
"Nggak!..." Teriak Violet karena Regan membawa bubur yang berisikan sayuran "sayuran sehat buat tubuh Vi ayo buka mulutnya aaaa.." Violet membungkus kepalanya dengan selimut ia menggeleng ia tidak suka sayuran ia tidak mau makan sayur rasanya tidak enak "nggak mau!... Ganti aja pake telor jangan pake sayur nggak pake apa apa juga Vi pasti makan kok asalkan jangan sayur!.." Dave menarik selimutnya kenapa sangat susah memberi makan Violet sayur "coba dulu Vi mana tau kalau belum dicoba..." Dave menyodorkan sesendok bubur dan Violet menutup mulutnya dengan tangan lalu menggeleng Dave memakan bubur itu lalu menarik pipi Violet dan mendorong bubur itu masuk ke dalam mulut violet dan dengan terpaksa Violet memakannya lalu menelannya "gak enak!... Rasanya gak enak!.. gak mau makan lagi bawa pergi aja!.." teriak Violet membuat gendang kepala Dave hampir pecah "jika kamu mau ganti dengan menu lain kamu harus memakannya seperti tadi dari mulut kakak jika tidak mau kamu habiskan bubur ini...." Violet mengangguk membuat Dave heran mengapa Violet tidak menolak dan Dave juga baru sadar mengapa saat tadi ia menciumnya Violet tak berontak "baiklah kamu mau makan apa" tanya Dave dan Violet mulai berfikir
"Kalo mau spaghetti boleh?"
"Nggak"
"Yauda nasi goreng super pedas aja"
__ADS_1
"Nggak"
"Uhh!.. mie ayam boleh?"
"Nggak"
Agra berjalan menuju rumahnya ia duduk di sofa ruang tamu ia boleh pulang karena Agra yang memaksa Dion dan Rini untuk memulangkannya "pa? Bagaimana apa Violet udah ketemu?" Tanya Agra dengan lemas "belum papa masih mencari sebaiknya kamu istirahat agar bisa bantu papa cari Violet" Agra mengangguk lalu memejamkan matanya kepalanya masih sakit bahkan tubuhnya pun sangat lemas Rini kasian melihat anak semata wayangnya entah mengapa Rini merasa kepergian Violet adalah hal yang tepat karena dengan itu Agra Takan menderita lagi "bagaimana dengan bomnya?" Tanya Agra "sudah dibereskan kemarin sekarang semua sudah aman" ujar Dion dan Agra kembali memejamkan matanya "jangan nangis udah besar kok cengeng..." ejek Dion dan Agra tertawa kecil "apaansih pa orang gak nangis juga" ujar Agra dengan air mata berlinang "lah itu apaan udah berkaca kaca kayak gitu" Agra mengusap air matanya "ngantuk pa aku barusan habis nguap" Dion terkekeh ia senang bisa membuat Agra tertawa kembali Dion duduk di samping Agra ia mengacak rambut Agra "anak papa udah besar bisa kelola perusaan papa dong" Agra menatap Dion "entah lah pa aku belum siap masih mau jadi pengangguran dulu" Dion tertawa renyah ia mengacak rambut Agra "bagaimana dengan PT AVI?" Tanya Dion dan Agra mengangkat bahunya "kayaknya batalkan saja" ujar Agra putus asa "bagaiman saat kamu mulai menjadi Presdir di PT ADITAMA kamu ubah nama perusahaan menjadi PT AVI?" Agra menatap Dion yang sedang tersenyum padanya "makasih pa aku akan berusaha yang terbaik" ujar Agra dan Dion mengangguk
__ADS_1
Karena sudah sampai pesawat pun mendarat dengan mulus Violet turun bergandengan tangan dengan Dave "kak?.. lepas Vi bisa jalan sendiri" Dave menggeleng lalu mendekat "kamu lagi sakit Vi" ujar Dave dengan mantap lalu melanjutkan langkahnya ke mobil mewah di dekat pesawat "sekarang udah nggak Vi udah sehat" ujar Violet dengan yakin "benarkah?.." Violet mengangguk dan di detik selanjutnya Dave mendatarkan wajahnya "kakak gak percaya sayang..." Violet cemberut ia mengikuti langkah Dave yang bisa dibilang cukup pelan mereka masuk ke dalam mobil dan mobil pun langsung melaju dengan kecepatan normal
Violet keluar dari mobilnya ia menatap mansion dihadapannya mengapa Dave mempunyai mansion semewah istana seperti ini "Vi? Ayo masuk.." Violet ragu ia masih merindukan rumahnya ia meraih tangan Dave lalu mereka mulai berjalan dan bawahan Dave mulai membungkuk memberi hormat Dave dan Violet diperlakukan layaknya seorang raja dan ratu
