
Akupun terus masuk lebih dalam, sementara Septian dengan bahasa isyaratnya mencoba berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Dengan pura-pura bisu tuli Septian bisa mendengar siapa saja yang ngobrol rahasia karena mereka tidak akan menyangka kalau Septian bisa mendengar.
Pak Ibrahim nampaknya mengerti dengan keraguan kami atas pergerakan mereka, dan beliaupun terus meyakinkan saya.
"Nak Nurohmah,keanggotaan kami sudah teroganisir dengan baik. Karena kami punya team perencana dan penyandang dana yang kuat.
Jadi nak Nurohmah dan Sukirman tidak usah ragu!" jelas pak Ibrahim meyakinkan saya.
"Terima kasih pak Ibrahim,sementara biarkan kami bergerak sendiri sampai kami tahu bahwa organisasi yang bapak ikuti memang terorganisir dengan baik.
Bagi kami berdua keterbukaan bagi semua anggota adalah komitmen kami."
"Maksud nak Nurohmah apa?" tanya pak Ibrahim.
"Kalau memang organisasi yang bapak ikuti ada penyandang dana yang kuat, dan team perencana yang hebat pasti punya alat peledak yang berkekuatan besar.
Bila di ijinkan mohon kasih satu kami!".
"Untuk apa nak Nurohmah?.
"Sudah lama kami ingin meledakkan gereja ditempat dimana kami pernah tinggal di daerah itu".
Akupun kemudian mengarang cerita supaya mereka tambah yakin kepada kami.
"Nak Nuromah, bagi kami bahan peledak itu urusan gampang, kapan kamu memerlukannya?
Akupun terus berbincang dan ngobrol dengan anggota yang lain dan merekapun makin ingin mengajak kami bergabung di kelompok mereka.
Setelah pertemuan itu aku pun menghubungi kombes hendra supaya menyiapkan gereja/kapel yang sudah di siapkan.
Setelah semua siap aku segera menemui pak Ibrahim untuk mengambil bahan peledak.
Pak Ibrahim nampak senang sekali, melihat kami berani dan nekat mau melakukannya sendiri.
"Nak Nurohmah hati-hati! jika nanti berhasil dan mau jadi anggota kami, bapak berjanji akan mengenalkan kamu dengan team perencana dan penyandang dana kami." janji pak Ibrahim.
"Ya pak terima kasih, kalaupun nanti kami mati sahid kami tidak takut"
Kamipun permisi dan pulang dengan membawa bahan peledak.
Akhirnya team dari polri sudah mempersiapkan semuanya, sebuah gereja untuk peledakan yang memang sudah dikosong kan untuk mengelabuhi para *******.
Tepat pukul 19.00 wib, hari minggu.
__ADS_1
"Bommmm"
Terdengar sebuah gereja di daerah pinggiran kota meledak .
Menurut informasi dari media 2 orang meninggal 11 orang luka-luka.
Sehari setelah bom gereja kami menemui pak Ibrahim di rumahnya.
"Assallamuallaikum"
"Waallaikumssalam"
Pak Ibrahim nampak senyum-senyum menyambut kami.
"Nak Nurohmah, Sukirman, anda memang luar biasa.
Kami mengucapkan selamat kepada anda."
"Terima kasih pak Ibrahim, ini juga berkat bantuan anda.
Sekarang kami percaya bahwa jaringan anda bisa menyediakan yang kami butuhkan."
"Benar nak Nurohmah.
Jaringan kami butuh orang seperti anda.
"Terima kasih pak Ibrahim, kami percaya anda, dan kami bersedia bergabung dan menjadi bagian dari organisasi pak Ibrahim". akhirnya kami berdua bergabung dan menjadi anggota ******* untuk mengetahui lebih dalam lagi.
Haripun berlalu dan tiba saatnya bagi kami untuk bertemu dengan team pengurus,perancang dan juga para donatur atau penyandang dana bagi kegiatan terorisme.
Memang organisasi ini bergerak sangat rapi sekali dan ternyata sangat besar sekali.
Para pengurus dan penyandang dana sangat senang sekali bertemu saya.
Setelah aksi peledakan gereja kemarin, semua pengurus dan Donatur membicarakan kami dan ingin segera bertemu.
Sekarang kami lebih leluasa untuk mencari dan menyerap informasi dari mereka.
Mereka jadi lebih terbuka kepada kami, tetapi kami tetap harus hati-hati dan waspada.
Kami sadar sekarang berada di antara para srigala.
Jika ketahuan kami menyamarar, kami bisa di bantai habis-habisan.
Kesabaran dan kewaspadaan kami membuahkan hasil.
__ADS_1
Sebuah nama Johan Asnawi merupakan otak dan sekaligus penyandang dana dari aksi terorisme.
Johan Asnawi merupakan orang kaya yang mempunyai beberapa perusahaan besar dan dia tinggal di daerah elite di jakarta.
Johan Asnawi dalam keseharian tidak nampak seorang islam yang taat dan tekun.
Bahkan seperti orang biasa yang terkesan biasa dan tidak menampakkan sisi Radikalisme.
Jam terus bergerak cepat.
Rencana membuat terorpun sudah di rencanakan.
Sebuah gereja yang penuh dengan jemaatnya di daerah Jakarta barat, dan hotel Indonesia yang jadi tujuan dan akan dilakukan dalam waktu bersamaan.
Aku dan Septian serta Hidayat kebagian tugas meledakkan Hitel Indonesia.
Malam ini kami berdua sedang berpikir keras bagaimana cara menggagalkan aksi peledakan yang rencananya akan di lakukan besok.
Aku terus berhubungan terus dengan Kombes Hendra lewat telepon jalur khusus supaya lebih aman.
Kami bersama kombes Hendra akhirnya menemukan solusi untuk menangkap semua jaringan sampai petinggi *******.
Kami memberitahukan alamat, nama, pekerjaan semua anggota jaringan yang saya kenal.
Akupun minta pada Kombes hendra waktu penangkapan, aku dan Septian ikut ditangkap supaya tidak ada kecurigaan pada mereka kalau aku dan Septian seorang mata-mata.
Malam ini aku benar-benar tegang.
Semenjak jadi intelejen baru kali ini aku diliputi kecemasan.
"San, kenapa kamu tampak gelisah terus?" Septian tampak heran melihat aku dan memelukku.
Aku cuma menggeleng kepala kepadanya.
Entah kenapa tiba-tiba Septian membopongku masuk kamar.
Septian menciumku dan aku tidak meresponnya hanya diam.
Mengetahui aku tidak merespon Septianpun menghentikannya.
"San jangan terlalu dipikirkan, kita hadapi bersama.
Kombes hendra dan anak buahnya pasti sudah mempersiapkan penggrebekan dengan matang".
Aku,Septian dan hidayat akkhirnya bersiap-siap juga untuk meledakkan Hotel Indonesia.
__ADS_1
Hati terasa deg-degan dan was-was.
Takut rencana pengrebekan polisi gagal dan itu bisa membuat aku benar-benar celaka.