
Terasa leherku sakit dan tidak bisa bernapas.
Aku hampir hilang kesadaraan tetapi aku masih bisa melawan.
Dengan sekuat tenaga aku hantamkan sikutku ke hulu hatinya.
Dia langsung terdorong ke belakang sambil memegangi hulu hatinya.
Aku segera menjauh untuk memulihkan nafas dan kesadaranku.
Aku masih sempat menekan alat perekam mini standard polri.
"Kurang ajar! Jadi selama ini kamu biang keroknya Yun!?"
"Ya, kamu tidak menyangka ya?semua cewek yang akan merebut Septian dariku harus mati".
"Kamu memang gila Yun dan aku akan menangkapmu"
Aku langsung maju menyergap Yuyun, tapi di luar dugaan ternyata Yuyun punya beladiri yang tangguh.
Yuyun ganti menyerang dan akhirnya kami berkelahi didalam rumah.
Entah sudah berapa jurus yang aku keluarkan.
Aku sudah tidak tahu berapa kali aku kena pukulan dan memukulnya.
Berapa kali aku menendang dan kena tendang.
Dengan cepat kami beradu pukulan, tetapi tiba-tiba Yuyun mengambil pisau dari balik bajunya dan aku terlambat menghindar.
Darah keluar dari lengan kiriku.
Yuyun kembali ancang-ancang.
Dengan kondisi seperti ini sangat berbahaya bagiku dan nyawaku.
Senjataku aku taruh di bawa meja yang kebetulan posisinya di belakang Yuyun.
Aku harus bisa melewati Yuyun untuk bisa mengambil senjataku
"Yun, sebaiknya kamu menyerah saja"
"Menyerah katamu? Kalau kamu mati tidak akan ada yang mencurigaiku San"
Yuyun benar-benar sudah gelap mata dan tidak bisa di ajak ngomong lagi.
Dengan membabi buta di maju mengarahkan pisau ke tubuhku.
"Chiatttt"
Aku maju seolah menyerang, padahal aku berguling menghindar dari serangannya.
Dan sekarang posisinya berpindah.
Aku segera meraih pistol yang aku simpan dibawah meja.
Dan aku bangkit sambil mengarahkan pistolku ke Yuyun
"Dorrrrrrr...."
Aku menembak tangan Yuyun tapi meleset.
Mengetahui aku pegang pistol Yuyun langsung lari keluar rumah, dan di saat bersamaan Septian datang dari kampus.
Septian yang belum siap dengan keadaan langsung disergap Yuyun.
"Berhenti...stop.....!"
Yuyun menempelkan pisau pada tenggorokan Septian.
Septian hanya bisa pasrah mengikuti Yuyun.
Letda Caniago datang langsung menodongkan pistol ke Yuyun.
"Yun..sebaiknya cepat menyerah, kamu sudah dikepung"
Aku mengingatkan Yuyun mungkin masih mau mendengar
"San..kalau aku tidak bisa memiliki Septian, semua juga tidak boleh memilikinya"
Aku segera memberi kode ke Septian agar membuka ketiak kanannya lebih lebar dan ketika pisau hendak di hunuskan...
"Dorrrrrr.."
Dengan keyakinan tidak bakal meleset, peluru pistolku melesat melewati bawah ketiak Septian dan menghantam lengan kanan Yuyun.
Seketika pisau lepas tetapi sempar menggores leher Septian.
Terlihat Yuyun jatuh dengan lengan berdarah.
Aku dan Letda Caniago langsung menodongnya dan kemudian memborgolnya.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu pelakunya Yun.
Kamu tahu korban Rosiana adalah polisi yang menyamar sepertiku."
"Kamu akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini".
Aku segera melihat kondisi Septian dan setelah aku cek cuma luka gores saja.
Akhirnya beberapa polisi datang setelah di hubungi Letda Caniago.
"Letda tolong bawa pelaku, aku akan urus Septian dulu"
"Siap Kapten"
Merekapun membawa Yuyun pergi untuk mempertanggungkan perbuatannya.
Aku sungguh tidak menyangka kalau yang menjadi biang masalah adalah pacarku sendiri.
Ulang tahun hari jadi kampus ,"PALAPA" akhirnya digelar sangat meriah tanpa ada was-was lagi.
Semua mahasiswa, dosen semua sudah aman.
Sebelum aku kembali ke Mabes aku buat laporan dulu tentang hasil penyelidikanku.
Aku sudah mengambil keputusan akan terus berkarir di kepolisian.
Setelah tugas ini aku tidak tahu, tugas apalagi yang di bebankan dipundakku..
"Siang ndan !"
__ADS_1
" Siang kapten.Silahkan duduk".
