
Masih dengan memakai seragam sekolah,akupun mencari alamat yang dikasih Eric
Sebenarnya kami berencana pergi berdua,karena dia sudah meninggal akupun berangkat sendirian dengan naik motor.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam akhinya nyampek juga didaerah yang aku tuju.
Aku mampir dulu warung nasi untuk menghilangkan lelah dan capek,serta mengisi perut yang mulai keroncongan.
Kebetulan warungnya tidak beritu ramai sehingga saya bisa sedikit bersantai.
Setelah kurasa cukup beristirahat akupun keluar warung,tetapi baru beberapa langkah berhenti..
Kulihat Ita teman sekelasku sedang berjalan menuju rumah di seberang jalan.
Apa mungkin dia punya kerabat didaerah sini.
Tak beberapa lama Itapun keluar bersama dua laki-laki dan kemudian pergi dengan naik mobil.
Akhirnya alamat yang aku cari ketemu juga.sebuah rumah mewah denga dua lantai.
Nampak ada pos satpam,dan sederet mobil diparkir didalam.
Apa betul ini rumahnya,
rupanya dia anak orang sangat kaya seperti yang diceritakan Eric.
Rumah dengan gaya arsitek spanyol clasik membuat rumah itu nanpak megah dan berbeda dengan rumah sekitarnya.
"selamat siang pak!" Sapaku pada security yang sedang berjaga.
"Ya mbak! ada apa?"
"Pak Arif ada pak?"
Nampak security itu memperhatikanku sebentar.
"Sudah ada janji mbak?"
"Belum pak,tapi ini penting dan saya harus bertemu beliau".
" maaf mbak! Kalau belum ada janji saya tidak mengijinkan,itu perintah bapak".
Aku tahu ini adalah tugas security.
Kalau aku memaksa bertemu pak Arif malah bikin ribut.
Akhirnya kukeluarkan, dan kutunjukkan identitasku.
Setelah ngobrol sebentar akhinya aku di ijinkan masuk setelah dia menghubungi pak Arif.
"Selamat siang pak! Bu!"
"Selamat siang mbak,
silahkan masuk"
Akupun masuk kedalam.
Pak Arif dan ibunya nampak begitu ramah,tetapi kenapa tega mengusir anaknya dari rumah.
"Pak!..bu!..
Saya kesini ingin menanyakan sedikit tentang Septian!?"
Mendengar aku menyebut nama anaknya,pak Arif langsung berdiri dan...
"Untuk apa kamu tanyakan anak tengik itu?"
Apa masih bikin ulah diluar sana?
Dia benar-benar telah bikin malu dan mencoreng keluarga!
Nampak tubuh pak Arif bergetar menahan emosi karena mengingat perbuatan anaknya yang telah ia usir.
"Sudah!...sudah pa!.
Gimanapun dia anak kita!
Dia anak yang baik,dan mama belum begitu yakin kalau anak kita pemakai."
Tolong pa! Berhenti menghujat !.
Ratap mama Septian pada suaminya.
"Nak linda...
Gimana kabar Tian?
Ibu sangat kangen!..."
Ibu Tian terus menangis meratapi anaknya yang tidak jelas keberadaan dan nasibnya."
"Maaf bu!...pak!..."
kuharap sabar dulu, dan mohon tahan emosi.
Mari kita luruskan semua.
Setelah semua tenang dan emosi mereda,akupun menceritakan tentang Septian.
Aku mencoba mencari informasi bagaimana kelakuan Tian selama masih dirumah.
Dan apa betul dan yakin sekali kalau Septian seorang pemakai.
Sampai malam kamipun masih ngobrol dengan suasana lebih santai.
Pak Arif mulai ragu apakah anaknya benar-benar pengguna dan pengedar narkoba.
"Nak linda!"
Bapak dengan ibu sangat senang sekali dengan kedatangan nak Linda kesini.
"Semoga dugaan nak Linda benar!.
Memang bapak sangat keras, dan terburu-buru.
begitu mendengar kalau Septian melakukan itu. bapak tanpa mau mendengarkan penjelas Tian dulu langsung mengusirnya.
Pukul delapan malam,aku mohon pamit.
Sebenarnya bapak dan ibu Septian menyuruh aku menginap saja,akan tetapi aku menolaknya karena ada urusan yang harus segera aku selesaikan.
Pukul 7 pagi aku baru bangun.
Badan terasa pegal semua,dan rasanya malas beranjak dari kasur.
Tapi aku sudah punya agenda yang harus aku selesaikan secepatnya.
