
Violet berjalan menuju taman rumah sakit ia duduk di kursi kosong pinggir jalan sekarang sangat sepi kesunyian menyelimuti Violet "permisi nona?" Tanpa Violet melirik orang disampingnya Violet sudah tau jika itu leo dan yang pasti dengan senyum di wajahnya "apa?" Tanya Violet dengan mengusap pipinya yang basah "tuan Dave tau jika nona ingin bertemu tuan Dave dan saya disini untuk menjemput nona" ujar leo dengan sopan dan leo benar Violet ingin bertemu Dave memaki dan memarahi Dave "baiklah" ujar Violet lalu berdiri dan leo berjalan diikuti Violet di belakangnya mereka berdua masuk mobil dan leo mulai melajukan mobil menuju mansion Dave yang ada di tengah hutan
Violet keluar dari mobil ia menatap mansion mewah dihapannya Violet menarik nafas berusaha menjadi berani dan Violet pun berjalan menuju pintu utama dan maid pun langsung membuka pintu sebagian membungkuk hormat pada Violet dan ini membuat Violet takut "silahkan masuk nona" ujar leo karena Violet berhenti di ambang pintu Violet pun masuk dan ia bisa langsung melihat Dave yang tengah duduk di ruang tamu tak lupa dengan wine di tangannya betapa tampannya Dave saat menunjukan senyum manisnya "kemarilah Vi kakak merindukanmu" oke Violet semakin takut ternyata keinginannya untuk bertemu Dave salah seharusnya ia menemani Agra di rumah sakit tapi sekarang sudah terlambat Violet mendekat lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Dave "kenapa?! Kenapa kakak lakuin itu sama agra?!.." Dave menyimpan wine nya mengukir senyum di wajah tampannya "kamu tau Vi semua itu bukan kakak yang lakukan" Violet mengerutkan keningnya "tapi dia" tunjuk Dave pada wanita yang tengah berjalan dari pintu utama menuju ruang tamu Violet membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat ini tidak mungkin ini pasti hanya akal-akalan Dave untuk menutupi kesalahannya "selamat malam Vi" ujar Alena dengan membungkukkan badannya Violet berdiri "kak Alena? Ini bohong kan?!... Jangan bodohi aku!.. apa yang kak Alena lakukan disini kak?!.." Alena menundukan wajahnya ini bukan kemauannya sendiri jika bukan karena ancaman Dave Alena tidak mungkin seperti ini "maaf Vi saya tidak bisa bersama Regan" Violet menangis kesedihan menghampiri Violet lagi Regan kakaknya tercinta dikhianati oleh orang yang dicintainya Violet bisa merasakan rasa sakitnya ini sangat sakit "kenapa? Kurang apa kak regan?! Dia lelaki yang sangat aku sayang dan sekarang kamu khianati dia?!.. alena!.." Alena tak percaya dengan pendengarannya sendiri Violet baru saja memanggil namanya Langsung dan Violet mengerti!.. sekarang ia tau siapa yang membuat Agra kecelakaan itu Alena "kenapa kak?!.. jika kakak tidak suka kak Regan lalu kenapa kakak membalas cinta kak Regan?!..." Violet menatap tajam Dave yang sedang meminum wine "kamu!.. ini pasti karena kamu!.. kamu yang suruh dia untuk mencelakai Agra kan?!.." Dave mengangguk membuat Violet geram "brengsek!... Urusanmu denganku bukan dengan orang yang aku cintai sialan!..." Alena takut dengan kemarahan Violet ternyata selembut apapun Violet memiliki sisi yang menakutkan jika orang yang ia cintai disakiti "aku muak dengan kalian!.." Violet berjalan dengan cepat menuju pintu utama tapi dave menarik tangan Violet menuju kamarnya dave berniat akan mengurung Violet di kamarnya "lepas!... Lepaskan tangan kotormu brengsek!..." Alena ingin membantu Violet tapi ia tidak bisa ia takut akan keluarganya yang menjadi sasaran Dave "lepasin!!..." Violet berontak ia ingin segera pergi dari rumah ini tapi Dave terus menarik Violet menuju tangga "apa yang kamu lakukan sialan!... Lepaskan brengsek!.." Dave menarik Violet dengan cukup kencang hingga membentur dada bidangnya lalu ia menarik tekuk leher violet dan mencium dengan paksa Violet berontak ia mendorong Dave sekuat tenaga dan juga Violet menggigit bibir Dave hingga berdarah "akh!.. apa yang kamu lakukan Vi?!.." Dave mengusap bibirnya yang berdarah "kau yang apa apaan brengsek!.." Dave mengeraskan rahangnya lalu menarik kembali Violet dengan paksa menuju tangga dengan tiba-tiba Alena datang dan menarik Violet ke belakang tubuhnya "maaf tuan jangan menggunakan kekerasan pada seorang wanita kekuatan kalian