
SPLASSSHH ..
Tiba - tiba saat quin akan melangkah naik ranjang, terlihat celana nya basah , bukan air kencing. Tapi sepertinya cairan ketubannya yang sudah mulai pecah.
" wah, seperti nya sudah saatnya nih si kembar keluar, mari quin. Tuan muda tolong di bantu, " kata dokter ayu. Nampak senyuman teduh senantiasa terpancar dari wajah paruh baya itu. Nampak menenangkan.
jantung narendra berdetak lebih kencang saat ia mendengar jika sang istri akan memulai perjuangannya. Ia menggenggam erat tangan istri nya saat ia sudah memposisikan diri nya di samping kanan sang istri.
Quin nampak menyunggingkan senyum teduh, meski jelas tercetak raut kesakitan di wajahnya. Iia mengelus pelan rahan sang suami.
" nah quin, jangan mengejan jika belum ada dorongan dari si utun. Jika terasa ada dorongan, beri kami kode dan kamu bantu push. Usahakan jangan sampai mengangkat pantat agar mencegah robekan yang lebih banyak. Dan jangan berteriak karena akan menguras tenaga kamu, " jelas dokter ayu. Quin hanya mengangguk - angguk paham.
" sssshh, dok, "
" oke push, "
" eeeerrrrrggggghhhh "
satu kali percobaan dan gagal.quin nampak tengah mengatur pernafasannya. Narendra malah ikut - ikutan mengejan.
" oke nggak apa - apa, kita coba lagi ya, mau minum dulu ?" tawar dokter ayu. Quin mengangguk. Terlihat seorang perawat dengan cekatan menyodorkan segelas teh manis hangat dengan pipet ke arah quin.
" dok, sssh "
" oke push " perintah dokter ayu. seorang bidan juga membantu mendorong pelan dari perut quin.
" ayo bunda, kepala ku sudah
mulai terlihat, " teriak dokter ayu memberi stimulan semangat kepada quin.
quin yang mendengar pun tersenyum tipis dan mulai mengejan lagi.
OEK OEK OEK
Tangis narendra pecah seketika, saat mendengar tangisan bayi pertama mereka. Ia lekas menciumi kening quin dan berulang - ulang mengucapkan terima kasihnya. Quin masih lemas dan hanya merespon genggaman tangan narendra dengan menggenggamnya balik,
" wah, bayi pertama si tampan nih ayah, bunda. Lengkap sehat alhamdulillah, " ujar dokter ayu setelah memotong ari - ari si jabang bayi.
" nah masih ada satu lagi quin, kita berjuang lagi ya, " kata dokter ayu setelah memberikan bayi pertama kepada suster untuk di bersihkan.
Quin mengangguk. Ia kembali menatap ke arah narendra yang masih terlihat sendu karena melihat perjuangannya.
" mas, makasih sudah temani kami berjuang, " bisik quin lirih. Narendra menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
" mas yang harusnya berterima kasih. Terma kasih sudah mau berjuang untuk melahirkan anak - anak mas, " jawab narendra lembut.
Kembali quin merasakan gelombang cinta dari sang bungsu. Pertanda ia ingin segera menyusul sang kakak untuk melihat dunia.
" ssshhh, dok, " rintih quin. Ia spontan bersiap mengejan lagi. Seakan pengalaman sang kakak tadi masih melekat di ingatannya.
" yok, push, " teriak dokter ayu. Dua orang perawat juga sigap di samping quin. Sedangkan narendra tetap stand by di samping kanan sang istri.
.sementara itu ...
Di luar ruang bersalin.
Nampak yulia tengah mondar mandir sejak quin di bawa masuk sejak pembukaan 8 tadi.
" bu, gimana quin , ?" tanya kevin yang datang terengah - engah di susul dengan ria di sampingnya. yulia menoleh dan mendapati anak sang adik yang ia asuh sudah berada di depannya.
" kamu sudah pulang,kev, " tanya balik yulia. Ia memeluk menantunya, ria.
" iya bu, tadi aku nelpon rendra tapi nggak di angkat. Terus aku ke rumah, kata pak satpam di rumah nya quin di bawa ke rumah sakit karena mau melahirkan, " jelas kevin. Yulia mengangguk membenarkan.
" iya, tadi ibu juga rencana cuma mau menemani mengemas perlengkapan si kembar, tapi di tengah jalan rendra telpon kalau quin sedang kesakitan, " jawab yulia.
" sudah menghubungi kediaman adipati ?" tanya kevin lagi. Jangan sampai mereka lupa untuk mengabari keluarga besannya itu. Ria mengangguk. Ia pun tak kalah mencemaskan keadaan sang nona muda nya ini. Serta tak klah antusias menyambut kedatangan calon pewaris aldebaran grup itu.
