POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
Chapter III, Matinya Saksi Kunci


__ADS_3

Kulihat tubuh Septian masih terbaring di ruang UGD.


Sungguh aku tak tega melihat kondisinya yang tak berdaya.


Sudah dua hari Septian terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri.


Keluarganyapun belum dapat dihubungi.


Siapa sebenarya Septian dan siapa orang-orang yang mau mencelakainya.


Dan yang mengobrak-abrik kontrakannya apa orang yang sama.


Terus apa sebenarnya yang dicari.


Dan foto ini kenapa sangat mirip aku.


Cuma septian yang bisa menjelaskan ini.


Kalau kontrakannya saja di obrak-abrik berarti dia masih di incar


Aku harus menghubungi kepolisian untuk menjaganya.


Berita tentang Septian akhinya heboh di sekolah.


Banyak teman yang merasa kasihan dan simpati,tapi tidak sedikit yang cuek bahkan berharap mati saja.


Aku sendiri orangnya cuek.


Tapi baru kali aku benar-benar kawatir dengannya.


Nampak nafasnya sangat lemah.


Sungguh kondisinya sangat memprihatinkan.


Tak ada keluarga sama sekali yang menunggunya dan hanya teman main dan sekolah yang menjaganya.


Ranti...linda...


Ranti...linda...


Septian mulai sadar dan terus mengigau dengan menyebut nama ranti dan linda.


Siapa sebenarnya Ranti?


Dan kenapa Septian menyebut nama Ranti dan namaku.


Kutanya teman sekolah dan teman mainnya ngak ada satupun yang mengenal nama itu.


Yang kutahu hanya Eric teman terdekat Septian.


Sepertinya Eric punya banyak info tentang Septian dan aku harus mengetahuinya.


"Ric...tolong antar aku sebentar!"


"Ke mana lin!"


Tanya Eric


"Udah ikut saja,biar di tunggu teman sekolahnya dulu."


Akupun pergi bersama Eric, dan sampai tempat sepi kusuruh motornya berhenti.


Kutarik dia ketempat yang cocok, dan nampak Eric heran denganku.


"Ric!...aku merasa ada yang nggak beres dengan kejadian septian.


Sekarang ceritakan apa sebenarnya yang terjadi.?"


"Sory lin..aku nggak ngerti, dan aku juga nggak kenal sama Ranti!..


Kuambil dompet yang berisi identitas asliku dan kutunjukkan pada Erik.


Seketika Erik pucat dan gemetaran.


" sekarang ceritakan semua tentang Septian,Ranti dan sebenarnya Septian sedang bemasalah dengan siapa?.


"Dan ingat! Jaga rahasia identitas aku! Ingat itu!.


Erikpun tak berani membantah lagi.


Dan setelah keadaannya tenang dia bercerita semuanya.


Aku mendengarkan baik-baik ceritanya dan setelah cukup akupun mengajaknya ke Rumah Sakit lagi.


Sekarang setidaknya aku tahu tentang Septian, dan dari mana aku harus memulai mengungkap semuanya.


" alhamdulillah!"


Akhinya Septian siuman dari koma,dan tidak semua orang boleh masuk keruangannya untuk menunggu.


Nampak dia lihat kiri kanan mencoba melihat,dan mengenali tempat dimana dia berada.


"Tenang yan...aku akan menjagamu" bisikku lirih.


Haripun berganti, dan keadaannyapun semakin membaik.


Tetapi untuk mengantisipasi penjagaan tersembunyi masih dilakukan.


Sekitar pukul dua pagi.


Semua pekerja medis dan pasien sudah tertidur.


Dan belum ada jadwal suster kontrol pasien.


Eric yang baru keluar dari toilet kedinginan dan bergegas keruang dimana Septian di rawat.


Dilihatnya ada suster di kamar sedang mempersiapkan peralatannya.


"Jam segini kok ada suster kontrol?


Padahal infus barusan diganti" guman Eric.


