POLWAN CANTIK DAN TANGGUH

POLWAN CANTIK DAN TANGGUH
CAPTER XXVlll Liburan Spesial


__ADS_3

Kami terus melanjutkan masuk kedalam hutan.


Dan menempatkan satu polisi mengawasi dua orang penjahat yang sudah kami lumpuhkan.


Kami terus bergerak kedalam.


Ternyata dua orang polisi hutan itu masih dirumah kayu itu.


Kami dengan Kapten Siswoyo segera koordinasi dan kemudian kami merangsak maju mendekat hendak menyergap.


"Doorrrrr"


"Angkat tangan!!!"


Semua langsung kalang kabut lari, tetapi petugas sudah menempatkan diri di posisinya.


Akhirnya kelima penjaga dan dua orang polisi hutan bisa di amankan.


Kami juga membawa dua


Orang lagi yang terlebih dulu sudah kita amankan untuk di bawa keluar hutan.


"Kapten, berkat laporan dan bantuan anda. Kami berhasil menangkap penculik wanita yang sudah lama kami buru."


"Sama-sama letnan, semoga sukses."


Akhinya kamipun balik lagi ke jakarta.


Rencana untuk refresing dengan Septian jadi berantakan dan amburadul.


"Yan, liburanku tinggal besok.


Rencananya kamu ngajak aku liburan kemana?


"Nggak ada !".


"Ngak ada gimana?. Tanyaku jengkel.


Sampai rumah aku masih ngambek dan nggak mau bicara sama septian.


"Besok aku kesini jam 9 pagi".


" terserah..! Aku mau tidur"


Akupun langsung masuk ke kamar.


Aku sangat benci sekali.


Dapat lbur dari kantor sungguh tidak terasa.


Pingin liburan di tempat yang sejuk, malah berurusan dengan penculik.


Libur tinggal satu hari, punya cowok malah nggak punya pengertian sama sekali.


Pagi sudah menampakkan diri.


Tetapi aku masih malas untuk bangun.


Septian berencana kesini tetapi aku males mau menemuinya.


"Assallamuallaikum"


Terdengar orang mengucapkan salam


Tetapi bukan Septian, lalu Siapa?


"Waallaikumssalam"


Aku segera keluar menemui.


Nampak seseorang dengan dandanan supir.


"Maaf apa benar dengan mbak Santi?"


"Benar" jawabku masih heran.


Kemudian orang itu memberi surat kepadaku, dan aku segera membacanya.


"Ikut saja sopir, jangan banyak tanya.


Bawa pakaian dan baju renang"


Akupun mempersilahkan tamuku masuk dan aku segera siap-siap.


Diperjalanan aku sangat menikmati sekali.


Dengan mengendarai mobil Mercedes band sungguh nyaman sekali.


Sekitar pukul 10 akhirnya sampai juga di sebuah Resort pinggir pantai.


Aku benar-benar terkesima dengan pemandangan yang aku lihat.


"Maaf..dengan mbak Santi ya? Seorang pegawai Resort menanyaiku.


"Betul"


"Mari mbak! Silahkan ikut saya"


Akupun segera mengikutinya.


Rupanya pegawai itu menujukkan kamar saya dan memberi tahu sudah di tunggu di pinggir pantai.


Aku segera menyimpan bawaanku di kamar, setelah itu aku langsung ke pantai.


Septian tampak tiduran di kursi panjang dan aku segera menghampirinya.


"Halo sayang..masih ngambek?


Aku langsung mencubitnya.


Terus terang aku tidak menyangka Septian memberi kejutan kepadaku.


Kemarin sangat menjengkelkan tetapi ternyata romantis sekali.


Aku segera tiduran di kursi sebelahnya.


"Maaf mbak, silahkan!"


Seorang pelayan membawa banyak menu pesanan Septian.


Kami berdua langsung menyantap hidangan yang di sediakan oleh pelayan tadi.


"Ayo ke pantai San?! Ajak Septian langsung menarik tanganku."


Kami main di pantai sampai siang.


Saya benar-benar menikmati liburan ini.


Tepat pukul 12 kami berdua segera balik kekamar untuk mandi.


"Yan, aku lapar !" belum lama aku ngomong ada yang mengetuk pintu.


Seorang pelayan datang membawa makanan dengan di dorong.


Pelayan itu langsung pergi setelah Septian memberinya tip lebih dulu.


"Makanan sekian banyak mana habis?!


" kalau nggak habis dibungkus"


Kata Septian bercanda.


Aku benar-benar menikmati kejutan yang diberikan Septian.

__ADS_1


Aku merangkul Septian dari belakang dan mencium pipinya.


"Sayang..makasih ya!.


Maaf kalau kemarin ngambek".


"Ya..tapi nanti sore kita pulang ya?".


Aku hanya mengangguk saja seakan sudah puas liburanku sudah terpenuhi.


