POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CHAPTER Xll Darah Muda Membara


__ADS_3

"San, dari pada kita pusing mikirin dua orang itu, bagaimana kalau sementara kita nyantai dulu dicafe!?"


Ajak Septian dan aku ngikut saja.


Akhirnya kamipun segera masuk cafe, namun tiba-tiba Septian menarik tanganku,


" Tunggu San!".


Septian menunjuk arah sudut cafe, nampak dua orang target kami sedang asyik ngobrol dengan dua orang perempuan.


"Kita tunggu saja diluar, baru kita ringkus!". Kataku.


Baru sebentar kami menunggu nampak dua orang lagi masuk, dan bergabung dengan buruan kami.


" gimana ini San, kita lawan semua atau kita tunggu mereka berpencar?" tanya septian nampak ragu.


"Kita lawan semua, tapi terget kita tetap dua orang itu dan kita harus bisa meringkusnya.!


Jawabku walapun sebenarnya aku sendiri agak ragu apa bisa menghadapi semua begundal itu.


Akhinya merekapun keluar kafe, aku dan Septian mengikuti sampai tempat yang cocok untuk menyergap mereka,dan...


" berhenti,..."


Aku dan Santi mencegat mereka, bukannya mereka lari melihat kami malah tertawa sambil bertolak pinggang.


"He..pada ngapain kamu bocah, coba lihat kamu cuma dua orang ingusan mau nangkap kami."


Hyatt..


Hoppp


Tiba-tiba keempat orang itu menyerang kami bersamaan.


Kami yang dari awal sudah siap segera menghindar dan balas menyerang.


Nampak Septian bisa mengimbangi serangan dua orang, bahkan dengan serangan cepat dia behasil memukul salah satu target.


Tetapi di saat bersamaan sebuah serangan mendadak mengenai tanganku sehingga terasa agak ngilu.


Melihat aku kewalahan Septian segera menyerang orang yang memukulku.


"Chiattt...!"


Dengan tendangan cepat Septian berhasil menendang orang yang memukulku.


Akhinya Septian menghadapi tiga orang dan aku melawan salah satu dari mereka.


Ternyata diluar dugaan kami, dua orang yang baru datang ternyata mempunyai ilmu beladiri yang lumayan.


Sudah banyak pukulan kami yang mengenai mereka berempat, tapi beberapa kali aku dan Septian juga kena pukulan mereka.


Entah dari mana asalnya tiba- tiba dua bayangan berkelebat menyerang mereka.


"Ayah....!"


"Papa....!"


Entah dari mana mereka tahu keberadaan kami,merekapun akhirnya membantu kami melawam empat orang itu.


Nampak sekali ayah dan om Hamid menikmati perkelahian ini.


Mereka saling pamer jurus dan pukulan.


Dan akhirnya perkelahianpun berubah satu lawan satu.


Memang ayah dan om Hamid masih hebat, keempat orang itu akhirnya berhasil kami ringkus.


" ayah..om..!?


Dari mana kalian tahu kami disini?"


"Dasar anak muda bertindak pakai emosi.


Tidak mempertimbangkan kekuatan lawan.


Coba kalau kami tidak datang, apa kamu sanggup melawan mereka?"


Om Hamid memberi masihat kepada kami, dan kamipun selanjunya harus hati-hati.


Kamipun membawa mereka ketempat yang sudah dipersiapkan oleh kapten Anton.


Penangkapan kami tidak sia-sia, kami berhasil menperoleh informasi tentang jaringan mereka.


Setelah itu sengaja kami lepas, dan kemudian kami sebarkan foto mereka berempat di medsos.


Strategi yang kami lakukan benar-benar berhasil,empat orang yang kami lepas langsung diburu oleh rekannya sendiri untuk singkirkan.


Dan kami terus mengikuti para pembunuh itu.

__ADS_1


Dia mendapat perintah dari mana.


Titik terang tentang jaringan narkoba mulai terbuka,dan kami semakin berbahaya untuk itu, kami segera mengadakan rapat koordinasi dengan kapten Anton.


"Hasil penyelidikan kasus ini mulai mendapat titik terang, dan lokasi mengarah kedaerah Bumi Asih.


Disini "Team Bayangan"tidak bisa begerak sendiri."


"Kita perlu petugas lain yang sifatnya resmi dari kepolisian yang ada surat perintahnya!".


"Terus awasi dulu, mereka belum menyadari kalau markas mereka sudah diketahui"


"Untuk sementara sipil dbantu Santi mengawasi daerah Bumi Asih".


"Ingat cuma mengawasi! Jangan sampai bentrok, ingat yang aku sampaikan semoga berhasil dan pertemuan selesai."


Kamipun bubar untuk menuggu intruksi lebil lanjut.


"Terus kemana acaranya San?"


Tanya septian.


"nggak ada!" jawabku datar.


"Kalau begitu ikut aku kerumah yuk, mama nanyain kamu terus nih!"


"Ngapain tante Rina nanyain aku terus?


Lagian ngapain bukan kamu yang di tanyain kok malah aku?".


Akukan sudah ada paman dan ayah yang ngurusin aku.


Kataku pada Septian agak ketus.


" kamu,kan calon menantunya!."


"Apa menantunya?


