POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XVll Masuk Kandang Singa


__ADS_3

" San makan dulu!"


"Iya buk, sebentar lagi!" aku masih sibuk main game di Handpone.


Hari ini aku merasa malas ngapa-ngapain.


Entah kenapa tiba-tiba aku kangen banget sama Septian.


aku berharap pagi ini dia berada disampingku, menghiburku, tetapi,...


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


Baru saja aku pikirkan sudah nonggol dia.


"Pagi tante!"


Nampak dia sedang nyalamin ibuk.


"Nak Tian minta tolong dong, suruh makan dulu Santi.sejak kemarin sore belum mau makan".


Nampak Septian datang ke arahku, akupun pura-pura nggak melihatnya.


" San berhenti dulu mainnya,makan dulu.


Katanya dari kemarin kamu belum makan".


"Entar aja, nanti!".


Tiba-tiba Septian merebut handponeku.


Aku segera berdiri dan mengejar dia yang lari ke arah meja makan.


Akupun duduk dan dia memberikan handponku.


Aku segera main game lagi di meja makan.


"San!...kalau kamu masih main Handpone, dan nggak segera makan aku akan pulang".


" Iya aku makan, tapi kamu juga harus makan".


Akhirnya aku dan Septian makan bersama.


"Kau yang terindah..."


Handponeku berbunyi, kapten Anton meneleponku kalau beliau sudah pulang dari Mabes dan menyuruh aku menghadap beliau kantor.


"Yan, nanti antar aku kekantor menemui komandan!".


" ada ongkosnya nggak?".


Tanya Septian bercanda.


Selesai makan akupun bergegas kekamar mandi


" Pagi semua!".


"Pagi letnan!".


Aku menyapa teman-teman sebelum menemui komandan.


Sepertinya komandan ada tamu dan akupun bersama Septian menunggu sambil tukar informasi dengan anggota lainnya.


Selang sepuluh menit akupun bergegas menemui kapten Anton.


" Pagi ndan!".


"Pagi, Silahkan duduk letnan, Septian!".


Kamipun duduk, nampak muka komandan lebih fres dan kadang tersenyum sendiri.


" Kenapa ndan, kok senyum-senyum?".


Aku sama Septianpun saling pandang tak mengerti.


"Begini San!.


Aku punya dua kabar baik.


Yang pertama tentang Surat Pindah Tugas kamu setelah diselidiki tidak sesuai prosedur, tetapi sementara ini belum bisa aku urus semua.


Nanti kalau aku urus sekarang pak Victor akan tahu malah akan membahayakan penyelidikan kita.


Intinya kamu sabar setelah kasus ini selesai akan secepatnya aku urus".


" Yang kedua, aku sudah ketemu dengan Irjen Didik Waluyo.


Dan akupun menceritakan tentang bisnis narkoba pak Victor secara detail, juga "Team Bayangan".


Pak Didik pingin ketemu kamu langsung.


Dia ingin kamu menjelaskan tentang jaringan pak Victor dan menjelaskan tentang " Team Bayangan" yang nantinya masih diperlukan apa tidak".


"Rencananya kita akan bertemu nanti malam, dan tempatnya belum saya tentukan.


Nanti kamu saya kabari"


"Oh ya!


Sementara pertemuan cuma kamu, saya dan pak didik saja".


Setelah komandan selesai menjelaskan kamipun permisi pulang.


" Yan, aku tidak ingin pulang dulu.


Aku ingin kamu mengajakku ketempat yang udaranya segar dan sejuk".


"Kemana?".


" Terserah!".


Akupun merangkul Septian dari belakang.


Karena kurang tidur akupun ketiduran diatas motor sambil memeluk pingang Septian.


Dering suara handpone membuatku terbangun.aku menyadari sekarang aku tidur di kamar.


Mungkin ketika aku tidur dimotor Septian mengantarku pulang dan tidak membangunkanku.


Akupun segera mengangkat telepon dari kapten Anton.


Kapten Anton memberitahu lokasi bertemu nanti malam.