Dan akupun denga sedikit malas beranjak kekamar mandi.
__ADS_1
Karena takut kesiangan,aku segera bergegas kerumah pak Hadi.
" siang pak!"
"Siang juga nak linda!
Langsung masuk saja,Tian ada di kamarnya !."
Akupun langsung masuk kerumah menuju kamarnya Tian.
Nampak pak hadi sedang sibuk sekali melayani pembeli alat-alat motor.
Kulihat pintu kamar Tian sedikit terbuka,dan akupun..
Kulihat kamarnya kosong,tidak ada siapapun.
Akupun bergegas kedepan untuk menanyakan ke pak Hadi.
" dikamarnya Tian kok tidak ada pak?.
Pak Hadipun bingung dengan tidak adanya Septian dikamarnya.
Dan aku minta pamit untuk mencari Tian.
Belum juga motor kunyalakan,Septian menghubungiku lewat HP minta ketemu disuatu tempat.
Akupun langsung menemuinya di makam Eric.
Sesampai dimakam akupun langsung bertemu dengan Septian.
Kulihat wajahnya sedih yang mendalam karena ditinggal sahabatnya.
Kudekati dia dan kupegang pundaknya supaya tidak terhanyut dalam duka yang mendalam.
"Yan! Erik sudah tenang disana!".
Aku berusaha menghibur
Tian.
" aku sungguh tidak mengerti kenapa semua jadi begini!.
Guman Tian lirih dalam raut muka yang sedih.
Kemudian dia menuntunku ke arah makam lain.
"Lihat...lihat...
Apa belum cukup!"
"Mereka semua tidak bersalah,dan harus jadi korban!".
Septian begitu terpukul dengan meninggalnya mereka.
Belum lagi orang-orang yang menghajarnya masih mengejarnya sampai sekarang.
Akupun sempat membaca nama yang ada di nisan yang terbuat dari kayu itu,
Disitu tertulis
Nama: Ranti farhan wijaya
Tgl lahir: 10 mei 1994
Seketika badanku gemetar,karena tanggal lahir Ranti sama denganku.
Dan aku sudah pernah melihat foto Ranti yang mirip sekali dengannku.
Untuk sementara aku harus tetap merahasiakan identitas asliku.
" Yan! Siapa itu Ranti?."
Dengan wajah sedih kemudian Septian bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Dulu aku mengenal Ranti ketika sedang wisata diarea pedesaan bersama Eric.
Dia gadis cantik, lugu dan sederhana.
Akupun akhinya sering main kerumahnya hingga kami saling jatuh cinta,dan kamipun pacaran.
Setelah satu tahun pacaran,aku ingin mempekenakan Ranti pada orang tuaku.
Eh....
Tapi naas ditengah jalan kami kecelakaan,motor kami ditabrak mobil yang sepertinya sengaja mau mecelakai kami.
Ranti meninggal dirumah sakit,dan aku pingsan dan luka parah.
Dimotor saya, ditemukan narkoba.
Kami berdua difitnah.
Kami yakinkan petugas dengan tes urine dan segala macam akhinya saya dinyatakan bersih.
Tapi Ita sudah menghasut papa saya,bahwa saya dan Ranti pemakai narkoba.
Orang tuaku dan orang tua Ranti percaya kalau kami berdua pecandu narkoba.
Akhirnya orang tua Ranti tidak mau menerima jasad anaknya dan akhirnya dikubur disini.
"Tunggu! maksudmu Ita teman sekolah kita?"
Tanyaku penasaran, dan Tian hanya mengangguk.
"Apakah Ita sudah pernah ketemu Ranti?
Dan kenapa juga dia mefitnah dan ngomong begitu sama orang tuamu?"
Tanyaku penasaran.
Tianpun melanjutkan ceritanya.
Keluarga,teman,saudara belum ada yang kenal dan lihat Ranti.
Mereka hanya mendengar kalau aku sudah punya pacar.
Ita mungkin sakit hati kepadaku, karena cintanya tidak aku terima.
Sudah lama sebelum aku kenal Ranti, Ita sering menyatakan cintanya kepadaku, tapi tetap kutolak karena aku tidak mencintainya.
Itulah alasannya kenapa dia dendam padaku,apalagi dengar kalau aku pacaran dengan Ranti.
Orang tuakupun dihasut hingga aku diusir dari rumah.
Akhirnya aku luntang-lantung dijalan tanpa tujuan.
Untung saja aku ketemu sama pak Hadi yang kebetulan waktu itu motornya mogok, dan aku membantu memperbaikinya.