"Luar biasa, tugas yang aku berikan dengan target 2 semester dapat kamu selesaikan dalam setengah semester saja"
"Kapten aku sangat senang sekali bisa bekerja sama dengan anda tapi sayang, polisi seperti anda akan banyak jadi rebutan devisi."
"Sekarang anda boleh istirahat tiga hari dan hari pertama ngantor kapten menghadap Irjend Didik Waluyo."
Akupun permisi dari ruang Kombes Dadang.
Dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya ada kasus apa lagi ini kok sampai aku di suruh menghadap Irjend Didik.
Ah biarkan ? nanti saja.
Sekarang aku harus menemui septian.
Gara-gara muka dia yang sok tampan, bikin masalah besar.
Akan aku hajar dia nanti dirumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi Septian belum juga pulang.
Aku yang dari sore hanya duduk saja sambil nonton Televisi gundah menunggu kedatangannya.
Hanya kacang kering yang menemaniku hingga kulitnya berserakan.
"Renggggg....rengggg.."
"Assallamuallaikum"
"Waallaikumssalam".
Septian datang dan langsung merebahkan tubuhnya di kursi panjang.
"Dari mana Yan, jam segini kok baru pulang?". Tanyaku memastikan.
" Dari rumah Angga!, tadi kita ada karya yang belum selesai terus kita rampungkan di rumahnya."
"San, bagaimana rencana kedepan? Kamu masih meneruskan kuliah yang kurang satu semester atau kembali ke Mabes?
"Belum tahu Yan? Kalau aturan harusnya kembali ke Mabes.
Tetapi tunggu dua hari lagi setelah menghadap Irjend Didik Waluyo."
"Kenapa harus Irjend Didik, berarti ada kasus berat yang harus di tangani San?". Tanya Septian heran.
"Belu tahu aku Yan!
Oh ya besok antar aku balik lagi pindah ke asrama ya?".
Septian diam saja tidak mau menjawab.
Mungkin dia tidak senang aku pindah, begitu pula denganku.
Tetapi bagaimanapun kami belum menikah, akan tidak baik kedepannya jika tetap serumah.
Kemarin kami sepakat serumah karena resiko pekerjaan yang sangat bahaya dan kami harus saling melindungi satu sama lain.
" kau yang terindah, hadir...."
Handpone yang aku pegang berbunyi.
"Assallamuallaikum"
Sinta adikku menelepon dan mengabarkan kalau dia di mutasi ke Jakarta.
Sinta sudah lama bercita-cita jadi Polwan dan cita-citanya kini sudah tercapi.
Rencananya dia akan ke Jakarta tiga hari lagi.
Mumpung hari libur aku dan Septian rencana jalan -jalan.
Sudah lama sekali kami berdua tidak jalan-jalan.
"San, ayo cepat nanti keburu panas". Teriak septian memanggilku
"Sebentar kenapa! Teriak -teriak terus sejak tadi". Omel Santi jengkel.
Mereka berduapun berangkat kedaerah pegunungan yang alamnya masih asri dan bersih.
Setelah melakuka perjalan jauh akhirnya mereka berdua sampai juga.
Sebuah alam dengan banyak pohon,telaga dan suasana yang asri.
" ini baru mantap tempatnya, gimana menurutmu San?"
"Sepertinya cocok, aku suka pemandangannya"
Kami segera memasang tenda, tetapi sayup-sayup aku mendengar suara pelan dari kejauhan.
"Tolong....tolong...."
Aku dan Septian bergegas berdiri untuk memastikan yang kami dengar.
"Tolong.....!".
"Yan...kamu dengar suara orang minta tolong?
"Ya San..ayo kita cek kesana, tapi hati-hati!"
Kami berdua segera mencari suara berasal.
Setelah kami selidiki ternyata ada perempuan yang sedang berontak dari dekapan dua orang laki- laki.
Kami terus mendekat dan langsung menyerang dua orang itu.
"Kurang ajar siapa, kalian berani mencampuri urusanku"
Bentak laki-laki yang tangannya penuh dengan tato".
"Lepaskan cewek itu, dan siapa kalian."
Tanyaku jengkel.
"Mereka menculik gadis-gadis dan sekarang di kurung di tengah hutan!". Jawab perempuan itu sambil menjauh dari dua orang laki-laki itu.
"Kita ringkus yan, jangan sampai lolos".
"Ciatt!"
Dengan maju dua langkah aku menyerang orang itu.
__ADS_1
"Huupphh, hahh..cuma segitu kemampuanmu" oceh laki-laki itu sambil menangkis seranganku.
Aku dan Septian tak mau lama- lama, dan terus semangat menyerang.
"Hyaatttt"
"Aghhhh..braggg..
