
"Pak Mukidi sayur kenikir yang bapak makan itu kira-kira berumur berapa hari?
Tanya Rurin.
"Sekitar satu bulan lah ".
Jawab pak Mukidi.
Semua penasara dengan Rurin, sebenarnya yang sedang dia pikirkan.
" maaf bu Rurin sebenarnya apa yang sedang anda pikirkan?"
Tanyaku penasaran.
"Kapten coba lihat sekelilig rumah.
Semua ditumbuhi tanaman impor yang harganya jutaan.
Bahkan rumput inipun ada harganya"
"Mulai dari depan sampai belakang apa Kapten tidak merasa ada yang aneh?"
Aku mengingat-ingat selama keliling rumah pak Sanjaya tidak ada yang aneh.
"Tidak ada yang aneh, sebenarnya ada apa kok membuat aku bingung?"
Aku meminta Rurin untuk segera menjelaskan maksudnya.
"Oke..seluruh taman ini cocok dengan rumahnya yang megah.
Tetapi yang membuat taman ini nampak tidak bagus adalah diarea tanaman kenikir yang ukurannya cuma sekitar satu kali dua meter.
Dan menurut pak Mukidi umur tanaman kenikir itu sekitar satu bulan.
Sama dengan lamanya waktu bu Herawati hilang.
Jangan-jangan...
Semua pada lari ke tempat kenikir di tanam.
Semua pada melihat tanah yang sudah ditumbuhi kenikir sangat lebat dan subur.
Sementara Letda Caniago sedang membantu Rurin yang kesakitan gara-gara ikut lari juga.
Kandungannya nampak pendarahan.
"Letda tolong antar bu Rurin ke Rumah Sakit dan pastikan kesehatannya"
"Siap kapten"
Letda Caniago langsung mengantar Rurin ke Rumah Sakit karena terus mengalami pendarahan.
Sementara aku, Septian dan berapa petugas mengamati tanah yang dicurigai sebagai tempat mengubur bu herawati.
"Tolong carikan pipa atau benda apa saja yang kecil, runcing untuk menusuk".
Tanyaku pada petugas lain.
Dan petugas melihat pipa jemuran 3/4 dm dan mengambilnya.
" pak tolong tusuk sampai ke dasar pas ditengah tanaman".
Berhubung tanahnya gembur Petugas tidak kesulitan dan langsung mencoblos....
"Huekkk..huek.....huekkkk "
Bau busuk yang sangat menyengat keluar dari lobang pipa.
Semua yang ada disitu segera menjauh.
Terlihat pak Mukidi terduduk muntah-muntah.
Semua makanan yang baru masuk keluar lagi dari perutnya.
Aku segera menelepon kantor untuk melaporkan kalau perkiraan mayat bu Herawati sudah ditemukan.
Aku perlu beberapa petugas yang ahli di bidangnya untuk mengangkat mayat Yang
Sudah busuk.
Sekitar dua jam kemudian datang rombongan mobil dan petugas dari polres.
Mereka langsung bekerja untuk mengangkat mayat bu Herawati.
Bau busuk menyengat kemana-mana.
Warga kampung yang melihat proses pengangkatan jenasah langsung pada menutup hidung.
Tepat tengah malam semua proses selesai dan kamipun pulang Karena terlalu capek
Sekali.
Akupun minta tolong rekan polisi untuk mengantar pulang.
Sampai dikontrakan Septian akupun turun.
"Lo San, ngapain kamu turun disini ? "
"Aku mau tidur di rumahmu saja "
Jawabku pendek sambil menggandeng Septian.
Sampai didalam aku melihat Septian seperti orang bingung.
"San sudah malam.
Kamu tidur di kamar biar aku di ruang tamu ".
Septian telihat menaruh bantal di karpet.
Aku masuk kamar dan ganti baju pakai kaos.
Aku segera menyusul Septian tidur di karpet.
"Eh San..ngapain kamu?" septian kaget.
"Aku ingin tidur sama kamu"
Kataku membuat Septian bangkit dan segera duduk sofa.
Aku menyusulnya duduk di sampingnya dan aku segera merebahkan kepalaku di pangkuannya.
Jam tujuh pagi aku terbangun Dan masih dalam pangkuan Septian, akupun segera membangunkannya.
"Yan bangun..yan!."
Tapi Septian tetap tidur.
" aku jam lima baru tidur, sekarang masih ngantuk."
Gara-gara aku tidur dipangkuannya dia sampai tidak bisa tidur tadi malam.
Akupun berangkat tidak diantar oleh Septian.
__ADS_1
Setelah dikantor teman petugas memberi selamat dan tepuk tangan kepadaku karena berhasil mengungkap kasus.