Mau menikah dengan anaknya yang mana?..kamu?..'


"Sampai sekarangpun kita tidak pernah pacaran.


Kamu nembak aku juga belum pernah.


Kamu leboh cocok jadi adikku daripada pacarku.


"Dan satu lagi,kamu tidak cinta sama aku.


Aku hanya kamu jadikan tempat pelampiasan cintamu pada sudara kembarku Ranti!".


Aku begitu emosi dan melempar foto Ranti kewajah Septian.


Nampak Septian mengambil foto itu,nampak matanya mulai berkaca-kaca.


Aku sudah tidak perduli lagi pada Septian.


Aku benar kesal, sakit hati, tanpa ada kepastian.


Seakan akan-akan Septian memberilkan harapan palsu padaku.


"Jadi..kamu saudara kembar Ranti, dan kamu sudah tahu semua tentang Ranti?"


"Kamu jahat yan,kamu tega menbohongi aku!"


Akupun langsung bergegas pergi tanpa memperdulikan Septian lagi.


Sesampai dirumah aku menangis sejadi-jadinya,aku merasa Septian begitu jahat padaku.


aku merasa begitu bodoh mau dijadikan pelampiasan saudara kembarku.


Apakah aku harus membeci alrmarhum Ranti yang telah mendapat cinta Septian.


Dan setelah Ranti tidak ada, Septian melampiaskan padaku karena wajahku mirip Ranti.


Hari sudah menjelang sore, aku bergegas kekamar mandi.


Nampak Septian menunggu diruang tamu.


Selesai mandi aku langsung masuk kamar dan menguncinya lagi.


Aku tidak mau ketemu Septian, orang yang telah memberi harapan palsu padaku.


Tok...tokkk...tok...


"San!..Santi..'


Tolong bukain pintunya.!"


Terdengar suara Septian minta di bukakan pintu, aku yang sudah kesal segera kuambil sepatu dilantai dan langsung aku lempar kepintu kamar.

__ADS_1


"Dor...."


Mendengar aku melempar barang kepintu, akhirnya Septianpun pergi.


Aku hanya bisa menangis dikamar.


Akupun ketiduran,dan aku segera bangun karena Septian masih mengetok pintu kamar.


Kuambil sepatu satunya dan kulempar kepintu lebih keras.


"Dorr..."


"Pergiiiii!"


"Santi ini ayah, buka pintunya dulu.


Ayah mau bicara".


Akupun membuka pintu kamar dan aku langsung memeluk ayah kemudian menangis..


" Ayah...Septian jahat, Septian jahat....".


"Aduh..anak ayah kok cengeng.


Semua masalah pasti ada solusinya, ayo cerita sama ayah ada apa?


" enggak ada apa-apa yah,


Septian jahat!'.


Ayahpun mengajakku masuk kamar dan duduk ditempat tidur


"San,kamu sudah dewasa bisa berpikir dengan jernih, jangan sampai urusan pribadimu membahayakan dan mempengaruhi kerja " Team Bayangan".


"San,apa benar kamu jatuh cinta sama Septian?.


Septian umurnya dua tahun lebih muda dari kamu, dan lagian dia masih sekolah SMA dan secara mental pikirannya belum dewasa.


Apa itu semua tidak masalah bagimu?


Masalah percintaan,jodoh ayah menyerahkan semua sama kamu, ayah hanya merestui.


"ayah sama om Hamid sudah jadi sahabat dari muda,kalau seandainya kamu sama Septian berjodoh pasti ayah sama om Hamid sangat senang sekali"


"Terima kasih yah, ada yang ingin aku tanyakan kepada ayah, dan aku ingin ayah jujur."


"Ya apa itu San?".


" Santi Rindu sama ibu,apa ayah masih cinta sama ibu?


Begitu aku sebut ibu muka ayah langsung memerah.


Bayang -bayang masa lalu segera mendatangi ayah.


"Jangan kau sebut lagi dan ingat ibumu,dia tak pantas menjadi ibumu!".


Nampak ayah menahan emosi mengingat kejadian dua puluh tahun lalu.


Apa ayah yakin kalau ibu selingkuh, dan melihat sendiri.


" tidak..


Tetapi berita itu sudah tersebar luas!?". Kata ayah emosi.


"Apa yang kita dengar belum tentu sebuah kebenaran.


Begitu juga dengan ibu!


Apa ayah sampai sekarang masih mencintai ibu?".


Nampak ayah mengambil nafas panjang seakan ingin melepas beban yang selama ini membebaninya.


" Ya..ayah masih mencintainya dan terus mencintainya.!"


Kemudian aku memeluk ayah, terasa ringan bebanku.


Aku berharap ayah sama ibu bisa baikan lagi.


Aku akan berusaha masalah ayah dan ibu selesai, supaya tidak mengganggu kinerja"Team Bayangan".


" Yah, apa nama ibu Santi itu ibu Dyah Wilis Anggraini?".


Seketika ayah memandangku dengan tajam, seakan dia tidak menyangka aku sudah mengetahui nama ibuku.


"Dari mama kamu tahu San?" tanya ayah kaget.


"Dan apa benar, aku punya saudara kembar?"


Nampak ayah benar-benar kaget dengan apa yang baru saja aku bicarakan.

__ADS_1


__ADS_2