
Akhirnya kuceritakan pada team kalau waktu yang kita punya cuma 10 hari, kalau tidak selesai aku di keluarkan dari kasus.
Komandan akan memberikan kasus ini pada petugas lain kalau 10 hari tidak selesai.
Hari ini aku benar-benar stress
Kalau aku benar-benar tidak bisa menyelesaikan kasus ini akan berantakan semua.
Karena terlalu capek dan stress
Aku malah jatuh sakit.aku
Aku tidak bisa meneruskan penyelidikanku.
Ambang batas yang diberikan komandan sangat membebaniku.
"San! Kalau boleh paman sarankan,kamu keluar saja dalam kasus ini.
Paman takut ada apa-apa dengan kamu.
Sepertinya keadaan semakin bahaya, dan kamu sendiri terlalu keras bekerja sampai sakit seperti ini".
" ya paman!".
Penyelidikanku tinggal enam hari lagi,kalau tidak berhasil aku keluar dan melepaskan kasus ini.
"Assallmuallaikum!".
Terdengar suara seseorang mengucapkan salam.
"Waallaikumsallam!".
Paman menjawab salam dan kedepan menyambut tamunya.
" halo...bu polwan cantik,apa kabar?".
"Aku kira polisi tidak bisa sakit!".
Nampak Septian datang sambil cengingisan mulai menggoda dan mengusiliku.
" ini aku bawain buah-buahan supaya cepat sehat!".
"Benar itu nak septian kalau di suruh makan susah sekali." kata paman.
"Hemm...kerja belum selesai masih enam hari lagi, kamu mau enak-enakan tidur ?,awas ya!".
Oceh Setian sambil mengupas pisang.
" ayo ak..ak!..buka mulutnya!".
Septian menyodorkan pisang ke mulutku, dan mau nggak mau kumakan juga.
Awas nanti kalau sembuh akan aku balas.
Lama Septian berada dirumah dan aku sangat senang sekali.
"Lin...
Kamu jangan memaksakan diri sampai sakit seperti ini.
Biarkan mengalir begitu saja dan aku yakin kita berhasil."
"Yan...dalam kasus ini banyak yang kupertaruhkan, dan sudah melibatkan emosi secara pribadi.
Sudah banyak korban dari kasus ini, maka..."
Tiba-tiba Septian menutup mulutku.
"Pokoknya mulai sekarang stop memikirkan kasus.
Besok pagi aku kesini lagi, aku besok mau ajak jalan-jalan biar tidak stress".
" assallamuallaikum!."
"Waallaikumsallam!".
Jawabku lirih.
Gila datang pergi seenaknya sendiri.
Tapi memang benar kata Septian aku harus rileks dan nyantai.
Beban pikiran memang harus aku kurangi
" ahhhh...huhhh...hahhh!."
Alhamdulillah hari ini badanku mulai enakan,
Pagi-pagi aku sudah bangun dan kurasakan badanku lebih sehat dan fit.
Aku segera keluar rumah untuk menghirup udara segar
"Rengg...reng reng..."
Nampak Septian datang membawa motornya.
Kemudian dia menuju ke arahku sambil membawa sesuatu.
"Lin...aku punya sesuatu untukmu!"
Pagi-,pagi dia sudah datang dan memberiku bunga.
Seikat bunga yang cantik.
Ohhh...aku sungguh bahagia sekali.
"Terima kasih Yan".
Kucium bunga itu terasa harum semerbak.aku berjalan ke teras dan kutaruh bunga itu di meja.
Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan sesuatu yang bisa membuat suasana tambah ramai.
Aku berjalan ke arah septian, dan....
" ciattt...happp..."
"Eh...apa-apaan kamu Lin!"
Tanpa disadari aku nenyerang septian dari samping, karena dia tidak siap lengan kanannya menjadi sasaran pukulanku.
"Ciatt...ciatt!...."
"Ehhh main curang kamu ya !"
Kususul dengan seranganku ke dua .
Pukulan dan tendangan aku lancarkan bertubi-tubi kearah Septian.
Kali ini Septian sudah siap,bahkan dia mulai membalas seranganku.
Kami melakukan duel hampir lima menit.
Nafas kamipun sudah ngos-ngosan.
Aku sudah melancarkan semua jurus -jurusku,tetapi seakan Septian sudah tahu arah pukulan dan tendanganku.
__ADS_1
Aku tahu Septian belum mengeluarkan semua serangannya mungkin tidak mau aku terluka.
Namun tiba-tiba dia dia mengeluarkan sapuan kearah kakiku yang membuat keseimbanganku hilang..
Ahhh!....
Tubuhku roboh dan punggungku tak ayal bakal menghantam bumi.
