POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XXl Cemburu Dengan Tersangka


__ADS_3

Enggak buk, selama ini banyak mahasiswa ingin dekat dengan ibu.


Sekarang saya bonceng ibu terasa bonceng pacar.


Tapi bedanya kalau bonceng pacar tangannya merangkul terus.


" Ah kamu bisa saja!"


Jawab bu Anjar sambil mencubitku."


Akhirnya aku sampai juga dirumah bu Anjar.


Akupun dipersilahkan masuk dan dia permisi ganti baju dulu.


Aku mengamati sekeliling nampak biasa saja, dan tak berapa lama bu Anjar menemuiku lagi.


"Buk..


Sepertinya aku memanggil dengan nama Bu Anjarwati terlalu panjang ya.


Kalau begitu aku panggil wati saja ya buk?".


" Jangan!, panggil Rurin saja.


Nama sayakan Rurin Anjarwati".


Dapat kamu!


Pikirku dalam hati setelah dia menyebut nama Rurin.


Dan aku akan memainkan peranku untuk mengetahui lebih jauh tentang Rurin dan pak Sanjaya.


"Maaf ya bu, kalau diluar kampus manggil Rurin saja boleh enggak?


Sebab nama Rurin sangat cocok dengan ibuk yang cantik dan anggun".


" Ah nggombal kamu Yan!


Terserah kamu mau panggil apa yang kamu suka.


Oh ya...katanya kamu tadi di kampus ada yang ingin kamu diskusikan sama saya, tentang apa?".


Aku bingung mau jawab apa.


Sebab aku belum memikirkannya.


" Yan..kok malah bingung?".


"Eh...maaf Rin!


Sebenarnya tidak ada yang ingin aku diskusikan.


Ak..aku hanya ingin mengantar


Kamu pulang, dan ingin tahu rumah kamu.


Maafkan aku, kalau kamu mau menghukum aku, aku terima.


Kalau sekarang kamu merasa terganggu aku permisi pulang saja!".


Akupun berdiri pura-pura mau pulang, tetapi tangannya menarik tanganku.


" nggak apa-apa nggak usah pulang, kita ngobrol saja disini".


Akupun senang rupanya dia menahanku.


Akupun ngobrol apa saja.


"Yan...tadi di kampus kamu bilang tidak suka cewek yang lebih muda tetapi suka cewek yang lebih tua, memangnya betul ya Yan?".


" maaf Rin...apakah itu kelainan dan itu tidak wajar ya?".


" Sudah lama sebenarnya aku memperhatikan kamu di kampus.


Setiap saat aku selalu membayangkan kamu jadi pacarku.


Tetapi aku juga terus berpikir mana ada perempuan yang mau sama brondong".


"Setelah ini aku aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi.


Tapi jangan cerita ke anak kampus kalau aku suka perempuan lebih tua ya Rin?".


Nampak Rurin pindah disampingku.


" Yan..kamu orangnya ganteng, pandai.


Aku tidak taku kalau selama ini kamu suka sama saya.


Untuk sementara kita berteman saja dulu mungkin nanti tidak ada yang tahukan.?!".


"Oke kalau begitu.


Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku".


Kataku pada Rurin.


" Buktikan Yan, akupun sebenarnya kalau mengajar sering memperhatikan kamu.

__ADS_1


Tetapi karena aku Dosen dan kamu mahasiswa aku malu apalagi akukan cewek!".


Aku segera memegang tangan Rurin dan kutaruh dipangkuaku.


"Rin..aku senang sekali mendengar kamu juga memperhatikanku selama ini.


Semoga cintaku tidak bertepuk sebelah tangan".


Aku mencium tangannya dan kemudian memeluknya.


Rurin diam saja bahkan dia mendekapku.


Hari berganti hari dan Rurinpun semakin membuka diri.


Dan aku akan terus memainkan peranku untuk mencari informasi.


"Gimana Yan, Sudah ketemu dengan Rurin belum?"


Tanya Santi padaku.


"Sudah...bahkan sekarang aku lagi dekat dengannya.


Mungkin sebentar lagi aku pacaran sama dia".


Jawabku menggoda Santi.


" kamu disuruh menyelidiki malah selingkuh, dasar laki-laki".


Santi terus memakiku dan memukulku.


Letda Caniago hanya senyum-senyum melihat ulah Santi.


"Sudah-sudah!.


Cuma canda, sampai segitu cemburunya!".


Aku kemudian menceritakan kalau Rurin itu adalah Dosenku.


Dan aku terus menyelidiki dia.


Santi dan Letda caniago juga menceritakan kalau pak Sanjaya mulai bosan di tanya terus. Bahkan dia marah dan menganggap Santi dan letda Caniago tidak profesional.


Pak Sanjaya sudah tidak mau memberi keterangan lagi.


"Kapten, Letda sekarang aku mau tanya!


Berani enggak kamu menaikkan status pak Sanjaya menjadi tersangka?".


Aku mencoba melihat respon mereka berdua.


" Gila kamu yan!


Kamu tahu sendiri pak Sanjaya orang penting yang punya pengaruh".


"Dia bisa saja melaporkan balik kami berdua dengan dasar dan alasan yang di buat-buat".


"Kapten, letda ada yang terasa aneh enggak dalam kasus ini!".


" maksudmu?"


Tanya Santi penasaran.


