
" akan ku jaga senyum mu mulai saat ini sayang. Jadikan bahu ku untuk tempatmu bersandar. Jangan takut dan ingatlah ada aku di sini. " bisik narendra pelan sambil mengecup kening quin. Dia membenarkan selimut Quin hingga batas dada quin dan segera pergi untuk pulang ke rumah nya.
π¨π¨π¨
Sudah 2 hari terhitung seja kunjungan narendra di kediaman adipati. Kini quin sudah mulai pulih dan kini sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Meskipun tidak akan ada yang memecatnya, tetapi ia merasa tidak enak jika absen lama.
" kamu yakin mau masuk kerja hari ini sayang ?" tanya ratih entah ke berapa kali nya. Quin hanya tersenyum geli saat sang bibi mulai heboh begitu Quin mengatakan jika ingin masuk kerja.
" iya bibi, quin udah sehat. Lagi pula nanti quin juga bareng kak kula kok, " jawab quin. Ratih hanya bisa menghela napas kasar dengan sifat keras kepala sang keponakan.
" tenang lah bunda. kula akan jaga anak nakal ini " kekeh nakula. Quin meninju pelan pundak sang kakak. Sadewa dan arjuna sudah berangkat sedari pagi. Arjuna sedang ada klien emergency dan sadewa akan mempersiapkan perjalanan luar kota nya lagi.
Mereka bertiga sarapan dengan di hiasi pembicaraan kecil dan random. Beruntung nakula tidak seperti sang kakak, sadewa yang pendiam. Nakula bisa masuk dalam pembicaraan dengan adik dan bunda nya.
Setelah 20 menit, sarapan usai, quin dan nakula bersiap berangkat. quin meminta nakula untuk mengendarai lambo kesayangannya.
" gimana perkembangannya kak ?" tanya quin saat sudah memasuki mobil. Nakula menyetir perlahan.
" sejauh ini rencana pembangunan kafe baru nya sudah berjalan hampir 40%. Mereka belum sadar jika kita menyabotase rekening palsu mereka. Memang masuk ke rekening itu. Tapi tidak bisa diambil. Entah tidak sadar atau memang keberuntungan kita, mereka tidak langsung menarik dana dari rekening palsu itu. Mungkin mereka berpikir untuk menimbun dulu uang proyek di sana." jelas nakula. Quin terdiam mencerna informasi dari nakula. Otak nya berpikir keras dengan langkah apa yang akan ia ambil untuk memberi hadiah kepada orang - orang yang tamak itu.
" terus awasi saja kak,biarkan mereka terlena dan kita akan langsung babat habis mereka semua nanti " kata quin. Mata nya berkilat sadis. Nakula sedikit bergidik ngeri melihat adiknya seperti ini.
" tapi ingat quin, jangan terlalu lama, mereka akan meraja lela. Dan akan menganggap mu semakin remeh," peringat nakula.
" kakak tenang saja, quin nggak akan bertindak bodoh lagi " yakin quin. Nakula mengacak pelan rambut quin. Diri nya masih merasa cemas dengan sang adik. Takut adiknya akan di kuasai oleh perasaan dendam.
Perjalanan menuju Adipati Group berjalan mulus. Nakula sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya karena ingin menghindari kemacetan. Sesampainya di depan lobby, ia meminta petugas valet untuk memarkirkan mobil sang princess adipati itu. Ia segera menyusul quin yang sudah melenggang masuk menuju meja resepsionis. Quin menghampiri nimas an tiara.
" selamat pagi kak nimas, kak tiara, " sapa quin ceria. Entah hilang kemana aura bengis yang nakula rasakan tadi di mobil. begitu turun dari mobil adiknya sudah berbah bak anak tk yang centil.
" selamat pagi quin, sudah sehat kamu ? Bunda bilang kamu drop lagi ? Dasar anak nakal " sembur nimas. Untung belum ada karyawan lain yang datang.
" iya nih, apa jangan - jangan karena makan rujak kemarinan itu ya ?" sambar tiara yang juga gemas dengan keisengan sang princess ini. Quin terkekeh riang.
