POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XXX Masuk ke Sarang Teroris


__ADS_3

Sedang aku menyamar sebagai gadis yang taat beribadah


Tetapi tidak terlalu fanatik.


Setelah sholat pindah-pindah mushola, Septian yang pura-pura bisu tuli mendengarkan dua orang membicarakan tentang rencana teror.


Setelah memastikan orangnya dan sering sholat dimana, Septianpun ikut sholat di situ.


Ketika kami berdua sholat isya di moshola ada seorang pemuda yang diam-diam curi pandang padaku.


Pemuda itu lumayan tampan.


Aku segera kasih kode Septian supaya mendekatinya.


Septian juga memberi kode kalau yang di curigai ya itu orangnya.


Setiap ada di mushola Septian selalu berusaha komunikasi dengan warga dan dengan pemuda itu.


Walau bisu dan tuli Septian di sukai warga karena sopan dan rajin membantu apa saja yang membuat warga sekitar suka padanya.


Akhirnya Septian berteman dengan Hidayat, pemuda yang sering curi pandang padaku.


"Kir, kakakmu kerja di mana?".


"Ehh,..ahbhh..bb". aku berusaha berkomunikasi dengan cara seperti orang bisu.


"Aku nitip salam ya kir?..Septian nampak memberi tanda jempol pada Hidayat.


Beberapa hari kemudian Septian sudah berteman akrap dengan hidayat dan akupun sudah kenalan dengannya.


Sudah kuberikan senyum termanisku untuk Hidayat dan nampaknya dia semakin ingin mendekatiku.


Ketika aku libur hidayat ngapel kerumahku.


" Assallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


"Eh..mas Hidayat! Silahkan duduk.


Maaf tidak saya tawari masuk karena saya sendirian, takut fitnah".


Terlihat muka Hidayat senyum-senyum.


"Nggak apa-apa mah, disini saja, aku cari Sukirman !".


"Sukirman kan jaga toko mas! Jawabku sambil memainkan mata.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu "


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumssalam"


Setelah kenal dan sering ketemu dengan Hidayat, aku dan Septian sering di ajak ke pengajian mereka.


"Nak Rohmah, saya senang sekali kamu dan Sukirman bisa menyempatkan diri ikut pengajian yang kami adakan tiap malam jum'at".


"Harusnya yang terima kasih saya pak Nur, dengan adanya pengajian ini bisa membuat hati saya tenang.


Dan sejak orang tua kami meninggal hanya dengan saudara muslim kami merasa nyaman."


Saya berusaha mengambil hati pak Nurwahid supaya lebih terbuka.


"Oh ya nak Rohmah!, kalau seandainya nanti ada undangan pengajian ditempat lain mau enggak ikut? Pak Nurwahid menawariku.


"Alhamdullillah..saya dan Sukirman pasti senang sekali pak" kataku dan segera memberi tahu Septian dengan isyarat.


"Heg e...heg ee.." ucap Septian dengan gaya bisu sambil angkat jempol.


Hari berlalu dengan cepat semakin sering kami di ajak ke pengajian hampir tiap hari.


Kami merasa penyelidikan kami sudah saatnya di tingkatkan.


Kami sudah merencanakan untuk memainkan sandiwara pertama.


Aku menelepon seseorang agar rencana di jalankan besok malam jam 8 malam.


Dan akupun besok pura-pura tidak enak badan.


Akhirnya waktunyapun tiba.


Septian ikut pengajian yang mirip pertemuan bareng rombongan pak Nurwahid.


Ketika sedang berembuk dan berdiskusi tiba-tiba...

__ADS_1


"Janga bergerak, angkat tangan!"


Tiba-tiba beberapa polisi masuk dan menangkap pak Nur, Sukirman dan beberapa orang yang berpengaruh.


Septian pura-pura melawan polisi dan memukulnya.


"Haaa..egg...hhee.." kata Septian masih terus melawan dan baru berhenti setelah polisi memukul tengkuknya dan pingsan.


Mereka akhirnya di bawa kekantor polisi dan dilepas lagi karena tidak ada bukti mereka bersalah.


Hidayat yang akhirnya ke rumah saya memberi kabar kalau Septian ditangkap.


Akupun pura-pura sakit.


Setelah menceritakan kejadiannya kepadaku, akupun mulai berakting lagi.


"Dasar polisi tak akan pernah berubah, kalau saya punya uang akan aku bom semuanya"


Kataku sambil pura-pura menangis memikirkan sukirman.


Setelah kejadian itu akupun berencana membuat sandiwara ke dua.


Kebetulan aku dan Septian di undang kerumah pak Nurwahid.


Dan aku berpikir inilah waktunya.


"Gimana nak Rohmah, apa sukirman masih sok dengan kejadian kemarin", tanya pak Nur kepadaku.


"Maaf pak nur, keluarga kami dari dulu sudah sering menerima perlakuan tidak adil dari pemerintah, bagi kami hal seperti ini bukan hal baru".


"Seandainya tangan kami mampu, akan kami robohkan tempat-tempat orang kafir di negeri ini"


Aku terus mengarang cerita supaya pak Nuwahid lebih terbuka.


"Nak Rohmah,kalau seandainya kamu punya uang banyak apa yang kamu lakukan sekarang?


"Maaf pak Nur, bagi kami mati syahid di jalan allah suatu kehormatan.


Bagi kami berdua sejak dulu berangan-angan menegakkan syariat islam dan memerangi kaum kafir".


Nampak pak Nur manggut-mangut.semoga ini pertanda baik bagiku.


Beberapa hari kemudian Hidayat main ke rumah mencari Septian, kami yang sudah menunggu segera mempersiapkan segalanya.


" Assallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


"Ada mas, langsung masuk saja". Hidayat langsung masuk mencari Septian.


"Kir, apa itu?"


Hidayat kaget melihat barang-barang yang di miliki Septian.


Septian yang pura-pura kaget langsung menyimpan mercon yang sengaja supaya dilihat oleh Hidayat.


Aku yang berada di luar segera masuk ke dalam.


Aku pura-pura takut.


"Mas hidayat tolong jangan bilang ke siapa-siapa kalau kami punya dan menyimpan mercon! Tolong ya mas?!"


"Mercon banyak dan ukuran besar-besar itu, mau kamu buat apa Mah, kir?


"Yat, kalau kamu tidak menceritakan ini ke siapapun, kami janji dalam dua hari ini akan pergi dari sini."


Hidayatpun berjanji tidak cerita dan diapun permisi pulang.


Setelah dia pergi aku dan Septian segera berdiskusi.


Dalam dua hari ini, kami akting seolah-olah mau pindah betulan.


Haripun berganti, aku dan Septian nanti malam berencananya mau kerumah pak Nurwahid untuk pamit.


Pagi pukul 9 hidayat kerumah.


Dia disuruh pak Nurwahid menyampaikan pesan supaya kami nanti jam 4 sore di suruh datang kerumahnya dan akupun berjanji akan datang ke rumahnya.


"Assaallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


Aku dan Septian datang kerumah pak Nurwahid dan kebetulan disitu ada seseorang yang belum kami kenal.


"Nak Nurohmah apa benar kamu dan sukirman akan pindah dari sini? Tanya pak Nurwahid padaku.

__ADS_1


"Maaf pak Nur, tolong jangan jangan ceritakan kepada siapapun tentang kegiatan kami.


Pak Nur punya cara untuk menegakkan Syariat islam, begitupun dengan kami punya cara yang berbeda pak"


"Bagi kami menghancurkan tempat ibadah dan memerangi kaum kafir adalah cara yang kami pilih."


Kami berempat terus ngobrol sambil sesekali saya lihat keluar rumah supaya kelihatan kami agak takut di ketahui orang.


"Oh ya nak Nurohmah, perkenalkan ini pak Icsan maulana ibrahim".


Kamipun memperkenalkan diri kepada pak Ibrahim.


"Mohon maaf nak Nurohmah dan nak Sukirman.


Atas dasar apa kamu membenci dan ingin menghancurkan tempat ibadah kaum kafir dan juga tempat maksiat lainnya?"


"Mohon maaf pak Ibrahim!


Ini sudah jadi tekat dan keyakinan kami berdua".


"Seandainya kami punya alat dan bisa membuat alat lain selain mercon, kami sudah bergerak lebih cepat". Kataku untuk meyakinkan mereka berdua.


"Oh ya nak Nurohmah, hari selasa lusa bisa ikut pertemuan di rumah saya?" Kata pak ibrahim menawari ikut pertemuan.


"Terima kasih pak!, kami mohon maaf besok pagi saya harus pindah untuk meneruskan perjuangan kami.


Sekali mohon maaf ".kataku terus meyakinkan mereka berdua.


"Tidak nak Nur, pertemuan yang kami lakukan ada hubungannya dengan pergerakan yang kalian lakukan"


"Apa maksud pak ibrahim?" tanyaku pura-pura bingung.


Pak Nurwahid yang sejak tadi lebih banyak diam, mulai lebih terbuka.


"Maaf nak Nurohmah, Sukirman.


Sebenarnya sudah lama kami juga melakukan pergerakan seperti nak Nurohmah lakukan."


"Betulkah itu pak?


"Benar nak Nur, dan kami terus mencari anggota baru yang sesuai dengan misi kami".


"Pak Nur,..pak ibrahim.


Kami akan menunda kepindahan kami dulu dan akan ikut undangan pertemuan dirumah pak Ibrahim.


Akhirnya kami sepakat untuk bertemu lagi lusa depan.


Setelah kiranya keadaan aman, saya segera menghubungi kombes Hendra untuk melaporkan perkembangan penyelidikan.


Akupun segera mendiskusikan rencana selanjutnya dengan Septian.


Waktu pertemuanpun tiba.


Aku hadir di pertemuan yang diadakan oleh pak Ibrahim tetapi sementara aku masih di luar rumahnya.


Pak Nurwahid segera menemui kami yang masih di luar.


"Nak Nurohmah, ayo silahkan masuk?!"Ajak pak Nurwahid.


Aku segera menarik tangan pak Nurwahid sedikit menjauh.


"Maaf pak Nur, ini benar- benar bukan jebakan untuk kami kan?


Pak Nur tidak melaporkan kami ke polisi kan?"


Tanyaku pura-pura.


"Tidak nak Nur!


Yang di dalam semua orang yang mempunyai keyakinan sama dengan kamu".


Kata pak Nurwahid meyakinkan saya.


Akupun segera masuk, dan didalam sudah ada 7 pria yang belum aku kenal dan 3 orang wanita.


Setelah semua kumpul acaranyapun dimulai oleh sabutan dari pak Ibrahim.


"Saudara-saudara perkenalkan ini nak Nurohmah Dan Sukirman."


Akupun langsung memotong pembicara pak ibrahim.


"Mohon maaf pak!


Mohon kami jangan di masukkan jadi anggota dulu, sebab kami belum tahu ini keanggotaan apa? Terus anggotanya siapa saja? dan keanggotaannya tujuannya untuk apa?"Aku terus mencari info sebanyak-banyaknya dari pertemuan ini.

__ADS_1


"


__ADS_2