Sungguh hal yang mendebarkan bagiku, bahaimana tidak hari ini aku akan bertemu seorang Irjen.


Bukan hanya bertemu tetapi akan ngobrol dan menjelaskan langsung tentang peredaran narkoba.


Hatiku sungguh dak..dik..duk tak menentu.


" San kenapa kamu, kok kayak orang bingung?"


" Enggak kok yah!


Cuma hati Santi jadi deg-degkan rasanya!".

__ADS_1


"Memangnya kenapa,kayak akan ketemu pacar baru?".


" Ah ayahhh..


Bukan!, nanti kapten Anton ngajak santi bertemu Irjen Didik dari Mabes.


Makanya Santi jadi deg-degkan.


"Baguslah bisa bertemu seorang Jendral, apalagi bisa ngobrol tidak semua polisi punya kesempatan".


Tik..tok..tik..tok...


Akupun nggak mau telat dan mereka menunggu.


Aku berangkat setengah jam lebih awal.


Setelah nyampai akupun duduk rileks, tetapi perasaanku terus dak..dik..duk tak menentu.


Akhirnya komandan Anton datang bersama seseorang yang berperawakan tegap, wajah kalem dan penuh senyum.


" San!, perkenalkan ini Irjen Didik waluyo".


Akupun segera menjabat tangannya dan memperkenalkan diri.


"Letnan Santi" jawabku mantap


Sungguh diluar dugaanku, seketika rasa grogi langsung hilang.


Berhubung jadwal yang padat beliau, akupun segera menjelaskan dengan detail tentang jaringan narkoba yang dikelola oleh pak Victor.


Aku juga meminta dilibatnya "Team Bayangan" yang berguna untuk menggali informasi, dan mencegah pelaku kabur dan menghilangkan barang bukti.


Sekitar dua jam aku menjelaskan dan memutar barang bukti supaya nanti rencana berjalan lancar.


Plok..plok..plok..


Irjen Didik memberi tepuk tangan setelah aku selesai menjelaskan.


"Luar biasa...


Jelas, tegas dan terperinci dengan matang.


Banyak anggota diMabes yang biasa saya percaya untuk menangani kasus penggrebekan, tetapi untuk kasus ini aku memberi kepercayaan dan kesempatan kepada Letnan Santi dalam mengatur strategi"


"Kalau tugas dalam kasus ini berhasil..


Mohon maaf kapten Anton, anda harus bersiap-siap untuk kehilangan anggota terbaikmu!".


" Nanti akan saya kerahkan empat puluh anngota dari Mabes untuk mendukung pengrebekan, dan semoga "team Bayangan" bisa bekerja efektif'.


"Nanti kamu bisa bekerja sama dengan Lettu Simanjutak dan nanti aku akan memberikan nomor handponenya.


Setelah semua jelas, kami semuapun pulang.


Sungguh hari yang luar biasa.


Akan aku tatap hari-hari kedepan dengan optimis dan ceria.


Seperti yang sudah direncanakan, untuk tahap awal aku mengumpulkan "Team Bayangan" diruamah paman malam ini.


Menjelang maghrip om Hamid,tante Rina dan Septian sudah datang dan akupun segera menyambut mereka.


Aku segera memeluk Septian dan mencium pipinya.


"Eh..Santi!?..


Malu ada mama papa!.


Akupun melepas pelukanku dan segera menggandeng masuk.


Pertemuan sampai pukul sepuluh malam, dan aku segera membubarkan pertemuan begitu sudah selesai.


Pukul sembilan pagi aku, ibu, Sinta, Septian,Ayah dan om hamid berdoa dulu demi kelancaran tugas.


Aku sudah merencanakan sesuatu untuk bisa menyusup lebih dalam.


Aku segera menghubungi Lettu Simanjutak, dan dia sudah menugaskan dua anak buahnya berpakaian preman mengawasi sekitar perusahaan bu Lilik.


Kami berangkat menggunakan mobil om Hamid.


