POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XXlll Mencari Jasat Korban


__ADS_3

"Dik..tadi nemu barang ini dari mana ? tidak usak takut.


Kakak cuma ingin tahu ".


"Di ladang tebu di belakang tembok ini kak !".


Kamipun minta anak-anak itu mengantar kami, dan ternyata kebun tebu tempat ditemukannya tongkat kasti tepat dibelakang rumah pak Sanjaya.


Karena perumahan dikelilingi dengan tembok tinggi maka daerah luar perumahan tidak kelihatan dari dalam


Kebetulan tebunya lagi dipanen makanya banyak anak-anak mencari tebu.


Aku segera minta anak-anak menunjukkan tempat tongkat kasti ditemukan.


Setelah cukup aku memperbolehkan anak-anak itu pulang, dan aku meminta tongkat kastinya dengan memberi uang kepada anak-anak sebagai imbalan.


Aku dan Septian segera menyisir daerah sekitar di temukannya alat pemukul.


Setelah mengecek dengan teliti kami tidak menemukan barang lain.


Kami segera menemui petugas yang mengawasi rumah pak Sanjaya.


" Briptu budi tolong sekarang awasi dengan tegas rumah pak Sanjaya dan jangan boleh dia keluar rumah apapun alasannya "


"Siap kapten! "


Akupun langsung ke kantor dengan membawa tongkat kasti yang akan aku teliti lebih lanjut.


"Siang kapten !".


"Siang kapten Santi, silahkan duduk ".


Aku segera menjelaskan kepada kapten heru dan menunjukan tongkat pemukul yang ada darah dan rambutnya.


Aku ingin segera merubah status pak Sanjaya jadi tersangka.


"Kapten Santi, kita tidak tahu yang ditemukan bocah di kebun tebu ini ada hubungannya dengan hilangnya ibu Herawati atau tidak.


Jangan gegabah membuat opini sendiri dan kalau keliru kita semua akan kena akibatnya ".


Aku langsung berdiri dan mendekati kapten Heru.


"Kapten Heru..


Bukti sudah cukup banyak yang kita kumpulkan, dan semuanya sangat kuat mendukung pak Sanjaya jadi tersangka ".


"Anda sengaja tidak mau menjadikan pak Sanjaya jadi tersangka karena anda dan pak Sanjaya masih ada hubungan saudara ".


Nampaknya dia mulai tersinggung dengan omonganku, tetapi aku sudah jengkel dan lelah dengan sikapnya.


"Kapten..saya dalam bertugas selalu bertindak profedional.


Walaupun saudara kalau salah akan tetap dihukum.


Tetapi bukti-bukti yang anda katakan tidak belum kuat.. ".


Aku segera memutar rekaman pengakuan bu Rurin untuk didengarkan kapten Heru sampai selesai.


"Gimana kapten heru apa belum cukup !".


" kapten Santi pengkuan yang dibuat ibu Rurin itu belum tentu benar.


Bisa saja dia berbohong dan mempengaruhi petugas supaya kita percaya kalau pak Sanjaya berbuat seperti itu ".


Aku benar- benar sudah tidak bisa menahan marahku, karena aku merasa semua hasil jerih payah kami menyelidiki kasus ini sengaja dimentahkan.


"Oke..oke..


Sepertinya kapten Heru sengaja menghambat kasus ini terungkap.


Walaupun ditambah bukti lagi kapten tidak akan mau menjadikan pak Sanjaya jadi tersangka ".


"Aku akan membawa dan melaporkan kasus ini ke Mabes.


Sampai kapanpun kapten Heru tidak akan mau dan berani menjadikan pak Sanjaya sebagai tersangka ".


"Maaf kapten, saya permisi dulu ".


Akupun segera bergegas keluar dari ruang kapten Heru sambil bawa pentungan dan alat perekam.


Terdengar kapten heru memanggi-mangil tetapi aku tetap pergi.


Aku segera menelepon Septian segera menjemputku di depan kantor, dan sebentar saja Septian sudah datang.