Karena ingat pesan linda,Eric jadi curiga dan buru-buru masuk kamar.

__ADS_1


Suster...bukankah?...


Belum selesai bertanya tiba-tiba suster itu balik badan dan menyerang Eric.


Erik yang nggak siap cuma bisa menangkis sebisanya. Dan sebilah pisau berhasil melukai lengan kirinya.


"Tolongg...tolonggg...


Sebelum kena dorong dan jatuh kelantai,Eric masih sempat meraih masker suster itu.


Karena panik dan takut ketangkap suster itupun melarikan diri.


Erik bangkit dan segera menekan alarm.


Aku yang mendapat kabar dari Rumah Sakit langsung datang.


" gimana keadaanmu rik?"


"Aku baik-baik saja,hanya lengan!"


Kemudian Eric menarikku jauh dari keramaian.


"Lin..sepertinya suster yang menyusup semalam aku pernah lihat wajahnya, tapi aku nggak ingat dimana".


Eric menceritakan semua kejadiannya padaku secara detail.


Kini Septian mendapat pengawalan yang ketat, dan aku bersama Eric segera kekantor rumah sakit.


Pihak Rumah Sakit segera memperlihatkan data foto suster,staf dan karyawati lainnya.


Eric dengan teliti memperhatikan tiap wajah di foto.


Setelah diulang tak satupun yang cocok.


Akhirnya rekaman cctv yang kupasang disekolah membuahkan hasil.


Nampak seorang siswi sedang transaksi dengan orang luar di belakang sekolah.


Sayang videonya buram dan aku tak bisa mengenalinya.


Tapi aku tahu, dan harus minta tolong sama siapa.


Akhirnya kutemui bu gayatri,dan kuceritakan semuanya.


Setelah mendapat yang kuinginkan akhirnya aku pamit dan menemui Eric.


Semua foto siswi dan buguru kubawa,dan aku yakin pasti salah satu dari mereka pelakunya.


Belum juga berangkat, dan masih dihalaman sekolah tiba-tiba handphoneku berbunyi dan segera kuangkat.


"Siang bu!"


"Kami menginformasikan bahwa saudara Erik meninggal kasus tabrak lari".


"Ok 86" jawabku singkat


Orang yang bisa mengungkapkan kasus ini sudah meninggal.


Jalannya jadi buntu,dan aku harus hati-hati.


"Sudah cukup"


"Belum ini masih banyak,nanti nggak sembuh-sembuh lo!".


Aku terus merayu Septian agar buburnya di habiskan.


Sejak kejadian ini aku terus kawatir dengan keselamatannya.


Setelah dirawat 20 hari akhirnya dia diperbolehkan pulang.


Banyak temanya sekolah dan teman kerja yang mengantar dia.


Mereka secara bergantian selalu ada dikontrakannya, dan akupun sudah koordinasi dengan RT untuk meningkatkan keamanan.


Jam pelajaran belum dimulai Ita sudah memulai keributan.


Kalau saja tidak menghargai bu gayatri yang merefrensikan aku disini sudah kutampar mulutnya.


" gara-gara ngajak malam mingguan anak yang sok, akhirnya jadi apes deh Septian.!" kata Ita nyinyir.


"Kayaknya mereka cocok deh!


Yang perempuan sok,lakinya tukang narkoba!" Atik menimpali.


"Sudah-sudah!"


Tiba-tiba agus datang dan menghampiriku.


"Lin...kamu harus hati-hati sama Septian.


Semua anak disini sudah tahu siapa dia.


Jangan terlalu dekat dengannya"


Agus mengigatkanku,tapi diam-diam tangannya meraba tanganku, dan aku segera menariknya.


Sepulang sekolah aku langsung ke kontrakan Septian.


Nampak dia sedang ngobrol dengan beberapa temannya.


"Assalamuallaikum"


"Waallaikumsallam" jawab mereka.


"Kebetulan lin,kamu kesini!"


"Emangnya kenapa yan?


