
Sampai di rumah aku sama Septian masihmemperbincangkan masalah yang terjadi pada bu Anjar.
"Yan, apa mungkin pelaku yang menaruh ular, orangnya sama dengan yang sedang aku selidiki?" Tanyaku penasaran.
"Aku belum bisa menyimpulkan
Sebab selama ini korbannya mahasiswi bukan Dosen.
Tetapi yang jelas semua korban perempuan dan aku minta kamu juga hati-hati." kata Septian sambil berjalan kekamar.
Akupun mengikuti Septian masuk kamar belakang.
"Ehh San..ngapain kamu masuk kamarku? Keluar!"
"Memangnya kenapa yan? Nggak boleh?" tanyaku.
"Tolong San..jangan buat aku terus menahan?!"
"Kenapa harus menahan?"
Kataku langsung naik tempat tidur Septian
Septian terus memandangku.
Terlihat dia sedang menahan sesuatu dan kemudian keluar kamar.
Aku yang jengkel langsung melemparkan bantal kearah Septian.
Aku segera beranjak keluar kamar dan terlihat Septian lagi duduk di kursi memandangku.
Aku langsung masuk kamar depan dan kukunci.
Kenapa Septian kok seperti ini?
Apa aku kurang menarik?
Apa Septian mulai suka sama Yuyun.
Aku lihat akhir-akhir ini Yuyun terus cari perhatian Septian.
Tidak..
"Tidakkk.."
Entah kenapa tiba-tiba mulutku teriak dengan kencang tanpa sengaja.
"San...Santi...buka pintunya San !"
Terdengar Septian menggedor-gedor pintu kamarku.
Aku ambil sepatu di lantai dan kulempar pintu sekeras-kerasnya.
"Dorrrrt.."
"Pergiiii" teriakku jengkel.
Malampun berlalu begitu saja.
Tidak ada mimpi-mimpi yang menyelinap dalam tidurku.
Terasa malas badan ini untuk bangun, tetapi sebagai anak kuliahan yang baik akupun bergegas keluar kamar untuk mandi.
Haripun terus berlalu, kebetulan di kampus ada acara jadi kamipun berangkat lebih pagi.
"Yan, San kebetulan kemarin aku belajar bikin kue, kita makan yuk?!"
Kemudian Yuyun membuka kotak kue dan,..
"Emmm..enak sekali Yun"
Puji septian.
Kuakui memang rasanya pas dan nikmat.
"Sayang ada yang kurang Yun!"
"Apa Yan?" tanya Yuyun.
"Kuenya kurang banyak
" Kamu bisa saja Yan! Jawab Yuyun sambi mencubit Septian.
Nampak Yuyun dan Septian semakin hari semakin akrap dan semakin lama aku mulai cemburu betulan.
Acara kegiatan kampus di mulai, kamipun beranjak ingin melihat para artis kampus tampil.
"Ayo Yun, kesana!" Ajakku
" Ya San, kamu duluan saja sebentar aku menyusul."jawab Yuyun.
Aku dan Septianpun bergegas ke tempat acara.
Aku dan Septian berpencar dan yakin kalau pelaku akan beraksi. karena acara seperti ini paling cocok untuk mengalihkan perhatian.
Aku juga sudah mengingatkan bu Anjar untuk selalu hati- hati.
Jam tiga sore acara hampir selesai.
Bahkan para mahasiswa sebagian sudah berangsur pulang.
Aku dan Septian duduk santai di taman sekolah, namun tiba-tiba ada mahasiswi teriak minta tolong.
"Tolong..tolong...!"
Aku segera bergegas pergi ke arah suara minta tolong.
"Ada apa ?"
"Bu Anjar di toilet!" suara mahasiswi nampak ketakutan
Akhirnya sebagian laki-laki ke toilet dan dari dalam toilet mereka teriak.
"Jangan mendekat toilet ada strom listrik"
Tak lama kemudian Septian dan beberapa teman cowok menggotong tubuh bu Anjar keluar toilet.
Septian segera memeriksa denyut jantung bu Anjar
"Bu Anjar cuma pingsan" kata Septian.
Selanjutnya bu Anjar di bawa oleh anak-anak fakultas kesehatan untuk tindakan selanjutnya.
Aku segera mengecek toilet tempat bu Anjar tersengat listrik.
Rupanya ada kabel kecil yang di hubungkan dengan tempat cuci muka.
Aku segera menelusuri arah kabel ini kemana.
Setelah aku cek tenyata kearah luar belakang toilet.
Juga dipasang saklar listrik.
Dengan adanya saklar pelaku bisa memilih korban yang akan tersengat listrik.
Dengan gaya dan teknik seperti ini pelaku biasanya laki-laki.
Jarang sekali perempuan berani memegang ular dan mengetahui seluk beluk listrik.
Bukan berarti tidak ada dugaan pelakunya perempuan tetapi kecil.
Aku segera mengambil dengan hati-hati sakar supaya dudik jari tudak rusak.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit bu Anjar sudah sadar.
Dan kebetula letda Caniago yang di telepon Septian sudah datang.
Letda Caniago segera membawa pergi bu Anjar dari kampus.
