POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XlX Tempat kerja Baru


__ADS_3

Septianpun ikut merebahkan tubuhnya disampingku.


Angin berhembus semilir membuat tubuhku terasa nyaman.


Terasa teduh tatkala tangan Septian mengusap rambutku.


Aku segera memejamkan mata, dan dalam hitungan detik terasa dia ******* bibirku. Aku merasakan getaran yang terus berpacu dan menjalar keseluruh tubuhku.


Usapannya kini berpindah kepayudaraku.Dia terus meremas sambil mengulum bibirku.


Kini tangannya sudah membuka kancing bajuku.


Aku terus memejamkan mata dan merasakan septian mengulum dan memainkan putingku.


Aku..aku..terasa pori-poriku mengejang.


Septian terus menyedot dan mengulum ****** susuku dan tangannya mulai menjalar kearah perut dan kebawah...


"Jangan..jangan Yan!".


Aku langsung membuka mata.terlihat bajuku acak-acakan dan payudaraku nampak bekas air liur Septian.


Ah...akupun menangis.


" maafkan aku San, aku kilaf.


Aku juga heran kenapa kamu tidak seperti biasanya, seakan kamu sengaja memberikan peluang kepadaku untuk melakukannya?!!"


Aku hanya bisa menangis dan Septian segera menenangkan dan memelukku.


''Yan!..apakah aku cewek yang tidak romantis.


Apakah karena aku polisi, aku menjadi kaku dan tidak feminim?".


" San! Kenapa kamu ngomong seperti ini?".


"Aku tahu kamu polisi yang di didik tegas dan akan mempengaruhi sifat dan sikap kamu."


"Kamu feminim atau lebih tua bagiku bukan itu masalahnya.


Yang penting aku cinta kamu dan akan terus aku perjuangkan!"


Kata-kata Septian benar-benar membuat aku lega.aku segera mengusap air mataku dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.


Sesampai dirumah nampak ayah akan bepergian.


"Yah..mau kemana?"


" San! Ayah pulang dulu.


Sudah lama ayah meninggalkan pekerjaan dan ayah akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk rujuk dengan ibumu lagi".


Aku senang sekali mendengarnya, dan aku langsung memeluk ayah.


Ini hari pertama aku kerja setelah komandan memberiku cuti.


Ucapan selamatpun diberikan teman-teman kepadaku.


Kini aku harus kerja di belakang meja lagi dengan rutinitasnya yang membosankan.


Tetapi sebagai anggota polisi aku akan patuh pada atasan.


Tak terasa sudah hampir satu bulan aku kerja di kantor, dan surat pindah tugasku berlaku efektif lima hari lagi.


Aku duduk memperhatikan teman-teman polisi.


Terasa sedih harus pindah ke pekalongan.


"San..Santi!"


Aku kaget ketika temanku memanggilku.


"Itu kapten memanggil kamu".


Akupun langsung keruangan kapten Anton.


" Siang Ndan!"


"Siang, silahkan duduk".


Akupun duduk menunggu perintah komandan.nampak komandan menyerahkan dua map kepadaku.


"Apa ini ndan?"


Tanyaku agak bingung.


"Surat yang pertama penghargaan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi karena jasamu dalam pembongkaran jaringan narkoba kemarin".


" Surat yang kedua Surat Pindah Tugas.


Irjen Didik rupanya benar-benar ingin kamu bergabung dengannya di Mabes, tetapi dia juga memberi kelonggaran kalau kamu menolak pindah, kamu ganti duduk disini menggantikan saya!".


"Maksud komandan?".


" aku juga naik pangkat San!"


"Alhamdulillah!!?".


Aku dan kapten Anton saling mengucapkan selamat.


Ini benar-benar luar biasa hasil kerja kerasku selama ini terbayar sudah, tetapi aku sadar ini hanya sebuah proses dan aku akan terus meningkatkan kinerjaku.


Akupun menatap masa depanku dengan penuh keyakinan.


Setelah ini aku belum memutuskan tetap di polres menggantikan posisi kapten Anton, atau menerima tawaran pindah tugas ke Mabes.


Jam dinaspun usai, aku ingin segera pulang untuk memberitahukan kabar baik ini kepada paman.


Begitu sampai di depan rumah aku melihat mobil ayah sudah ada di halaman.


" Kak Santi!"


Akupun menoleh kearah suara berasal.


"Sinta!


Kamu kok ada disini, berarti ibu ikut dong?".


Tanyaku penasaran.


" San..Santi!


Ibu memanggil dari dalam rumah, dan aku segera menciumnya tangan dan pipinya.


"Ibu kapan datangnya, dan kesini sama ayah?".


" Huss..kalau nanya satu-satu!


Sudah nanti ngobrolnya, ayo masuk dulu kamu pasti capek pulang dari kerja!".

__ADS_1


Saya senang sekali ibu dan ayah sudah selesai mengurus surat-surat untuk keperluan Rujuk, dan rencananya mereka akan ijab satu minggu lagi.


