
"San, aku mau melamarmu!?"
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Septian ingin melamarku.
Aku tidak tahu Septian salah ngomong, atau aku salah dengar yang di bicarakan Septian barusan.
"Apa Yan? Apa aku tidak salah dengar?!"
Tanyaku balik
"Tidak Salah San, aku ingin melamarmu" ucap Septian mengulangi.
"Aku ingin setelah kasus yang ini selesai kita pulang tunangan".
Aku bahagia sekali mendengar Septian akan melamarku.
Semoga aku bisa cepat menyelesaikan tugas ini dengan segera.
Aku segera mendekati Septian dan mengambil berkas serta menujukkannya.
"Berkas sekian banyak mau di buang atau gimana San?
"Ini berkas kasus yang di bebankan kepadaku oleh pak Didik, aku ingin kamu membantuku mencari ide atau apalah namanya?
Septian segera mengambil berkas dan membukanya.
" hahhh...anti teror?
"Semenjak kapan kamu pindah ke Devisi anti teror San?"
Septian nampak kaget melihat berkas yang dia baca.
"Sejak aku bertemu pak Didik, dan sekarang aku ditugaskan menangani kasus ******* yang sudah 3 tahun tidak tuntas."
Septian segera berdiri dan...
"Bukan di tugaskan, tetapi di korbankan !".
Aku yang mendengar Septian, ngomong seperti itu lamgsung berdiri.
"Yan, dalam tugas membela negara tidak ada kata di korbankan.
Aku sebelum jadi polisi sudah bertekat akan mengabdi kepada negara segenap jiwa raga.
Kalau kamu tidak mau membantu ya sudah!".
Aku marah Septian ngomong seperti itu.
"Maaf sayang. Kalau omonganku barusan membuatmu tersinggung"
Septian segera memegang pundakku dan menyuruhku duduk.
"San semakin lama tugas yang kamu terima semakin berat, dan sekarang kasus terorisme yang kebih berbahaya".
Aku paham Septian sangat menghawatirkanku.
Sebab aku sendiri sampai sekarang masih belum bisa menemukan cara yang pas untuk menyelesaikan kasus ini.
Tetapi aku yakin bisa dan mampu mengerjakan tugas yang di bebankan di pundakku.
"Assallamuallaikum"
Suara perempuan mengucapkan salam, akupun bergegas menuju ke depan.
"Waallaikumssallam"
"Eh Sinta!? Ayo masuk!"
Aku tidak menyangka adikku datang lebih awal dari rencana
Yang dikatakan di telepon.
__ADS_1
Dia datang langsung pakai pakaian dinas polri.
"Kak Santi, mas Septian gimana kabarnya?"
"Baik"
"Sudah ngobrolnya nanti saja, mendingan kamu istirahat dulu di kamar kakak.
"Iya kak, aku capek sekali.
Aku tidur dulu ya kak!?"
Sinta bergegas ke kamar dan tak lama keluar lagi.
"Eh kak! Mumpung ada mas Septian aku nyampaiin pesan ayah dan ibuk.
Mereka tanya kapan kalian tunangan?"
Setelah ngomong Seperti itu Sinta masuk kamar lagi.
Aku sama Septian saling memandang dan kemudian tersenyum.
Jam terus berputar cepat.
Sintapun sudah dinas di polres jakarta selatan dan juga tinggal di asrama polri Jakarta selatan.
Aku dan Septian, juga di bantu usul dari Sinta, akhirnya menemukan solusi dalam penangganan kasus terorisme.
Dua hari lagi aku harus menghadap Irjend Didik dan aku sudah siap semuanya.
Hari ini kebetulan aku libur kantor, dan aku pergi kerumah septian untuk mengantar makanan.
"Assalamuallaikum"
"Waallaikumssallam"
Septian baru bangun nampak dari matanya yang sayu dan rambutnya yang acak-acakan.
"Nasi! Cepat mandi dulu biar kusiapin untuk sarapan"
Aku langsung masuk menuju meja makan.
Aku segera menyiapkan tempat untuk menaruh makanan yang aku bawa.