Begitu sampai perbatasan desa diwarung bu Sri aku mampir dulu.


Bu Sri adalah orang yang aku percaya dan kebetulan ibuk dan bu Sri saling mengenal.


"Eh..nak Linda, bu dyah mari masuk semua.


Kamipun masuk kedalam warung untuk istirahat sejenak".


" Septian, Ayah! Nanti malam cari rumah pak Sunoto, dari sana nanti kalian bergerak dan mengawai pergerakan mereka.


Jangan sampai mencurigakan dan Handpone selalu aktip".


'Sementara aku bersama ibu dan Sinta pulang.


Dan om hamid jadi ayahku dan ingat semua panggil saya Linda".


Setelah semua selesai, kami meninggalkan Septian dan ayah.


Kami segera menuju Rumah ibu , sinta masih pura-pura sakit dibagian perutnya supaya samsul dan lainnya tidak curiga.


Entah kebetulan atau sengaja. Samsul sedang duduk dengan temannya di dekat rumah ibu.dan aku segera melaksanakan rencanaku.


"Bang..bang Samsul kesini cepat!".


" ada apa ning Linda,baru pulang ya?".


"Iya!..tolong dulu Sinta bantu jalan".


Samsul dan temannyapun membantu Sinta yang pura-pura sakit masuk kedalam rumah.


Setelah itu aku menyuruh Samsul dan temannya duduk.


Aku segera duduk disamping Samsul.


" Yah,..kenalin ini bang Samsul pacar Linda".


"Hem.. Ayah senang akhirnya kamu sudah punya calon, dan ayah segera punya cucu.


Oh ya nak Samsul, jangan kecewakan hati Linda.


Om yakin kamu bisa bikin bahagia anak satu-satunya om.


" Tentu om, aku akan berusaha membuat neng Linda bahagia".


Ya sudah karena dari perjalanan jauh om dan neng Linda perlu istirahat.


Saya mohon pamit dulu.


"Ya bang, nanti aku telepone ya?!".


Samsul dan temannyapun pulang.


Aku dan om hamid bergegas masuk kedalam.


Dan saya meminta semua istirahat dulu untuk jaga kondisi.

__ADS_1


Selesai sholat maghrip aku dan om jalan-jalan di kampung.


Kami sengaja untuk melihat apakah ayah dan Septian sudah sampai dirumah pak Sunoto.


Kami melihat ayah, Septian dan pak sunoto sedang ngobrol santai diteras depan.


Kami cuma memberi kode dan meneruskan jalan-jalan.


Diperjalanan kami bertemu dengan Samsul.


" malam om,Santi!".


Lagi jalan-jalan ya? Tanya Samsul basa-basi.


" Nak Samsul, udara didaerah sini sangat sejuk sekali.


Om sudah bosan dengan udara dikota sangat pengap".


"Iya om, kapan-kapan saya ajak kedaerah yang lebih sejuk".


" Terus kapan ajak Santi bang, kok malah mau ajak ayah?".


Aku pura-pura protes.


"Maaf neng Santi, besok mulai pagi abang kerja sebab Zulu2 sikitar jam empat sore akan datang jadi abang nggak bisa kemana-mana!".


" nggak apa-apa bang! Ini kan demi masa depan kita!".


Samsul nampak senang dengan rayuan gombalku.


Akhirnya kamipun melanjutkan jalan-jalan.


Aku sengaja mengajak ayah kearea rumah dan gudang juragan Sukri.


Diwaktu yang bersamaan Septian dan ayahpun menyusup dan mempelajari daerah yang akan kita grebek


Setelah cukup mempelajari situasi, lokasi dan kondisi kamipun jalan kearah pulang.


" Nak Santi, aku lihat tadi sama Samsul mesra sekali, sedang kalau sama Tian biasa saja.


Bisa batal dong jadi menantu om?".


"Ahh..om hamid kok begitu?


Aku sama Samsulkan pura-pura om, sedang sama Tian cinta betulan om"!"..


Kata-kata om Hamid membuat aku malu.