Jasad yang ditemukan di halaman samping Rumah pak Sanjaya positif jasad bu Herawati.
"Pagi kapten, di tunggu AKBP prayitno di ruangannya ".
Seorang petugas memberi tahuku.
Aku segera menemui AKBP Prayitno
"Siang ndan." ucapku.
"Siang Kapten, silahkan duduk!".
"Tidak salah Kombes Dadang mengirim kamu kesini.
Masih muda, cantik, cekatan dan daya pikir cepat".
"Terima kasih kapten telah membantu menyelesaikan kasus kami, dan titip salam pada Kombes Dadang".
Aku segera keluar ruangan dan tampak teman-teman polisi lain minta salaman sama aku.
Setelah selesai berpamitan, aku langsung ke Mabes untuk untuk melaporkan kasus yang aku tangani pada Kombes Dadang.
Kombes Dadang puas dengan kerjaku dan dia bepesan kasus lain sudah menunggu.
Dan beliau memberiku cuti tiga hari.
Pulang dari Mabes aku langsung kerumah Septian.
Aku ingin mengabarkan kabar baik ini.
" Septian kenapa kamu kok muntah- muntah ?"
Tanyaku panik.
"Aku masuk angin San "
Aku segera cari minyak angin dan kemudian aku kerokin punggungnya.
Beberapa menit kemudian nampak mukanya sudab tidak pucat lagi. Septian sudah mendingan dan aku segera membuatkan teh panas untuk menghangatkan tubuhnya.
"Yan..gimana,..sudah enakan?"
Septian hanya mengangguk lesu.
"Untung saja tidak ada kuliah, jadi bisa tiduran "
"Memangnya libur berapa hari kuliahnya?" tanyaku
"Empat hari" jawab tian.
"Wah kebetulan !!
aku aku juga libur tiga hari, bagaimana kalau kita pulang yan?" tanyaku pada Tian.
Septian langsung bangkit dari tidurnya, dan memegang pundakku
"Ya betul San, aku setuju !
Nanti sore kita berangkat jam dua siang dan sebelum maghrip sudah sampai.
Bagaima San? Setuju ?".
Setelah melihat septian keadaannya sudah mendingan, akupun Permisi pulang untuk bersiap-siap.
Tepat pukul dua siang kami berboncengan pulang.
Aku ingin pulang ke daerah Bumi Asih tempat ayah dan ibu tinggal.
Sepertinya rumah ibu sudah direnovasi lebih luas dan bagus.
Nampak beberapa orang sedang ngobrol di depan rumah.
Aku dan Septian segera turun dari motor
" Assallamuallaikum"
"Waallaikumssallam"
Mereka semua menjawab salam kami, namun banyak yang berbisik- bisik ngomongin aku.
Aku menyadari tidak semua mengenal aku.
Sebagian mungkin masih menganggap kalau aku Ranti saudara kembarku yang sudah meninggal.
Aku segera masuk kerumah untuk menemui orang tuaku.
"Kak Santi..kak Septian?!"
"Sinta, kamu makin cantik saja Sin !".
Mana ayah sama ibuk? Dari tadi kok tidak kelihatan?"
Tanyaku pada Sinta.
"Ada di kamar mungkin?.
Aku segera kekamarku, sementara Septian duduk istirahat di ruang tengah.
Rupanya besok ayah akan ikut pemilihan lurah.
Ayah ikut pemilihan karena desakan warga yang ingin ayah iku mencalonkan jadi lurah di Bumi Asih.
Setelah istirahat dan bertemu ayah dan ibu Septian pamit pulang.
" San..aku pamit dulu ya!
Besok pas pemilihan Lurah aku kesini lagi ".
Aku mengantar Septian sampai depan Rumah.
Hari yang ditunggupun tiba.
Warga berbondong-bondong memilih calonnya.
Kami semua ikut dag..dig..dug.
Ketika surat suara dihitung.
Semua kertas suara akhirnya selesai di hitung.
Dan ayah di nyatakan menang dengan selisih 183 suara.
Wargapun meneriakkan nama ayah sambil menggendongnya keliling lapangan.
Selesai sudah liburanku.
Sekarang aku dan Septian sudah kembali ke jakarta.
Aku sudah harus ngantor sementara Septian masih libur satu hari.
"Siang ndan !"
__ADS_1
"Siang kapten, silahkan duduk".
Kombes dadang langsung memberi tugas baru kepadaku.
Beliau menjelaskan tentang kasus baru yang harus segera diselesaikan.
"Kapten kasus ini terjadi di Universitas " PALAPA".
Sebenarnya kasua ini sudah lama dan petugas intel pernah aku susupkan tetapi belum membuahkan hasil.
