POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XVlll Pertarungan Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Para pengawa Sukri berhamburan.


Semua team yang sudah siap dari tadi langsung keluar sarang.


Para team menyergap dari arah barat, timur, selatan, utara, gudang, dan rumah Sukri.


Para pengawal Sukri tidak mau menyerah begitu saja, bahkan diantara mereka ada yang mengunakan senjata api.


Akhirnya petugas melumpuhkannya dengan menembak kakinya dan bagian yang tidak Vital.


Aku segera menghubungi Lettu Simanjuntak agar pengrebekan di perusahaan ibu Lilik dilaksanakan segera.


Juragan Sukri yang hendak lari kesamping Rumah segera di hadang oleh ayah.


" Sukri..kamu sudah menfitnah istriku hingga keluargaku berantakan".


"Tapi..tapi kenapa kamu bersama polisi?!".


Nampak juragan Sukri heran dan aku segera membuka penyamaranku.


" Ranti..kamu masih hidup.


Tidak..tidak mungkin, kamu sudah mati..".


Ayah yang sudah dalam keadaan emosi segera menyerang juragan sukri.


Tetapi memang juragan Sukri tidak bisa diremehkan.akhirnya kami membiarkan ayah dan juragan Sukri bertarung.


Sementara nampak om hamid dan septian sedang bertarung dengan pengawal juragan Sukri didepan gudang.


Karena sedikit lengah memperhatikan pertarungan, pak Victor berhasil merebut senjata petugas dan berusaha kabur dengan naik sepeda motor yang ada disitu.


Aku yang tidak mau buruanku kabur segera mengarahkan pistolku ke roda belakang.


"Dorrr..dorrrr!"


Nampak sepeda motor yang dikendarai pak Victor tidak bisa dikendalikan setelah roda belakangnya diterjang peluru pistolku.


Motor melaju kearah sungai dan aku berlari mengejarnya.


Tragis...


Nampak tubuh pak Victor tergeletak dan kepalanya penuh darah terbentur batu.


Aku segera memerintahkan petugas mengangkat mayatnya.


Nampak semua pengawal dan pekerja juragan Sukri sudah berhasil di tangkap.


Sementara ayahpun dengan tendangan pamungkasnya berhasil merontokkan beberapa


Gigi juragan Sukri hingga tersungkur kesakitan.


Akupun menyuruh petugas segera mendata dan menanyakan anggota pengawal juragan Sukri yang sedang libur segera jemput dengan paksa dan cepat.


Beberapa menit kemudian datang beberapa mobil dari Polres dan polsek serta Mabes.


Aku segera menemui kapten Anton.


"Kapten kita harus menyelamatkan secepatnya dokumen penting, sebab ada beberapa oknum terlibat, terutama polsek.


" Betul Letnan!".


Kamipun segera memerintahkan orang dari Mabes untuk menyimpan dan mengawasi dokumen-dokumen penting jangan sampai ada yang tercecer.


"Siang Letnan kami dapat perintah untuk segera mengamankan dokumen untuk dibawa ke Polsek".


" Mohon maaf, seluruh bukti dan Dokumen sudah diambil alih oleh Mabes, jadi tolong anda jangan mempersulit!".


"Tapi Letnan daerah Bumi Asih masuk dalam wilayah Polsek Mojawarno jadi sebelum diserahkan keatas perlu dan harus dibawa ke Polsek dulu!".


Aku yang melihat kengototan petugas Polsek segera maju dan mengatakan dengan keras.


" Sudah kukatakan sejak tadi kasus ini sudah jadi wewenang Mabes, kalau anda masih ngotot saya bisa perintahkan petugas untuk menangkap anda karena menghalangi kami dalam menjalankan tugas negara!".


Begitu aku gertak petugas polisi dari Polsek Mojowarno itu langsung mundur.


Tak beberapa lama Lettu Simanjuntak menelepon dan mengabarkan bahwa penggrebekan yang dilaksanakan diperusahaan ibu Lilik selesai dan berhasil mengamankan barang bukti narkoba siap kirim dalam jumlah yang sangat besar.


Sungguh hari yang melelahkan.


Sampai malam kami masih bekerja.


Banyak warga kampung yang menyaksikan.

__ADS_1


Bahkan ada yang berbisik Arwah Ranti balas dendam.


Tepat pukul tujuh malam rombongan yang dipimpin langsung oleh Irjen Didik datang membawa mobil bok untuk mengangkut barang bukti dan dokumen.


Serta mobil truk untuk membawa tahanan.


Nampak Irjen Didik berjalan kearahku, dan aku segera menyambutnya.


" Malam ndan!".


"Malam letnan!


Analisa tepat, rencana akurat dan penggrebekan mantap, sungguh luar biasa Letnan!".


" Terma kasih Ndan!.


Pak Didikpun memerintahkan mengawasi semua sampai benar-benar tuntas.


Pukul sembilan malam aku mendengar ada keributan dijalan arah selatan, dan nampak ada petugas menghadapku.


" Maaf Letnan ada gadis namanya Sinta ngotot mau masuk area steril!".


Aku yang mendengar kabar itu langsung ke lokasi kejadian.


"Kak Santi!"


"Sinta?!".


Nampak sinta datang bersama seorang mengendarai motor roda tiga.