Aku segera minta tolong septian untuk mengantarkan aku ke Mabes secepatnya.


"Ada apa San?..kok seperti terburu-buru !".


"Bukti sudah cukup banyak, tetapi kapten Heru tidak mau menaikkan status pak Sanjaya jadi tersangka."


"Kenapa alasannya San?."


Tanya septian penasaran.


"Kamu tahu yan!?..


Ternyata pak Sanjaya dan kapten Heru saudara walau saudara jauh.


Kapten Heru bilang dia profesional, tetapi aku tidak yakin ".


" pantas saja sudah banyak bukti, tapi masih ngotot saja.


Ya sudah ayo aku antar ke Mabes biar cepat beres ".


Septianpun mengantarku ke Mabes, dan aku langsung menghadap Kombes Dadang untuk melaporkan perkembangan kasus bu Herawati dan akupun membawa barang bukti juga.


"Siang ndan !".


"Selamat siang kapten Santi, silahkan duduk ".


Akupun segera melaporkan perkembangan kasus yang aku tangani.


Mulai dari laporan pak Sanjaya yang istrinya menghilang, sampai permintaan status pak Sanjaya supaya ditingkatkan jadi tersangka tetapi ditolak oleh kapten Heru.


"Ok kapten Santi..!


Mendengar keterangan kamu dan bukti yang ada.


Memang harusnya pak Sanjaya sudah jadi tersangka ".


"Kalau memang dari kapten Heru malah mempersulit penyelidikan biar aku tangani.


Besok jam sepuluh siang kamu kesini lagi.


Sekarang santai saja dulu".


Akupun minta permisi, dan kata-kata dari Kombes dadang membuatku lega dan tenang.


Aku segera menemui Septian di luar.


"Sudah San..kemana lagi kita?"


Tanya Septian


"Terserah kamu yang penting bisa membuat aku nyaman ".


"Gimana terserah aku?


Kamu masih pakai pakaian dinas lengkap begitu masak mau jalan-jalan?"


Aku baru sadar, gara-gara kasus ini aku jadi lupa.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kerumahmu saja, aku males pulang ".


"Kerumahku ngapain?


Dirumah tidak ada makan dan aku juga nggak bisa masak".


"Sudah nggak usah banyak omong, ayo jalan !".


Aku langsung naik boncengan motornya.


Dengan agak malas diapun menyalakan motornya.


" Renggggg..reng..."


Suara motor Septian melaju seakan membelah jalan.


Kami dijalan berhenti sebentar untuk beli makanan sebelum melanjutkan lagi perjalanan.


Sampai rumah Septian aku langsung membuka tas yang berisi pakaian sipil.


Karena gerah aku langsung mencopot baju dinasku.


Kemudian kaos dalam dan celana.


Kini aku hanya memakai celana dalam dan bra.


Tak lama akupun melepaska bra yang menutupi payudaraku.


Kini aku cuma pakai celana dalam saja.


Aku memainkan payudaraku dan putingku sebentar.


Aku ingin melihat tubuhku yang sexy di cermin.


Akupun pindah di depan cermin dan kemudian menari.


Belum puas, menari saja aku segera menurunkan dan melepaskan celana dalamku.


Tetapi baru selutut aku tersentak kaget.


"Ahhhhhh......"


Aku langsung lari sembunyi.


Aku baru sadar kalau sejak tadi Septian memperhatikanku.


Berarti Septian sudah mengetahui dengan detail bentuk tubuhku.


Aku baru sadar setelah melihat di cermin Septian matanya melotot mamandangku.


"Yan tolong ambilkan pakaianku, aku malu "


"Kenapa malu? Menari di depan cermin saja tidak malu ".


Kata Septian yang membuat aku salah tingkah.


Hampir sepuluh menit aku dibiarkan sebelum akhirnya dia mengambilkan baju untukku.


Dasar kurang ajar dia memberi baju sambil memandangku yang cuma pakai celana dalam.


" ini pakaiannya"


Aku segera mengambil pakaianku dan langsung lari kedapur.


Aku benar-benar malu melihat Septian.


