POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CHAPTER V Mencari Jati Diri


__ADS_3

Selamat siang bu Dyah!.


Perkenalkan saya Linda temannya Ranti.


Kebetulan kemarin saya pinjam uang 3 juta kepada Ranti, dan mohon maaf baru sekarang saya bisa mengmbalikannya.


Karena terlalu sibuk dan alamat yang dikasihkan saya kurang jelas.


Nampak bu Dyah bingung,karena selama ini Ranti tidak pernah pegang uang.bagaimana mungkin Ranti bisa meminjamkan uang ketemannya.


"Selama ini kalau ada waktu, saya minta tolong Ranti menjaga toko saya..


Dan ini adalah gaji Ranti yang selama ini belum saya berikan!".


Kata saya yang langsung memberikan uang 3juta kepada bu Dyah.


"Alhamdulillah!".


Ucap bu Dyah sambil memegang, dan mencium Sinta putrinya.


Terlihat keluar air mata dari mata bu Dyah,matanya seakan menerawang jauh..


"Terima kasih nduk....


Semoga kamu bahagia disana!".


Nampak sedih bu Dyah mengingat ketika Rani masih hidup.


" bu...boleh sedikit saya bertanya?".


"Ya nak,ada apa?" jawab bu Dyah.


"Begini bu...


Saya kenal Rani sudah lama,dan dari perilaku,sifat.


,gaya hidup,semua baik dan rajin sholat.


Sepertinya saya sendiri sangat tidak percaya kalau Rani pengguna narkoba".


Ibu Dyah matanya berlinang, dan aku segera pindah duduk disampingnya.


Dan tak tahu kenapa aku ingin sekali memeluknya.


Entah kenapa tiba-tiba aku memeluk bu Dyah.


Sinta yang duduk dikursi sebelah segera berdiri,


dan kami bertigapun berpelukan sambil berurai air mata.


Kurasakan rasa yang lain.


Rasa yang selama ini belum pernah aku rasakan.


Dahaga yang selama ini kurasa seakan terobati.


Hati ini terasa tenang.


Jiwa ini terasa tentram.


Pelukan kami bertiga seakan tidak mau lepas lagi.


" nak Linda!"


"Hari ini ibu bahagia sekali.


Ibu pernah kehilangan seorang putri,dan hari ini ibu seperti kedatangan dan menemukan anak ibu kembali.


Ibu berharap nak linda mau sering-sering datang kemari".


Bu Dyah begitu bahagia,dan aku juga sangat bahagia.


Dan aku tak mau mengecewakannya.


"Bu!..apa Rani selain Sinta punya saudara, dan dimana suami ibu kok tidak nampak sejak tadi?".


Dengan hati yang lebih tenang,ibu Dyah akhirnya bersedia melanjutkan cerita perjalanan hidupnya.


" hehh...."


" Dulu sebelum menikah dengan ayahnya Sinta,ibu pernah menikah dengan mas farhan.


Dan kami punya anak perempuan kembar.


Sayang pernikahan ibu kandas.


Rani ibu rawat, dan saudara kembarnya dibawa ayahnya.


Ibu tidak tahu kabar mas farhan dan anakku yang bersamanya".


"Nak Linda...


Kenapa menangis?".


Tak kuasa aku menahan air mata ketika ketika bu Dyah menyebut nama ayahku!.


"Ohhh....Tuhan!.


Apa mungkin Ranti itu saudara kembarku?.


Dan berarti bu Dyah ini?...


Ingin segera rasanya kupeluk dan tidak kulepaskan lagi.

__ADS_1


" buk...ini aku anakmu yang lama tak bertemu."


Bisikku dalam hati.


Ingin rasanya kulepas penyamaranku dan kubuka kedokku, tetapi aku sadar sedang bertugas dan harus tuntas.


"Setelah cerai dengan mas farhan,ibu menikah lagi dengan mas suwarno.


Dengan mas suwarno ibu mempunyai anak satu yaitu Sinta".


"La..terus ayahnya Sinta kemana bu kok ngak kelihatan?". Tanyaku penasaran.


" Srupppp!!!!


Bu Dyah meminum tehnya sebelum melanjutkan ceritanya.


"Ibu bercerai dengan ayahnya Ranti karena difitnah oleh Sukri, juragan tanah disini yang sudah lama ingin menikahi ibu.


Karena tidak cinta dan kelakuannya yang tidak baik ibu tidak mau menikah dengannya".


"Pikir Sukri setelah bercerai aku akan bersedia di nikahi olehnya.


Tetapi dia salah,Tiga tahu kemudian ibu menikah dengan mas suwarno dan mempunyai anak Sinta"


Mas suwarno meninggal karena sakit, waktu itu usia Sinta sekitar 4 tahun,setelah itu ibu berjanji tidak akan menikah lagi.


" lo kenapa bu?"


Saat itu ibukan masih muda dan cantik, pasti banyak laki-laki yang mau menikahi ibu!. Tanyaku penasaran.


"Karena fitnah yang dilakukan oleh Sukri, ibu dan mas Farhan jadi salah faham dan sering ribut hingga membuat hancur rumah tangga ibu.


Ibu cuma bisa berharap semoga suatu hari nanti masih bisa bertemu mas farhan dan anakku.


Walaupun mas Suwarno bukan ayah kandung Ranti, tetapi dia memperlakukan seperti anaknya sendiri.


" Nak linda !?...


"Ya bu !


Tiba-tiba ibu Dyah memanggil, dan memegang tanganku.


Tangannya begitu dingin dan gemetar.


" Ibu berharap malam ini nak Linda sudi menginap disini."


