dengar..
Aku pulang tadi dicegat oleh dua orang yang katamu orang bank.
Tetapi aku tahu itu orangnya pak Sanjaya ".
" aku tahu kamu ada hubungan dengan pak Sanjaya, makanya aku ngomong dengan orang yang mencegatku kalau kamu sama aku saling cinta dan akan menikah ".
"Dugaanku benar pak Sanjaya mengirim orang untuk menyingkiranmu, karena dia tidak mau kamu jadi milik orang lain ".
"Saya juga tahu kalau bu Herawati tidak ke Malang seperti pada laporannya pak Sanjaya, tetapi di bunuh oleh pak Sanjaya ".
" Yang saya tanyakan kamu terlibat dalam pembunuhan bu herawati atau tidak?"
" kalau kamu tidak mau bicara jujur yang kamu lakukan dan ketahui, polisi tidak mau melindungi kamu dan anak buah pak Sanjaya akan memburumu ".
Rurin langsung menangis sejadi-jadinya, dan aku membiarkan dulu sampai tenang dan terkontrol emosinya.
Sambil menunggu Rurin tenang, aku segera nyamperin Santi dan Letda Caniago.
" Sini yan, aku mau ngomong ".
Tetapi Santi menarik tanganku menjauh dari Letda Caniago dan Rurin.
"Sudah berbuat apa saja kamu sama Rurin? "
"Kamu saya ijinkan menyelidiki Rurin malah kamu jadikan kesempatan untuk enak-enak pacaran betulan ".
Santi nampak marah dan cemburu.
Tetapi aku segera menjelaskan dan meyakinkan dia kalau aku tidak selingkuh.
" Rin...sepertinya kamu tidak mau jujur dan bercerita pada kami.
Kalau kamu tidak mau membantu polisi, polisipun tidak mau membantu kamu ".
"Sekarang silahkan pulang, semoga kamu selamat !".
__ADS_1
Kataku kepada Rurin.
Aku tahu Rurin tidak akan bakalan berani pulang tanpa pengawalan setelah kejadian tadi di jalan.
Lama kami menunggu, Rurin belum juga mau ngomong maupun pergi dari situ.
" oke kapten, letda..
Nampaknya dia lebih memilih diam.
Silahkan balik kekantor ".
Kamipun pura-pura akan pergi pulan, tetapi tiba-tiba...
"Tunggu...
Aku akan ceritakan semua dengan jujur, tetapi kalian harus janji lindungi saya ".
"Baik, kami dari kepolisian akan melindungi saksi asal kamu mau di ajak bekerja sama".
Santi berjanji memberikan jaminan keselamatan untuk Rurin, dan nampak dia sedikit lega dan tenang.
Kapten Santi segera mempersiapkan alat perekam untuk merekam pengakuan bu Rurin Anjarwati.
" aku kenal pak Sanjaya delapan bulan lalu saat aku makan di restoran" Bidadari".
Kami berkenalan dan dia mengaku duda".
"seiring bejalannya waktu aku mengetahui dia ternyata sudah menikah.
Setelah mengetahui dia punya istri aku pelan-pelan menjauh.
Tetapi aku salah ternyata aku sudah mengandung anaknya ".
" Akupun tak mau anakku lahir tanpa ayah, dan aku ingin pak Sanjaya menikahiku.
Ternyata pak sanjaya senang sekali sebab selama ini dia dinyatakan dokter kurang subur dan susah punya anah ".
"Terus anak kecil dirumah pak sanjaya itukan anaknya? "
Tanya Santi penasan.
"Itu anak adapsi pak sanjaya dan bu Herawati ".
"Begitu pak sanjaya tahu dia bisa punya keturunan, dan tidak mandul.
Dia semakin sayang dan memanjakan aku dan akan menikahi aku".
" akhirnya dia ngomong ke bu Herawati kalau mau nikah lagi.
Tetapi bu Herawati tidak mengijinkan pak Sanjaya menikah lagi, dan merekapun sering bertengkar ".
"Walaupun dia sayang padaku, tetapi sebenarnya lebih sayang bayi yang ada dalam kandunganku daripada diriku.
Pak Sanjaya pernah berkata demi anak dalam kandunganku dia bisa saja membunuh aku dan istrinya ".
Tetapi pak sanjaya mengancamku akan membunuhku jika aku pergi membawa anaknya.
Akupun tidak takut kalau di bunuh, sebab kalau aku mati anaknya yang baru tiga bulan juga akan mati bersamaku ".
"Begitu aku ngomong seperti itu pak sanjaya takut kehilangan anaknya dan minta maaf padaku dan berjanji akan segera menikahiku ".
"Dua hari kemudian pak Sanjaya bilang akan menikahiku karena sudah tidak ada yang menghalangi.
Terus aku tanyakan bagaimana dengan bu Herawati, apa setuju?
pak sanjaya bilang bu herawati sudah tidak ada, dia sudah mengirimnya sendiri ke surga ".
" Bukannya senang karena akan dinikahi pak Sanjaya, aku malah takut.
Kalau seandainya anakku sudah lahir apa pak sanjaya masih perduli sama aku.
Tetapi akupun tak bisa bebas pengawalnya pak sanjaya selalu mengawasiku ".
"Kalau pak sanjaya membunuh bu herawati, terus mayatnya dibuang atau dikubur dimana?"