Sungguh lihai dan cerdik pelaku merencanaka pembunuhan.
Tetapi aku semakin tertantang dan berjanji akan menangkapnya.
Sesampai di rumah aku segera mempelajari berkas dan hasil analisaku selama kuliah.
Benar-benar belum ada gambaran sama sekali yang patut aku curigai.
Aku benar-benar pusing memikirkan kasus ini dan kulempar berkas itu ke meja.
"Kenapa San, jangan kamu terlalu memaksakan.
Kasus ini memang rumit dan harus sabar"
Kata Septian sambil memungut berkas yang aku lempar.
Septian segera duduk dan membaca berkas yang dia pegang.
Nampak Septian mengernyit dahinya.
Selanjutnya nampak mimik mukanya mulai tegang.
Duduknya yang semula bersandar mulai tegak.
Dan dia menghela nafas panjang.
"Hehhhhhh...."
"San...kasus ini berhubungan denganku" kata Septian membuatku sangat kaget.
"Apa maksudmu Yan?" Tanyaku dan langsung duduk disamping
Septian.
Septian tidak menjawab hanya diam terpaku sambil memandangi foto tiga korban.
"Yan..Septian" tanyaku sambil menggoyang-goyang
pundaknya.
"San..aku kenal mereka semua, bahkan sangat kenal" kata Septian membuatku penasaran bingung".
"Kemana Yan?"
"Aku mandi dulu nanti aku ceritain"
Kata -kata Septian benar-benar membuatku bingung.
Apa hubungan semua ini dengan Septian.
Kupandangi foto yang ada di berkas: Yunita, Rosiana, imelda apa hubungannya mereka dengan Septian.
Belum lagi bu Anjar yang juga di incar pelaku.
Dari pada pusing mending nunggu Septian mandi.
"Yan cepat mandinya" teriakku tidak sabar.
Tidak berselang lama Septianpun selesai.
Hanya memakai handuk yang di lilitkan dipinggang dia menghampiriku.
"Bawa berkasnya kekamarku".
Kata Septian aku mengikutinya saja.
Aku segera berdiri dan membawa berkas kekamar septian.
Setelah ganti baju dia menghampiriku dan menatapku lembut sekali.
Entah apa yang terjadi dengan Septian.
Dia memegang daguku dan menciumku dan aku membiarkan saja dia mengulum bibirku.
Tak lama kemudian dia melepaskan ciumannya dan duduk di sampingku.
" San..mungkin kamu target selanjutnya!"
"Apa?"
Jawaban Septian membuat aku tersentak kaget.
"Apa hubungannya denganku Yan?" Tanyaku heran.
Septian segera menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.
"San,...Selama aku kuliah ada beberapa cewek yang ingin cari perhatian padaku, atau boleh dibilang suka padaku.
Yaitu Rosiana, Imelda, dan Yunita dan semuanya sudah jadi korban"
"Aku baru tahu kalau Rosiana adalah intelejen dari berkas milik kamu."
"Terus apa hubungannya dengan bu Anjar.?"Tanyaku penasaran.
"Sejak aku menyamar pada kasus Pak Sanjaya ternyata bu Anjar serius suka padaku.
Dan itu yang membuat pelaku ingin menyingkirkan bu Anjar."
"Sekarang kamu, bu Anjar dan Yuyun yang jadi targetnya, kalau pelaku tidak suka padaku"
"Tetapi kalau pelaku tidak suka dengan cewek yang dekat denganku, berarti pelakunya satu diantara kalian bertiga.
Bisa kamu, Yuyun Atau bu Anjar."
"Sebab saat ini yang aku tahu hanya kalian bertiga yang suka dan cari perhatianku."
"Tetapi untuk sementara aku beranggapan pelaku tidak suka padaku, dan berarti kamu, Yuyun, dan bu Anjar masih sebagai target pelaku dan harus hati-hati."
Kami berdua terus berdiskusi tentang kasus yang ternyata masih ada sangkut pautnya dengan Septian.
"Terus apa yang harus kita lakukan yan?"
Tanyaku penasaran.
"Aku tidak tahu, kalau menurut kamu sendiri gimana ?"
Tanya Septian balik kepadaku.
Kasus ini benar-benar pelik dan rumit.
Kalau pelakunya tidak suka sama Septian terus siapa orangnya?.
Dan selama ini nampaknya septian juga tidak punya musuh atau bermasalah dengan orang atau dosen dan mahasiswa.
Kalau pelakunya bu Anjar, ,Yuyun dan aku sepertinya tidak mungkin.
Dari tiga wanita ini yang bisa, dan mampu melakukan hal seperti itu cuma aku.
Yuyun anaknya baik, lembut, kalem tak mungkin bisa melakukannya.
Bu Anjar memang sifat aslinya aku tidak tahu, tetapi sekarang sudah dua kali jadi target jadi tidak mungkin pelakunya dia.
Sedang aku...
Masak aku tidak sadar dan diam-diam membunuh semua cewek yang suka sama Septian?
__ADS_1
Aku sama Septian benar-benar pusing mikirin kasus ini.
