
Semua anggota "Team Bayangan" setuju dengan gagasan dan ideku.
Semua yakin akan keberhasilan "Team Bayangan" dalam misi penyelidikan dan penggrebekan gudang narkoba.
Setelah semua selesai pertemuanpun dibubarkan oleh kapten Anton.
Semua disuruh jaga diri dan selalu waspada jangan sampai bocor infomasi yang ada.
Sebelum pulang aku minta kapten Anton, dan anggota sipil untuk menunggu ada yang ingin aku sampaikan.
"Memangnya ada apa San?"
Tanya kapten Anton kepadaku.
"Begini Kapten..
Sebenarnya aku curiga yang di sebut Zulu 2 itu pak Victor.
Kecurigaanku ketika penyelidikan di gudang Sukri dari informasi yang aku dapat bahwa Zulu 2 itu polisi dari jakarta.
Ciri-ciri dan perawakan,serta pangkat yang diceritakan padaku mengarah ke pak Victor".
" jangan sampai kegiatan kita ini bocor keorang yang ada hubungannya dengan pak Victor, termasuk Vera jangan sampai tahu.
Dan untuk zulu 1,aku sendiri tidak tahu tetapi yang jelas dia seorang perempuan dari jakarta.
Umurnya kurang lebih 40 tahun."
sebelum rencana pengrebekan semua anggota mempersiapkan diri secara fisik dan mental karena penggrebekan kali ini tidak membawa surat tugas dari atasan, karena kasus sudah diambil alih oleh pak victor.
Kami berani mengambil resiko karena bekerja di jalan yang benar.
Apalagi orang yang kami curigai adalah pak Victor, seorang polisi yang mengambil alih tugas penyelidikan ketika kasus mulai terkuak dan jelas.
Aku harus bisa membuktikan kalau pak victor adalah Zulu 2.
Dan aku juga akan mencari tahu identitas Zulu 1.
"He...melamun saja!".
Tiba-tiba ayah datang mengagetkanku.
" Ayahhh..?!!
Bikin kaget saja"
"Oh ya San!
Kapan jadinya kamu ke Polsek Mojowarno?
" kalau nggak ada halangan besok pagi yah, memangnya kenapa ya?".
"Ayah cuma pesan hati-hati.
Terasa pagi yang indah sekali.
Akupun bersiap-siap untuk berangkat ke Polsek Mojowarno, tetapi komandan pagi-pagi sudah menyuruhku menghadap ke kantor.
Katanya ada hal Urgent yang harus dia katakan.
" Pagi ndan!"
"Pagi San,silahkan duduk!".
Nampak komandan mukanya tegang dan memberikan kepadaku sebuah map tertutup.
" Maaf ndan, ini apa?'."
" buka sendiri San!".
Akupun segera membuka map itu, untuk mengetahui isinya.
Aku sangat kaget sekali dengan isi surat itu.
Dalam surat itu tertulis aku dipindah tugaskan kedaerah lain.
Seakan aku belum siap dengan semua ini.
Ini betul-betul mendadak dan aku merasa belum siap walaupun sebagai anggota Polri aku harus mematuhinya.
"San!
Aku dapat surat baru tadi pagi, dan disitu di tulis mulai bulan depan kamu dipindah tugaskan di daerah Pekalongan.
Gimana menurutmu San?".
Aku benar-terpukul dan akupun minta ijin pulang dulu.
Sampai rumahpun aku masih belum terima.
" San, Ada apa?".
Akupun memberikan surat pindah tugas pada ayah, dan langsung masuk kamar menangis sejadi-jadinya.
Langit terasa Runtuh, tiada gairah lagi.
Sampai sore aku masih didalam kamar.
Terdengar ayah,mama,Sinta,Septian,tante Rina bergantian mengetuk kamarku.
Akupun keluar kamar.
Aku tidak bisa terus menangis, aku harus menghadapinya.
Mereka semua sayang padaku, aku tidak ingin mengecewakan mereka.