" sud ..... "
Bunyi derap an langkah kaki dengan jumlah yang banyak terdengar mendekat ke arah mereka bertiga. Ketiga nya sontak menoleh. Terlihat ratih dan arjuna berlari. Dan dari kejauhan terlihat pula sadewa dan nakula tengah memapah istri nya masing - masing.
" bagaimana keadaan quin, mbak yul, " sambar ratih. Terlihat ia nampak mencemaskan keadaan keponakannya itu. Arjuna juga tak kalah mengkhawatirkan keadaan quin.
Sadewa dan nakula serta istri - istri nya sudah tiba di depan ruang bersalin bergabung dengan semua orang.
" tadi masuk pas sudah buka 8. Ini udah 1ja...
OEK OEK OEK
Suara tangis yang terdengar dari dalam kamar memotong ucapan yulia. semua mata nampak berbinar dengan lahirnya aldebaran junior. Terutama yulia. Ia bahkan sudah memeluk erat ratih yang nampak menangis haru begitu mendengar tangisan khas bayi itu.
" itu cucu ku tih, cucu pertama ku sudah lahir, " kata yulia girang. Ratih un tak kalah girang mendengar nya.
" benar mbak, itu cucu kita, " jawab ratih menyeka air mata nya yang tib - tiba menetes.
" alhamdulillah ya allah, " serentak arjuna, sadewa, dan yang lain berucap hamdallah.
__ADS_1
" kita tunggu sebentar lagi, ini masih ada bayi bungsu nya, " ucap arjuna yang menengahi ratih dan yulia kala mereka ingin melesak masuk ke ruang bersalin.
_kembali ke ruang bersalin.
Kembali percobaan pertama mengejan quin gagal. Berbeda dengan saat si sulung tadi, sekarang tenaga quin nampak berkurang drastis. Nafas nya mulai terengah - engah.
" apa nafas mu sesak quin?" tanya dokter ayu. quin mengangguk. Dokter ayu segera mengkode salah satu perawat untuk memasangkan selang oksigen di hidung quin,
" dok, istri saya kenapa, " tanya panik narendra.
" nggak apa - apa tuan muda, quin sedikit kelelahan dan nafasnya sedikit sesak. Ia pasti kelelahan, " jelas ayu.
" dok, sssshhhh " kode quin, pertanda si bungsu mengajak berjuang.
" ayo quin, push, " semangat dokter ayu.
Quin nampak mengejan dengan kuat kali ini, nafas nya semakin sesak ia rasa.
" sedikit lagi quin, kepala nya sudah mulai terlihat, " kat dokter ayu. Quin segera mengambil nafas lebih panjang untuk mempersiapkan tenaga extra. Ia nampak menoleh ke arah narendra yang tengah meneteskan air mata lagi. Quin tersenyum dan dengan perlahan kembali mengusap rahang narendra.
" maa..ss, maaffin quin ya, belum bisa menjadi istri yang baik. Terima kasih sudah menemani quin, " bisik quin berbarengan dengan ia mengejan. Seluruh tenaga nya ia kerahkan hanya untuk mendorong si bungsu agar bisa keluar melihat dunia.
" sayang, jangan bicara kayak gitu, " bisik pilu narendra. Ia melihat quin yang nampak tersenyum ke arahnya.
OEK OEK OEK
' akhirnya, alhamdulillah ya allah, terima kasih sudah mengijinkan hamba melahirkan kedua buah hati hamba ' batin quin sambil menutup mata nya.
" alhamdulillah, tuan muda. Bungsu juga tampan. Sehat lengkap sempurna, " jelas dokter ayu. Narendra sudah kadung terisak saat mendengar suara tangisan anak ke dua nya. A menoleh ke arah quin dan seketika panik.
" quin, sayang, hei bangun " ujar narendra sambil menepuk - nepuk pipi quin yang nampak tertidur.
" dok, ini kenapa dengan quin, " panik narendra lai. Dokter ayu segera memeriksa keadaan quin setelah meyerahkan bayi quin kepada perawat untuk di bersihkan.
" tuan muda tenang saja, quin hanya tertidur karena kelelahan, " jelas dokter ayu tersenyum. Narendra menghembuskan nafas nya lega. Ia mengecup kening quin lama.
Dokter ayu dan satu perawat segera membersihkan quin dan melakukan tindakan terakhir untuk quin.
" terima kasih sayang, kamu sudah mau berjuang melahirkan anak - anak mas, i love you bunda," bisik narendra.
...****************...
next last episode ya☺️
__ADS_1
terima kasih udah mau baca novel ini hingga sampai part ini.
jangan lupa ramaikan novel baru bubun 😁🙏