POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
Chapter XIII Cinta Segitiga


__ADS_3

Muka ayah benar-benar menegang dan raut mukanya seketika berubah.


"Yah..kemarin Santi bilang, ayah punya hutang penjelasan tentang daerah Bumi Asih, tetapi kenapa ayah malah diam?".


" San,..ayah tidak tahu,apa yang harus ayah ceritakan.


Sepertinya kamu sudah tahu semuanya.


Bahkan kamu lebih tahu keadaannya sekarang di sana!".


Nampak ayah bingung mau menjelaskan apa kepadaku, karena aku sudah mengetahui semuanya.


Sekarang yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana ayah tahu yang sebenarnya dan mau rujuk dan memaafkan ibu.


"Yah...Sebenarnya Santi sudah tahu semuanya tentang ibu,dan juga saudara kembarku yang bernama Ranti."


Aku menceritakan semua fitnah yang dilakukan juragan Sukri untuk merusak rumah tangga ayah dan ibu.


Nampak mata ayah berkaca-kaca mendengar aku bercerita kalau ibu masih mencintai ayah dan memohon maaf ayah.


Aku juga menceritakan tentang hubungan Septian dan Ranti yang meninggal dengan membawa fitnah dari juragan Sukri.


mereka bedua di fitnah sebagai pemakai narkoba.


"Bug...buggg!"


Ayah memukul tempat tidurku.


Nampak ayah emosi dengan yang telah dilakukan juragan Sukri.


"Dyah...maafkan aku, karena aku tidak mempercayaimu".


"Yah,..aku ingin besok mengantar ayah kemakam Ranti.


Dia dimakamkan didekat sini.


Jam sembilan pagi, aku dan ayah sudah tiba dimakam.


Aku segera menunjukkan makam Ranti.


Tapi Rupanya Septian juga berada disitu.


" pagi om...Santi...!"


"Pagi Yan". Kata ayah


Septian menyapa kami berdua, tetapi aku diam saja.


Masih terasa sakit didada ini.


Akupun menunjukkan kuburan Ranti, yang kebetulan Septianpun sedang berada disitu.


Setelah semua selesai ayah menghampiri Septian.


"Yan...om tahu kalian ada masalah, segera selesaikan dan nanti antar anak om pulang.


" ayah,..tapi.!?"


Ayah langsung pergi sambil melambaikan tangan.


Sementara septian masih duduk jongkok dikuburan Ranti.


Lama aku diam sambil memainkan bunga kamboja yang banyak jatuh berguguran diarea makam.


"San!"...


Septian meraih tanganku dan mengajak duduk disamping makam Ranti.


Untuk beberapa saat Septian diam membisu seakan binggung apa yang akan diucapkan.


" aahhhh..,..."


"San, sengaja aku datang ke makam Ranti, untuk mencari jawaban tentang perasaanku".


"Apa salah jika aku sekarang mencintai kembaran Ranti?.


Aku tidak bisa terus begini, dan aku harus mengambil keputusan kalau aku sekarang mencintai kamu, bukan Ranti".


"Aku nggak tahu, kamu menganggap aku anak kecil yang pantas menjadi adikmu,


Atau kamu menganggap aku pacar, dan menerima cintaku.


Itu semua keputusanmu".


"Aku akan buktikan kalau aku mencintaimu, dan akan setia untuk menunggumu membuka hati untukku".


Seakan bibirku terkatup tak bergerak,mataku mulai berkaca-kaca apa benar Septian benar-benar lepas dari bayangan Ranti.


Apa benar dia mencintaiku.


Akupun bimbang apa aku bisa mencintai cowok yang lebih muda dariku.


"San...!"


"Yan...maafkan aku.


aku masih belum yakin tentang semua ini.


Sekarang antar aku pulang,aku capek"!.


Septianpun tanpa banyak bicara langsung mengantarku pulang.


Setelah mengantar diapun langsung permisi pulang.


Beberapa hari ini pikiranku betul-betul kacau, mau melakukan apa-apa terasa malas,bayang-bayang Septian seolah-olah menari dipikiranku.


Baru beberapa hari tidak bertemu sudah kayak begini rasanya.


Aku benar-benar kangen dan ingin bertemu dengannya.


Sudah beberapa hari ini Septian tidak main kesini.


Apakah pantas sebagai perempuan aku menemui Septian kerumahnya.


Pikiranku terus berkecamuk tak menentu,tetapi...


Akhirnya aku punya ide untuk Mengurangi rasa kangen ini. Hari ini aku sengaja memasak masakan spesial kesukaan om Hamid dan tante Rina.


" Assallamuallaikum!".


Berhubung lama nggak ada jawaban,akupun langsung masuk kedalam,dan aku sangat terkejut begitu sampai diruang tengah.