" kalau kamu memang benar-benar cinta sama septian yang lebih mesra dong, masak kalah sama ibunya Tian.


Walaupun sudah berumur tante Rina tetap pandai cara merayu dan memperlakukan om seperti anak muda".


"Om tahu kamu seorang Polwan, tetapi kalau lagi tidak dinas dan berdua dengan Tian buat dia nyaman dan terbuai dengan rayuan dan keluh kesahmu yang manja tapi nggak palsu seperti sama Samsul tadi!".


Omongan om Hamid benar-benar membuat aku salah tingkah.


Bibirku benar-benar tak bisa lagi bicara.


Apa benar aku ini tidak bisa mesra dan membuat septian terpesona.


Apa karena aku seorang polwan yang di didik keras di akademi, sekarang berubah menjadi permpuan yang berbeda.


Apakah sisi feminimku yang asli benar-benar sudah hilang kecuali kepura-puraan.


Septian maafkan aku kalau aku belum bisa memberikan rasa kesejukan,kenikmatan dan kehangatan seperti yang Ranti berikan kepadamu.


Aku berjanji akan berusaha menjadi perempuan yang feminim jika tidak dalam keadaan dinas.


Sesampai dirumah aku duduk-duduk sambil memikirkan strategi besok.


Aku segera menelepon kapten Anton.


Akupun menjelaskan rencanaku besok dalam rangka pengrebekan besok.


Nampak kapten Anton senang karena oleh Irjen Didik ikut dilibatkan secara langsung.


Akupun juga menginfomasikan kepada anggota " Team Bayangan" agar bersiap-siap.


Hari yang direncanakanpun tiba.


Pukul sebelas siang, perwakilan dari beberapa Team sudah hadir di tempat yang kami pilih yaitu warung bu Sri.


Warung sengaja tidak buka, karena sudah kami booking.


Nampak hadir kapten anton, dan empat perwakilan team.


"Bagaimana situasi letnan?".


" Aman terkendali ndan!".


Akupun segera menjelaskan cara kerja, waktu dan kekuatan yang dibutuhkan biar efektif.


Semua ketua team harus kompak dan bertanggung jawab penuh dengan tugasnya.


"Santi saya adalah atasanmu,


Tetapi dalam kasus ini aku menunggu perintahmu!".


" Siap ndan, terima kasih!".


Jam dua siang Team sudah bergerak keposisi yang ditentukan.


Dalam pengrebekan ini terdiri dari tiga warga sipil dan empat puluh delapan petugas kepolisian lengkap dengan senjata organik kepolisian.


Sementara di perusahaan ibu Lilik Lettu Simanjuntak sudah menyiapkan tiga puluh polisi senjata lengkap yang sudah siap di posisi masing-masing.


Sementara aku yang berpakaian sipil menyelinap masuk mengawasi keadaan.


Puku tiga sore, aku mengecek semua team dan semua dalam keadaan siaga.


Nampak dikejauhan Juragan Sukri duduk sambil menghisap rokok mengawasi anak buahnya yang sedang bekerja


Benar kata pepatah "menunggu adalah waktu yang membosankan"


Tetapi aku sadar, aku sedang bertugas.


Segala halangan aku singkirkan demi sebuah tujuan.


Akhirnya yang kami tunggu datang juga.


Sebuah mobil LEXUS masuk dan langsung menuju rumah juragan Sukri.


Aku segera memerintahkan semua team siap-siap dan jangan ada yang bergerak sebelum ada aba-aba dariku.


Nampak keluar dari mobil pak Victor dan tiga orang laki-laki.


Yang satu aku kenal lewat foto dikepolisian.


Dia adalah Lin kok fung raja narkba dari Taiwan.


Nampak Juragan Sukri berdiri dari kursinya menyambut pak Victor dan tamunya.


Akupun segera merangsak kedepan sebelum memberi aba-aba kepada team untuk serentak menyergap dari segala penjuru.


"Dorrr...dorrrr....dorrr!!???".

__ADS_1


__ADS_2