
Sudah hampir 2 jam kami menunggu belum juga ada tanda-tanda yang kami cari.
Apa mungkin informasi yang kami dapat salah.
Ditengah kegundahan hati rekan-rekan pengintai tak beberapa lama ada sesuatu yang membuat kami curiga.
Seorang laki-laki nampak mencurigakan sekali, seperti sedang menunggu seseorang ditempat yang agak tersembunyi.
Dan tidak lama kemudian nampak seorang perempuan dengan baju merah celana biru menghampiri laki-laki tadi.
Terlihat keduanya seperti mengamati kiri kanan.
Posisi perempuan itu membelakangiku,sehigga aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.
" ayo berbalik,please"
Pikirku dalam hati, berharap supaya nampak wajahnya dan dapat mengenalinya.
Aku terus mengamatinya dan terlihat si perempuan menerima barang dari laki-laki itu.
Belum lama berselang terdengar teriakan...
"Jangan bergerak!....
Angkat tangan!...".
Akupun sedikit kaget, karena salah satu rekanku terlalu cepat dalam begerak dan menyergap target.
Target akhirnya lari ke dua arah yang berbeda.
Petugas melepaskan tembakan peringatan
aku segera mengejar target perempuan karena dia lari kearah pertokoan yang lebih dekat denganku.
Sementara target laki-laki, karena merasa tepojok melepaskan tembakan, dan salah satu rekan kami tertembak dibagian lengan.
Mengetahui target melawan dengan menggunakan senjata api, rekan petugas lainpun melepaskan tembakan dan target bisa dilumpuhkan.
Sementara aku dan dua orang rekan yang memgejar target perempuan kehilagan jejak.
Dia menghilang diarea pertokoan dan swalayan.
Karena banyaknya orang yang lalu lalang membuat kami kesulitan.
Akhinya kamipun berpencar untuk memperluas area pencarian.
Kuamati semua sudut, tetapi aku tidak menemukan tanda-tanda target berada.
Kemudian aku berfikir sejenak hendak mencari kemana lagi.
Ketika akan mengecek daerah sekitar mall aku lihat Ita teman sekelasku lagi keluar mall masih memakai seragam sekolah.
Aku segera menyembunyikan pistolku.
"He It...habis belanja ya?"
Tanyaku basa-basi.
"Ya..iyalah!"
Katanya sambil pergi.
Sejak kenal dengan Ita,aku memang tidak cocok dan sering adu mulut.
Ketika aku akan melanjutkan pencarian,tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Tadi Ita keluar mall membawa tas besar,dan badannya berkeringat serta nafasnya lebih cepat."
Jangan-jangan?..
Pikirku dalam hati.
Akupun segera berbalik mencari Ita,tetapi dia sudah pergi dan tak bisa aku temukan lagi.
Akhirnya orang yang berhasil di tangkap petugas meninggal sebelum sampai Rumah Sakit.
Dibalik bajunya di temukan beberapa paket narkoba jenis heroin kelas A.
Pikiranku benar-benar kalut, penyamaran dan penyelidikan yang aku lakukan terasa mandek, dan jalan di tempat.
Semua saksi yang bisa memberikan informasi dalam kasus yang kutangani selalu saja meninggal.
Aku merasa pelaku buruan kami sudah satu langkah didepan.
Sepertinya mereka sudah mengetahui pergerakan dan cara kerja kami.
Saya harus merubah strategi, supaya pelaku tidak bisa menebak pergerakanku.
Waktu yang sudah kami tentukanpun tiba.saya harus datang tepat waktu untuk membahas langkah-langkah yang diperlukan guna memutus mata rantai peredaran narkoba di sekolah.
Tepat pukul 9 pagi,akupun sudah sampai dilokasi yang telah disepakati yaitu di rumah pak Dedik.
Kami sepakat mengajak pak Dedik karena sudah percaya padanya.
Dia bekerja sebagai tukang kebun di sekolahan kami.
Begitu kami tiba dirumah pak Dedik sudah ada Septian yang datang lebih dulu.