Nampak dia senyum-senyum dan cengingisan.


Aku segera duduk disampingnya.


Lama aku diam, sementara Septian masih senyum-senyum sendirian.


"Kenapa Senyum-senyum terus? ". Tanyaku terus menunduk.


Aku benar malu sekali, aku cubit, aku pukul tapi diam saja.


Malah dia merangkul dam memelukku.


Akupun menangis dipelukannya.


"Sudah..sudah..aku juga minta maaf.


Harusnya aku memperingatkanmu sejak awal, tetapi sebagai laki-laki normal aku ingin melihat semuanya apa lagi kamu calon istriku ".


Kata-kata Septian benar-benar melegakan hatiku.


Aku benar-benar beruntung mempunyai cowok seperti Septian dan aku berjanji akan senantiasa setia.


Jam sepuluh tepat aku menemui komandan Dadang.


"Kapten Santi sekarang kamu kepolres kamu temui AKBP Prayitno.


Kasihkan surat ini ke beliau dan katakan yang ingin dia tahu ".


"Jangan lupa sekalian bawa barang bukti".


Akupun langsung minta diri dan langsung ke polres.


Sampai di loby polres aku bertemu kapten Heru.


Aku hanya menyapanya.


Namun kapten Heru menahan dan ingin bicara denganku.


"Sebentar kapten Santi, aku ingin bicara.


Mari kita bahas lagi didalam ruanganku kasus bu Herawati".


Aku yang sudah muak dengan kapten Heru segera menolaknya.


"Maaf kapten Heru...


Aku kesini mendapat perintah dari Mabes untuk memberikan surat ini ke AKBP prayitno "


"Sepertinya kasus ibu Herawati sudah diambil alih oleh Mabes.


Jadi sekarang anda tidak usah repot-repot mengurusi ".


Setelah membaca dan mendengarkanku serta adanya alat bukti aku di suruhnya menunggu diluar dulu oleh AKBP prayitno.


Sekitar tiga puluh menit menunggu AKBP prayitno memanggilku masuk.


Selang dua menit Kapten Heru juga masuk


Setelah kapten Heru masuk, AKBP prayitno berdiri dan langsung membanting map yang dari Mabes.


"Saksi sudah ada, bukti banyak dan kuat.


Kenapa sampai sekarang Sanjaya masih jadi pelapor.


Nggak bisa kerja atau memang tidak mau menjadikan dia tersangka?".


Aku dan kapten heru hanya diam mendengarkan AkBP Prayitno marah.


"Kapten Heru kamu saya keluarkan dari kasus ini ".


"Tapi ndan !"


" Sudah cukup keluar dari ruangan saya, keluarrrr !".


Belum selesai ngomong komandan Prayitno sudah menyuruhnya keluar.

__ADS_1


Akhirnya surat perubahan status menjadi tersangka pak Sanjayapun aku pegang, sekaligua surat penangkapan beliau.


Tepat pukul tiga sore aku dan letda Caniago dan sepuluh petugas polisi langsung menuju rumah pak Sanjaya.


Security langsung membangunkan pak Sanjaya dan aku menemu beliau.


"Sore pak Sanjaya!


Saya dapat surat peritah penangkapan anda sebagai tersangka pembunuhan bu Herawati'.


Akupun menyerahkan surat penangkapan pada beliau.


"Apa maksudnya ini.


Aku melaporkan istriku hilang malah kamu tangkap.


Dasar polisi ******....


Pak Sanjaya terus saja mengumpat dan aku segera meyuruh petugas segera menangkap dan memborgolnya.


Petugas segera membawa pak Sanjaya ke polres


Sementara aku, letda Caniago beserta emat orang petugas langsung mengamankan area.


Security, pembantu, bebby sitter tukang kebun, dan para pengawal pak sanjaya aku kumpulkan semua dan aku segera membuat area sterill.


Petugas segera memeriksa semua tempat.


Team forensikpun tiba dan mereka memeriksa tempat yang diperkirakan sering di pakai ibu herawati saat masih hidup.