"Sini nduk, jangan nangis lagi.
Dari pagi kamu belum makan.
__ADS_1
Sini ibu suapin".
Akupun nurut saja di suapin ibu.
Setelah kenyang aku duduk malas-malasan.
Entah kenapa tiba-tiba aku ingat ancaman Vera yang bisa bebuat apa saja kepadaku dengan bantuan ayahnya.
" Yan, kamu punya no HPnya Vera?"
"Punya!, memang kenapa?
"Tolong hubungi dia, aku mau ngomong!".
Akupun menyuruh semua diam, aku sengaja memasang speaker supaya semua dengar.
" halo Yan, akhirnya kamu menghubungi aku juga, kangen ya!?".
"He Vera ini aku Santi!
Ini ulah kamukan sampai aku dipindah tugaskan? Iyaka?".
" Santi..Santi..
Dari awal aku sudah mengingatkanmu jauhi Septian sekarang aku hanya minta papa mindah tugas kamu.
Tetapi besok-besok papa bisa mecat kamu.
Selamat bekerja didaerah baru ya San!'.
Vera langsung menutupnya, dan aku menangis sejadi-jadinya.
Nampak Septianpun emosi sekali.
" mau kemana kamu nak?".tanya tante Rina.
"Kerumah Vera ma, kelakuannya kali ini sudah sangat keterlaluan".
Dan akhirnya diapun pergi dan tidak ada yang bisa mencegah Septian lagi.
" Assalamuallaikum!"
"Waallaikumssallam!"
Sungguh nggak nyangka Kapten Anton datang kerumah.
Akupun segera menyambutnya.
"Silahkan suduk ndan!"
"Sudah..aku kesini cuma main ingin nengok kamu, bukan acara resmi jadi dibikin santai saja".
Kamipun nggobrol, dan aku menceritakan kronologi sampai adanya Surat pindah tugas itu.
" San..aku sendiri kaget dengan adanya surat itu yang datang tiba-tiba.
Aku sendiri tidak mau kamu pindah dari kesatuanku.
Aku juga akan cari informasi tentang pak Victor di Mabes".
"Pokoknya kamu besok tetap ke Polsek untuk cari infomasi dan dukungan".
" Siap ndan!"
"Sekarang masalah surat pindah tugas, tidak usah di pikirkan dulu aku yakin ada jalan keluarnya".
" Assallamuallaikum"
"Waallaikumssallam"
"Eh..ada komandan Anton!"
"Dari rumah Vera, maksudku rumah pak Victor ".
Kapten Anton nampak kaget mendengar Septian fari rumah pak Victor.
" Ngapain kamu kesana dan apa hubungannya dengan kamu Yan?
Akhinya Septian menceritakan semuanya dari awal. kejadian sewaktu kerumah Vera kepada kami semua.
"Begini ndan,tadi saya kesana tujuannya mau melabrak Vera teman saya sekaligus putri dari pak Victor dan bu Lilik.
Ketika saya hendak mengetuk pintu saya mendengar bu Lilik sedang marah- marah dengan pak Vilctor dan menyebut kata- kata Zulu".
" maksudmu apa ?"
Tanyaku memotong pembicaraan Septian karena penasaran.
"Aku terus mendengarkan mereka bicara dari balik pintu dan tidak jadi masuk.
Bu Lilik complain karena pasokan barangnya kurang sehingga banyak pelanggan yang menanyakan.
Intinya perusahaan yang dikelola bu Lilik selama ini hanya kedok untuk menutupi bisnis sesungguhnya.
Jadi penyaluran narkoba sebenarnya adalah melalui perusahaan ibu Lilik supaya petugas tidak curiga.
Dan aku yakin yang di maksud dengan Zulu 1 itu ibu Lilik Istri pak Victor".
" bagus yan, ini infomasi yang sangat penting sekali!".
Kata komandan nampak senang.
"Dan satu lagi ndan, San!".
Septian melanjutkan bicaranya.