"Halo Lin..gimana kabarmu?" sapanya.
"Baik..
Gimana juga kabarmu Yan?" tanyaku balik.
Kamipun ngobrol ringan sambil menunggu satu lagi teman yang belum datang.
Sebenarnya saat ini aku hanya ingin berdua saja dengan septian.
Setiap hari rasanya ingin bertemu dan kangen sekali.
"Oalahh...mikir apa aku!" gumanku dalam hati.
Padahal akukan bukan pacarnya.
Jangan-jangan aku hanya sebagai pelampiasan karena di tinggal Ranti kembaranku.
"Pagi semuanya!"
"Pagi bu"
jawab kami ketika bu Gayatri datang memberi salam.
Akhirnya team kecil yang aku bentuk sudah hadir semua,dan akupun memanggil pak Dedik supaya ikut bergabung membahas langkah-langkah berikutnya.
"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada bu Gayatri, pak Dedik dan mas Septian yang sudi hadir".
Akupun menjelaskan tugas dan membagi tugas masing-masing supaya terlaksana dengan baik.
Nampak semua setuju dengan rencanaku dan yakin akan berhasil.
" itulah rencana kita,dan aku berharap hati-hati karena ini sudah melibatkan jaringan besar lebih dari yang kita perkirakan".
Setelah semua paham dan mengerti,akupun membubarkan pertemuan.
Aku dan Septian segera meluncur kerumah pak Hadi untuk mengambil sesuatu.
Aku sengaja tidak melapor ke komandan dalam pembentukan team ini, karena rencana yang saya bentuk diluar jalur resmi yang sudah ditetapkan.
Sesampai di rumah pak Hadi kami langsung kekamar Tian.
Nampak Tian mengambil beberapa barang dan di masukkan dalam tas.
__ADS_1
"Yan, bawa barang seperlunya saja!" kataku padanya.
Dia tak menjawab dan...
"Emm..emm ahhh!
Tiba-tiba Tian berdiri dan menciumku.
Aku kaget dan tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Tubuhku bergetar hebat dan beberapa saat aku diam saja.
" uuhhh..apa-apaan kamu Yan, lepasss..!"
Kudorong Tian dan kemudian kutampar pipinya.
"Apa-apaan kamu ini, apa yang telah kaulakukan padaku!?".
Aku marah padanya karena diperlakukan seperti tadi.
Seumur-umur baru kali ini aku dicium laki-laki.
Aku begitu kaget walaupun sebenarnya..
Oh Tuhan..jangan!!!
" maaf Lin!
Nanti seandainya terjadi apa-apa denganku aku tidak menyesal,karena sudah berhasil mencium kamu".
Jawabnya enteng saja sambil senyum-senyum menggodaku.
"Aku bisa menangkapmu karena sudah melecehkan dan memperlakukanku tidak baik!".
Ancamku pada Tyan.
Tian maju kehadapanku dan menyerahkan kedua tangannya padaku
" kalau ini membuat kamu bahagia borgol aku, dan penjarakan aku dalam hatimu yang terdalam!".
Aku betul-betul salah tingkah dibuatnya.
Kuancam biar tidak macam-macam malah merayu dan nggombal.
Kudorong dia mundur dan sambil senyum-senyum kutinggalkan dia sendiri.
Aku duduk-duduk di teras belakang rumah.
Sambil senyum-senyum mengingat yang barusan Septian lakukan padaku.
Terasa angin menerpa tubuhku dan membuat nyaman sekali.
Kuangkat kedua tanganku ke atas dan kepala kurebahkan kebelakang sambil terpejam.
Terasa ringan sekali beban yang selama ini aku bawa.
Tetapi...
Aku merasa seperti bermimpi,walau aku sadar aku tidak tidur.
Aku merasakan Bibirku dicium seseorang dengan lembut.
Aku tak berani membuka mataku karena malu atau terhanyut dalam buaian.
Dengan mata masih terpejam kurasakan payudara kananku diremas lembut dan bibirku masih dikulumnya.
