
Kejadian kemarin benar-benar membuat Septian stress dan frustasi.
Menurut info yang kudengar
Sebelum seperti sekarang ini,dulu septian adalah seorang pemakai.
Banyak hal yang sudah dia lalui untuk berusaha berhenti dan menjahui barang terlarang itu.
Termasuk dikucilkan keluarga dan teman-temannya.
"Hehh..menghayal melulu!"
"Ahh...sialan kamu!"
Dia kaget ketika temannya Eric datang menepuk pundaknya.
"Gimana,sudah pesan makan belum bro?"
"Pesan aja dulu,aku minum saja" jawab septian malas.
Tiba-tiba matanya tertuju pada meja paling ujung di cafe itu.
Nampak seorang gadis dengan balutan longdress merah sedang ngobrol dengan lelaki paruh baya.
Kelihatan begitu akrap dan manja.
Apa seperti ini watak asli perempuan yang baru dikenalnya.
Selang tak berapa lama laki-laki itu pergi dan dia duduk sendirian.
Septian yang melihat segera berdiri mendekatinya.
" ehh.kemana bro?" tanya Eric ,tetapi Septian terus berjalan mendekati perempuan itu.
"Siapa tadi"
Linda kaget dan langsung menyapa Septian.
"Halo yan! Kamu disini juga?
Kataku sedikit basa basi dengan septian teman kelasku.
" oh!!.."
"Jadi ini kerjaanmu diluar?"
"Ketemu dan kencan dengan om-om kaya?!!"
Aku sangat tersinggung dan marah dengan ucapan septian barusan.
Kutampar mulutnya sangat keras,hingga bibirnya berdarah.
"Jaga mulutmu!"
"Kita baru saja kenal,kamu belum tahu persis siapa aku!".
Sebenarnya aku agak menyesal menamparnya terlalu keras.
Aku yakin saat ini dia sangat stress gara-gara perlakuan polisi kemarin di sekolahan.
Walaupun begitu,dia tidak boleh bicara seperti itu kepadaku.
Akhinya kutinggalkan dia dan pergi dari tempat itu pulang.
Entah kenapa kok ada perasaan menyesal menampar Septian di cafe semalam.
Sudah hampir dua minggu aku sekolah,tetapi belum nampak tanda-tanda yang kucari.
Sepulang sekolah aku sengaja mampir kepasar tradisional untuk belanja.
" ning minta tolong dong, minta uangnya untuk beli rokok"
Nampak dua orang preman dengan lembut minta uang rokok.
Karena nggak mau ada urusan aku kasih sepuluh ribu.
"Semua! Cepat!"
Tiba-tiba mereka minta semua isi dompetku.
Ketika salah satu akan mengambil dompetku langsung aku tendang ***********.
Dan akhirnya kami berkelahi.
Entah kebetulan atau sengaja tiba-tiba datang Septian membantuku dan akhinya para preman dapat kami ringkus, kemudian aku serahkan pada hansip di situ.
"Terima kasih Yan"
Kataku kepada Septian,tapi dia cuek saja dan malah pergi meninggalkanku.
Atau mungkin dia sakit hati padaku gara-gara kutampar dan kumaki-maki kemarin.
Kulihat tadi nampak bibirnya pecah akibat aku tampar dengan keras kemarin.
Tetapi aku heran,beberapa kali aku dalam masalah dia sering ada untuk menolongku.
padahal dia sering aku kerjain tapi masih mau menolongku.
Jam sekolah belum di mulai, ketika aku mau duduk, kulihat di kursiku ada permen karet yang sengaja diletakkan untuk ngejain aku.
"Siapa menaruh permen karet di mejaku,ngaku!?
Mendengar aku teriak bukannya takut,atik malah duduk dimejaku.
" aku yang menaruh, Emang kamu mau apa?"
Tantang atik padaku.
Ingin rasanya aku gampar mulutnya namun..
Tiba-tiba guru bahasa indonesia sudah masuk kelas.
__ADS_1
"Pagi anak-anak!"
"Pagi pak"
"Maaf pak! Mohon ijin mau ganti kursi karena kotor kena permen karet".
Akhirnya aku...
Tiba-tiba Septian sudah mengangkat kursiku dan membawanya keluar untuk diganti.
Aku mengikutinya dari belakang menuju gudang dengan terlebih dahulu ijin penjaga sekolah untuk pinjam kunci.
kamipun sudah mendapatkan kursi pengganti.
Ketika mau berbalik tiba-tiba.
Hohh...
Karena lantai licin aku terpeleset dan mau jatuh ke lantai.
Entah reflek atau sengaja Septian cepat dapat menangkap tubuhku.
Karena posisi jatuhku miring,ketika menangkap tubuhku tangan kanannya tepat pada payudaraku sebelah kiri.
Untuk beberapa saat kami terdiam tak bergerak.
Akupun tak tahu jadi begini.
Untuk beberapa detik dia memegang dan meremas payudaraku.
" ohh...maaf,aku nggak sengaja!" katanya
"Nggak apa- apa! Terima kasih !"
Gila...
Cewek apaan aku ini.
Sudah diremas payudaraku bukannya marah malah terima kasih.
Keluar gudang dan menuju kelas,aku tak berani menatap muka Septian.
Saat ini dia pasti merasa beruntung dan dapat durian runtuh...eh pepaya runtuh...
Guyuran air membasahi seluruh tubuhku.
Terasa segar dan bugar guyuran air mandi sore ini.
Saat menyabuni payudaraku sebelah kiri,aku teringat kejadian digudang.