Ya Tuhan!..aku kesini ingin mengobati, dan mengurangi rasa kangen, tetapi malah sakit hati yang aku dapatkan.


Aku melihat Septian dan Vera sedang ngobrol sambil nonton TV.


Mereka berdua nampak akrab dan mesra sekali.


Aku benar-benar tak bisa melihat semua ini, dan akupun berencana pulang saja.

__ADS_1


Namun ketika aku akan balik badan,tiba-tiba..


"San!..."


Septian memanggilku dan terus menghampiriku.


kemudian memegang masakan yang aku bawa.


" hemmm...baunya harum sekali.


Ini untukku atau mama?".


"Untuk tante Rina dan om hamid" jawabku pendek.


"Pa!...ma!...


Ada calon menantu datang membawa makanan".


Kemudian dengan membawa masakan,dia menggandengku tanpa perduli ada Vera disitu.


Aku kaget dengan omongan Septian, tetapi hatiku sangat senang sekali mendengarnya.


Kulirik Vera mukanya masam mendengar Septian ngomong seperti itu.


" Eh..calon mantu!, ayo kedapur sama tante!"


Akupun mengikuti tante Rina kedapur.


Baru beberapa menit Septian menyusul kami kedapur.


"Lo..kok temannya ditinggal didepan sendirian? "Tanya tante Rina


" sudah pulang ma! Jawab Septian sambil mengambil nasi


Dan nampak dia celingukkan seperti orang kebingungan, akupun segera mengambilkan lauk dan sayur yang aku bawa dari rumah.


"Eh...makan didapur kok diam-diam saja".


Tiba-tiba om Hamid datang.


" enak pa! Yang memasak Santi!.


Hatiku senang Septian memuji masakanku.


Semenjak kejadian itu hatiku terasa berbunga-bunga.


Setidaknya aku tahu Septian hanya menganggap Vera sebagai teman saja, tetapi Septian bisa saja berubah jika Vera terus merayu dan cari perhatian.


Tok..tok..tok..tok...


" ya sebentar!"


"San..cepat bangun, ada tamu!


Pagi- pagi ayah sudah membangunkanku.


Aku segera keluar kamar untuk menemui ayah.


" ada apa yah? Tanyaku.


"Cepat mandi, tuh Septian nunggu didepan"


Akupun segera mandi.


"Ngapain Septian pagi-pagi kemari?." pikirku dalam hati.


"Halo San" sapa Tian.


Tanyaku.


"Aku ingin ngajak kamu keluar San?"


"Kemana?"


"Sudah, ikut saja! Nanti juga tahu".


Kata Septian membuat aku penasaran.


Setelah ijin sama Ayah dan paman, kamipun berangkat entah kemana yang penting aku senang bersamanya.


" lo Yan..inikan cafe.."


"Ya! Cafe tempat aku di hajar sampai bonyok!."


"Terus ngapain kita kesini lagi?"


Tanyaku penasaran


Septian diam saja.


Tangannya menggandengku menuju meja yang banyak dihiasi bunga.


Kemudian septian menarik kursi dan menyuruhku duduk.


"Tuan putri mau pesan apa?


" minum saja" jawabku pendek.


Tidak beberapa lama para pelayan datang membawa minuman pesananku dan beberapa hidangan lainnya.


Kemudian tangan Septian memegang tanganku lagi seperti dulu.


"San...aku mencintai kamu.


Apa kamu mau jadi pacarku?"


Tiba-tiba dadaku sesak, jantungku terasa berdetak kencang sekali.


Tetapi aku harus menjawabnya.


"Ya..aku juga cinta sama kamu Yan, aku mau jadi pacarmu!."


"Betul San, kamu mau jadi pacarku?"


Aku hanya mengangguk.


"Berarti sekarang kita resmi pacaran? Tanya Septian belum yakin dengan jawabanku.


" Iyaaaa...kita pacaran! Jawabku sambil mencubit pipinya.


Begitu bahagia rasanya kami berdua,semoga cinta ini terus tumbuh.


Kini hari-hariku terasa bahagia.


Orang yang aku cintai sekarang


Sudah jadi pacarku.


Waktu untuk melanjutkan penyelidikan kasus narkoba akhinya dilanjukan, setelah kapten Anton dan anggota yang lain dapat bukti tambahan.

__ADS_1


Sebelum " Team Bayangan" bertugas aku ingin menyelesaikan permasalahan ayah dan ibuku.


Sebelum mereka bertemu, aku ingin menemui ibu sambil mencari informasi yang didapat oleh Sinta adikku.


Sebelum aku berangkat, aku terlebih dahulu menghubungi Sinta lewat telepon


"Halo assallamualaikum!".


" waallaikumssallam!"


Kamipun ngobrol lewat handpone, Sinta mengabarkan kalau keadaannya sama ibu baik-baik saja.