Ibu merasa senang sekali dan bahagia dengan kehadiran nak linda.


Ibu merasakan, seakan anak ibu sudah pulang.


"Bu...kak Ranti sudah bahagia disana,jangan di tangisi lagi!".


Hibur Sinta menenangkan ibunya.


Ibu kalau teringat kak Ranti selalu menangis,seakan belum siap,dan belum bisa terima dengan kematian kak Ranti." kata Sinta


"Berarti ibu sangat sayang sama ranti?."..tanyaku pada Sinta.


" ya jelas sangat sayang to kak!".


"Nah...


Kalau benar sayang kenapa jasad Ranti tidak boleh dikubur di sini dan malah ditempat lain?".


Bu Dyah yang mendengar aku bertanya kepada Sinta seperti itu langsung duduk kembali dan berusaha tegar untuk melanjutkan ceritanya.


" nak Linda"


Sejak Ranti dan Septian pacaran, Ranti sangat bahagia.


Apalagi ketika Septian akan mengenalkan pada orang tuanya.


Tapi naas di tengah perjalanan mereka bedua mengalami kecelakaan dan Ranti meninggal dunia.


Ibu tambah sedih karena mereka berdua katanya pecandu dan dalam pengaruh narkoba.


Ibu dan Sinta tidak percaya kalau Ranti seperti itu.


Tetapi juragan Sukri betul-betul sakit hati pada ibu.


Penduduk kampung di hasut supaya jenasah Ranti di tolak karena seorang narkoba.


Penduduk desa percaya, dan jenasah Ranti di kubur ditempat lain


Nampak bu Dyah tak bisa menahan dirinya lagi dan kemudian pingsan...


aku dan Sinta segera mengangkat bu Dyah kekamarnya.


Kusuruh Sinta menjaga ibu,dan kukatakan pada Sinta aku akan menginap disini.


Malam ini benar- benar membuat aku sangat bahagia.


Walau banyak masalah yang ku hadapi nampak tak terasa karena aku menemukan ibu kandungku.


Seorang perempuan yang telah melahirkanku.


"Ranti!..Linda!..Ranti!.."


Aku langsung bergegas ke kamar.


Nampak bu Dyah mengigau memanggil Ranti dan Namaku.


"Linda!...Ranti!...."

__ADS_1


Dia terus mengigau menyebut Ranti dan diriku.


Aku segera duduk di sampingnya dan minta Sinta supaya menyiapkan air dan kain untuk mengompres.


"Bu!...ini linda bu!"


Kubisikkan namaku sambil kupegang tangannya.


Entah kenapa aku juga kurang ngerti,tetapi seakan ibu merasa tenang.


"Ini kak air dan kainnya!'.


Kuterima air dan kain dari sinta,kemudian aku kompress ibu.


Suhu badannyapun turun drastis dan diapun mulai bisa tidur.


Aku tak mau ada apa-apa dengan ibu, dan akupun dan Sinta menjaga dan tidur di kamar ibu.


Pagi menampakkan wajahnya yang cerah.kicau burung bersautan seakan menyongsong kegembiraan di pagi hari.


" kak linda!".


"Ya! Ada apa?" tanyaku pada Sinta.


"Ibu semalam mengigau kok menyebut nama kak Ranti dan kak Linda ya?"


"Biasanya kalau mengigau menyebut nama orang yang di kangeni.


Ibu sama kak Lindakan baru bertemu kemarin


siang,tapi kok menyebut nama kakak?"


"Nggak tahu juga,kenapa ibu mengigau menyebut namaku!".


Jawabku pura-pura tidak mengerti.


Mungkin ibu merasakan kalau aku anaknya.


Bagaimanapun juga dia mengandungku selama 9 bulan dan pernah menyusui.


Secara alami ikatan batin diantara kami sangat kuat.


Aku selalu mengingatkan diriku,kalau aku sedang menyamar jadi untuk sementara kepentinganku sendiri aku abaikan.


" Sin! Kakak minta pamit karena ada urusan yang harus aku selesaikan".


"Loo kak! Apa tidak tunggu ibu bangun?."


"Jangan di ganggu ibu ,biar puas tidunya.


Salam sama ibu,dan kakak akan sering main kesini".


" hati-hati dijalan kak!".


" kamu juga Sin!".


Akupun memacu motorku pulang.


Dalam perjalanan yang ada hanya senyum dan senyum


"Terima kasih Tuhan!"


Kau pertemukan aku dengan ibuku,dan jika Engkau mengabulkan,pertemukan ayah dan ibuku...Amin!.


Hari senin aku tidak masuk sekolah.


Sementara aku ingin di rumah beristirahat sambil menganalisa hasil penyelidikanku.


Banyak sudah kejadian-kejadian yang aku alami.


"San, Kok dirumah! emang nggak sekolah?"


"Tidak paman!" jawabku singkat.


Jam sudah menunjukkan pukul 13.20.


Aku meluncur ke rumah pak Hadi.banyak yang ingin aku tanyakan sama Septian.


Aku yakin dari Septian banyak informasi yang bisa saya dapatkan.


Di tengah jalan handphoneku berbunyi.segera kupinggirkan motorku.


Dan kulihat identitas penelepon.


Aku segera mengangkat telepon..


"Siang ndan"


" 10,2"


"10,2 jl.hasanudin".


" 10,7 jl.merdeka."


Srigala berburu.


"Siap ndan,86."


Aku segera menutup telepon,dan segera kupacu motorku ke jl merdeka.


Di sana sudah ada rekan-rekanku yang sudah stand by.


Kamipun mencari posisi yang bagus untuk penggrebekan.

__ADS_1


__ADS_2