Team forensik juga memeriksa semua barang yang dipakai bu herawati.


Tepat pukul tujuh malam kami menghentikan pemeriksaan.


Dan team forensik segera membawa ke laboratorium untuk pemeriksaan.


Yang aku pikirkan di buang kemana mayat bu Herawati.


Sampai sekarang aku belum mendapat gambarannya.


Hanya pak Sanjaya yang tahu dan aku akan menanyainya dikantor.


Tepat pukul sembilan pagi, aku menemui pak Sanjaya.


Aku ingin menanyakan dimana dia membuang mayat bu Herawati.


"Selamat pagi pak Sanjaya.


Aku ingin menanyakan dimana anda membuang mayat ibu Herawati"


Tanyaku dengan nada sopan.


"Aku melaporkan istriku hilang, tapi kamu malah memenjarakan aku.


Kalian polisi memang tidak berguna ".


Umpat pak Sanjaya karena jengkel.


" pak bagi kami anda mengakui membunuh atau tidak itu tidak penting.


Team forensik akan membuktikannya".


"Bagi kami yang penting cuma keberadaan mayat bu herawati."


Merasa tidak dapat infomasi yang dibutuhkan akupun keluar mencari udara segar.


Akupun segera menelepon Septian untuk menemuiku.


Aku dan Septian segera kerumah bu Rurin untuk konsultasi masalah keberadaan mayat bu herawati.


"Siang bu Rurin!" Sapaku.


"Siang Santi, Septian..


Silahkan masuk ".


Akupun menceritakan Kepada Rurin tentang mayat bu Herawati yang sampai saat ini belum belum di ketahui karena pak sanjaya masih belum mau mengaku.


"Yang jelas pak Sanjaya sendiri yang mengaku mengirimnya sendiri ke Surga.


Cuma kalau dibuang atau disimpan dimana aku tidak tahu ".


"Oh aku tahu orang yang mungkin bisa memberi informasi tambahan tentang kasus ini".


"Siapa ? " Tanyaku penasaran.


"Security lama, pak Mukidi"


Akupun setuju yang dikatakan Rurin.


Aku akan keumah pak Mukidi untuk mencari informasi.


"Kau yang terindah..."


Aku segera mengangkat handpone.


Letda Caniago melaporkan hasil laboratorium forensik.


Tetapi aku bilang nanti saja, aku minta dia kesini bawa mobil secepatnya dan aku tunggu di rumah bu Rurin.


Mobil sedan mitsubishi lancer merapat kerumah bu Rurin


Nampak Letda Caniago turun dan menghampiriku.


"Cocok...


Rambut dan darah yang menempel di tongkat kasti cocok dengan yang ditemukan di rumah bu Herawati".


Letda Caniago memberi laporan, dan map berisi laporan forensik.


Dan dia juga mengatakan kalau kapten Heru dipanggil komisi disiplin polri.


Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kami berangkat kerumah pak Mukidi bersama - sama.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam kami semua sampai dirumah pak Mukidi.


Kebetulan pak Mukidi ada di rumah dan kami langsung mengajak kerumah pak Sanjaya bersama.


Setelah berkoordinasi dengan petugas security kamipun langsung mengecek area seputar rumah dan didalam rumah.


Sudah hampir tiga jam kami mengeliling komplek, dan area rumah tetapi tidak ada tanda-tanda mayatnya di buang di sekitar sini.


"Sudah istirahat dulu makan.


Nanti dilanjutin lagi ".


Aku segera mengajak semua untuk makan.


Kebetulan aku pesan nasi bungkus untuk semua.


Ketika semua makan pak Mukidi nampak pergi dan balik lagi bawa daun-daunan.


" apa itu pak? "


Tanyaku pada pak Mukidi


"Ini daun kenikir.


Orang jawa makan ini untuk lalapan mentah dan disayur juga enak ".


Nampak pak Mukidi begitu lahap makan pakai lalapan daun kenikir.

__ADS_1


"Tunggu dulu!? "


Semua menghentikan makan saat Rurin bicara.


__ADS_2