berbanding jauh" ujar Alena dan Violet bersembunyi di belakang tubuh Alena "berani sekali!.." ujar Dave dengan menyunggingkan senyumnya dengan cepat ia menarik pistol di saku jasnya dan menodongkan pada kepala Alena "tu--tuan apa yang anda lakukan" tanya Alena dengan gemetar Violet menatap takut Dave apalagi pistol yang Dave todongkan pada kepala Alena "jangan!..." Alena dan Violet melirik orang yang sudah berteriak tadi dan ternyata dia adalah wanita gila yang selalu Violet lihat di depan pagar pantas saja Violet jarang melihatnya ternyata ia ada disini "lihat ini kakaknya tercinta telah tiba" ujar Dave dan wanita gila itu memeluk Alena dan Alena membalas pelukannya dan tadi Dave berkata kakak tercinta nya? Apakah wanita gila ini kakak Alena? Tapi mengapa Alena seperti menjauhinya apalagi waktu wanita gila ini mendorong Alena waktu itu shit!.. Violet paham sekarang saat ada bangkai anjing di depan rumah Violet itu pasti ulah Alena ia melakukan itu agar wanita gila ini menjadi tersangka Alena juga menuduh wanita gila ini dan Violet ingat saat wanita gila ini mengotori mobil agra!.. wanita gila ini berusaha menyelamatkan Agra dengan caranya sendiri berarti wanita gila ini tau semua perbuatan jahat alena "jangan.. jauhi.." ucap wanita gila itu dan Dave tertawa membuat Violet kesal "jangan tertawa!.." bentak Violet "apakah kamu nggak sadar bahwa orang gila sebenarnya adalah kamu!.." ujar Violet dengan suara lantang membuat Dave mengepalkan tangannya dan pistol yang ia pegang dengan sangat cepat mengarah pada wanita gila itu dan peluru pun melesat dengan cepat mengenai dahi dan menembus sampai kepala belakang wanita itu "kakak!.." teriak alena dan mengangkat tubuh wanita gila tadi ke dalam pelukannya Violet terkejut ia sangat tidak menyangka dengan apa yang Dave lakukan "kakak bangun kak hikss... Aku minta maaf kak seharusnya aku mendengar perkataan kakak hikss... Maaf kak!.." wanita gila itu mati. Alena berteriak menggoyang goyangkan tubuh kakaknya yang sudah tak bernyawa "Alena ini adalah peringatan dan jika kamu membantah lagi mungkin orang tua mu yang akan mati selanjutnya" ujar Dave dan Alena diam ia masih menangisi kepergian kakaknya "Dan kamu Vi jaga bicara kamu jika tidak ingin melihat darah lagi sepertinya kamu terlalu lama bersama orang-orang tak berguna itu sehingga kamu mulai berani padaku!" Violet menggeleng ia takut melihat tatapan mata Dave yang begitu dingin Dave mengeluarkan sesuatu di dalam kantungnya seperti remot yang hanya memiliki satu tombol merah di tengahnya "kamu boleh pergi setelah menekan tombol ini dan jika kamu tidak mau menekan tombol ini kamu akan ikut kakak Vi" Violet tidak mau ini pasti jebakan "remot apa itu?" Tanya Violet takut "aku sudah memberi tahumu tentang bom itu bukan? Dan ini remotnya" ujar Dave dan Violet menggeleng tidak mungkin Violet meledakan PT ADITAMA dan rumah Agra apalagi sekarang keluarga Aditama tengah terpukul karena kecelakaan Agra "semua pilihan ada ditanganmu Vi" ujar Dave dan Violet melirik Alena yang tengah menangis Violet mengambil remote itu "Vi saya mencintai Regan" ujar Alena dengan tiba-tiba Dave melirik Alena menunggu apa yang akan Alena katakan pada Violet "benarkah?" Tanya Violet dan Alena mengangguk "tapi saya juga menyayangi keluarga saya" ujar Alena membuat Violet semakin bimbang perkataan Alena secara tidak langsung menyuruh Violet untuk memilih pergi bersama Dave dan tidak menganggu kehidupan nya lagi "baiklah" ujar Violet dan tersenyum pada Dave membuat Dave tersenyum bahagia karena Violet akan memilih bersamanya lagi "kemarilah Vi kita pergi dari sini kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh bahkan orang terdekatmu Takan pernah bisa menemukan kita" ujar Dave menjulurkan tangannya dan Violet mendekat tangannya meraih tangan Dave "aku selalu menunggumu Vi" ujar Dave membelai lembut pipi violet membuat Violet memejamkan matanya dan dengan cepat Violet mengambil pisau kecil yang Violet tau Dave selalu menyimpannya di dalam jasnya Violet Langsung mendorong Dave agar lebih jauh darinya "Vi?! Apa yang kamu lakukan!.." teriak Dave saat Violet mengarahkan pisau itu pada urat nadinya "aku mohon kak!.." ujar Violet