Namun rupanya Septian sudah memperhitungkan dengan matang.
Sebelum tubuhku betul-betul jatuh Septian dengan gerakan memutar menangkap dan merangkul tubuhku.
Kami saling bepandangan dan jarak wajah kami hanya beberapa inchi saja.
Tubuhku bergetar saat melihat tatapan matanya yang teduh.
Kupejamkan mataku berharap Septian meneruskan jurus lanjutan.
Bibirku kubuka dan...
"Ahhh...aduhh!..."
Tiba-tiba Septian melepaskan tubuhku dan dibiarkan tubuhku jatuh ke tanah.
"Huhhh...Septiannnn!!!???".
"Sudah ayo bangun, mandi!"
Aku masih duduk saja di tanah,seakaan ngambek karena di cuekin olehnya.
Tapi dia malah nylonong saja dan duduk diteras rumah.
"Lin..aku tadi rencananya ingin ngajak kamu keluar jalan,tetapi sekarang coba lihat, badanku keringat semua dan bajuku basah".
" habis selama sakit badanku tidak pernah gerak,ketika kamu datang ya sudah,aku gunakan untuk latihan" kataku seenaknya.
"Oke..oke..kalau begitu aku pulang dulu,nanti jam 4 sore aku kesini ".
" ya nanti aku tunggu"
Septianpun menyalakan motornya terus pulang.
Akupun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
"Kau yang terindah
Hadir dalam mimpiku...
Terdengar suara nada dering handphoneku, kulihat , yang menlepone bu Gayatri dan segera kuangkat.
" haloooo..."
Kamipun ngobrol ditelephone,dan bu Gayatri melaporkan sesuatu .
Sekitar lima menit kami menelepon, dan setelah selesai menelepon aku segera menghubungi Septian.
Setelah mandi, berpakaian rapi dan bawa perlegkapan akupun berangkat.
Akhirnya aku sampai di tempat tujuan.
Sudah ada disitu bu Gayatri,pak Dedik dan Septian
"Siang semua!".
Aku menyapa mereka semua dan kemudian minta pak dedik menceritakan hasil penyelidikannya.
" baiklah saya akan melaporkan kejadian tadi pagi,dan tadi sudah saya laporkan juga sama bu Gayatri tentang kejadian ini".
Pak dedikpun melaporkan kejadian tadi pagi secara detail.
Bapak sambil jongkok terus mendengarkan..."
Pak dedik menceritakan sampai selesai tentang hasil pengawasannya.
"Semoga apa yang kita duga benar dan bisa mengungkap segera kasus ini.
Sekarang bu Gayatri dan pak Dedik kembali ke sekolahan.
Sementara aku dan Septisn akan mengawasi ditempat murid tadi janjian".
Pertemuanpun bubar dan kami kembali ketempat masing-masing.
Tepat pukul 7 malam Septian menjemputku dan kami lanngsung meluncur ke lokasi.
Kami mencari lokasi dimana bisa melihat ke area luas tetapi tempat kami juga tidak mencolok.
Dan kamipun menunggu target beroperasi.
Sekitar jam sepuluh malam targetpun terlihat.
Rupanya dia anak laki- laki yang memegang pantatku saat olah raga basket dan hampir berantem dengan Septian.
Dia datang dengan perempuan yang kepalanya memakai kerudung.dan mereka berdiri saja sambil ngobrol.
Selang tak berapa lama nampak laki-laki menghampiri mereka berdua,dan sepertinya mereka mulai trasaksi.
"Gimana ini Lin?"
Mereka bertiga seperti kita kesulitan menangkap semua.
Tanya Tian padaku.
Akupun berpikir keras gimana terbaik dalam stuasi seperti ini.
Tidak mungkin aku menghubungi petugas polisi, karena operasi yang aku lakukan tidak resmi.
"Begin Yan..."
Biarkan mereka transaksi sampai selesai, setelah itu kita ikuti saja dua anak sekolah itu.
Nanti kita cari informasi dari dia dan jangan sampai lelaki itu tahu kalau kita sudah menyegap mereka berdua.
Akhinya Septian setuju dengan ide dan saranku.
Beberapa menit kemudian transaksi selesai dan dengan mengendap-endap aku mengikuti dua orang itu.
Setelah agak jauh dan lokasi yang cocok untuk penyergapan, aku segera menyegap mereka berdua.
"Angkat tangannnn!...."
Teriakku sambi menodongkan pistol pada mereka berdua.
Mereka berdua berhenti dan akupun mendekati mereka,
Tiba-tiba....
Mereka lari berpencar dan aku segera nenembak ke udara memberi peringatan.
Tetapi nampaknya mereka tidak perduli.
Nampak cowok itu lari kekanan justru diarah itu Septian sudah menunggu.