Aku meresapi ciuman dan remasan tangannya.
Darahku terasa mengalir sangat cepat.
Tak tahu sudah berapa lama aku terbuai,akhinya kuberanikan diri membuka mata untuk mengetahui dan berharap Septian yang melakukannya padaku.
Ya tuhan apa yang sudah terjadi padaku.
Mengetahui aku membuka mata,dia melepaskan ciumannya dan remasannya padaku dengan sangat perlahan-lahan.
Aku kaget tetapi berharap Sepetian tidak menghentikannya.
Nampak matanya sayu dan kemudian dia duduk dilantai membelakangiku.
Aku tak tahu perasaanku saat itu.
Marah,benci,jengkel ,suka jadi satu.
Aku benar-benar merasa dilecehkan sama dia hari ini.
Ingin rasanya kumaki,kutendang dan kutampar lagi dia.
Tapi aku hanya bisa diam membisu seperti kerbau bodoh.
"Maafkan aku Lin,
Aku tidak akan melakukannya lagi!".
Ucap Tian masih membelakangiku.
" hidupku sudah hancur...
Orang tua sudah mengusirku.
Kekasihpun meninggalkanku dan dirikupun jadi incaran orang-orang yang tidak kukenal".
Semua yang didekatku meninggal,dan aku tidak ingin kamu nasibnya seperti yang lain.
Tetapi sebagai Polwan tak mungkin aku memintamu untuk pergi, dan keluar dari kasus ini.
Aku sudah siap kalau harus mati hari ini,tetapi aku tidak mau orang- orang di dekatku celaka.
Aku beranjak dari kursi dan berpindah dilantai di samping Tian.
Entah kenapa aku jadi kasihan sekali dengannya.
Rasa benci,jengkel seolah hilang begitu saja.
Kupegang tangan kirinya,dan akupun menyemangatinya.
"Yan...
Aku yakin sebentar lagi semua akan baik-baik saja".
Yang penting mulai sekarang kita fokus dan hati-hati.
Entah kenapa tatapan Tian seakan masuk kedalam relung jiwaku.
Entah kenapa pegangan tanganku berpindah memegang wajahnya dan...
Entah kenapa sekarang ganti aku yang menciumnya.
Aku begitu menikmati, dan kupeluk Tian begitu hangat.
Kami berpelukan beberapa saat dan sangat menikmatinya.
"Entah kenapa!...."
"Reng...reng...reng........"
Terdengar montir motor pak Hadi sedang mengetes mesin di bengkel.
Suaranya meraung-raung seperti semangat membara kami dalam menuntaskan kasus ini secepatnya.
Dengan mengedarai motor, kami berboncengan menuju lokasi.
__ADS_1
Sebelum maghrip kami sudah tiba dilokasi.
Sebuah tempat banyak orang berkumpul, penduduk setempat menyebutnya POJOK PERKORO yang artinya sudut masalah.
Kamipun mencari tempt duduk dan membaur dengan orang-orang disitu.
Kalaupun ada saudara ataupun teman tidak akan bisa mengenali kami lagi.
Kami benar-benar total dalam penyamaran.
Pukul 10 malam kami belum beranjak dari situ,dan kami belum menemukan yang kami cari namun tiba-tiba...
Buk...buk..
"Kamu yang mukulin temanku kemarin ya!".
Bentak preman dengan badan besar sambil memukuli orang itu.
Tak lama kemudian geng lainnya datang.
" ayo kita bantu!, teman kita dipukuli.serang!".
Teriak kepala preman.
Dan merekapun berantem beramai-ramai.
Septian berdiri siap ikut berantem,tapi kutarik tangannya supaya duduk kembali.
"Duduk! Bukan ini tujuan kita!".
Kami hanya duduk melihat perkelahian itu.
Sekitar 10 menit patroli polisi datang dan membubarkan perkelahian.
Kamipun masih duduk-duduk mengamati keadaan.
Suasana sudah kembali normal tetapi orang masih lalu lalang dengan kepentingannya masing-masing.