Hari sudah mulai gelap, tetapi Septian belum mengajakku pulang.


"Sudah jam setengah tujuh kita kok belum pulang, sayang?"


Tanyaku mengingatkan.


"Kenapa?sudah nggak betah? Tanya Septian balik.


" tidak, kalau pulang besok pagi aku juga mau kok! Jawabku spontan.


Nampak Septian senyum-senyum nggak tahu makdudnya apa?.


"Sayang..sekarang ikut aku dulu" ajak Septian sambil memeluk pundakku.


Aku berfikir selama pacaran baru kali ini aku dan Septian saling memanggil sayang.


Aku betul-betul serasa baru pacaran lagi dengannya.


Perasaan jenuh kini mulai menggelora lagi.


"Sayang ?! ngapain kita?


Pantai yang tadi siang bagus, sekarang tampak indah dan romantis sekali.


Satu meja dan dua kursi berhiaskan bunga.


Dan di sekitarnya ada banyak lampu warna-warni menambah suasana semakin romantis.


"Silahkan duduk sayang !.


Septian menarik kursi dan menyuruh aku duduk.


"Plakk...plakk..."


Septian menepuk tangannya


Dan...


"Ohhhh..romantis sekali.


Seikat bunga..


Aku sungguh bahagia sekali hari ini di beri bunga oleh Septian.


Entah kenapa aku yang sudah pacaran lama dengannya tiba-tiba mataku berkaca-kaca.


Perasaan dan cintaku semakin menggelora.


"Maafkan aku sayang, kalau selama ini banyak menuntut"


Pikirku dalam hati.


Malam ini aku benar-benar menikmati diner yang luar biasa.


Tanpa banyak bicara Septian berjalan di belakangku kemudian menyibakkan rambutku, dan dalam hitungan detik sebuah kalung yang indah sudah melingkar di leherku.


"Ohhh..terima kasih sayang" ucapku padanya.


Sekitar jam delapan kami kembali kekamar.


Didalam kamar Septian memelukku dan terus menciumku dan aku membalas ciumannya.


Kami saling berciuman dan hanyut dalam suasana romantis.


"Tidak sayang, selama kita pacaran baru kali ini aku merasa sangat bahagia sekali"


"Terima kadi sayang"


Kataku sambi mencium pipinya.


Tepat pukul sepuluh malam kami meninggalkan Resort menggunakan taxi online.


Aku akhirnya tidur dirumah Septian di kamar depan, sementara Septian tidur dikamar belakang.


Jam dinding sudah berbunyi 7 kali. Ini hari pertama aku masuk kantor.


Seakan mataku enggan di buka, tetapi aku hari ini harus masuk kantor.


Nanti jam 1 siang aku harus menghadap Irjed Didik Waluyo.


Orang yang selalu jadi panutanku.


Orang yang menarikku dan memberi kesempatan untukku berkarir di Mabes.


Aku segera berjalan kekamar mandi.


Ketika melewati meja makan kulihat sudah ada dua piring nasi goreng.


Yang satu bekas di makan tinggal setengah, sementara satunya masih utuh dengan lauk telur dadar.


Urung ke kamar mandi, aku langsung duduk dibmeja makan, dan...


"Buihhhh...ehmmm...."


Aku langsung menyemprotkan nasi goreng yang baru sedikit masuk mulutku ke lantai.


"Ya Tuhan....???!!!


Bagaimana Septian bisa makan nasi seperti ini?"


Selagi binggung mikirin nasi goreng, Septian pulang dari olah raga pagi.


"Pagi sayang"


Dia datang menyapaku dan langsung duduk di meja makan.


Septian segera makan nasi gorengnya yang tinggal separo.


Nampak dia begitu lahap sekali makannya.


Aku jadi kepikiran jangan-jangan aku di kerjain.


Aku segera mengambil sendok.


"Ihhh..itu nasimu sayang masih utuh."


"Aku minta satu sendok saja"


Aku segera menyendok nasi yang di makan Septian.


"Buihhhhh..ehmm...")


Aku langsung memukul pundak Septian.


"Makanan apa ini sayang? Seperti ini kok di makan??!!"


Kenapa aku kok jadi kasihan.


Dengan kekayaan om Hamid Septian harusnya tidak seperti ini.


Dia bisa mencari pembantu untuk mengusi rumah dan makannya, tetapi dia malah berusaha untuk mandiri.


Ya tuhan...terima kasih engkau sudah mempertemulan aku dan dia.

__ADS_1


Semoga dia jodoh terbaik yang kau berikan padaku.


Dengan langkak tegap dan hati yang bulat aku segera memasuki area Mabes.


Di coridor menuju ruangan Irjend didik aku bertemu dengan kombes Hendra laksana.


Aku segera memberi hormat dan menyapanya.


"Siang ndan !