Aku memberi kelonggaran waktu kepada kapten untuk bisa menyelesaikan kasus ini.
Ini berkas yang harus kamu pelajari, dan besok setelah kamu pelajari menghadap saya jam sembilan pagi."
Aku tidak tahu senang atau tidak menerima kasus ini, sebab Universitas "PALAPA" adalah kampus Septian belajar.
Dan dari berkas yang aku terima cukup tebal yang menandakan tugas yang belum terselesaikan menumpuk.
"Rengggg...reng...".
Walaupun belum melihat tetapi aku bisa hafal suara sepeda motor Septian.
Pacarku, calon suamiku yang datang ke asramaku.
Orang tuanya Septian dan orang tuaku sebenarnya waktu pulang cuti kemarin sebenarnya kami di suruh tunangan dulu.
Mereka ingin agar kami nanti setelah Septian kuliah segera menikah.
Mereka sudah tidak sabar menimang cucu.
Tetapi aku dan Septian sepakat untuk menunda dulu.
Septian fokus dulu kuliah dan aku berkarir di polisi dan merekapun tidak keberatan.
" Assallamuallaikum"
"Waallaikumssallam" aku menjawab salam Tian.
Septianpun langsung duduk dan tiduran dikursi, sebentar kemudian bangkit.
"San kamu tahu enggak waktu kemarin kuliahku diliburkan?
Ternyata di kampus ada kasus,
Tetapi aku tidak tahu kasusnya apa sebab kitakan pulang bareng.?!"
Aku berdiri dan menaruh map dari kantor di meja.
Dan menyuruh Septian membacanya.
"Coba kamu baca, barusan aku dapat dari kantor !".
Septian langsung membuka map dan membacanya.
Nampak dia menghela nafas panjang padahal baru beberapa lembar dia baca.
Nampak mukanya sedikit berubah
"Kenapa tidak kamu teruskan membacanya Yan, di bagian belakang ada foto korbannya"
Septian baru membaca sedikit sudah menaruh lagi berkasnya.
"San..lebih baik jangan kamu ambil kasus ini.
Ini terlalu berbahaya buat kamu." Tampak Septian kawatir.
"Tetapi Yan, sebagai polisi aku di didik untuk selalu siap dengan resiko tugas ".
" San ! Kamu sebagai kapten punya anak buah.
Kamu bisa tugaskan anak buahmu untuk menangani kasus ini ".
Kami berdua terus berdebat. Aku sadar Septian sangat kawatir, tetapi aku juga ingin menyelidiki dan menjadi tantangan tersediri bagiku.
Lama kami terdiam dan membisu.
Aku sendiri menyadari kasus yang aku hadapi berbahaya dan aku sendiri tidak tahu mungkin saja aku bisa berubah jadi target.
Namun...
"Ok..aku mengikuti keputusanmu.
Walaupun aku bukan bagian dari kepolisian tetapi kalau ada apa-apa aku harus tahu"
"Jangan gegabah bertindak sediri serta sembrono.
Dan aku juga minta kamu jangan memaksakan dapat menyelesaikan kasus ini jika tidak sanggup".
Aku senang akhirnya septian mengijinkanku, walau Septian masih pacar tetapi kami saling terbuka.
Akupun berdiri dan duduk di sampingnya.
"Terima kasih suamiku !" ucapku sambil menciumnya.
Tetapi Septian malah berdiri menjauh.
"Hahh...San! Apa-apaan kamu?
Kamu sakit ya?
Septian terus lari menghindar dan masuk kekamarku.
Aku terus mengejarnya sampai diatas tempat tidur.
Aku memeluk dan menciumminya.
Kini aku berada diatas tubuh septian.
Septian sudah tidak lari lagi dan aku tambah beringas.
Tetapi kemudiaan Septian membalikkan tubuhku dan bangkit dari tempat tidur
"Cukup..cukup San..
Apa kamu sudah gila ya?"
"Kalau kamu kayak begini besok kalau ada cuti kita pulang kawin saja.
Kalau begini terus aku juga tidak tahan San?!".
Septian nampak nafasnya tidak beraturan, sementara aku masih tertawa cekikikan melihatnya.
Septian bangkit dan melemparkan bantal kemukaku kemudian pergi keluar kamar.
Aku masih dengan tertawa cekikikan duduk disamping Septian
"Maaf Yan, aku tadi canda.
Aku tadi membayangkan besok kalau jadi istrimu harus memperlakukanmu seperti apa?"
Septianpun mengerti dan kami nggobrol sambil membahas kasus yang aku tangani besok.
Sebelum menemui komandan aku mengulang memmpelajari
__ADS_1
Berkas kasus yang akan aku tangani nanti.