Tanyaku penasaran.
Kemudian Rurin melanjukan ceritanya.
"Pak Sanjaya punya empat orang pengawal dia yang tahu dan paham dengan pak Sanjaya kamu bisa cari informasi dari mereka.
Paksa dia bicara, kalau mereka tidak tahu berarti yang melakukan pak sanjaya sendiri
Seperti yang dia bilang ".
Setelah sekiranya cukup kamipun mempersilahkan bu Rurin Anjarwati pulang dengan pengawalan dua petugas polisi yang akan selalu siaga bergantian menjaga bu Anjar.
" kenapa kamu manggut-manggut yan, sepertinya ada yang kamu pikirkan?"
Tanya Santi tiba-tiba.
"Iya...aku mikir Rurin.
Hamil tiga bulan aku kok tidak tahu dan masih cantik sekali ".
" aduhhhh..".
Tiba-tiba santi mencubitku.
"Besok-besok kalau kasus ini selesai kamu tidak usah ikut.
Sudah berapa kali kamu mencium bibir Rurin yan?".
Tanya Santi cemburu.
" Dua kali ".
__ADS_1
Jawabku pendek.
" Kurang ajar..dasar laki-laki nggak bisa dipercaya.
Apa aku masih kurang masih nyosor Rurin? ".
Santi nampak marah dan memukulku terus.
Aku sangat senang menggodanya.
Aku segera memeluknya untuk membuatnya tenang.
" San..aku tak mungkin menghianati kamu.
Kamu harus percaya sama aku.
Sampai sekarang hanya kamu perempuan yang ada di hatiku dan selamanya ".
Santipun akhirnya mau mengerti tentang penyamaranku yang hanya pura-pura sama Rurin.
SANTI POP
Setelah pengakuan dari Rurin dan hasil penyelidikan dari berbagai sumber aku dan letda Caniago menemui kapten Heru
Dikantor.
" Siang kapten Heru !"
"Siang kapten Santi, Letda Caniago silahkan duduk.
Kamipun segera melaporkan hasil penyelidikan kami selama ini dan pengakuan pacar gelap pak Sajaya.
Dan kami minta status pak Sanjaya ditingkatkan menjadi Tersangka.
Tetapi nampaknya kapten heru ragu-ragu untuk mengambil keputusan
Brang..klontang..
Kaleng yang berada dipinggir jalan aku tendang kena tiang listrik.
" San,Kenapa kamu?
Seperti lagi stress saja padahal kasusnyakan sudah jelas akan terungkap ".
"Itulah yang jadi masalah kapten Heru belum berani menaikkan status pak Sanjaya jadi tersangka.
Aku juga tidak mengerti maksudnya padahal ada banyak bukti kuat yang mendukung ".
" Sabar San, pasti ada jalan dan aku yakin kamu pasti bisa menanganinya ".
Kata Septian memberi semangat kepadaku.
"Sepertinya aku harus ketemu Rurin untuk langkah selanjutnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan ".
" mau tanya apa San? " Septian penasaran.
" Sudah ikut saja !".
Akupun menggandeng Septian menuju motor.
Dan aku langsung diantar ketempat Rurin.
"Selamat siang bu Rurin,
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepadamu
Siapa saja nama pengawal pak sanjaya dan alamatnya di mana ?".
Rurin segera memberi alamat dan nama pengawal pak Sanjaya.
Kami terus ngobrol dengan suasana yang lebih santai.
Terlihat Rurin merasa aman mendapat pengawalan dari polisi.
Aku dan Septian segera kerumah pak Sanjaya sengaja tidak memberitahu dulu kalau kami mencurigainya sebagai pembunuh.
"Siang pak!
Boleh kami minta ijin menanyai pengawal bapak ?"
Tanyaku sesopan mungkin supaya beliau tidak tersinggung
" kapten anda ditugaskan mencari orang hilang sesuai dengan lapaoran saya, tetapi anda malah menanyakan pada pengawal saya yang tidak tahu apa- apa ".
"Sebelum kamu menanyai mereka, saya sudah bertanya pada pengawalku tetapi semua tidak ada yang tahu tentang kepergian Istri saya. Jadi percuma kalau kamu mau tanya lagi ".
Kelihatan sekali pak Sanjaya berusaha membatasi gerak kami.
Akhirnya kamipun ijin pulang dengan tangan hampa.
Aku dan septian berjalan keluar rumah pak Sanjaya sambil ngobrol
" Yan..kalau terus begini dan statusnya tidak dinaikkan jadi tersangka kita akan kesulitan mengungkap kasus ini "
"Betul San, lihat sendiri tadi hanya untuk bertanya kepengawal kita kesulitan dan tidak diijinkan.
Selagi aku ngobrol mataku tertuju pada dua bocah laki-laki yang berjalan membawa tebu dan sesuatu.
Dan aku segera menghentikan anak-anak itu.
"Dik tunggu berhenti sebentar!".
Dua bocah itupun berhenti dan aku mengamati barang yang dibawa anak itu.
Sebuah tongkat pemukul bola kasti, dan di bagian atas setelah kuteliti ternyata darah yang sudah mengering dan beberapa helai rambut yang menempel.
Untuk memastikan ini darah siapa kami akan mengecek lebih lanjut.
__ADS_1