Tanpa menunggu berlama-lama aku langsung memacu motorku supaya cepat sampai kerumah ibu.


Entah perasaanku saja atau memang benar seakan-akan ada mobil sedan yang dari tadi mengikutiku.


Begitu sampai ditempat yang lalu lalu lintasnya tidak ramai tiba-tiba mobil itu menyalip dan memotong jalanku.


Aku hampir saja menabrak mobil itu kalau saja aku tidak mengerem dengan cepat.


"Kurang ajar, orang main potong jalan saja!".


Kemudian keluar dari mobil cewek cantik yang belum lama aku kenal.


" halo San, apa kabar?.


Maaf memotong jalanmu,ada yang harus aku katakan kepadamu".


"Kamu Vera!?..


Kenapa harus memotong jalan? Bahaya tahu!"


Aku kesal dengan cara dia menghentikanku.


"San!..


Aku cuma ingin mengingatkan kamu mulai sekarang jauhi Septian!".


" memangnya kamu siapa?


Pacarnya? Kok nyuruh aku menjauhi Septian!".


Jawabku dengan sangat kesal.


Dengan muka emosi Vera menghampiriku dan menarik bajuku serta terus mengancamku,


"Kalau kamu masih nekat dekat dengan Septian, kamu tanggung sendiri akibatnya!".


Vera yang marah mengancam dan mendorongku hingga aku hampir jatuh.


Aku yang sudah mulai emosi segera maju dan menunjuk-nunjuk muka Vera


" Asal tahu ya Ver!


Aku sama Septian sudah jadian dan sekarang aku pacarnya.


Jadi kamu nggak perlu repot-repot ngurusin aku dan Septian".


Mendengar aku mengatakan seperti itu nampak Vera tambah emosi dan ngomong padaku tambah keras mengancamku.


"Kalau kamu tidak segera putus dan menjauh dengan septian, awas kamu.


Aku bisa menyakitimu dan juga bisa membuat kamu dipindah tugaskan ketempat lain".


" awas kalau masih sama Septian!".


Akhinya pergi juga Vera sambil mengancamku.


Akupun tidak habis pikir kenapa Vera harus mengancamku dan tidak bisa terima kalau aku sudah pacaran sama Septian.


Aku segera bergegas memacu motorku dan tidak memperdulikan lagi ancaman Vera.


Bagiku ancaman ancaman Vera tidak akan merubah sikapku pada Septian.


"Kak Santi,..


Kok kak santi tidak menyamar?".


Aku yang menyadari langsung lari masuk kerumah supaya tidak dilihat orang.


Gara-gara bersitegang dengan Vera tadi aku lupa pakai penyamaranku.


Untung saja aku pakai helm dan tidak ada orang yang melihat di sekitar daerah ibu.


" untung saja kamu ingatkan tadi Sin,


kakak tidak sadar kalau belum memakai penyamaran"


"Lo.. San! Kapan datang?"


Tanya ibu yang muncul dari ruang tengah.


"Barusan bu!".


Akupun segera mengajak ibu duduk dikursi, dan akupun menyampaikan tujuannku kesini selain karena kangen.


Akupun mengatakan kepada ibu kalau ayah sudah saya ceritakan semua tentang ibu dan fitnah yang dilakukan oleh juragan Sukri.


" bu..sampai sekarang ayah tidak menikah karena masih sangat mencitai ibu dan berharap bisa bertemu ibu secepatnya".


Nampak ibu matanya mulai berkaca-kaca, seakan teringat kejadian kejadian ketika masih bersama ayah.


"San..seandainya masih ada kesempatan untuk mengulang waktu, ibu ingin kebahagiaan itu datang lagi".


" Ya bu, aku ingin harapan itu akan segera datang".


"Aminnn".


Waktupun berlalu dan Sintapun menceritakan semua yang dia ketahui tentang aktifitas juragan sukri dan anak buahnya.


"Kak, sepertinya pekerjaan dan usaha juragan Sukri sah-sah saja dan tidak ada yang mencurigakan.


sebab ketika ada polisi yang datang pakai mobil, juragan Sukri dan polisi itu ketawa-tawa kelihatan tidak ada masalah".


" justru itu Sin..kakak kemari ingin mengetahui siapa polisi itu.


Karena setelah kakak selidiki terus, kakak mncurigai ada polisi yang terlibat dalam


mata rantai jaringan narkoba ini".


"Permisi!".


"Eh...bang Samsul, tambah ganteng saja.


gimana kabarnya bang?".


"Baik ning linda!".


"Bosen dirumah terus bang!

__ADS_1


Ajak linda jalan- jalan dong!?".


Setelah aku rayu akhirnya dia mau juga mengajak aku ketempat kerjanya.


__ADS_2