Selang 15 menit Septian sudah selesai mandi.
Dengan hanya memakai celana kolor dan telanjang dada dia langsung duduk dimeja makan.
"San..seandainya aku bisa makan setiap hari seperti ini aku pasti senang sekali."
Keluh Septian seakan tiap hari kurang makan.
Aku sudah pernah makan masakannya Septian, dan sangat-sangat tidak enak sekali.
Begitu kubawakan makanan dia sangat senang sekali dan makannya selalu lahap.
Akupun sebagai pacar sangat kasihan sekali melihat pola makannya.
Kalau dia memperkerjakan tukang masak bisa saja, tetapi dia memilih mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain.
"Hemm..kenyang" gumam Septian sambil mengelus-elus perutnya.
"San. Nanti jam10 kita jalan ya?
" kemana? Tanyaku penasaran.
"Nggak tahu, pokoknya jalan saja".
Septian benar-benar bisa membuat aku senang.
Sebuah danau yang tidak begitu besar namun namak asri dan nyaman.
__ADS_1
Cocok untuk tempat refresing, apalagi tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah hanya 30 menit naik motor.
Kami berdua sangat betah berlama-lama ditempat ini.
" Yan, dari mana kamu tahu ada tempat bagus di sini"
"Aku pernah ke sini mancing sama Angga"
Setelah puas menikmati pemandangan kami berduapun bergegas pulang.
Septian mengantarku pulang ke asrama karena besok aku sudah harus bertemu Irjend Didik.
Dengan langkah percaya diri aku segera menghadap kombes Hendra sebelum menemui Irjend Didik.
"Pagi ndan"
ucapku sama kombes Hendra yang sedang sibuk menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"Pagi kapten Santi, silahkan duduk".
"Gimana kapten Santi sudah ada gambaran tentang kasusnya"
Akupun menceritakan drap dan rencana yang sudah aku susun selama satu minggu ini.
Setelah semua siap, kamipun menghadap Irjend Didik.
Tak banyak yang kami obrolin dengan Irjend Didik.
Beliau suka dan yakin dengan rencana dan kami susun.
Beliau juga meberikan kami kelonggaran mengajak Septian dalam menumpas *******.
Dan juga menyerahkan semuanya di bawah komando Kombes Hendra.
Sepulang dari dinas aku langsung kerumah Septian, tujuannya untuk memberi tahu kalau dia di ijinkan oleh Irjend didik untuk bergabung.
Kebetulan Septian ada didepan sedang duduk santai sambil makan kacang kesukaannya.
"Yan, kamu di ijinkan ikut dalam team, tetapi kamu ada di dalam pengawasanku."
"Tidak apa-apa yang penting kita bisa saling mengawasi dan melindungi"
Septian terlihat senang di libatkan lagi oleh Irjend Didik.
Saat ini saya dipercaya menangani kasus terorisme didaerah padat pendudu Jakarta timur.
Pergerakan ******* yang sangat rapi membuat organisasi ini sulit di deteksi, sehingga petugas selalu gagal membongkar jaringannya.
Sudah banyak banyak intelejend di kirim tetapi belum membuahkan hasil.
Bahkan banyak Intelejen yang hilang.
Waktu yang ditentukanpun datang.
Aku menyamar sebagai pekerja di sebuah percetakan di daerah yang di curigai sebagai sarang *******.
Dan namaku Nur Rhohmah
Pemilik percetakan adalah pak Wahyudi saudara salah satu polisi yang dinas di Mabes.
Sementara Septian bekerja di sebuah toko kelontong milik pak Wahyudi juga yang berada di dekat rumahnya.
Dan memakai nama mochamad sukirman.
Kami tinggal di kontrakan yang kami sewa 5 juta per 6 bulan sebagai tempat tinggal.
Septian dan aku menyamar sebagai kakak adik.
Septian menyamar sebagai seorang muslim yang taat, tetapi radikal dan tidak puas dengan keadaan.
Setia hari selalu pakai peci, rajin mengaji, ke masjid dan berusaha bergaul dengan orang-orang yang sekiranya dia curigai.
__ADS_1