Hampir satu jam kami hanya diam berdiri sambil mondar- mandir mencari ide ataupun apa namanya.
"San..aku punya cara tetapi tetap ada resikonya"
"Apa maksudmu yan?
Tanyaku masih terus penasaran
Apa yang dipikirkan tian.
"Begini San, selain mencari pelaku kita juga melindungi bu Anjar dan Yuyun.
Tetapi kita lebih fokus melindungi Yuyun karena dia yang tampak paling lemah."
"Kita juga harus menjaga diri, karena bisa saja Yuyun atau Bu Anjar pelakunya.
Jadi kamu bisa dibilang jaga ular yang kapan-kapan bisa menggigitmu."
"Persiapkan senjata yang tidak mencolok dan pelindung untuk jaga-jaga."
Kitapun sepakat dan akan membongkar kasus ini secepatnya sebelum septian dan aku di wisuda.
Waktupun terus berjalan dan kami berdua semakin hati-hati.
Benar kata Kombes Dadang berjalan tanpa mata dan telinga dalam kasus ini sepertinya kita yang diburu.
Aku sudah berkomitmen akan menangkap pelakunya dan kembali ke Mabes dengan kepala tegak.
Bagaimanapun juga aku akan menguji dan menjebak pelaku. dengan pelatihan dan pengalamanku selama tugas aku tidak boleh kalah.
"Kemana San" tanya Yuyun.
"Bosen di sini, kekantin yuk?!" jawabku sambil mengajak Yuyun.
Kami berdu langsung ke kantin dan memesan minuman.
"Yun boleh aku tanya?"
"Tanya apa San, sepertinya serius?" Jawab Yuyun santai
" Yun, kamu suka sama Septian ya? "
"Dulu sebelum aku tahu Septian pacar kamu, aku sempat cari perhatian dia terus.
Seiring waktu berjalan aku bisa menerima keadaan walaupun kuakui, aku masih belum bisa melupakan sepenuhnya.
Maaf ya San?
" Ngak apa Yun, aku senang kamu berkata jujur "
aku sangat kagum dengan kejujuran Yuyun dan aku segera memeluknya dan aku semakin yakin Yuyun bukan pelakunya.
Sekarang aku dan Yuyun benar- benar menjadi teman baik.
Sudah seminggu ini tidak ada sesuatu yang patut di analisa.
Aku berpikir sejak kasus bu Anjar, pelaku tidak berani lagi beraksi.
karena letda Caniago sering ke kampus bersama beberapa petugas.
Dua hari lagi kampus mengadakan acara ulang tahun kampus.
Kebetulan besok Septian dapat tugas memasang tenda dan perlengkapan lainnya.
Sementara mahasiswa putri banyak yang diliburkan termasuk aku dan Yuyun.
"Besok libur acaranya kemana Yun? "
"Nggak tahu, belum ada rencana San."
"Bagaimana kalau kerumahku Yun?" ajakku serius
"Ya boleh,jam sembilan ya? Sebab kalau pagi aku tidak bisa masak dulu"
"Oke sippp..aku tunggu di rumah ya Yun?"
Kamipun berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.
Pagi jam 8 Septian sudah bersiap berangkat kekampus untuk membantu membuat tenda.
"San aku berangkat dulu ya!?"
"Ya, nanti Jam sembilan Yuyun main kesini, jadi aku tidak sendirian" kataku menjelaskan
"Ya sudah kalau begitu".
Septian langsung berangkat dengan motornya.
**SEPTIAN POP**
Baru saja mulai membuat tenda nampak bu Anjar masuk diantar Letda Caniago.
Letda Caniago memandangku dan memberi kode agar aku mengikutinya.
Aku segera mengikutinya dibelakang kampus.
Beliau memberikan amplop kepadaku.
" Yan ini pesanan kapten santi.
Ternyata sidik jari yang ada di saklar listrik 100℅ punya mahasiswi yang bernama Yuyun Rohati".
Mendengar nama Yuyun aku langsung teringat Santi.
Dengan berlari kearah sepeda motor aku teriak ke Letda Caniago.
"Cepat kerumah letda, kapten Santi dalam bahaya".
** SANTI POP**
"Assallamuallaikum"
"Waallaikumssallam"
"Yun, silahkan masuk"
Yuyun datang membawa sesuatu dan langsung duduk.
"San, aku bawa kue kukus yang aku bikin tadi pagi"
Kami berduapun makan sambil ngobrol.
Memang Yuyun orangnya asik kalau di ajak ngobrol.
"San kok sepi rumahmu?"
Tanya Yuyun ingin tahu.
" Ya sepi, hari ini Septiankan bantu-bantu dikampus untuk acara besok"
"Oya lupa, kalau sendiri dirumah kegiatanmu apa San?."
"Tidak ada Yun, makanya kamu saya suruh kesini biar ada teman ngobrol".
"Kau yang terindah, hadir dalam mimpiku..."
Aku segera berdiri mau ambil handponeku yang berbunyi di meja makan.
Baru berjalan beberapa langkah sekilas tampak dicermin Yuyun mengalungkan tali di leherku dan tanganku kalah cepat.
__ADS_1
"Erggg..erggg......"