dan setetes demi setetes air mata violet melewati pipinya "berhenti memberikan pilihan seperti itu!.. aku bingung!.. dan semua pilihan tersebut membawa petaka buat aku kak!.." Dave diam para bawahannya berusaha mendekati Violet dengan mengendap dari belakang tapi Violet menyadarinya "diam!..jangan mendekat!.." bentak Violet dan mereka menjaga jarak kembali Alena tak tau harus bagaimana ia masih setia memangku jasad kakaknya "Vi jangan bertindak bodoh jauhkan pisau itu!.." ujar Alena dan Dave mengangguk "iya Vi jauhkan pisau itu oke!" Violet juga menyadari apa yang ia lakukan ini hanya tindakan bodoh yang pernah ia lakukan tapi tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya "bomnya!.. singkirkan dulu bomnya batalkan pengebomannya!.." teriak violet dan Dave mengangguk ia memanggil Leo yang berada di belakang Violet "lepaskan bomnya batalkan semuanya!.." perintah Dave dan leo mengangguk lalu pergi "sudah Vi biarkan aku mendekat oke" Dave berjalan mendekati Violet dan Violet semakin tertantang untuk mengancam Dave "Diam disana sialan!.. kau selalu mengancamku kau selalu memberiku pilihan yang bahkan membawa kesialan padaku!.." teriak Violet membuat Dave terkejut "aku mohon kak!.. aku mohon aku cape hikss.. aku mencintai Agra kak hikss... Jangan paksa aku untuk ikut dengan kakak!.. masih banyak wanita lain di luaran sana mengapa harus aku?!..." Dave mendekat tak peduli dengan apa yang baru saja Violet katakan Dave Takan luluh dengan tangisan itu sekarang Violet yang ciut "aku ingin memiliki apa yang aku cintai!.. jika kamu ingin berkata bahwa cinta tak harus memiliki itu salah dalam kamus ku tidak ada kata seperti itu walaupun memang ada kenapa harus aku?!.. Kenapa bukan Agra saja?!.. Kenapa bukannya Agra yang harus mencintai tanpa memiliki?!.. Kenapa?!... Dari dulu aku tak pernah mendapatkan apa yang namanya cinta bahkan kasih sayang pun aku tak pernah mendapatkan nya Vi!.. sekarang waktunya kamu kembali bersamaku vi!.. hanya kamu seorang yang bisa membahagiakan aku!.. kita pergi ya?!..lupakan semua ini mari kita kembali seperti semula!..." bulu kuduk violet berdiri mendengar ajakan Dave senyumannya sangat mematikan sangat menusuk hingga membuat Violet tak bisa menatap mata hitam itu Dave mengelus rambut violet mengambil pisau kecil yang berada di genggaman tangan violet lalu ia memberikannya pada bawahannya Violet masih memegang remot bom itu ia gemetar sekarang ia harus bagaimana "kita pulang sayang!.. kita mulai kembali semua seperti semula aku sangat merindukan masa itu dimana kamu bahagia ketika bersamaku!.. dan kita lupakan mereka yang telah menganggu kehidupan kita!.." Alena yang mendengarnya saja merinding apalagi Violet keringat dingin mengucur di pelipis Violet "berhenti kak aku mohon aku mencintai Agra" lirih Violet dan Dave tersenyum lalu detik berikutnya wajahnya menjadi dingin dan Violet terkejut saat melihat Leo di dekat pintu utama "leo?! Kenapa dia disini?!... Bagaimana dengan bomnya?!.." Dave tertawa kecil "menurutmu aku akan mengabulkan permintaan konyolmu itu?!.." Dave menarik tangan Violet lalu menggendongnya saat Violet akan berontak Dave menatapnya dengan tajam "jangan berontak jika tidak ingin mereka semua mati!.." Violet diam menatap Dave yang juga menatapnya dengan tajam "jangan ganggu mereka lagi berhentilah membunuh itu yang aku mau jika kakak ingin membawa aku pergi" Dave tersenyum bahkan senyumannya sangat manis "baiklah Vi aku akan melakukan apa yang kamu mau apapun Vi asalkan kamu ikut denganku" Violet menggenggam remot bom ditangannya lebih baik remot itu berada di tangan Violet dari pada di tangan Dave "tunggu tuan saya mohon jangan bawa Violet pergi" ujar Alena mendekati Dave "kamu berubah pikiran? Tadi kamu menginginkan agar Violet pergi bersamaku" ujar Dave dan Violet ia tak berkutik lagi Violet mengalungkan tangannya dileher Dave lalu ia menelusupkan wajahnya pada tekuk leher Dave dan saat Alena akan menjawab "diamlah jika tidak mau mayat kakak tercinta mu aku buang ke jurang!..." Alena tak bisa berbuat apapun ia mundur memangku kembali Mayat kakaknya lalu menatap kepergian Violet yang Dave bawa menuju mobilnya dan mereka pun pergi entah kemana