"Pak Victor Juga mengatakan kepada bu Lilik Kalau petugas di Polsek Mojowarno sudah makan umpan dan dapat di kendalikan".
" Apa itu maksudnya ndan?".
__ADS_1
Septian nampak kurang mengerti.
"Maksudnya berarti petugas polisi di Polsek Mojowarno sudah berhasil di suap". Jelas komandan Anton.
" Berarti besok saya batal kepolsek Mojowarno ndan?". Tanyaku minta penjelasan.
"Tidak usah, mereka semua sudah dipihak Victor"
Nampak komandan semakin tegang, dia berdiri bertolak pinggang sambil memikirkan sesuatu.
"San..tugas " Team Bayangan " semakin berat, karena kita akan berbenturan dengan petugas dari Polsek Mojowarno.
Coba semua yang punya usul ungkapkan!?.
Nampak komandan Anton sudah buntu idenya.
Kami semua terdiam membisu, tak ada suara.
"Sebentar komandan!".
" ada apa Yan, sepertinya kamu mau ngomong sesuatu?".
Nampak septian mondar- mandir sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Pak Didik..ya! Pak Didik!".
" Ada apa dengan pak Didik Yan,Siapa dia?".
"Tadi pak Victor menyebut nama pak Didik.
Dia orang di Mabes yang curiga kalau pak Victor terlibat dalam peredaran narkoba.
Kita bisa memberikan informasi ke pak Didik tentang jaringan narkoba pak Victor dan Istrinya.
Tetapi saya ingin " Team Bayangan" tetap dilibatkan".
"Bagus yan!
Ini kabar sangat baik sekali, kebetulan aku besok akan ke Mabes untuk menelusuri Surat tugas Santi.
Aku akan Coba mencari Pak Didik dan mendiskusikan masalah ini.
Dan aku janji untuk berusaha melibatkan " Team Bayangan" dalam penanganan kasus ini
Kamipun ngobrol sampai tengah malam.
Akupun merasa lega kapten Anton sebelum pamit berjanji akan mengecek dan menelusuri Surat pindah tugasku.
Sementara Septian dan tante Rina menginap karena hari sudah larut malam.
Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, nampak ibuk dan tante Rina sedang mengobrol.
"Loo..kak !
Kok belum dandan?"
Tanya Sinta kepadaku
"Memangnya dandan mau kemana?
Tanyaku heran.
"Dinn...din.......din......
Nampak om Hamid datang membawa mobil minibus kecil bersama supirnya.
Ternyata hari ini mereka merencanakan rekreasi kepantai.
" San, lekas besiap-siap tante Rina ngajak kita semua rekreasi katanya supaya kamu nggak stress dan bisa nyantai.
Ini juga saran dari kapten Anton".
Kata ibu menjelaskan.
Akupun ngikutin saja, karena aku butuh refresing.
Dengan adanya Surat pindah tugas kemarin benar-benar membuat aku stress.
Vera benar-benar membuktikan ancamannya ingin memisahkan aku dan Septian.
Akhirnya sampai juga ditempat tujuan.
Udara sejuk menyapu wajahku terasa nyaman sekali.
Angin laut yang berhembus sepoi-sepoi sangat nyaman sekali.
"Ayo ikut!"
Septian menggandeng tanganku sambil berlari kecil.
Kami duduk dibawah pohon yang cukup rindang.
Akupun merebah kepalaku didada Septian.
Kubiarkan Septian memainkan rambutku.
Aku benar-benar nyaman seakan sudah tidak memperdulikan lagi masalah Surat PindahTugas sialan itu.
Nampak di kejauhan ayah dan ibuk lagi duduk berdua, sementara Sinta sedang main lempar bola dengan om Hamid dan Tante Rina.
"Tian, santi ayo makan dulu!".
Tante Rina memanggil kami untuk makan siang bersama.
Sungguh nikmat makan bersama dipantai.
Menjelang sore hari, kami semua pulang.
Yang tersisa hanya capek,kenangan indah untuk di kenang.
__ADS_1