Nampak seorang pencopet melakukan aksinya.
Nampak dia mengambil dompet pria setengah baya.
Pencopet itu mengoper dompet keteman satunya lagi.
aku dan Tian hanya memperhatikan saja kejadian itu.
Pencopet yang membawa dompet itu berjalan santai didepan kami, namun tiba-tiba...
brukkk...
Pencopet itu jatuh tersungkur ketanah.
Rupanya kaki Septian sengaja di selonjorkan, dan kaki pencopet itupun tersandung dan jatuh
" kurang ajar! Kembalikan dompetku!".
Rupanya Septian sudah memegang dompet itu
"Copet...copet...!"
Kata Tian meledek.
Pencopet itu tanpa pikir panjang menyerang septian dan nampak septian memang jago karate.
Tidak percuma dia menyandang sabuk coklat di karate do funakoshi.
Nampak Septian mengunakan pukulan SOTO HIACIKE dan membuat pencopet itu tersungkur dan nampaknya keseleo.
Melihat temannya di hajar, dua orang pencopet lain segera mengepung Septian.
Aku bergegas berdiri,namun septian memberi kode supaya aku tetap duduk sambil melemparkan dompet padaku.
Perkelahianpun tak terhindarkan,septian dengan tenang meladeni dua pencopet itu.
Nampak posisi kuda-kuda Tian terlihat aneh.dua pencopet menyerang bersama-sama dan secepat kilat Septian mengeluarkan pukulan SOTO GAMANUCIKE dan tendangan MAHI GERI bersamaan.
Nampak dua pecopet sempoyongan, dan dengan sigap Septian menyusul dengan tendangan MAHI GERI GIHAGE .
sebuah tedangan yang bisa 360 derajat dengan teknik menyerang bagian bawah dan kemudian menggunakan tubuh lawan untuk tumpuan menyerang atas dengan cepat.
Teknik ini sangat susah sekali walau karateka sudah sabuk hitam.
Dengan tubuh yang ideal dan latihan rutin Septian bisa menguasainya.
Perkelahianpun selesai dan tak lama kemudian polisi datang membawa tiga pencopet itu.
Dompet itu akhirnya aku kembalikan kepada pemiliknya.
"Ini dompet bapak,dan lain kali hati- hati ya pak!".
Bapak itu menerima dompet dan memeriksanya,kemudian memberi dua ratus ribu kepada kami.
Belum sempat aku ngomong Septian sudah menerima uang itu.
" hemmm...enakkk!"
Ayo nambah, masakannya enak sekali.
Nampak Septian lahap sekali makannya.
Aku sendiri makan sedikit dan minum teh hangat saja.
Dengan uang pemberian bapak tadi kami membayar makanan.
Hari ini kami belum mendapatkan hasil.
Berhubung sudah larut malam Septian mengantarku sampai rumah.
"San...santi!..ada telepon!"
Suara paman membangunkanku.
Aku segera keluar kamar dan menuju tempat telepon.
"Halo...!"
Jawabku malas.
"Siap ndan!
Aku gelagapan pagi-pagi komandan sudah menelepon.
Kami ngobrol tentang status dan perkembangan kasus yang sedang aku tangani.
Jam 9 pagi aku sudah di kantor
Dan segera menemui atasan
'Pagi ndan!"
"Pagi, silahkan duduk!".
Aku langsung duduk,dan atasanku menceritakan alasan memanggil aku ke kantor.
" Sudah dua bulan lebih tugas ini aku berikan padamu, tetapi kasusnya tidak ada perkembangan.
Aku akan keluarkan kamu dari kasus ini".
Aku tidak mau semua yang telah aku lakukan sia-sia,maka aku minta kepada komandan tambahan waktu 10 hari.
Aku yakinkan komandan kalau sudah ada titik terang dan sebentar lagi akan ada hasil.
__ADS_1
Setelah kuyakinkan akhirnya komandan setuju dan memberi waktu tambahan 10 hari.