Pintu utama terbuka memperlihatkan interior yang begitu indah Violet pun kagum melihatnya "selamat datang kembali tuan besar dan selamat datang nona Violet..." Ujar Alice dengan sopan dan Violet mengangguk berbeda dengan Dave yang tak memberi respon Dave membawa Violet menuju lantai tiga ia menggandeng Violet menuju lift diantar oleh Alice di belakangnya Violet melirik ke belakang ia melirik Alice yang sedang tersenyum 'mungkin cuman perasaan aku aja' batin Violet karena merasa Alice yang menatap tak suka pada Violet life pun berhenti Dave menggandeng Violet menuju kamarnya diikuti Alice dibelakangnya dan saat di tengah perjalanan Violet membuka suara "kak Dave sama Vi beda kamarkan?..." Tanya Violet berharap mereka berbeda kamar Dave melirik Violet lalu tersenyum "sayangnya tidak!" Violet berekspresi murung ia ingin punya kamar sendiri berbeda dengan Alice wajahnya sangat kesal "kenapa kau masih mengikutiku?!.. pergi!.." ujar Dave pada Alice di belakangnya dan ia mengangguk lalu pergi "kenapa diusir?.. dia kan cuma mau menanduk ke kamar" ujar Violet dengan heran "dia menjadi pengganggu diantara kita!..." Ujar Dave membuat Violet bingung kalau mereka sampai di sebuah kamar yang dari pintunya saja sudah terlihat jelas ini kamar utama "ini kamar kita.." ujar Dave lalu membuka pintu dan bumm Violet kagum dengan kamar ini sangat mewah warnanya yang dominan warna putih dan kesan yang sangat elegan "kamu suka Vi?" Ujar Dave sembari memeluk Violet dari belakang "lumayan" Dave mencium pundak Violet karena Violet berbohong Dave tau jika Violet sangat suka kamar ini dan Violet hanya berkata lumayan? Kamar ini pun Dave sendiri yang mengaturnya dari ranjang dan dari pajangan di tembok pun Dave sendiri yang memilihnya Violet melepas pegangan tangan Dave di perutnya ia mendorong Dave Agra lebih jauh darinya "jangan gini kak Vi gak nyaman.." Dave memutar tubuh Violet agar menatapnya ia mendekatkan wajahnya membuat Violet risih "kak?.. Vi cape mau istirahat lepasin !..." Dave mulai kesal karena Violet selalu memalingkan wajahnya "kenapa? Kamu takut?!.." Violet menatap tak suka Dave ia juga mulai kesal karena Dave "Vi gak pernah takut sama kakak!.." ujar Violet yang secara langsung menantang Dave "baiklah!" Dave menarik Violet menuju ranjang ia menindih Violet yang sudah terbaring karena dress yang Violet kenakan di dada berkancing Dave membuka dua kancing teratas dres Violet berontak ia berusaha mendorong Dave dengan sekuat tenaga "kak jangan!.. lepas kak Vi mohon jangan kayak gini!.." Dave menulikan pendengarannya ia mencium dan menghisap dada Violet lalu naik ke leher dan memberi tanda kepemilikan disana "udah kak udah hikss... Iya Vi takut sama kakak!.. hikss... Maaf Vi udah gak sopan sama Kaka hikss.." Dave bodoh ia memberhentikan kegiatannya sekarang ia malah membuat Violet menangis Dave menatap Violet "Vi gak bakal gitu lagi Vi janji kak Vi bakal nurut sama kakak Vi janji..." Dave tersenyum ia mengusap wajah Violet "janji ya?... tapi kakak gak percaya sama janji kamu lagi.." Violet harus mendapatkan kepercayaan Dave agar ia bisa lebih tenang "Vi janji kak Vi bakal lakuin apa aja Vi janji" Dave menyunggingkan senyumnya ia masih enggan beranjak dari tempatnya "bagaimana jika kita lakukan hal yang menyenangkan!..." Dave mengusap paha Violet membuat Violet tau arah pembicaraannya Dave tertawa ekspresi wajah Violet sangat ketakutan "jangan buat bibir cantik kamu membuat janji manis seperti tadi!.." Dave mengusap bibir Violet lalu ia tersenyum "istirahat lah sayang kakak akan mengurus sesuatu!...." Dave berdiri ia berjalan menuju pintu lalu meninggalkan Violet yang masih takut akan sikap Dave
PLAK!..
__ADS_1
Alice membulatkan matanya saat dengan tiba-tiba Dave datang dan menamparnya begitu kencang "tu--tuan besar mengapa anda menampar saya?.." semua maid menatap takut Dave dan Dave menyunggingkan senyuman "kau pikir aku tidak tahu?!.. kau membuat Violet ku tidak nyaman!!... jangan pernah menatapnya seperti itu atau ku congkel matamu!.." Dave pergi meninggalkan Alice yang sudah berlinang air mata "Violet sialan!.." ujar Alice dengan berbisik "akan ku buat kamu pergi dari rumah ini" Alice maid tak tahu diri ini mengepalkan tangannya