Akupun disuruh kerja disana dan tinggal disana juga.
__ADS_1
Rupanya Ita masih dendam padaku.
Pak hadipun sama Ita dihasud macam-macam,tetapi itu tidak membuat pak hadi percaya karena dia lebih percaya padaku.
Justru aku kecewa dengan orang tuaku sendiri yang tidak percaya pada anaknya sendiri.
Septian nampak emosional dan aku segera mengajaknya pulang kerumah pak Hadi.
"Tunggu dulu!"
Kutahan langkahku.
tiba-tiba aku teringat dengan foto yang kutemukan dikontrakan Septian.
"Ada apa lin? Kenapa berhenti? Tanya Tian.
" engak!"
Aku hanya penasaran saja, cantik mana aku sama Ranti menurut kamu Yan?".
Aku sengaja bertanya ingin tahu reaksinya,walau sebenarnya aku sudah tahu dari fotonya.
Nanpak Septian terkejut dan nampak gugup.
Nampaknya dia tidak menyangka aku bertanya seperti ini.
"Yan,kenapa diam?'.
Kulihat dia memandangiku lama,seakan ingin mengetahui isi hatiku.
" sama cantiknya" Jawab Tian singkat.
Akhirnya kami bergegas pulang.
tangan Tian menggandeng tanganku dan aku mengikuti saja.
Hari minggu pukul 8 pagi,aku sudah bersiap-siap hendak pergi kedaerah dimana Ranti berasal.
Semua kupersiapkan dengan matang.aku tidak mau keluarga Ranti mengetahui wajahku sesungguhnya dan penyamaranku tidak boleh gagal.
Aku sudah mengetahui alamat Ranti dari Eric yang memberikannya sebelum meninggal.
"San...kamu hati-hati!
Keadaan sepertinya semakin kacau,kalau penyamaranmu ketahuan bakal bahaya untuk semua".
" ya paman,semoga saya dapat hasil dari penyelidikan kalu ini!".
Akhirnya aku berangkat juga.
Karena jaraknya cukup jauh,aku berangkat agak pagi supaya bisa santai di perjalan.
Sekitar 2 jam naik motor dari rumah,aku menghentikan motorku di warung nasi.
Sebuah warung kecil tapi bersih.
"Ada white coffe buk?".
" ada ning,sebentar!".
Tak lama kemudian kopi pesanankupun sudah siap dan akupun meminumnya.
Sungguh sejuk udara didaerah sini.
Setelah kopiku habis dan kubayar, akupun melanjutkan perjalananku.
Pukul 3 sore aku memasuki daerah tujuanku.
Sebuah tempat suasana pegunungan yang asri dengan sungai dan persawahan.
Terasa nyaman sekali.
Dan alamat yang kutuju dengan mudah kutemukan.
Ternyata keluarga Ranti hidupnya sangat sederhana,bahkan boleh dibilang pas-pasan.
"Assalamuallaikum!".
"waallaikumsallam!".
Seorang anak perempuan umur sekitar 16 tahun menjawab salamku.
Anak perempuan yang cantik dan sedikit mirif denganku.
" siapa nduk?" suara perempuan dari dalam rumah.
"Ada tamu buk!".
"Lo...kok tidak disuruh masuk to?".
Mari silahkan masuk nak!.
Keluar dari kamar tengah seorang perempuan yang umurnya 40an keatas.
Nampaknya dia sedang menderita sakit.
Aku segera masuk kedalam rumah,dan aku lihat sekeliling sebentar sebelum duduk.
Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa terenyuh melihat ibu ini.
Aku benar-bebar nggak tega melihatnya.
Ibu itupun terus menatapku seakan masuk kedalam hatiku.
Akupun jadi bingung,apa penyamaranku ketahuan?
Oh tidak!aku tidak boleh gugup dan terbawa perasaan.
Rencana yang sudah aku susun,akhirnya berantakan semua.
Aku benar-benar terbawa perasaan dan nggak fokus lagi.
Aku merasa sudah mengenal ibu sangat ini jauh sebelumnya.
Ya tuhan!
Kenapa aku ini?
Siapa dia?
Dan apa hubungannya denganku?
Tak terasa mataku memerah dan butiran-butiran air matapun menetes.
" lo nak!
Kenapa menangis,?".
"Nggak apa-apa bu!". Jawabku.
__ADS_1
Kutahan diriku agar tidak terbawa suasana.bagaimanapun juga aku kesini ingin menyelidiki tentang Ranti.
Setelah menghela nafas panjang,akhirnya kumulai bicara pada bu dyah.