Akupun berlari mengejar cewek itu.
Dua kali aku melepaskan tembakan peringatan, tetapi dia terus lari.
__ADS_1
Terjadi kejar-kejaran dan akupun tak mau kehilangan buruanku.
Berkat latihan di kepolisian fisikku tertempa sangat baik.
Aku selalu berteriak agar menyerah,tetapi nampaknya dia sudah tidak memperdulikan teriakanku.
Dia hampir lolos dari pandanganku dan akupun segera berteriak.
"Berhenti!....
" doorrr!......doorrrr!..."
Seketika dia roboh tersungkur di tanah setelah kakinya diterjang peluru pistolku.
Aku segera bergegas mendekat dan kutarik penutup wajahnya.
"Ita!...ternyata kamu"
Itapun tak kalah terkejut melihatku.dengan merintih kesakitan diapun kaget
"Linda! Kurang ajar...
Jadi selama ini kamu menyamar? ******** kamu lin..."
"Sudah sekarang kamu ikut aku.
Kamu benar-benar memalukan,dan benalu di sekolah.
Aku benar-benar tidak menyangka kamu jadi pengedar barang haram ini".
Akupun membawa Ita ke lokasi Septian berada,dan Septianpun berhasil menangkap dan melumpuhkannya.
Segera kuhubungi kantor dan tak lama kemudian datang rekan-rekan polisi.
Akupun menjelaskan kepada petugas polisi sebelum mereka dibawa ke kantor.
Tak berapa lama handphoneku berbunyi dan nampak komandan memerintakan supaya besok pagi menghadap bersama septian.
" Yan ayo cabut dari sini!".
Kataku sambil mengajak septian pergi.
Ditengah perjalanan aku mengajak Septian mampir dulu beli makanan karena aku lapar sekali.
Lahap sekali kami berdua makan.
"Ayo nambah biar gendut!"
"Kamu meledekku ya? Awas kamu!"
Kucubit Septian sampai bilang ampan-ampun.
Tiba-tiba Septian menahan tangannku dan menyuruku diam.
"Lin...
Coba lihat laki-laki disana
Mereka satu dari enam orang yang mengeroyokku di cafe kemarin".
Tak beberapa lama datang temannya, dan mereka berdua sedang ngobrolin sesuatu sambil pesan kopi.
" ayo kita datangi mereka"!
Jangan sekarang...
Kata Septian mncegahku.
"Tunggu apalagi?" tanyaku penasaran
"Sekarang begini!"
Aku tidak kenal keenam orang itu,tetapi tiba- tiba dia memukuliku,kenapa kira- kira.
Septian bingung.
Nampak dua orang itu sudah selesai minum kopinya dan segera beranjak pergi,tanpa ngomong sama Septian orang itu segera kusuruh berhenti.
"Maaf mas..berhenti dulu!"
Dua orang itu nampak heran,dan saling pandang.
"Coba kamu lihat pemuda disana.
Pernah kamu keroyok dicafe.sekarang kesana dan minta maaf!".
Kataku dengan keras.
Tetapi dua orang itu malah tertawa,belum lama tertawa aku segera menendang perutnya.
Begitu tahu aku berkelahi Septian langsung datang membantuku.
Akhinya perkelahian yang brutal tak terhindarkan.kami berkelahi satu persatu.
Ketika perkelahian berlangsung aku melihat barang yang jatuh.
Setelah aku cek tenyata heroin golongan A.
" Yan,jangan sampai lolos dan ringkus."
Kataku pada Septian
Tanpa nunggu lama akupun langsung menyerang untuk meringkus orang ini.
Tak butuh waktu lama kami bisa meringkus para ******** ini.
Beberapa menit kemudian polisi datang setelah kuhubungi.
Dan dari dua orang ini kudapatka beberapa paket siap edar.
Aku berpesan kepada petugas agar hati-hati dan jangan sampai lolos.
"Yan! "
Sepertinya kasus ini lebih besar dari perkiraanku.
Dan aku tidak bisa membahayakan warga sipil oleh karena itu aku perintahkan kamu mundur dari kasus ini.
"Apa...mundur katamu?"
"Setelah apa yang kita lakukan dan akan berhasil kamu tidak mengajakku lagi".
Nampak Septian kecewa denganku.
Akupun jadi bingung kenapa jadi begini.
Aku sadar dia terlibat secara emosional dalam kasus ini.
Tetapi aku tidak mungkin melibatkan warga sipil kalau sekiranya situasi sudah berbahaya.
"Oke...oke.."
Besok aku akan ngomong sama komandan supaya kamu tetap dilibatkan dalam kasus ini.
Kataku dan membuat Septian kembali senyum.
__ADS_1