"Coba bayangkan:


"Pertama, Yang mengetahui bu Herawati pergi ke malang cuma pak Sanjaya."


"Kedua, orang kalau istrinya menghilang pasti akan aktif mencari informasi, bahkan sebelum ditanya mereka akan menanyakan berita tentang istrinya kepada petugas polisi.


Tetapi ini malah membatasi seolah tidak ingin istrinya ditemukan.


'ketiga, pemecatan security yang mendadak dan memberinya pesangon berlebih seakan sengaja untuk mengurangi sumber informasi."


"Keempat, perselingkuhan pak sanjaya dengan Rurin mungkin menjadi penyebab menghilangnya bu Herawati.


Apalagi dalam satu bulan terakhir menurut cerita pak Mukidi security, Rurin sering datang kerumah dan pak Sanjaya sering bertengkar dengan istrinya".


Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang ada dalam kasus ini.


Pulang kuliah bu Anjar nyamperin aku diparkiran.


" Yan, mau nggak ngantar saya pulang?".


"Siap buk, kemanapun mau aku antar!".


Aku segera menyalakan motorku, dan bu Anjarpun tanpa kupersilahkan langsung naik dan merangkul pinggangku.


Ditengah perjalanan tiba-tiba ada ada dua orang menghadang laju motorku.


"Minggir..minggir..berhenti".


Akupun segera minggir dan menghentikan motorku.


Nampak dua orang datang menghampiri kami berdua.


Tiba-tiba Rurin menghampiri mereka, entah apa yang dikatakan Rurin kepadanya, dua orang itupun pergi lagi.


Sebelum pergi aku menghafalkan wajah dua orang itu.

__ADS_1


Sampai juga kami ditujuan, aku segera mematikan motor dan tanpa rasa segan Rurin berjalan masuk menggandengku.


" Siapa tadi Rin, nampaknya dia bukan orang baik-baik?".


"Maaf Yan, mereka tadi orang bank.


Aku masih sedikit ada tanggungan tapi sudah tidak masalah".


Rurin berjalan masuk kebelakang, dan tak lama balik lagi membawa minuman.


" Hemm..segarrrr!"


Aku langsung meminum air yang ditawarkan dan terasa dahaga langsung hilang.


"Oh ya Rin..setiap kali aku kesini rumah kamu kok sepi, masak rumah segede ini kamu sendirian?"


Tanyaku basa-basi.


"Iya aku sendirian, memangnya kenapa?"


Ririn tanya balik padaku


"Baguslah kalau begitu, berarti tidak ada yang mengganggu kita pacaran dong?


Tanyaku sambil memegang tangannya.


Begitu aku pegang tangannya, Rurin langsung merebahkan kepalanya dipangkuanku.


Aku tak tahu aku harus berbuat apa.


" kenapa Yan kamu diam saja, katanya kamu cinta padaku.


Sekarang dirumahku tidak ada siapa-siapa apa yang kamu tunggu?!".


Aku benar tidak menyangka Rurin begitu agresip, dia bangkit dan duduk dipangkuanku kemudian melingkarkan tangannya dipundakku.


Dan dalam hitungan detik pipi dan bibirku jadi santapannya.


Aku benar-benar kelabakan dan tak menduga.


Lelaki mana yang bisa menolak keagresipan Rurin.


Dengan wajah cantik, bodi sexy dan mulus pasti laki-laki akan jatuh dipelukannya.


"Cukup..cukup....Rin"


"Kenapa Yan?..kenapa berhenti.


Sebagai laki-laki bukankah ini yang kamu inginkan?".


" Rin, aku bukan laki-laki yang seperti itu.


Aku tidak ingin melakukannya sebelum menikah itu karena aku menghormati kamu sebagai perempuan baik-baik".


Aku segera meminum minumanku sampai habis.


" Santi maafkan aku..


Aku hampir saja keterusan dan kebablasan".


Gumanku dalam hati.


"Rin aku permisi dulu ya!"


"Kenapa Yan, kok terburu-buru aku masih ingin kamu disini!?".


Jawab Ririn menahanku.


" besok kitakan jumpa lagi sayang!"


Aku berusaha meyakinkan Rurin supaya tidak ngambek.


Diperjalanan pulang aku merasa diikuti lagi oleh dua orang tadi.


Ini kesempatan bagiku untuk mencari informasi yang ingin aku cari.


Tepat dijalan sepi akupun berhenti, dan dua orang itupun menghampiriku.


"He bocah..jauhi Rurin dan jangan pernah mendekatinya lagi !".


Ancam salah satu dari mereka sambil menarik kerah bajuku.


" maaf mas, aku sama Rurin baru saja resmi pacaran kok nggak boleh?


Tanyaku pada mereka pura-pura bodoh, dan merekapun tambah marah.


"Kurang ajar !".


Tiba-tiba orang yang memegang bajuku hendak memukulku tetapi dengan tendangan " may gery" dengan cepat kakiku menghantam perutnya.


Temannyapun datang membantu dan akupun sudah menyambutnya dengan " may geri geage".


Seketika rahangnya jadi sasaran kakiku.


Rupanya keduanya cuma jago gertak dan merekapun masih mengaduh kesakitan.


Aku segera menanyai salah satu dari mereka.

__ADS_1


Kutarik kerah bajunya dan kuancam dengan pukulanku.


Siapa yang menyuruhmu, jawab?!


__ADS_2