" bukan, itu pasti karena es yang kalian beli setiap kalian makan rujak ! Dengar nimas, tiara. Kalian jangan selalu turuti anak nakal ini setiap ia meminta minum es. Apalagi jika es yang di pinggir jalan ! Kalian tahu sediri anak ini sensitif sekali jika dengan es !" Sembur nakula begitu ia menyusul quin. Quin cemberut, bibirnya manyun bak cantolan siwur.(cantolan : paku untuk menggantungkan ; siwur : gayung)
__ADS_1
" ii.. Iiya mas, besok nimas sama tiara langsung lapor mas kalo quin nakal lagi " cicit tiara. Nimas dan tiara takut jika nakula sudah mula menunjukkan taring nya. NiMas dan tiara memang terbiasa memanggil Nakula dan sadewa dengan sebutan mas jika di lingkup panti asuhan. Dan sekarang juga belum ada karyawan lain yang datang ke kantor.
Quin semakin mengerucutkan bibirnya. Nakula meraup wajah quin gemas.
" apa ?! ingat kan apa kata kak sadewa kemarin ! No ice selama 2 bulan. Ahh nanti minta mas prapto bikinin cendol dawet buat makan siang ahh " kata nakula menggoda quin sambil berjalan menuju lantai atas.
" kak kula nyebeliiiinnn " teriak quin sambil mengejar sang kakak yang sudah jalan dahulu sambil tertawa - tawa. Nimas dan tiara hanya geleng - geleng biasa maklum dengan kelakuan dua tuan dan nona muda nya itu. Sudah hal yang biasa untuk anak - anak panti jika melihat mereka berdua bertengkar. Karena penghuni panti tahu, begitulah mereka menunjukkan kasih sayang satu sama lain.
π¨π¨π¨
TING
Lift berhenti di lantai paling atas Adipati group. Lantai yang hanya berisi ruangan quin, sadewa, dan nakula. Lantai itu di lengkapi dengan ruang rapat, pantry, raung serba guna. Quin dan nakula bersikap profesional jika sudah mulai memasuki lantai ini. Tidak ada lagi sikap kekanakan nan iseng dan usil. Yang ada hanya quin yang dewasa dan tegas meski garis - garis gadis muda dan manja masih tercetak di paras ayu nya.
TRING
bunyi ponsel memecahkan perang dingin antara quin dan nakula. Lebih tepatnya quin yang merajuk kepada sang kakak karena di pamerin es tadi. Quin melihat ke layar ponsel nya untuk melihat siapa yang mengirimi nya pesan sepagi ini. terlihat nama kontak yang mengirimi nya pesan dan membuat nya tersenyum ceria. Nakula yang di sampingnya bergidik geli.
π₯
mas ren
π€
mas ren
" sudah sampai kantor malah, mas sudah berangkat ?"
π₯
mas ren
" tumben sudah sampai, ada masalah ?
aku baru mau berangkat,
__ADS_1
π€
mas ren
" tidak terjadi apa - apa mas, hanya menghindari macet saja.
Mas hati - hati . Kalau sampai kabarin quin. "
π₯
mas ren
" iya sayang "
" kenapa senyum - senyum ? Kesambet jin es cendol ?" goda nakula. Nakula tahu pasti itu pesan dari narendra. quin menatap nakula sengit. Rupa nya masih merajuk ini anak.
" apaan kak kula. Quin masih ngambek ya !" sengak quin. Nakula terbahak saat mendengar jawaban quin.
" ha ha ha ngambek kok ngomong - ngomong sih dek, " geas nakula mengusap wajah quin yang sudah manyun bibirnya.
" kak kula jahat, nanti quin adun ke kak dewa kalau kak kula pamer es " sewot quin.
" ha ha ha, sudah sudah, kakak hanya bercanda. Mana mungkin kakak tega minum es saat quin menjalani hukuman, " kata nakula lembut. Quin tersenyum lebar saat nakula menjawab nya, memang nakula tidak akan tega melihat sang adik sedih.
Nakula dan quin segera masuk ruangan masing - masing dan segera bersiap untuk bekerja.
TRING
π₯
mas ren
" mas udah sampai, maaf sayang mas agak sibuk. Kamu jangan terlalu capek, nanti siang aku akan ke kantor. Kita makan siang sama - sama. I love you, my quin"
Quin tersenyum melihat pesan narendra. Ia tidak membalasnya lgi karena tahu narendra sedang sibuk. Ia kini juga bersiap untuk bergelut dengan pekerjaan yang telah menumpuk setelah ia tinggal absen selama 2 hari ini.
__ADS_1