"Siang kapten Santi..


Kamu mau menghadap komandan Didik ya?


"Betul ndan !"


Aku berpikir dia kok tahu.


Kombes Hendra adalah komandan yang terkenal tegas dan sangat disiplin


Beliau memegang Devisi Anti Teror.


"Ya sudah kita bareng saja menghadap beliau sekarang, sebab nanti kita jadi patner dalam tugas.


"Siap komandan?!"


Aku sedikit heran kenapa Irjend Didik menyuruh kami berdua menghadap dan bagaimana mungkin aku bekerja sama dengan bagian terorisme.


Selama ini terus terang aku masih minim dengan terorisme dan masih banyak petugas yang bisa di andalkan untuk menanganinya.


Aku berpikir mungkin ini masalah lain yang perlu kerja sama dariku.


"Siang ndan !"


"Siang kombes Hendra , kapten santi !


Silahkan duduk ".


"Bagaimana perkembangan kasusnya Pak Hendra?"


Kombes Hendra segera melaporkan kasus yang dia tangani mulai dari awal.


"Maaf komandan intinya beberap Intelejen dan petugas yang kami kirim tidak membuahkan hasil yang maksimal sehingga kasus ini seakan tidak bisa di ungkap."


Jelas kombes Hendra tampak bingung.


"Pak hendra ! Sudah hampir tiga tahun kasus ini bergulir dan semakin hari semakin besar dan sangat berbahaya bagi keamana, kestabilan negara."


"Aku tidak mau kasus ini semakin besar, aku merekomendasikan Kapten Santi bisa masuk dan bekerja sama dengan Devisi Anti Teror"


"Bagaimana kapten Santi?"


"Siap komandan, saya siap bekerja sam dan mohon bimbingannya ".


Jawabku datar


" kapten Santi, anda selalu merendah, tetapi kalau di beri tugas selalu kamu selesaikan dengan baik dan cepat’


Puji Irjend Didik kepadaku.


"Betul komondan, ketika anda merekomendasikan kapten Santi, saya mulai ada harapan.


Dan saya yakin dengan ide-idenya kasus ini bisa cepat terungkap."


Timpal kombes Hendra dan membuatku semakin tersanjung.


"Maaf komandan !


Dalam menangani jaringan terorisme saya masih harus banyak belajar dari kombes Hendra ".


Kami terus berdiskusi tentang masalah ini dengan santai.


"Kapten Santi,saya percaya anda bisa melaksanakan tugas ini denga baik.


Saya tidak sembarangan merekomendasukan orang dan teknisnya anda diskusikan denga kombes dadang."


"Aku tunggu seminggu lagi ide dan cara kamu menangani kasus ini setelah kamu menerima berkas dari kombes Hendra."


"Sekian pertemuan dan aku tunggu satu minggu.


Tefima kasih."


Irjend didik memberi waktu buatku satu minggu.


aku segera mengikuti kombes Hendra ke ruangannya.


Ya Tuhan...


Tumpukan berkas menggunung dan aku harus segera mempelajarinya.


Kombes Hendra menceritakan kasusnya hingga detail.


Sore hari sebelum maghrip kami baru selesai.


Akupun permisi dengan membawa tumpukan berkas.


Berkas aku taruh di ruang tamu dan aku hanya memandanginya saja seakan gunung yang mustahil di bongkar.


Irjend Didik percaya padaku dan aku tidak akan mengecewakannya.


Tetapi di saat seperti ini, saya membutuhkan Septian.


Walaupun dia bukan polisi tetapi analisa, dan taktik dia dalam membongkar kasus cocok dengan diriku.


"Reng...reng..."


Baru saja di pikirkan, Septian sudah datang


Memang benar kata pepatah kalau cinta itu buta.


Aku dulu tidak menyangka kalau jatuh cinta sama anak SMA yang lebih cocok jadi adikku dari pada pacarku.


"Assallamuallaikum"


"Waallaikumssallam"


Septian datang langsung membopongku dan membawaku kekamar.


"Yan..apa-apaan kamu.


Dilihat orang dari luar malu !".


Septian tidak memperdulikanku


Dia merebahkan diriku di tempat tidur dan mencumbuku.


" Ahhhh....ahhh..."


Aku yang tadinya tidak menginginkan lama-lama terangsang juga.


Aku benar-benar menikmati ciuman Septian.


Aku benar-benar sudah pasrah,...tetapi Septian malah menghentikannya.


Aku hanya bisa menahan marah...


Apa yang dia lakukan dan kenapa kemudian menghentikannya?


Ada apa denganku? Aku keluar kamar sambil membawa bantal.


Aku lempar bantal dia karena jengkel.


"Kenapa marah sayang?" Tanya Septian merasa tidak salah.

__ADS_1


Dia menghampiriku dan kemudian mendudukkanku di kursi.


__ADS_2