Setelah makan malam, akupu memberitahu kepada paman, ayah dan ibu kalau saya naik pangkat jadi kapten/ Ajun Komisaris Polisi.


Selain itu saya juga dapat tawaran pindah ke Mabes.


Aku ingin minta saran mereka mana yang terbaik untukku.


"San! Keputusan ada ditanganmu.ayah yakin kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik, karena hanya kamu yang tahu persis kondisi dikepolisian dan cita-citamu tersalurkan.


Akhirnya upacara kenaikan pangkat selesai dilaksakan.banyak teman-teman sesama polisi memberi ucapan selamat kepadaku.


" Gimana kapten, sudah ambil keputusan.


Duduk di kursiku atau menerima tawaran dari Mabes?".


"Siap ndan, sepertinya aku akan menerima tawaran untuk pindah ke Mabes.


Saya ingin cari tantangan baru dan suasana baru!".


" Ya..aku kenal watak kamu yang tidak suka kerja dibelakang meja.


Saya ingin mengucapkan selamat dan semoga sukses di tempat baru".


" Siap ndan, sama-sama semoga sukses".


Kami saling memberi ucapan selamat.


Komandan Anton selama ini banyak membantu saya dalam berkarir di kepolisian.


Sesampai dirumah nampak ramai sekali.


"Assalamuallaikum"


"Waallaikumssallam".


Mereka sengaja berkumpul untuk merayakan, dan syukuran kenaikan pangkatku.


"Ayo nak sini kita makan- makan, kita sengaja tidak mengundang siapa-siapa cuma calon besan dan menantu"


"Ya buk!"


Kamipun menikmati hidangan yang sudah disiapkan.


Begitu nikmat anugerah yang kami nikmati hari ini.


Sayapun menyampaikan kabar kalau saya memutuskan akan pindah ke Mabes.


Mereka semua mendukung keputusanku.


Hari berganti hari, akupun sudah dinas di Mabes Polri.


Sementara ayah dan ibu akhirnya sudah sah sebagai suami istri.


Mereka memutuskan untuk kembali tinggal di daerah asalnya yaitu daerah Bumi Asih.


Banyak warga yang senang ayah kembali ke desa Bumi Asih, bahkan teman-teman ayah menyarankan supaya tahu depan mencalonkan jadi Lurah.


Sementara Septian sekarang sudah kuliah di jakarta.


Dia mengambil fakultas ekonomi.


Sementara aku tinggal di asrama polisi.


Hari-hari berkutat dengan rutinitas yang membosankan.


Untung saja ada kapten Nico yang bisa membuatku ceria.


Aku berusaha dan terus belajar dari kapten Nico.


Kapten Nico selalu sabar mengajari dan menceritakan pengalannya ketika menangani banyak kasus pembunuhan.


Kapten Nico berasal dari Gorontalo,orangnya baik penuh humor.


Bahkan dia sering curhat kepadaku kalau calon istrinya penceburu dan overprotective.


Walaupun calon istrinya berasal dari yogyakarta tetapi wataknya keras bahkan terkesan bicaranya kasar.


Bahkan Kapten Nicopun mengatakan kalau dia lebih nyaman bila ngobrol denganku dari pada dengan calon istrinya.


Aku mengetahui gelagat kalau kapten Nico menaruh hati padaku, tetapi aku berusaha menunjukkan sikap biasa saja dan tidak mau memberinya harapan.


Bagaimanapun juga aku harus menjaga cinta dan kesetiaanku pada Septian.


Begitu masuk di Mabes aku sudah jadi buah bibir karena, karena aku menjadi kapten termuda di jajaran Mabes.


Walaupun masih sangat muda aku tetap mengedepankan profesionalisme dalam bertugas.


Kebetulan hari ini aku sedang libur. aku berencana menemui Septian di rumah kontrakannya yang kebetulan tidak telalu jauh dengan asrama polri tempat tinggalku.


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumsalam"


" Eh San, ayo masuk!".


Akupun masuk kedalam rumah yang nampak bersih, rapi dan harum.


"Yan, rumah kamu kok bersih sekali dan wangi?".


" kenapa?


Rumah cowok nggak boleh bersih dan wangi.


Hari ini calon istrikukan kan datang jadi harus wang!".


Akupun langsung mencubit pinggangnya.


Seharian kami ngobrol dan


bercanda untuk melepaskan kangen yang lama terpendam.


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


Aku dan Septian menjawab salam tamu yang baru masuk.


Seorang gadis cantik sekali seumuran Septian dengan dandanan feminim dan wajah yang kalem.


"Eh Yuyun!..ayo masuk.


Yun, kenalin ini Santi pacar saya!".


Akupun menjabat tangannya, nampak kulitnya halus dan tuturnya lembut sekali.


" Mas, saya bawa makanan untuk mas tian.kebetulan tadi saya masak banyak".


"Terima kasih ya Yun".

__ADS_1


" Ya mas!


aku langsung pamit saja, ingat mas jangan lupa dimakan.


Perempuan itupun pulang.


Nampak dari sorot matanya dia menyukai Septian.