" kak Santi"


Ibu bersama warga kampung membuat ini untuk teman-teman kakak.


Ada kopi, teh, kue dan lainnya".


"Wah mantap letnan!".


Sahut beberapa teman polisi.


Akupun segera memerintahkan teman-teman untuk segera menurunkan oleh-oleh dari Sinta, dan tetap harus tetap waspada.


" Ayah, om, Septian tugas sudah selesai.


Sekarang pulang kerumah ibu bareng Sinta ya!?'


Sekelebat ada perempuan tua melempar sesuatu padaku, hampir saja aku menendangnya.


" bunga???!".


"Ranti..aku tahu kamu anak yang baik, dendammu sudah terbalaskan sekarang kembali kealammu ya nak"!.


Nampak Septian, om Hamid dan Ayah senyum dan nahan tawa.


Aku segera berjongkok didepan wanita tua ini dan memegang tangannya.


" Nek, aku Santi saudara kembar Ranti.


Ranti sudah tenang disana.!"


Akupun memeluk wanita tua ini dan diapun menangis.


Akupun juga menjelaskan kepada warga yang ada disitu bahwa saya Santi saudara kembar Ranti.


Akhirnya pukul tiga pagi semua beres.


Akupun pulang dengan diantar oleh petugas dari mabes pulang kerumah.


Aku benar-benar capek dan cuci muka langsung tidur.


Baru pukul tujuh pagi aku mendengar suara berisik diluar.


Aku kaget sekali banyak penduduk kampung pada ngumpul didepan rumah, dan nampak beberapa wartawan berusaha menemuiku.


Aku minta tolong kepada Septian untuk menutup pintu.


"Kau yang terindah.."


Aku segera mengangkat telepon dari Kapten Anton.


Dia mengucapkan selamat dan memberiku cuti dua hari.


Karena terlalu capek aku tidur lagi.

__ADS_1


Menjelang maghrip aku bangun.


Nampak didepan ada beberapa warga datang bertamu.


Sebagian dari mereka teman-teman lama ayah.


Nampak ayah gembira sekali bisa bertemu dengan teman-teman lamanya.


"San..Santi!


Cepat kemari..cepat!


Aku bergegas ketempat Septian memanggil.


Rupanya di TV irjen Didik sedang coference pers tentang pengrebekan kemarin.


Irjen Didik TV sering menyebut namaku dengan kalimat "Letnan Santi Polwan Cantik dan Tangguh"


Aku sangat senang sekali mendengarnya.


Irjen Didik juga mengatakan tentang penangkapan bu Lilik sebagai gembong narkoba dengan omzet trilyunan rupiah.


Beliau juga mengatakan suksesnya penggrebekan tak luput dari bantuan "Team Bayangan". Yang berasal dari warga sipil terlatih.


Nampak Septian, om Hamid dan Ayah senang sekali melihat berita di TV " Team Bayangan" di sebut.


Saat ini daerah Bumi Asih benar-benar jadi buruan para pencari berita.


Tiap hari ada saja wartawan yang datang kerumah tetapi aku tidak mau memberi komentar.


Setelah menginap satu hari Ayah, om Hamid dan Septian pamit pulang.


Semetara aku masih ingin tinggal bersama ibu.


Semenjak kasus penggrebekan dan tertangkapnya juragan Sukri warga Bumi Asih sangat senang sekali.


Karena selain pengedar narkoba juragan Sukri juga terkenal sebagai rentenir yang kejam dan tega.


Karena merasa terbantu ada saja warga desa yang kerumah bawa sesuatu sebagai ungkapan terima kasih.


"Buk..coba lihat, mau diapain barang begitu banyak pemberian warga?".


" nggak tahu San, ibu sendiri bingung.!?


Kalau menolak mereka pada tersinggung!".


"Gampang kak..buk!


Bawa saja ke masjid nanti biar dibagikan kepada yang kurang mampu sama pengurus masjid".


" Benar juga usulmu Sin!".


Haripun berganti dan aku harus kembali kerumah paman.


" bu..sebentar lagi Septian datang menjemputku, aku punya sedikit uang untuk keperluan ibuk!".


"Tidak usah San, kamu simpan saja". Kata ibu menolak.


" Kenapa bu?" Tanyaku heran.


" Maaf San, ibu kemarin menerima pemberian uang ayahmu!".


Aku langsung merangkul ibuk.berarti ibuk sudah benar-benar mau rujuk sama ayah.


Septianpun datang tepat waktu, dan aku langsung minta pamit pulang sama ibu dan Sinta.


Ditengah perjalanan aku merangkul pinggang Septian.


Melewati daerah persawahan


Sesekali aku cubit pinggangnya, karena geli motorpun oleng kiri kanan.


" San jangan! geli, bisa jatuh nanti?!".


Akupun terus menggodanya sampai dia nggak tahan dan segera meminggirkan dan menghentikan motornya.


Akupun segera lari menggodanya, dan Septianpun mengejarku.


"Ayo kejar aku!"


"Awas ya kalau ketangkap bakal aku cium!?"


Akupun berlari kedaerah persawahan.

__ADS_1


Karena capek akupun berhenti digubuk dan Septianpun menangkapku.


Akupun merebahkan tubuhku digubuk kecil itu.


__ADS_2