Aku dan Septian menghajar orang itu habis-habisan dan aku mengakhiri pertarunganku dengan tendangan ke dagu orang itu.
" uuuhhhh".
Kedua orang itu terkapar di tanah dan aku segera mengikat mereka berdua.
Setelah dapat kami lumpuhkan, aku segera menanyai gadis itu.
"Dik...sebenarnya apa yang terjadi, tolong ceritakan dengan jelas.
Gadis itu dengan lebih tenang menceritakan dari awal apa yang menimpa dirinya.
"Jadi masih banyak temanmu yang masih dikurung?" tanyaku penasaran.
"Masih ada dua belas orang yang di sekap,Sedang yang jaga masih lima orang lagi."
Setelah mendengar keterangan perempuan itu aku segera menghubungi kantor polisi terdekat.
"Sial..nggak ada sinyal, gimana ini yan?
"Nggak tahu terserah kamu saja San!.
Aku dan Septian mencari sulusi untuk mengatasi masalah ini.
Kalau kita balik keluar hutan dan dan cari bantuan mereka akan tahu karena temannya gak kembali lagi.
"Yan, lebih baik kita keluar hutan saja dan melapor.
Biar polisi lokal yang menanganinya."
"Tidak bisa San,,mareka akan kabur.
Kita harus cepat menyergap mereka."
Setelah berunding akhirnya kami memutuskan akan bergerak berdua.
"Dik, kamu segera keluar hutan dan kamu ceritakan apa yang kamu alami."
"Kamu lapor secepatnya pada polisi untuk minta bantuan.
Setelah mengikat lebih kuat dua orang yang masih terkapar, kami segera bergerak..
Setelah masuk hutan sekitar lima ratus meter sarang mereka kami temukan.
Kami segera mengawasi keadaan dan mengatur Strategi karena lawan kami lima orang
"Yan ini kamu pegang untuk menodong mereka dan buat minimal dua orang pingsan dulu baru kita hadapi yang tiga sisanya."
Kitapun mengendap-edap mendekati bangunan dari kayu itu.
Memang benar terlihat ada enam petugas yang sedang ber jaga di diluar sementara di dalam nampak beberapa cewek duduk lesu menunggu nasib yang tidak jelas.
Kami sudah bersiap menyergap, tetapi tiba-tiba ada dua orang polisi hutan lewat dan lanhsung ke pondok.
Ternyata dua orang polisi itu terlibat dalm penculikan gadis-gadis.
"San..aku kawatir dengan gadis yang kita suruh melapor janga-jangan dia melapor pada petugas yang terlibat penculkan".
Akhirnya kita sepakat balik keluar hutan mengejar gadis tadi.
Akhirnya kita lari dan melanjutkan dengan naik
motor mengejar cewek itu.
Sekitar dua ratus meter dari pos jaga aku melihat cewek itu.
Aku segera menyegatnya.
" he dek, tunggu dulu." teriakku sambil menghentikan langkahnya.
"Ada apa kak?". Tanya gadis itu heran.
Aku segera menjelaskan bahwa ada oknum pilisi yang terlibat.
Akhirnya aku mendandani gadis itu supaya tidak dikenali untu berjaga-jaga.
Kamipun keluar hutan dengan boncengan tiga.
Ketika petugas jaga hutan menghentikan, kami pura-pura tidak mendengar.
Dan setelah dilihat dikaca spion mereka tidak mengejar, kamipun langsung pergi ke area padat penduduk.
"Oke sekarang kita aman.
Sebaiknya kita cari makan dulu".
Kamipun segera cari nasi untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.
Tiba-tiba aku ingat komandan Anton, diakan pernah tugas di daerah sini.
Pasti dia kenal beberapa polisi yang punya mental baik.
" Siang komandan".
"Siang kapten, apa kabar?"
Akupun langsung menceritakan maksudku, dan beliau merekomendasikan nama seseorang.
Akupun segera menghubungi beliau dan dia mengatakan dalm 30 menit akan menemuiku dengan beberapa anggota.
Tepat setengah jam letnan Siswoyo datang dengan 20 petugas.
Kamipun membahas strategi karena ada oknum yang terlibat.
Sebelum masuk hutan aku nyamperin cewek yang lolos dari penculikan.
"Dek kamu sekarang sudah aman, ini uang untuk ongkos kamu pulang dan tolong hati-hati".
"Terima kasih kak!"
Dengan senjata lengkap kami masuk hutan lagi.
Sebelum kami melewati pos jaga, kami sudah menunjuk dua polisi untuk segera menahan dulu alat komunikasi petugas jaga hutan.
__ADS_1
Kami kuatir mereka membocorkan rencana