Dia begitu perhatian dengan Septian.


Aku sudah percaya kepada Septian, tetapi kenapa masih ada rasa cemburu dihati ini.


"Siapa itu tadi yan, kok perhatian sekali sama kamu sampai bawain makanan segala?".


" Teman sekampus, kebetulan dia anak Dekan fakultasku.


Memang dia ceweknya baik sekali, makanya tak heran banyak teman cowok yang mengejar-ngejar dia tetapi nampaknya belum ada yang jadi pacarnya".


"Termasuk kamu juga yang ngejar?".


Tanyaku cemburu.


" lo..cemburu ya!?


Aku sama dia menganggap teman saja.


Kamu jangan pernah meragukan kesetiaan dan cintaku padamu.


Walaupun langit runtuh kau tetap Indonesiaku.


Eh..salah! Kau tetap cintaku!".


Jawaban Septian membuatku lega, tetapi bagaimanapun juga cemburu di hati ini tidak bisa hilang begitu saja.


Dengan wajah secantik itu, tutur yang lembut dan begitu perhatian sama Septian aku benar-benar takut kehilangan.


Apakah aku harus memperingatkan Yuyun supaya tidak dekat-dekat dengan Septian?.


Apakah aku harus mengancamnya supaya tidak cari perhatian sama Septian?


Ya tuhan kenapa mulai ada pikiran jahat di otakku!.


Aku harus percaya sama cinta dan kesetiaan Septian padaku


Hari ini kebetulan ada tugas diluar kantor dan pulang tugas aku bareng dengan mobilnya kapten Nico.


Ketika berhenti di perempatan lampu merah aku melihat Septian dan Yuyun berboncengan sepeda motor. Terlihat Yuyun memegang pingang Septian bahkan terkesan merangkulnya.


Oh Tuhan!


Nampak serasi mereka berdua dan aku benar-benar cemburu.


ingin rasanya aku turun dari mobil dan nyamperin mereka berdua.


Pikiranku benar- benar galau, apa mungkin Septian diam-diam mulai menyukai dan menduakanku.


"San..Santi, kenapa kok melamun?"


"Ahhhhh...enggakkk...


Cuma agak pusing kepalaku, mungkin terlalu capek apel tadi!".


Jawadku mengelak


Didalam perjalanan kapten Nico menghentikan mobilnya di warung nasi yang lumayan bersih dan enak untuk nyantai.


" ayo San ikut aku!".


"Oke nampaknya cocok untuk nyantai".


Akupun bergegas mengikutinya dari belakang, tetapi kapten Nico malah meraih tanganku untuk jalan bareng dan aku diam saja.


Aku benar-benar merasa senang dan bisa melupakan sementara kejadian dilampu merah tadi.


Kapten Nico benar-benar bisa membuat aku tetawa lepas dan terasa ringan beban yang selama ini menghimpit di dadaku.


Dalam perjalanan pulang, diapun masih bisa membuat aku tersenyum dengan canda-candaannya.


Berbeda sekali dengan Septian yang terkesan pendiam.


"Maaf kapten disuruh menghadap komandan".


"ya, terima kasih!".


Aku segera menghadap komandan kombes Dadang yang membawahi bidang pembunuhan.


"Siang ndan!"


"Siang kapten silahkan duduk".


Kombes Dadang menceritakan perihal tindak pidana yang sedang ditangani.


Saya dimintai pendapat sebaiknya bagaimana cara menangani dan memulai dari mana.


Kami terus bertukar pikiran untuk menuntaskan kasus ini.


Kamipun diperintahkan bekerja sama dengan Polres yang membawahi domisili pelapor.


" Siap ndan, saya akan melakukan penyelidikan dan bekerja sama dengan petugas setempat".


Menjelang maghrip aku masih mendalami kasus yang dipercayakan kepadaku.


Menurut BAP yang aku pegang pelapor yang bernama Ahmad Sanjaya merupakan seorang pejabat yang berpengaruh.


Dia melaporkan istrinya yang bernama Herlina ijin pulang kampung sendirian ke kota Malang karena ibunya sedang sakit keras, tetapi istrinya tidak pernah sampai ke tujuan. Sekarang istrinya tidak di ketahui kabar keberadaannya.


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumsallam"


Septian datang kerumah, terlihat dia pulang dari kampus karena masih bawa tas.


Nampak dia cengingas cengingis sambil manggut-manggut melihat tempat tinggalku.


"Jadi ini tempat tinggal seorang kapten?".


" iya, memangnya kenapa?".tanyaku spontan.


"Tidak kenapa- napa, tapi aku punya usul lebih baik kamu tinggal sama aku dikontrakanku deh".


"Enak saja,memangnya aku istrimu?"


Jawabku sambil mencubitnya.


Aku benar-benar senang Septian datang kerumahku.


Setidaknya aku bisa melupakan sementara kasus yang aku hadapi.


Besoknya dengan membawa surat perintah dari Mabes, aku pergi ke polres jakarta timur.

__ADS_1


Aku segera menemui petugas yang berwenang.


__ADS_2