Bagaimana cara Septian memegang dan meremas payudaraku.
Bayangan itu terus menari- nari di pikiranku.
Bahkan tak terasa aku membayangkan Septian mengulum dan menyedot ****** payudaraku yang memerah.
Aku..aku..
"San...santi!"
Pamanku memanggil dari luar kamar mandi.
Seketika lamunan dan hayalanku ambyar.
Aku cepat-cepat menyelesaikan mandi dan keluar menemui paman Hasan.
"Paman...paman!"
"Jangan lupa namaku linda!
Setelah mengingatkan, paman Hasanpun pergi kedepan.
Sekitar sepuluh menit akhinya aku selesai berdandan dan siap menemui tamu yang datang dan sudah lama menunggu.
" sore lin!"
"Hahh?! Septian?"
Dari mana kamu tahu rumahku? Gila kamu!
Aku sangat terkejut sekali dengan kedatangannya.
Tak satupun teman disekolah yang tahu alamatku.
Aku benar-kaget saat ini dia berada dirumahku.
Karena kejadian kemarin aku masih malu padanya,tetapi disisi lain aku senang sekali sekarang bisa bertemu dengannya.
Aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini sering kepikiran dia.
Ohhh,tidak!
Aku geleng-geleng sendiri sambil senyum-senyum.
"Ada apa lin? Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Ehh...tidak ada apa-apa kok yan!"
Gila...
Masak aku suka laki-laki ini.
Dia lebih cocok jadi adikku dari pada pacarku.
"Hehh lin..kok melamun terus!?".
" oh ya, ada apa yan?"
Tanyaku bersikap rileks.
"Besokkan libur".
__ADS_1
malam ini aku pingin ngajak kamu keluar.
Dan aku sudah minta ijin pamanmu,dan kata paman terserah kamu mau apa enggak.
" please mau ya?!"
Aku janji akan bawa pulang lagi utuh.
Pinta Septian padaku.
"Emangnya aku barang, seenaknya dibawa pergi pulang.
Akupun menerima permohonannya setelah ijin dengan paman Hasan.
Belum genap sebulan, aku mengenal teman- teman sekolah.
Bahkan dengan Septian sekalipun
tapi malam ini aku begitu gampang dan mudah di ajak oleh cowok yang belum begitu kukenal untuk keluar malam-malam.
Akhirnya kami tiba di tempat yang dituju.
Sebuah tempat mirip cafe terbuka.
Tempat yang sangat santai dan romantis bagi anak muda.
Rupanya sebelun datang Septian sudah pesan tempat sehingga sama pelayan meja dan hidangan pembuka sudah dipersiapkan.
" silahkan duduk tuan putri"
Septian mulai ngegombalin aku.
Tapi terus terang,aku sangat senang diperlakukan seperti ini.
"Terima kasih"
Akupun langsung duduk tak lama berselang pelayan cafepun datang dan kami pesan beberapa makanan.
Terlihat Septian curi-curi pandang padaku, aku jadi sedikit risih dan salah tingkah.
Tak kusangka tanganku dipegangnya dua-duanya.
Hatiku dag...dik...dug....tak menentu.
Mau kutarik tanganku takut mempermalukan dia,sebab banyak tamu lainnya disitu.
Terus terang baru kali ini, aku diperlakukan seperti ini.
Aku benar-benar terbuai alunan musik yang kudengar.
"Lin..kamu malam ini sangat cantik sekali!"
Terlihat banyak bintang bertaburan didepan mataku.
Rayuan Septian membuat aku tersanjung dan terbang kelangit.
Aku sudah tak bisa lagi menahan dan hanyut dalam rayuan bocah yang umurnya dibawahku.
Supaya tidak terlalu larut dalam suasana,akupun permisi sebentar.
"Yan...aku permisi ke toilet dulu!"
"Perlu di antar?"
"Nggak usah!"
Akupun melepaskan pegangan tangannya, dan bergegas pergi menuju toilet.
Kupandangi wajahku dicermin toilet dan aku senyum-senyum sendiri.
"Oh..memang aku sangat cantik"
Lindapun senyum-senyum terus kayak orang gila.
Setelah puas diapun keluar toilet.
Begitu sampai di tempat Septian berada,aku sangat terkejut sekali.
"Tolong...tolong!!
Aku beteriak kencang...
Terlihat meja kursi berantakan dan Septian tergeletak dengan penuh darah.
Segera aku cek kondisinya ternyata hanya pinsan.
Akupun segera menghubungi ambulan untuk secepatnya dibawa kerumah sakit.
Akupun akhinya menunjukkan tanda pengenal ke pemilik cafe.
Semua yang menyaksikan kejadian aku tanyai satu-satu.
Setelah cukup aku bergegas menyusul Septian kerumah sakit
Aku tak tahu alamat keluarganya.
Kuhubungi teman dan guru tidak ada yang tahu juga.
Katanya kalau dia cuma ngontrak kamar.
Akhirnya aku minta tolong temannya Eric untuk nungguin dia di rumah sakit.
Akhirnya aku ketemu dengan alamat kontrakannya.
" astaga!"
Aku kaget karena pintu kontrakannya sudah terbuka dan di dalam sudah di acak-acak orang.
Tidak banyak yang tersisa.
Kuperiksa satu persatu mungkin ada petunjuk yang bisa aku gunakan dan aku pakai.
__ADS_1
Dan mataku tertuju pada sebuah foto ukuran 10R yang tergeletak di lantai.
Kupandangi dan kuteliti tiba-tiba lututku terasa ngilu dan tak mampu menopang tubuhku.