Tanyaku padanya.


Septian ingin diantar kebengkel tempat selama ini dia bekerja.


" eehh...eehhh...ngapain kamu?" kataku padanya

__ADS_1


"Mau bonceng kamu,akukan cowok!"


"Eehh gila!..


Lihat kondisi kamu!".


Karena kondisinya belum pulih seratus persen,akhirnya aku yang di depan.


Ditengah perjalanan Septian minta berhenti.


Kepalanya tiba-tiba pusing.


" maaf lin,kepalaku mendadak pusing,boleh aku nyandar kamu?"


Entah kenapa kepalaku langsung menganggukan.


Diatas motor dia terus bersandar dipunggungku dan tangannya merangkul pinggangku.


Ya tuhan!


Apa aku gadis gampangan.


Kenapa aku ngak bisa apa-apa dihadapan cowok ini.


Susuku sudah di obok-obok.


Sekarang enak-enakan dia meluk aku dari belakang.


Nyampai juga akhinya tiba di bengkel yang dituju.


Suasana bengkel tidak seberapa ramai.


Nampak beberapa pelangan yang sedang menunggu servis.


Kubantu Septian turun dari motor,dan berjalan kedalam bengkel.


Semua teman-temannya nampak menyapa, dan kami mengangguk saja.


"Septian!!"


Belum sembuh betul sudah buat naik motor,nanti kalau kenapa-kenapa gimana?


Selama di Rumah sakit pak Hadilah yang sering menjenguk Septian,selain teman sekolahnya.


Bagi Septian Pak hadi sudah seperti ayahnya sendiri.


Disinilah Septian memulai kehidupannya.


"Yan!"


Sementara kamu tinggal di sini dulu biar ada yang ngurus sampai kamu pulih benar.


"Tapi pak! Bagaimana kalau orang-orang itu mencari saya kesini,semua yang disini bisa bahaya.


Aku nggak mau semua dalam bahaya". Septian mencoba menolak.


" nggak akan yan,kamu aman disini.


Yang penting kamu harus cepat sembuh.


Untuk sementara kamu nggak usah sekolah dan keluar dulu"


Akhirnya pak Hadi berhasil membujuk Septian untuk tinggal dirumahnya.


Kamipun mengantar Tian ke kamarnya.


Kini di kamarnya hanya ada kami bedua.


Kamar yang hanya berukuran 3×3m terasa sesak bagi kami berdua.


Didalam kamar cuma ada kasur,bantal,lemari,dan kipas angin kecil.


Lama kami terdiam tak ada bicara,terkadang hanya suara batuk Septian yang terdengar


Namun...


Lin.!..Yan.!...


Terdengar tanpa dikomando kami saling memanggil nama,setelah itu terdengar suara cekikikan kecil kami berdua.


Suasana yang semula tegang menjadi sedikit cair.


"Lin! Tolong nyalakan kipasnya!" pinta Tian masih bersandar di tempat tidur.


Kugeser dudukku untuk menyalakan kipas angin yang sebenarnya lebih dekat Tian,karena kondisinya sakit aku harus mengerti.


"Kriet...kriet..."


Terdengar suara kipas angin bederit,karena kotor dan jarang dipakai.


"Lin !"


Panggilnya lirih sambil memegang tanganku.


Jantungku seakan mau copot.


"Terimakasih ya!"


Kamu sudah banyak membantu saya selama sakit.


Seandainya kamu dia sungguh aku bahagia sekali...


"Aku ingin harapan itu masih ada"...


Tian terus berkata lirih sambil memegang pundakku, dan merebahkan didadanya.


Seketika jantungku bedetak lebih cepat.


Aku benar-benar sudah hanyut dalam perasaan yang tak menentu


Ohhh...


Aku benar-benar mabuk asmara dan semakin menggelora.

__ADS_1


Menjelang maghrip aku permisi pulang.


Pak Hadi mengantarku sampai depan bengkel.


__ADS_2